Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Cinta apa dusta?


__ADS_3

Berjalan keluar dari hutan membuatku benar-benar sangat lelah, walau Farel mengajak jalan pelan-pelan, tetap saja, membuat tubuh ini terasa tidak bertenaga.


Layaknya orang bunting yang gampang lelah, hal itulah yang aku rasakan saat ini.


“Tunggu sebentar,”ujar ku memegang perut ini.


“Kenapa, apa kamu merasa sakit?” tanya Farel dengan mata menatap serius.


“Iya merasa sakit di bawah sini,”


Menunjuk bagian bawah perut, tadinya tidak ingin mengadu padanya, tetapi aku tidak ingin si kecil, mengalami hal buruk, hanya karena keegoisanku.


“Tunggu ….” Farel membuka kaos dalam berwarna hitam yang ia pakai. Lalu ia mengikat di bawah perut.


“Kamu terlalu banyak bergerak, rahimnya turun,” ujar Farel, aku mengalihkan pandanganku saat ia melihatku dengan tatapan yang tidak bisa aku tebak


Tetapi, walau anak yang aku kandung ini, anak dari Farel, aku tidak ingin bersikap manja dan meminta perhatian darinya. Ia memang ayah biologisnya, namun akulah pemilik sepenuhnya.


“Kita istirahat sebentar aku tidak tahan lagi.”


Aku meyeka keringat yang menetes di kening.


Farel melirik kanan kiri, hingga ia memastikan kami aman, barulah ia mengangguk setuju untuk istirahat, saat Farel duduk di bawa pohon, aku memilih pohon yang lain, tidak ingin dekat dengannya,aku masih berusaha menjauh dan tidak menerima perhatian yang ia tunjukkan, walau aku memang membutuhkannya


“Kemari lah, dalam situasi seperti ini, kamu harus percaya padaku.” Farel duduk di sampingku.


‘Bagaimana untuk percaya kalau nyawa hampir melayang di berada di dekatmu’ aku berucap dalam hati.


Aku baru menyadari ternyata ia juga terluka di bagian kening. tangannya memeluk pundak ku dan mendekapnya di dada bidangnya, aku hanya diam dengan sikap pasrah dan mata mulai sangat berat.


Mungkin karena masih ada sisa obat bius di tubuhku membuatku merasa sangat ngantuk dan tertidur.


Aku merasakan tubuh ini, ia tarik dan di tidurkan dalam pangkuannya, walau aku masih bisa merasakan samar-samar, tetapi mataku enggan untuk diajak untuk terbuka, aku juga, bisa merasakan gerakan tubuhnya masih bergerak mengawasi sekeliling

__ADS_1


Saat mata sudah sangat berat, bahkan susah untuk dibuka, aku merasakan napas hangat menyapu seluruh wajah ini, itu artinya lelaki bertubuh atletis itu menatap wajahku dengan sangat dekat, benar saja dengan samar aku merasakan sesuatu yang hangat menempel di bibirku, aku masih diam membiarkan semuanya terjadi dengan gerakan lembut bibirnya mengulum bibir ini, gerakannya pelan, tetapi pasti, sangat hangat dan lembut, wangi mint tercium dari bibirnya , aku bisa mencicipi rasa manis berpadu mint dari bibirnya, karena Farel bukan orang perokok ia mengganti rokok dengan permen mint.


Apa yang dilakukan Farel, hampir membuatku menampar wajah tampan ya, aku ingin protes karena kecupan hangat dari bibirnya.


Tetapi aku terlalu lelah dan terlalu ngantuk untuk melakukanya, jadilah aku seperti boneka hidup saat di sentuh .


Aku tidak akan menolak ataupun membantah kali ini, karena aku sudah benar-benar sangat tidak berdaya. Farel sepertinya punya kebiasaan mencari kesempatan dalam kesempitan, saat aku tertidur karena pengaruh sisa bius di tubuhku, Farel dengan leluasa menikmati bibirku, seolah-olah itu miliknya.


