
“Mari kita periksa ke rumah sakit, kita akan menemui anakmu, asal kamu mau dioperasi,” kataku menatapnya dengan tatapan serius, aku pikir, sudah saat aku mengungkapkan tentang putranya.
“Apa maksudnya?” Farel tiba-tiba ikut duduk.
“Kita akan menemui putramu jika kamu mau mendapat perawatan”
Farel menatapku dengan mata tajam.
“Kamu! berbohong padamu saat aku bertanya?”
“Tidak, aku tidak bohong, aku memang meninggalkannya di panti asuhan”
“Lalu …?”
“Farel dengar .. kamu mau menemui putramu atau tidak, aku buat pilihan untuk kamu, jika kamu mau menemuinya maka kamu harus sehat”
“Aku sehat Rin, aku sehat tetapi mana putraku?” suara meninggi.
“Dengar Farel, jika kamu ingin hubungan kita baik dan kamu ingin kehidupan yang lebih baik juga, maka turuti apa yang aku katakan”
“Rin, kamu membujukku atau mengancamku”
“Dua-duanya,”
“Baiklah, aku akan melakukannya tetapi setidaknya tunjukkan aku bagaimana wajah anakku”
“Farel, nanti aku memberikannya tetapi dengan syarat kita ke rumah sakit”
Matanya melotot padaku” Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Rin, tadi kamu bilang tidak tahu tentang dia, lalu kenapa sekarang kamu berubah pikiran. Hidupku bukanlah sebuah permainan Ririn” ucapnya dengan wajah memelas.
“Baiklah aku minta maaf, itu karena aku tidak tahu tentang semua yang kamu alami, aku hanya ingin melindungi putramu dan begitulah caraku melindunginya. Tolong mengertilah … Tapi kamu harus mendapat penanganan dokter, agar kita menemuinya”
“Kenapa kamu memaksaku, kesehatanku tidaklah penting yang penting bagiku saat ini hanya ingin melihat putraku”
“Kalau begitu kamu menyia-nyiakan kesempatan baik yang aku berikan”
“Rin, dia anakku aku berhak!”
“Aku ibunya! Aku yang melahirkannya”
Suasana kembali menegang Farel mengotot ingin melihat putranya terlebih dulu dan aku ingin ia sehat.
“Baiklah kamu menang,” ujar Farel meminum obat pereda rasa sakit lagi dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Melihat hal itu, hati ini terasa sedih dan merasa bersalah karena membentaknya, saat ia keadaan sakit.
“Maaf aku hanya terbawa emosi,” ucapku lagi.
“Kalau begitu temenin aku tidur,” ucap Farel menepuk bantal di sampingnya.
Aku merebahkan tubuh ini di samping Farel untuk menenangkannya. Ia bercerita banyak dan mendengar perjalanan hidupnya selama empat tahun.
__ADS_1
“Maafkan aku Ririn, membuat kamu mengalami hal itu … Rin apa dia sehat? Apa dia tampan?” Farel menatapku, wajahnya sangat sendu.
“Iya,” ucapku mengangguk.
“Apa ia baik-baik saja?”
“Iya aku berharap seperti itu”
Tidak terasa pada akhirnya sudah malam, wajahnya tampak terlihat lelah dan matanya mulai terlihat berat, aku tahu, ia menahan rasa sakit di pundaknya.
“Rin, tidurlah bersamaku malam ini, izinkan aku memelukmu, aku janji tidak akan melakukan apapun tanpa seizin mulai saat ini,” ucap Farel.
Mendengar semua pengakuan Farel membuatku tidak punya alasan untuk menolaknya.
“Maaf, jika selama ini aku bersikap egois, aku tidak tahu kalau mengalami hal yang buruk,” ucapku.
“Maka itu, jangan tinggalkan aku lagi Rin …. Aku mohon,” ucap Farel, meletakkan kepalanya di dadaku.
“Baiklah, aku berjanji,” ucapku mengelus rambut Farel, menyisir rambutnya dengan jari-jari tanganku mengusap kepalanya.
"Jangan meninggalkan aku Ririn, aku sedang sakit, tolong pertemukan aku dengan putraku" ujarnya dengan suaranya pelan dan matanya sangat berat efek minum obat dan tertidur.
"Baiklah, aku akan di sini, sampai kamu bangun," ucapku.
Mata itu akhirnya tertutup sempurna dan ia tertidur pulas di atas dadaku, merelakan bagian terlembut di dadaku, jadi sandaran wajahnya, saat ia tertidur pulas. Namun, ujung matanya mengeluarkan air mata.
“Aku menegakkan kepala menatapnya, ia tertidur pulas. Namun, matanya menangis.
Melihatnya meneteskan air mata saat tidur, membuat hatiku sangat sedih, batu keras di hatiku seakan-akan terkikis oleh air mata kesedihan Farel.
Farel tertidur dan tanganku juga mulai terasa lelah mengelus rambut Farel pada akhirnya aku juga tertidur pulas.
Saat bangun pagi, Farel sudah tidak ada di sampingku, saat mencari, ternyata, dia berdiri di tepi pantai di depan hotel, matanya terlihat menatap kosong ke arah pantai, saat ia berdiri di sana, kesempatan itu juga aku gunakan menelepon Josua.
