
“Apaaa …?” Kali ini Farel yang terlihat ragu, wajah yang mengeras itu perlahan-lahan menurun. Matanya tidak berhenti menyelidiki.
“Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin salah,” ucap Farel mengepal genggaman tangannya.
“Maaf iya Pak, mungkin bapak salah orang, saya harus pergi”
Tiiing … Dong!
Panggilan pada penumpang Garuda No 398 Tujuan Bandara Tayeoung- Taiwan agar segera memasuki pesawat.
Tiiing ..!
“Teh, ayo kita akan ketinggalan pesawat!” Teriak Netta.
“Tunggu … Tunggu. Aku tidak mungkin salah, aku mengenal Ririn dengan baik”
“Kalau bapak menahan tanganku, seperti ini. Kami akan ketinggalan pesawat,” ujarku menampikkan tangannya dari lenganku.
Berjalan menuju pesawat. Aku sengaja berjalan elegan dengan percaya diri, dengan langkah kaki yang terlihat tegas. Aku masih bisa melihat tubuh Farel menatap punggungku yang semakin menjauh darinya. Tatapan keraguan dan tergurat rasa bingung di wajahnya.
‘Aku berhasil melakukannya, aku berhasil mengalahkan tatapan mata Farel tadi’ ucapku berteriak dalam hati, saat naik ke tangga pesawat kekuatan sihir dari tubuhku seakan-akan pudar.
Setelah menyadari diriku mampu menghadapi Farel dengan berani, kini kakiku gemetaran dan detak jantung ini masih berdetak belum stabil.
Hingga aku berhasil mendudukkan tubuhku di kursi pesawat, untung koper milikku kecil, hingga aku tidak perlu mengurus bagasi, aku bisa membawanya ke kabin pesawat.
Setelah menyimpan koper kecil itu ke laci penyimpanan barang . Aku terduduk lemas, tubuh ini lettoi kehabisan daya. Kusandarkan punggungku meletakkan kepala di sandaran kursi.
‘Iya ampun, kenapa harus bertemu Farel dengan istrinya sih’ ucapku dalam hati memegang dadaku yang masih berdetak cepat.
*
“Apa Teteh baik-baik saja?” Sentuhan tangan itu membuatku terbangun dengan tubuh duduk menegap.
'Ah, dasar wanita sialan, bikin kaget saja'
rutukku kesal. Karena Netta tiba-tiba duduk di kursi di sebelahku. Entah bagaimana wanita kurus ini, membujuk wanita yang tadinya duduk di sebelahku.
__ADS_1
“Kok, kamu bisa duduk di sini? Bukanya kursi kamu deretan belakang?” tanyaku dengan kedua alisku saling menyatu.
Aku tahu dalam pikiran wanita muda itu sudah banyak potongan-potongan praduga yang menari -nari bebas di otaknya yang nantinya, ia sebarkan dan di taburkan gosip beraneka jenis di restauran, saat kami tiba di Taiwan.
“Oh, itu .... Ibu yang duduk tadi di sini, aku sogok pakai coklat satu kotak," ucapnya sambil nyengir kuda.
“Lah, bukannya kamu bilang tadi, itu buat oleh-oleh untuk teman-teman kerja kamu”
“He … He tidak jadi, nanti saja oleh-oleh untuk mereka, aku ingin duduk dengan Teteh, aku ingin tahu siapa lelaki tampan itu, Teh?” tanya Netta, aku sudah tahu ia akan merasa penasaran yang apa yang ia lihat. Aku tidak ingin wanita kurus ini membuat gosip yang macam-macam di Taiwan nanti.
“Netta dengar iya; Aku tidak mau kamu membuat spekulasi tentang lelaki yang mengejar ku ta-
“Apa dia suami Teteh.” potongnya lagi, belum juga bibir ini menuntaskan satu kalimat, tetapi wanita muda itu sudah memotongnya, matanya menatapku dengan tatapan memburu.
“Netta begeni dia-”
“Dia mirip Haikal, mirip bangat, tampan bangat. Ya Dewa …! berikan aku satu lelaki tampan seperti suami Teteh tadi,” ujarnya mengatupkan tangannya dan menutup matanya membuat permohonan untuk Tuhannya, agar diberi satu lelaki tampan seperti Farel.
“Hadeeeh, orang belum selesai ngomong kamu sudah memotong kalimat, saya,” ujarku merasa semakin jengkel.
“Oh, iya-iya Teh, teruskan … Tapi benaran kan di suami. Teteh?”
“Iya, iya … Teteh galak bangat sih,” ucapnya terkekeh.
“Iya benar dia ayahnya Haikal aku-”
“Iya benar, kan, kataku .... orang wajahnya sangat mirip, apa lagi matanya dan hidungnya .
Mancung bangat hidungnya dan matanya cakap, saat dia memegang tangan teteh. Oh iya ampun …! itu so sweet bangat bikin baper," ujarnya dengan gaya pecicilan dan mulutnya tidak berhenti nyerocos.
‘Oh, iya ampun mimpi apa aku semalam, bisa bertemu dengan mahluk seperti ini'ucapku dalam hati, membuatku semakin kesal dan lelah.
“Nettaaa, dia lagi marah tadi. Apanya yang so sweet sih, otak kamu miring iya,” ucapku merasa jengkel.
“Tapi saat dia memanggil namamu begitu panjang dan dia juga memegang tanganmu. Teh dan .... Saat kita duduk di cafe tadi, dia terus saja melihat Teteh,”ucapnya tanpa jedah membuatku yang merasa capek saat mendengarnya bicara bersemangat seperti itu.
“Sudahlah, capek saya ngomong sama kamu, kamu tidak mau mendengar penjelasan lawan bicaramu. Sana tukar lagi sama ibu yang duduk denganku tadi, ujarku menghela napas panjang.
__ADS_1
Kini aku merasa di uji dua kali lipat kesabarannya. Bertemu dengan Farel bersama wanitanya, sudah membuatku pusing tujuh keliling. Kini, bertemu dengan si burung kutilang Netta membuatku semakin bertambah pusing. Bagaimana gak pusing. Coba …
Orang baru ngomong satu kata, ia sudah menyalip dan bicara seratus kalimat.
Tidak aku jelaskan, nanti ia bikin gosip sendiri dan bercabang kemana-mana dan sering sekali ia membuat spekulasi sendiri. Tetapi saat ingin di jelaskan orangnya seperti ini; sengkelek dan menyebalkan.
“Oh, maaf aku hanya bersemangat Teh,” ucapnya, kini wajah cengar-cengir dengan bibir kembang kempis.”Kenapa Teteh meninggalkan suami. Teteh , sih?” Tanya kemudian.
“Netta dengarkan aku baik-baik yang harus kamu lakukan itu, tutup mulut dulu dan gunakan kupingmu dan dengarkan aku dengan baik-baik biar aku jelaskan.
Aku tidak mau kamu membuat gosip yang tidak -tidak di kerjaan nanti. Aku tidak ingin anak-anakku pusing mendengar gosip tentang ibu mereka.
Sudah cukup di masa lalu mereka merasa malu karena aku. Saat sekarang, aku ingin anak-anakku bangga untuk ibu mereka. Aku tidak ingin kerja kerasku selama ini kamu hancurkan dengan menyebar gosip yang tidak benar.
Kalau kamu melakukan itu aku tidak akan segan-segan memecat mu,” ucapku tegas. Netta salah satu bawahan.
“Iya Teh,” ucapnya mengontrol dirinya.
“Kalau kamu ingin tahu dengan lelaki itu. Dia adalah suamiku sampai saat ini, dia ayah Haikal”
“Lalu kenapa Teteh meninggalkan lelaki se tampan dia … iya ampun sayang sekali kalau aku jadi Teteh aku tidak akan meninggalkannya”
“Jangan menjadikan ketampanan laki-laki jadi tolak kebahagiaanmu Netta, mintalah pada Tuhan yang baik dan bertanggung jawab bukan lelaki yang tampan. Tampan itu justru yang banyak bahayanya ucapku ketawa kecut, mengingatkan diri ini pada ketiga lelaki yang pernah bersamaku, Dimas mantan suamiku dia juga tampan, tetapi ia selingkuh dengan sahabatku Virto tampan , tetapi dia suami orang dan Farel Taslan lelaki yang paling tampan dari semua pria yang aku kenal. Tetapi dia adik dari wanita yang ingin melenyapkan ku.
Kalau aku disuruh memilih antara jelek dan tampan. Aku akan memilih biar jelek yang penting baik dan bertanggung jawab dari pada tampan kaya, tetapi bikin sengsara dan membuat sakit hati untuk apa?
Saat mengobrol dengan Netta, aku baru sadar pesawat tidak tak kunjung terbang, padahal aku sudah mengobrol dengan Netta sekitar lima belas menit.
Tiba-tiba ada pengumuman dari kabin pesawat diminta menunggu sekitar sepuluh menit lagi,. Dengan alasan masih mengantri di atas menghalangi pesawat kami yang akan take off.
Otakku mulai memikirkan hal buruk’ Jangan-jangan Farel yang meminta delay, agar ia bisa ikut. 'Oh jangan, lebih baik aku keluar’ ucapku dalam hati, ingin keluar dari pesawat dengan tujuan Taiwan itu.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @sonat.ha DAN FB NATA .