“Aku akan menjaga kalian berdua, jangan khawatir, tidurlah.” Farel lagi-lagi menyentuh bibir ini tanpa izin. Bukan hanya bibir, ia juga mencium pipiku dan terakhir di kening.


'Ada apa dengannya? apa dia kasihan padaku?' tanyaku dalam hati, aku sampai detik ini belum bisa menebak perasaan Farel yang sesungguhnya


Antara perbuatan dan perkataan sangat bertolak belakang, dulu ia bilang saat membenci wanita murahan sepertiku, tetapi di satu sisi, saat ia tahu aku hamil, ia berubah pikiran.


Tetapi aku tidak tahu apakah ini tulus atau hanya kepura-puraan, aku meragukan segala perhatian yang diberikan. Karena otakku masih mengingat tujuan utamanya malam itu hanya ingin membalaskan dendam sang kakak. Aku hamil di luar rencana Farel.


Aku masih diam, bagai mayat hidup, jika ia ingin mencekik leherku saat ini juga aku sudah berserah. Aku juga tidak tahu apa ia benar-benar menginginkan anak ini atau tidak. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi otak ini.


'Jika Farel masih menginginkan anak ini bagaimana dengan wanita yang datang bersamanya, bukankah itu kekasihnya? Ia bilang kalau ia tidak menyukai wanita itu. Lalu kenapa gambar layar ponselnya foto mereka berdua? apa aku juga orang ketiga untuk hubungan orang lain?'


"Bangunlah, ayo kita pergi dari sini, sepertinya mereka sudah pergi," ucap Farel mengoyakkan-goyang kan tubuhku.


Tetapi mata ini berat sekali untuk dibuka


"Ririn, bangunlah"


Membuka mata. "Mungkin karena sangat lelah, aku merasa sangat ngantuk"


"Apa mereka memberimu obat bius?" tanya Farel penasaran dengan mataku yang sangat mengantuk.


"Iya, kepalaku sangat pusing, mataku sangat ngantuk," ujar ku dengan mata hanya terbuka sedikit.


"Ok, baiklah, aku akan menggendong, kita harus pergi dari sini sebelum mereka datang menyusuri tempat ini lagi"

__ADS_1


"Tapi aku berat"


“Iya karena kalian ada dua dan kamu banyak makan”


"Sok tahu,” ucapku santai


"Karena aku dokter"


'Iya, iya kamu dokter, kamu sangat pamer, kamu sudah berapa kali mengatakan itu padaku”


"Iya karena itu, tetaplah bersamaku dan libatkan aku segala dalam masalahmu.”


Farel mengarah tangannya, mau tidak mau aku menurut.


Berjalan menyusuri hutan, Farel menggendongku.


"Apa kamu tahu tempat ini?"


"Tidak aku hanya menggendong berjalan untuk menjauhi tempat ini, mungkin keluar dari hutan ini kita akan menemukan jalan raya kalau tidak rumah penduduk"


"Ok baiklah, tapi siapa yang menculik ku tadi malam?"


"Aku tidak tahu, saat mereka menyekap dan membawamu tadi malam, kedua penjahat keparat itu juga memukul kepalaku,” ujar Farel


"Benarkah, apa luka di kening mu dan di bibirmu juga kerena mereka," kata dengan gerakan refleks tanganku meraba kening nya yang terluka tanganku juga menyentuh bibir bawahnya yang terluka, saat menyentuh bibir berwarna merah milik Farel, tiba-tiba jantung-ku be detak tidak stabil seakan ada aliran listrik yang mengaliri tubuh ini.


'Kendalikan dirimu Ririn, lelaki tampan itu bukan kelas mu, kamu tidak akan bisa menjangkaunya kenali siapa dirimu' tiba-tiba aku mendengar suara seperti itu dari dalam kepalaku, dengan perlahan aku menarik tanganku.


Itu benar, aku tidak boleh berharap pada sesuatu yang tidak mungkin aku miliki.


Bersambung


Hai, Kakak Bantu share Vote like iya

__ADS_1


agar update makin semangat.


__ADS_2