“Iya Mbak”
“Kami sudah ada di Bali, siapkan saja semuanya, aku akan membujuknya untuk melakukanya”
“Benarkah? Iya ampun, aku akan mengabari team dokter dan dr. Lesa juga.”
“Oh, jangan biarkan ada dokter yang meneleponnya ataupun mendatanginya, biarkan aku yang membujuknya,” pintaku pada Josua.
“Ok siap-siap. Mbak Ririn”
“Ok, kalau ada apa-apa kabarin saya lewat pesan chating saja iya”
“Iya siap-siap Mbak,” ucap Josua bersemangat.
Aku keluar dari kamar hotel menemui Farel di tepi pantai.
“Ah … pantai selalu membuat hatiku lebih tenang.” Aku merentangkan tangan menghirup segar udara pantai pagi itu.
__ADS_1
“Eh, kamu sudah bangun,” ucap Farel terkaget saat aku mengagetkannya.
“Apa kamu sudah memikirkan penawaranku?” tanyaku masih dengan pose merentangkan tangan menghirup udara segar.
“Apa yang kamu tawarkan padaku bukan semata karena aku sakit, maksudku kamu tidak berbohongkan?”
“Tidak aku tidak mau berbohong padamu”
“Kalau begitu pertemukan aku dulu padanya baru aku mau melakukan pengobatan.
“Farel, aku sudah bilang, kita menemuinya setelah kamu sehat, tetapi jika kamu sakit aku tidak akan melakukannya, lakukan kesempatan yang ada di depanmu saat ini.” ucapku menatapnya.
“Haruskah aku punya alasan untuk menemui putraku Rin, dia anakku. Kenapa aku harus punya syarat?”
“Karena dia diurus orang lain Farel, karena aku dan kamu tidak pernah merawatnya. Jika kamu datang keadaan sakit. Apa kamu pikir dia mau ikut dengan kita? Apa kamu pikir pengasuhnya akan memberikan anak yang di rawat pada orang yang sedang sakit?”
“Lalu apa yang aku lakukan?” Tanya Farel menahan luapan emosinya. “Aku tidak salah Rin, aku tidak pernah menolaknya kamu yang menjauhkannya dariku. Lalu kenapa aku ikut di benci dan dianggap tidak pantas”
“Aku mau bekerja saja,” ucapku berbalik badan. Melihat Farel menolak bujukanku membuatku merasa kesal.
Namun, dengan cepat ia menangkap tubuh ini memeluknya dari belakang.
“Bukannya tadi malam kamu sudah berjanji tidak meninggalkanku,” ucapnya masih dengan posisi memeluk tubuhku dari belakang.
“Bukanya tadi malam juga kamu mau kita ke dokter? Kamu mengingkarinya maka itu, aku juga akan me-”
“Baiklah, baiklah mari kita ke dokter mari kita periksa tetapi dengan syarat kamu tidak boleh meninggalkanku walau hanya satu menit”
“Baiklah, baiklah anakku,” ucapku merasa Farel tiba-tiba jadi cengeng saat menyangkut soal anaknya, lagi-lagi ia bersikap seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal.
“Baiklah kalau begitu pakai ini,” ucap Farel dengan wajah memelas memberikan tali rantai itu lagi.
“Ini lagi …? Farel kita mau ke rumah sakit bagaimana nanti kalau ada dokter yang melihatmu,” ucapku menolak .
“Bodo . Pakai,” ucapnya seperti anak kecil membuatku merasa geli sendiri.
Demi anaknya, ia mau menerima pengobatan, aku dan dia kembali ke kamar hotel untuk berganti pakaian dan bersiap akan jalan ke rumah sakit, aku sudah mengirim pesan pada Josua kalau Farel setuju. Namun, sikap Farel membuatku mengelus dada, serapan minta disuapin mandi harus dimandikan dia melebihi anak umur empat tahun. Ternyata kelemahan pria tampan ini, adalah anaknya, ia bahkan mau melakukan apapun dan bisa menangis demi putranya.
“Oh, Ya Allah beri aku kesabaran” ucapku mengelus dada saat kami tiba di rumah sakit, Farel bersikap sangat manja melebihi anak kecil padaku. Bahkan tidak mau melepaskan tanganku. “Farel … ini rumah sakit, lepaskan tanganmu, bagaimana kalau ada teman-temanmu di sini,” bisikku saat ia meletakkan pundaknya di bahuku, saat kami duduk di ruang tunggu, tangannya menggenggam erat telapak tanganku. Aku hanya menjaga harga dirinya di depan kakaknya dan di depan para juniornya, tetapi yang terjadi ia malah menggeleng dan masih tetap dalam posenya, ia bertingkah seperti anak kecil yang tidak mau ditinggalkan ibunya.
‘Hadeh bagaimana kalau teman-temanya melihat dia bersikap manja lebay seperti ini’ ucapku dalam hati, terpaksa memakai kaca mata hitam, tidak pede melihat tatapan banyak orang pada kami. Aku berpikir Farel kesambet setan anak kecil, membuatnya bersikap manja yang berlebihan kali ini. Tetapi tidak apa-apa, aku akan menahan semua itu yang terpenting ayah Haikal ini … mau mendapat penanganan dokter.
Bersambung …
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata.