
Di dalam kamar mandi otakku mulai terasa panas memikirkan cara untuk membatalkan semua yang sudah kami sepakati, termasuk pernikahan bohongan yang akan kami lakukan.
Tiba-tiba hati ini tidak tega menyakiti hati Mas Virto, biar bagaimanapun, ia sangat mencintaiku, hanya saja cinta kami salah tempat.
'Bagaimana mungkin aku melakukan ini padanya? setelah kami menghabiskan waktu lima tahun bersama dan bagaimana mungkin hati ini tega, menyakiti hati lelaki yang begitu mencintaiku? aku tidak bisa menyakitinya dengan cara mengikuti saran yang diberikan pria yang baru aku kenal hitungan bulan, lelaki yang angkuh bermulut tajam.
Aku keluar dari kamar mandi dengan cara mengendap-endap, berharap lelaki angkuh itu tidak mengawasi ku. Saat aku mencari keberadaannya, kebetulan sekali Farel sedang menelepon di balkon dengan tubuh membelakangi ku.
"Eh dia tidak melihatku, aku keluar dari sini."
Tetapi, saat aku sedang ingin ke kamar, tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Farel dengan kakak perempuannya, samar-sama aku mendengar semua rencana mereka untuk Virto dan aku, lutut kaki ini bergetar.
Akhirnya aku mengerti, aku tidak pantas berada di sini, dengan sikap buru-buru aku menarik tas kecil dari kamar dan melarikan diri dengan diam-diam. Farel tidak menyadari kalau sudah keluar dari kamar mandi, ia masih sibuk menelepon.
Melihat card, kunci apartemen Farel ada di atas meja dekat televisi, aku menyambarnya dan membuka pintu, lalu berlari secepat mungkin meninggalkan apartemen, aku tidak mau diperalat oleh Farel untuk menyakiti hati kakak iparnya.
Mas Virto jauh lebih baik dari Farel, aku tidak mau diperalat untuk menyakiti hati lelaki yang pernah bersamaku selama lima tahun.
Tidak perduli dengan tatapan orang yang melihatku berlari keluar dari lingkungan apartemen, saat ingin keluar menuju jalan, kebetulan mobil melintas, sebuah mobil bak terbuka membawa sayuran. Saat aku hentikan sepasang suami istri itu berhenti.
"Bu, saya numpang, pacar saya ingin memukuliku," kataku berpura-pura, dengan bernapas ter engah-engah karena berlari.
"Tapi kita tidak muat Neng"
"Saya akan duduk di belakang, Pak, tolong saya Pak lelaki itu akan membunuhku, karena dia tahu aku hamil,"ucapku terpaksa berbohong.
Mereka Mengizinkan ku menumpang di mobilnya, tidak menunggu lama mobil bak berwarna putih itu melaju meninggalkan apartemen Farel, dengan napas terengah-engah aku membaringkan tubuh ini di samping tumbukan sayuran, Farel seperti belum menyadari aku kabur, makanya tidak mengejar.
Karena berlari dan melompat beberapa kali, aku merasakan jantung sakit lagi, tidak bisa bertahan, aku merasakan sakit di bagian perut juga dan kepala sangat pusing dan mata berkunang-kunang dan pingsan.
*
Saat membuka mata, tubuh ini sudah berada di tempat asing.
"Ibu sudah bangun?" Seorang dokter berhijab biru, berdiri di sampingku.
"Aduh, aku dimana?" tanyaku mengusap kepala yang sangat pusing.
"Tadi sepasang suami istri mengantar ibu ke sini, tadi mereka sudah pergi lagi, katanya Ibu menumpang ke mobil mereka dari Jakarta"
__ADS_1
"Iya kita di mana Bu?"
"Oh, saat ini ibu di Desa Kunang Sukabumi"
"Ah, Sukabumi ... ?"
"Ibu, saya ingin menyampaikan pada ibu, ibu harus banyak istirahat"
"Iya Dok,"
"Apa Ibu sudah tahu?"
"Iya, aku melarikan diri lelaki itu"
"Apa ibu sudah menikah?" Sang dokter mulai mengintrogasi ku.
"Belum Dok, aku menunduk malu."
Dokter yang sudah terlihat berumur itu menarik napas panjang, ia mengerti kalau aku tidak ingin di tanya. Saat keluar dari ruangan aku di sambut pantai yang sangat indah, sepi dan tenang, hanya ada desiran ombak menyapa alam.
"Wah, indahnya, ini kehidupan yang aku impikan tenang dan sejuk"
Dokter berdiri di belakangku, "Iya ini sangat indah" Merentangkan tangan dan menutup mata rasanya sangat indah. Ternyata rumah sang dokter berada di pinggir pantai. Lalu di sampingnya ada bangunan di jadikan praktek dokter dan beberapa meter , tampak bangunan yang bernuansa desa terlihat sangat asri, bangunan itu juga dijadikan penginapan untuk para turis yang datang berwisata di pantai atau untuk yang hobi surfing.
"Kamu boleh tinggal di sini kapanpun kamu mau, tetapi saat ini kamu butuh istirahat"
"Terimakasih Dok"
"Istirahatlah, ini tas kamu dan ada ponsel di dalamnya, tetapi sepertinya ponsel kamu kehabisan daya."
Dokter baik hati itu meninggalkanku istirahat, jendela kaca ruangan itu menghadap pantai, melihat saja sudah membuat otakku sedikit tenang , akhirnya aku bisa bebas dari dua pria yang membuat hidupku susah.
Setelah mengisi daya ponselku, aku menghidupkan, baru juga aku hidupkan panggilan masuk dan pesan datang dari Farel.
[Angkat teleponnya] isi pesannya.
"Baiklah," ucapku pelan, toh juga aku sudah jauh dari dia, jadi tidak ada alasan dia mengejar ku.
"Iya, kenapa?" kataku dengan suara lemah.
__ADS_1
"Kamu di mana? kenapa melarikan diri tadi malam?"
"Itu karena kamu, aku mendengar semua yang kamu bicarakan sama kakakmu di telepon tadi malam, karena itu aku berpikir aku harus pergi, karena aku tidak mau kalian jadikan alat untuk menghancurkan seseorang"
"Kamu salah paham, Ririn"
"Tidak, aku mendengar semuanya aku menguping pembicaraan kalian saat kamu berada di balkon, jangan salahkan aku, kamu yang melakukannya, kamu yang membunuhnya bukan aku"
"Apa maksudnya ...? kamu di mana" nada suaranya berubah saat aku bilang kalau aku kehilangan janin dalam kandunganku.
"Jangan main-main Ririn!"
Ia mengalihkan panggilan ke vidio call.
"Aku kehilangan dia, saat ini aku berada di rumah sakit"
"Kamu berbohong ...!"
Teriaknya marah dengan mata berkaca-kaca.
"Dengar, bukan aku yang membunuhnya, tapi kamu, kalau saja kamu tidak menelepon kakakmu dan bilang ... sudahlah, tapi saat ini aku tidak memilikinya lagi, dosanya untukmu"
"Apa kamu keguguran ?" wajahnya terlihat sangat sedih, aku tidak tahu apa dia ber akting di depanku atau tidak, aku tidak tahu.
"Iya, aku harap kamu senang, karena tidak perlu bertanggung jawab untuk wanita yang menjijikkan ini, jangan khawatir, aku tidak kembali ke Virto lagi, jadi kamu tidak perlu mencurigai ku lagi"
"Aku tidak percaya, katakan kamu di mana!?"
Aku tidak ingin ia melihat lingkungan sekitar, jadi aku hanya memperlihatkan jarum infus dan obat yang diberikan dokter.
"Jadi kita tidak punya masalah lagi, aku berharap kamu bahagia Pak Farel, lupakan semuanya, lupakan kalau kamu hampir memiliki anak dari wanita ****** sepertiku, itu seperti mimpi buruk, tetapi saat ini semuanya kembali ke posisi yang seharusnya, baiklah aku hanya mengatakan itu, aku merasa sangat pusing, kata dokter aku kehilangan banyak darah, aku ... butuh istirahat"
bersambung
Tuliskan ulasan kakak di setiap bab iya.
jangan lupa vote,like dan share iya … Kasih hadiah juga boleh, biar authornya semakin semangat untuk up tiap hari.
Terimakasih , Salam sehat.
__ADS_1