
Aku menampiknya dengan kasar, berjalan kembali ke ranjang, aku merasa sangat pusing dan perut mual, tidak tidur dan makan tidak teratur membuatku masuk angin. Dengan wajah yang berkeringat dingin, aku duduk di bibir ranjang dengan tubuh hanya di balut handuk.
“Ayo minum ini ,” ujar Farel memberiku air hangat dalam gelas.
“Jangan sok perhatian! Tidak perlu,” ucapku ingin berdiri.
“Jangan kera-”
“Uaaak … ueeek … burrr” Aku menumpahkan semua ke tubuh Farel. Muntahan yang menyembur dari mulutku mengotori pakaian Farel.
“Tidak apa-apa keluarkan semuanya, biar perasaan kamu enakkan,” ucap Farel menepuk pundakku .
Aku benar-benar lemas, ia membuka lemarinya dan menarik kemeja miliknya. Lalu memakaikannya padaku, tanpa memakai pengaman di dada, lalu ia melihat kain segi tiga yang berwarna selaras dengan bra milikku, memungutnya, lalu ia berjongkok di memakaikannya untukku, aku hanya pasrah tidak berdaya.
Farel mengangkat tubuh ini ke atas ranjang, lalu menyelimuti kembali. Wajahnya terlihat sangat panik, dengan sikap buru-buru ia memakaikan kaos kaki miliknya dan membungkus tubuh ini lagi dengan selimut tebal.
Saat aku sudah mulai tidur aku merasakan tangannya mengeringkan rambut ini dengan handuk kecil.
“Hiiih …iiih …”
Aku semakin menggigil, melihatku seperti itu Farel datang membawa obat pil tablet dan air hangat dalam gelas.
“Ini minum agar rasa dinginnya berkurang,” ujarnya mengangkat leherku.
Aku menggeleng, aku memang benci meminum obat, apalagi segede itu, seperti yang di pegang Farel. “Ini minum! Ini bukan racun” Aku masih menggeleng.
Tetapi dengan sikap memaksa, ia membuka mulutku dengan cara menekan dan menekan rahangku, terlihat seperti memberi anak kecil minum obat setelah memasukkan pilnya dengan cepat ia menyodorkan gelas minum, dan meminumkan airnya dan memegang daguku dengan kuat.
Guuuk …!
“Makanya jangan keras kepala.” Farel menarik tisu dan membersihkan bagian mulutku.
Akhirnya tertelan juga, membuatku batuk-batuk, Farel menepuk-nepuk pundakku dengan sabar, setelah di paksa minum obat, akhirnya beberapa menit kemudian, mata ini, mulai meredup karena efek obat yang aku telan.
Samar-samar aku mendengar Farel menerima telepon dari seseorang, tetapi dengan mata sangat berat, aku masih sempat mendengar suara meninggi dan marah-marah .
‘Dengan siapa dia bertelepon? Tanyaku dalam hati, hingga akhirnya tertidur pulas.
*
Saat larut malam, aku merasa perutku keroncongan karena lapar, aku mulai membuka mata ini dan menoleh kanan-kiri, mencoba mengumpulkan energi kesadaran, seperti biasa aku akan melakukan ritual itu lagi.
Tubuh ini masih berbaring, menoleh ke samping, ternyata Farel tertidur di sampingku, saat dirinya tertidur pulas, wajahnya terlihat tenang dan teduh, terlihat seperti bayi besar yang sedang tidur. Sangat berbeda saat ia mengamuk seperti sore tadi.
Tadi sore, ia terlihat seperti iblis yang menakutkan, tetapi saat tidur pulas seperti saat ini, wajahnya tampak tenang tanpa beban. Mataku masih meneliti wajah tampannya, setiap kali menatap wajahnya sepertinya tidak pernah bosan untuk melihatnya, hidung mancung, bulu matanya sama seperti milik Haikal panjang dan lentik, alis matanya tebal tetapi tertata rapi.
Wajahnya dipahat begitu sempurna oleh Sang Pencipta.
‘Apa benar lelaki setampan ini, mau menerimaku dengan tulus sebagai istrinya? Jika di pikir-pikir. Dia terlalu sempurna untukku’ aku bermonolog dalam hati, dengan tatapan mata masih tertuju pada Farel.
Farel tidur telungkup memiringkan wajahnya kearahku, satu tangan di jadikan sandaran wajahnya, saat aku ingin bangun, ternyata, sebelah tangannya lagi ia letakkan di atas perut ini. Dengan hati-hati aku meletakkan tangan Farel, aku ingin berdiri . Tetapi saat ingin melangkah, sesuatu menyangkut di tanganku, membuat Farel terbangun.
__ADS_1
Bibirnya tampak tersenyum miring, saat melihatku bingung.
“Apa ini?” tanyaku meneliti tali menyerupai rantai, modelnya, panjangnya kira-kira satu meter, menyangkut di tanganku dan di tangannya.
“Aiiis lagi-lagi kamu melakukan ini,” ujarku kesal.
“Kali ini, lebih berbeda … talinya lebih panjang dan kuat, sekalipun kamu potong pakai gunting dan pisau itu tidak akan putus,” ucap Farel membalikkan tubuhnya dan menatapku.
“Untuk apa semua, ini?”
“Agar kamu tidak kabur, tadi kamu mau kabur, kan?” tanya Farel.
“Siapa yang ingin kabur. Aku hanya lapar tidak bisa tidur kalau lapar,” ucapku ketus. Aku masih marah padanya atas apa yang ia lakukan padaku tadi sore.
“Ini sudah tengah malam Ibu Ririn Wulandari, kenapa kamu tidak tunggu saja sampai pagi dan kamu lanjut saja tidur”
“Aku kelaparan. Bapak Farel Taslan, dari kemarin aku tidak teratur makan dan kamu menyiksaku dan memperkosaku, membuatku semakin kelaparan”
“Apa kamu harus menyimpulkannya sebagai pemerkosaan?” Wajah Farel tampak kesal mendengar kata perkosa.
“Iya”
“Tetapi kamu istriku, Ririn”
“Walaupun aku istrimu Farel, tidak seharusnya kamu melakukan hal seperti itu. Kamu menyakitiku!”
“Aku marah, aku cemburu, itu yang membuatku gelap mata, aku meminta maaf karena menyakitimu,” ucapnya dengan suara lembut.
“Kamu kenapa tiba-tiba meminta maaf bukannya kamu ingin menuduhku macam-macam?”
“Apa? Kamu ingin menuduh macam-macam lagi. Aku menemui Virto mengajak tiga teman Pak Farel, aku juga duduk di luar. Sinta yang masuk, kami rame-rame. Apa kamu berpikir aku tidur dengannya dan ditonton mereka bertiga?”
“Tidak, maksudku sekarang tidak lagi.”
“Lagi, maksudnya?” tanyaku semakin bingung.
“Mas Virto sudah menjelaskannya tadi,” ucapnya ia merasa bersalah.…
“Menceritakan apa?’ tanyaku
“Semuanya, terakhirnya ia memintaku menjagamu. Aku berharap dia tetap sehat kalau benar dia sakit”
“Pak Farel. Makanya, berhenti memperlakukanku seperti itu, bagaimana aku menganggapmu sebagai suami yang baik dan lelaki yang bisa melindungiku , kamu sendiri memperlakukanku dengan hina.
Kamu kasar Farel, kamu selalu menyakitiku. Kamu dan kakakmu sama. Selalu menyakitiku kalian berdua membuatku trauma, itulah sebabnya hatiku selalu bimbang dan selalu ingin menjauh darimu,” ucapku berapi-api.
“Maaf … Maaf Rin, kalau aku menyakitimu, aku janji tidak akan melakukan itu lagi,” ucap Farel menyentuh telapak tanganku dan menciumnya dengan lembut.
”Aku janji, nanti akan melakukannya pelan-pelan,”
“Tidak ada kata nanti … aku tidak akan memberikannya lagi padamu. Aku masih marah dan aku masih merasa kesakitan,” ucapku merasa jengkel dan tanganku memegang bagian intiku.
__ADS_1
“Jangan bicara padaku mulai detik ini, sampai kemarahanku reda, sekarang buka tali ini”
“Jangan seperti itu, apa kamu tidak tahu kalau melayani suami di ranjang itu adalah ibadah. Pahalanya besar loh,” ucap Farel.
Kini wajah ala iblis itu, sudah hilang. Karena Virto sudah membantuku.
Ia menjelaskan pada Farel kalau ia datang ke Paris untuk mengucapkan kata perpisahan dan tidak akan menganggu lagi. Dengan begitu api cemburu yang membakar Farel beberapa hari lalu, sudah padam.
“Untuk membuka itu … aku tidak bisa,” ucap Farel tersenyum nakal lagi.
“Farel aku mau ke kamar mandi, aku kebelet pipis”
“Baik, ayo” Ia ikut berdiri.
“Aku tidak akan bisa kalau ada kamu”
“Pipis tinggal pipis, kan,” ucap Farel berdiri lalu berjalan ke kamar mandi.
“Iya elaaa … Ini buka dulu, ngapain pakai gini-ginian segala sih, kamu itu seperti anak remaja SMA yang baru pacaran. Ingat umur udah tua …!”Ucapku kesal. Karena lagi-lagi ia mengikatku di tangannya seperti yang dulu ia lakukan.
“Kata siap anak SMA, ini gaya pacaran anak SD tauuu ...! Sudah ayo sini pipis,” ucap Farel, lalu ikut berdiri di samping kloset.
*
Saat saat jongkok membuang ampas dari perut tiba-tiba aku ….
“Auuuh …perih …perih!” Meringkuk menjepit pangkal paha.
“Rin, tidak usah lebai. Kamu bukan perawan 17 tahun yang baru melakukan malam pertama,” ucap Farel menatapku dengan tatapan serius.
“Pak Farel, aku tahu, kamu pasti akan meledekku seperti itu, tetapi aku sudah tidak melakukan hal itu selama empat tahun, dan tiba-tiba kamu melakukannya dengan paksa dengan milikmu sebesar itu. Apa kamu pikir itu tidak sakit? lalu apa yang kamu rasakan tadi malam?”
“Rin, jangan membahas itu lagi, aku sudah meminta maaf. Lagian aku tidak mengingatnya, aku hanya terbawa amarah. Baiklah aku meminta maaf sekali lagi padamu. Baiklah apa aku perlu membawa es batu untuk membuatnya adem?" tanya Farel dengan mimik wajah menahan tawa, Farel bercanda.
Saat Farel membuat rasa sakitku itu, jadi lelucon, aku tersinggung dan merasa kesal.
Ia tidak tahu betapa sakitnya yang aku rasakan di bagian itu, setelah melahirkan Haikal secara normal, tanpa dirinya di sisiku dan aku juga mendapat beberapa jahitan di sana, aku merasa sangat ngilu dan perih seolah-olah jahitan lepas saat ini. Tetapi Farel sepertinya menganggapnya seperti lelucon. Membayangkan diriku melahirkan Haikal sendirian penuh perjuangan membuat hati ini begitu sedih.
“Sudahlah, lupakan saja,” ucapku tiba-tiba mataku terasa panas, air di dalam mata ini, ingin tumpah ke bumi, tetapi dengan cepat aku mengerjap-erjap, agar menghalangi bendungan air di mataku tidak mengalir.
“Hei, apa kamu menangis?” Farel memegang daguku wajahnya tampak bingung.”Baiklah, baiklah aku salah,”
“Jangan bicara padaku. Aku lagi marah,” ucapku menuntaskan urusan kamar mandi dan berjalan menuju kamar.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata