
Saat disinggung soal hamil, tiba-tiba aku mengingat aku dalam masa subur, karena beberapa hari sebelum Farel memaksaku, aku habis datang bulan persis saat ia melakukannya saat mengandung Haikal.
“Oh gila …! Aku tidak mau,” ucapku spontan.
“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan di atas?" tanya Farel ikut panik.
“Ayo kita apotik orang Indonesia,” ucapku, tidak ingin Farel tahu, kalau aku ingin membeli pil pencegah kehamilan.
“Lah, kenapa harus apotik indonesia?” tanya Farel ikut bingung.
“Apotik luar tidak akan menjualnya,” ucapku berbohong.
“Memang obat apa? katakan saja”
“Tidak, kita langsung saja" Saat itu juga mimik wajah Farel berubah, sepertinya ia tahu.
“Tidak ada Rin, di sini jarang orang Indonesia buka apoteker, kalau restauran dan kuliner lainnya banyak. Katakan saja apa"
“Aku tidak mau hamil, aku ingin fokus ke karierku dulu, tidak ingin ada gangguan. Ayo beli pilnya."Tanganku menarik lengannya.
Farel tampak tidak terima, wajahnya kembali terlihat datar, tetapi, ia sadar diri, kalau ia juga melakukan kesalahan.
“Ayo pesan,” ucapku memaksa.
Walau wajahnya terlihat tidak suka, tetapi ia tidak mau menolak, mungkin ia takut aku marah lagi. Hingga tiba di sebuah apotik, antrian lumayan panjang, padahal masih terbilang masih pagi.
“Gak, kamu saja pesan,” ucap Farel, ingin keluar dari antrian. Aku merangkul tangannya dengan kuat.
“Aku tidak tahu cara mengatakannya,” bisikku pada Farel.
“Aku malas antri,” ucap Farel membuat alasan, padahal antriannya hanya beberapa menit saja dan di depan kami hanya sisa dua orang wanita satu pakai hijab.
“Itu tidak antri lagi. Ayo!” Aku memegang erat lengannya.
Hingga suara terdengar ‘Next!’
Aku menyeret tangan Farel. Ia mau, walau dengan berat hati dan berdiri di depan kasir dan aku mengekor di belakangnya.
Tetapi saat Farel memesan obat yang aku minta, beberapa kasir wanita, tertawa lalu mereka melihat ke arahku.
‘Pasti ia bilang yang aneh-aneh lagi, awas saja nanti kalau kamu ngerjain lagi , aku akan membalasmu' ucapku dalam hati, sayang sekali aku tidak bisa bahasa mereka.
“Kamu bilang apa? Kenapa mereka tertawa begitu” tanyaku saat ingin keluar dari apotik.
“Aku hanya bilang ... istriku tidak mau hamil dari suaminya”
“Perasaan hal itu gak lucu, tetapi kenapa sampai menatapku aneh seperti itu”
“Itu perasaanmu, mungkin karena kamu cantik. Lagian kenapa, harus meminum pil pencegah kehamilan, ini gak ngaruh Rin, meminumnya sebelum melakukan, bukan sesudahnya. Lagian, kan, ada aku"
“Isss … aku tidak mau hamil dengan hal yang sama. Sama-sama di perkosa”
“Ckkk ... Kamu gila iya, aku sudah bilang, karena aku marah saat itu, tidak ada niat memaksa"
“Baiklah, aku tidak mau hamil saat kamu melakukannya dengan keadaan marah”
“Lalu kamu maunya kita mencetak anak dengan tertawa terus"
“Ehhh, bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin hamil dulu karierku baru juga dimulai”
“Rin bagaimana dengan dia?”
__ADS_1
“Farel, aku sudah bilang jangan bertanya tentang masa lalu dulu, aku belum siap menceritakannya . Berat untuk menceritakan padamu dan kamu juga belum siap menerima kenyataan itu nanti. Untuk hari ini, mari kita selesaikan hari ini juga”
Wajah Farel tampak menegang saat mendengarnya, ada ketakutan dan kekhawatiran di matanya.
“Apa dia baik-baik saja? Hanya itu yang aku dengar”
“Aku tidak ingin membahas masa lalu. Tolong mengerti”
Farel menarik napas panjang, ia berusaha sangat keras, mengendalikan dirinya, agar tidak emosi menghadapiku.
“Baiklah kita akan membahasnya, jika hatimu sudah tenang,” ucap Farel, tetapi wajahnya tampak terlihat sangat penasaran.
“Minum berapa pilnya?” tanyaku saat kami duduk di kursi cafe di samping apotik.
Farel membaca bungkus pil yang aku pegang.
“Dua”
“Dua sekali minum?”
“Hmmm”
Farel menyadarkan kepalanya di kursi cafe, kami memilih cafe di luar ruangan untuk serapan pagi.
“Tolong berikan aku air minum.”
Lagi-lagi ia menyerahkannya dengan tatapan dingin.
Setelah minum pil tersebut aku ingin cuci muka ke kamar mandi.
“Aku ingin ke kamar mandi”
Farel berdiri.
“Baiklah.
Ia setuju setelah melihat tidak ada jalan pintu lain selain pintu di dekat Farel.
Masuk ke kamar mandi wanita .
Saat cuci tangan, datanglah, dua orang wanita cantik mendekat dan bibir tersenyum melihatku.
“Dari Indonesia, Iya Kak?”
“Oh … Iya kok tahu?” tanyaku kaget.
“Tadi dengar lagi ngobrol dengan suaminya saat di apotek sebelah”
“Oh … salam kenal saya Ririn dan yang tadi suami saya”
“Saya Mila dan ini teman saya Debora, kita mahasiswa yang kuliah di Prancis”
“Wah hebat,” ucapku kagum.
“Tapi suaminya lucu Kak … tadi tau gak, kenapa para kasir itu tertawa?”
“Oh, kenapa ?” tanyaku sangat penasaran.
“Dia bilang kakak kurang vitamin jadi perutnya besar, jadi dia minta Vitamin untuk kakak, jadi yang dibeli itu vitamin"
“HAAA? Jadi tangannya yang bikin perut besar bilang cacingan, bukan hamil?”
__ADS_1
“Bukan Kakak, makanya kami berdua tadi tertawa ngakak mendengarnya, maaf iya ... bukannya ikut campur tadi kebetulan kami berdua berdiri di belakang, Kakak “
“Tidak apa-apa justru aku senang kalian berdua kasih tahu aku, suamiku bisa bahasa Prancis tetapi aku tidak, lagi-lagi dia mengerjaiku aku marah,” ucapkku dengan mata melotot , terlihat seperti banteng yang siap menyeruduk Farel.
Kedua mahasiswa asal Indonesia itu, tampak tertawa ngakak melihatku marah.
*
Aku keluar dari kamar mandi dengan pundak naik turun, dihitung-hitung entah berapa kali Farel mengerjaiku.
Lalu berdiri dengan mata melotot padanya dengan pundak naik turun dan hidung kembang kempis.
“Ada apa?” tanya Farel tampak bingung melihatku marah.
“Berikan obatnya!"pintaku dengan wajah jengkel.
“Haaa untuk apa?” Mata bermanik-manik coklat itu, menatapku tanpa berkedip.
“Berikan saja”
Farel merogoh kantong jeketnya dan memberikan padaku, aku mengeluarkan dua biji.
“Minum!” kataku menyodorkan pil padanya.
“HAAA ...!?”
“Ayo minum!”
“Ada apa bisik Farel menoleh kanan-kiri kebetulan kafe pagi itu lagi ramai untuk serapan pagi sehabis olah raga. Kedua wanita mahasiswa tadi duduk tidak jauh dari kami.
“Aku bilang minum!”
“Tapi-
Aku mendekatinya dan memegang kepalanya dari belakang menyadarkan di perut dan membuka mulutnya dengan paksa, persis seperti yang di lakukan padaku kemarin sore saat ia memasksaku meminum obat panas.
“Rin, Rin Hmmm … Guk ... guk... uhuk...uhuk." Ia terbatuk-batuk dan akhinya ketelan.
Bola mata indah itu, melotot “Ada apa?” tanya Farel.
“Kamu juga cacingan, kan, kamu juga butuh minum vitamin," ucapku marah.
Bukanya marah, dia malah tertawa ngakak melihatku marah. Mata semua orang menatap ke arah kami.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Farel di sela-sela tawanya.
“Tahu aja, kamu mengerjaiku terus iya. Karena aku tidak mengerti bahasa Prancis. Ok ... Ok ... orang gila kamu pancing,” ucapku geram.
Kini otaku panas memikirkan cara membalasnya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata