Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Mendapat hukuman


__ADS_3

Tangan itu, terus menyeretku dengan langkah kakinya yang panjang.


Aku kalah mengimbangi langkahnya, karena aku memakai sepatu boot yang memiliki heels.


“Dengarkan aku dulu bicara, jangan asal menyeret begitu dong …!” teriakku kesal.


Farel masih diam, bahkan mempercepat langkah kakinya, membuatku berlari kecil mengikutinya.


“Kamu dengarkan aku dulu!”


Tiba-tiba ia berhenti dengan sikap tiba-tiba, membuat tubuh ini, menabrak dadanya , dengan satu tangan, ia melepaskan kaca mata hitam itu, lalu menatapku dengan tatapan tajam penuh kemarahan.


“Kamu hanya perlu diam dan tidak perlu penjelasanmu!” ucapnya menunjuk wajahku dengan satu jarinya.


Wajahnya tampak menghitam menahan kemarahan, kemarahan yang hampir meledak, mungkin Sinta benar. Kemarahan terbesar dari pria disebabkan karena rasa cemburu, bahkan banyak yang sampai gelap mata. Melihat kemarahan itu nyaliku tiba-tiba ikut ciut.


Aku diam membiarkan lenganku di pegang erat sampai aku merasa aliran darah di lengan kiriku tidak mengalir. Ia memang bersikap nekat kalau sedang marah.


Hingga tiba di parkiran mobilnya yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kami makan, ia membuka pintu mobil dan mendorongku masuk.


“Duduk diam!" Ucapnya memakaikan sabuk pengaman untuk aku pakai.


Lalu ia berjalan ke pintu kemudi, membuka dan menutup dengan cara membanting membuatku berkedig karena kaget.


Aku tidak berani membuka mulut, bahkan melirik wajah yang mengeras itupun, aku tidak berani, aku hanya meremas kuat sisi kedua jok saat, ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya bagai terbang.


Mengingatkanku pada empat tahun silam, saat ia melakukan hal yang sama padaku , di sebabkan karena cemburu juga pada Mas Virto, kami saat itu, hampir kehilangan nyawa, saat ia menerobos palang pembatas lampu merah.


Tetapi bedanya kali ini, aku tidak sedang hamil, jadi aku tidak setakut yang dulu. Aku hanya menutup mata membiarkannya menyetir seperti orang gila.


Saat menutup mata tiba-tiba bayangan Haikal muncul dan aku membuka mata, aku tidak ingin mati, anak-anakku masih butuh aku.


“Hentikan apa yang kamu lakukan!” teriakku marah.


“Mati bersamamu!” teriaknya dengan tatapan mata sinis.


“Kamu kenapa bertindak sesuka hatimu, sih! Turunkan aku!” Teriakku dengan suara meninggi.


“Baik,” ucapnya membelokkan mobil itu lagi. Kali ini ia menyetir ke arah hotel dan berhenti.

__ADS_1


Saat melihat hotel, tiba-tiba mulut ini menganga. Aku mengingat ucapan Sinta kalau Farel akan menyiksaku di ranjang, aku berniat kabur. Saat mobil berhenti, aku membuka mobil dan ingin melarikan diri, tetapi lelaki bertubuh atletis ini dengan cepat menghalangi tubuhku dengan sikap yang tenang.


“Mau kemana?”


“Iya. saya mau pergilah”


“Kamu tidak boleh pergi, kamu harus lihat bagaimana aku menjelaskan tentang situasi ini,” ucapnya dengan tatapan mata tajam, sangat menyeramkan membuat tubuhku ketakutan.


“Jangan suka memaksa,” ucapku mendorong tubuhnya.


Tetapi sikap gila dan perlakuan nekat itu muncul lagi, ia dengan beraninya mengangkat tubuh ini ke pundaknya dan mengangkat bagai karung beras, lalu berjalan santai melewati lobby hotel yang saat itu sedang ramai.


“Oh, iya ampun ini memalukan. Apa yang kamu lakukan . Otakmu memang sudah miring iya … Turunkan aku,” ucapku berontak sekuat tenaga dengan cara menendang-nendang dan memukul badannya dengan tas tangan milikku.


Mungkin Farel terinspirasi dari film barat Mafia story yang pernah kami nonton bersama, saat aku hamil dulu. Ia memang suka film yang berbau-bau kriminal, horor, laga. Tetapi, jangan suruh ia nonton sinetron ataupun drakor, bisa-bisa ia merasa mual.


Sungguh berbanding balik denganku yang tidak suka menonton horor.


Saat ini, saat ia bertindak seperti bos mafia, maka aku bertindak seperti aktris wanitanya, aku merasa geram bercampur marah, lalu menjambak rambutnya.


“Lakukan saja sampai kamu puas,” ucapnya tenang, tidak berpengaruh dengan tanganku yang memukul badannya , padahal aku sudah mengeluarkan seluruh tenagaku untuk bisa lepas dari Farel.


“Turunkan aku! Turunkan apa yang anda lakukan semua orang melihat kita .... Baik ... baik! Aku tidak akan melarikan diri, tetapi tolong turunkan aku” ucapku dengan suara lembut, berharap ia mau melunak.


Jangan melunak, ia malah mendesis kesal mendengar tawaranku.


‘Aduh bagaimana kalau ada wartawan di sini dan melihatku seperti ini dan mempostingnya ke media sosial, bisa hancur karierku dalam sekejap’ ucapku dalam hati, menutup wajah ini dengan tas tanganku.


Farel seakan-akan tuli, apapun yang aku katakan ia tidak menghiraukannya ia tetap dengan santai berjalan melewati banyak orang yang kebanyakan tertawa dari pada prihatin.


‘Hadeh apa harus seperti ini membawaku’ ucapku merasa sangat malu.


Saat seorang petugas hotel mendekat dan bertanya pada Farel . Ia menjelaskan dengan bahasa Prancis bahasa yang tidak aku mengerti, tetapi saat melihat petugas itu tersenyum geli menatapku aku yakin Farel bicara hal gila membuat lelaki berseragam petugas keamanan itu menatapku dengan senyuman malu-malu.


“Hei! Lepaskan aku, turunkan aku, kamu membuat perutku sakit. Apa kamu tidak melihatku tadi baru habis makan? Kamu akan membuatku mengeluarkan makanan di perutku ini nantinya,” ucapku lagi. Ia tidak perduli, walau aku berak celana sekalipun.


Cakaran, pukulan, tendangan teriakan semua itu sudah aku coba lakukan tetapi pria yang di landa kemarahan ini tidak menghiraukanku


Teeed…

__ADS_1


Ia menempelkan card di pintu kamar dan tiba di kamar hotel miliknya, dengan sikap marah ia melemparkan tubuh ini ranjang hotel, membuat tubuhku terpantul di atas ranjang karena pantulan per dari ranjang hotel berukuran king size itu.


“Ah …” Mataku terasa berkunang saat ia melemparkan ini ke atas ranjang.


Dengan cepat, aku ingin bangun, tetapi dengan cepat juga Farel menahan tubuh ini dari atas, menekan kedua lengan ini, di kedua sisi.


“A-A-APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN?” tanyaku dengan perasaan sangat takut. Aku sangat takut, jika ia melakukan itu dengan kemarahan.


“Apa yang aku lakukan? Apa kamu masih lupa ingatan tentangku?” Mata itu menatapku dengan sangat buas. Terlihat seperti iblis.


“Iya, jawabku spontan, berharap ia tidak menyentuhku dengan keadaan marah.


“Oh …! benarkah. Bagaimana kalau seperti ini apa kamu masih berkata lupa pada suamimu sendiri,” ucapnya, bukannya berhenti malah semakin marah. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan.


Kraaak …!


Dengan cepat kedua tangannya merobek blus yang aku pakai wajahnya tampak mengeras memperlihatkan urat-urat di dekat tulang pipinya yang saling bertarikan dan wajahnya tampak menghitam bahkan mata indah itu berubah warna jadi merah. Ini kemarahan terbesar yang pernah aku lihat darinya.


“A-a-apa yang kamu lakukan?” tanyaku menutup dadaku yang kini hanya menyisakan bra berwarna pink, bagian terindah dari dadaku. Terlihat jelas.


“Kamu masih bertanya? apa yang ingin aku lakukan? Aku sudah bilang aku ingin memulihkan ingatanku. Istriku!”


“Ka-kamu gil-"


Sebelum aku menuntaskan kalimatku, bibirnya dengan agresif membungkam mulut ini.


Paaak …!


Aku menamparnya, tetapi itu tidak mempengaruhinya, kemarahan itu sudah menutup seluruh tubuh jiwa raganya, aku terus saja berontak mendorongnya sampai membuatku kehabisan tenaga.


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR Viewer NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata

__ADS_1


__ADS_2