
PART 34
Di Buat Mabuk
Aku berpikir harus melakukan sesuatu agar bisa menjauh dari Farel. Aku mengingat minuman tradisional yang di berikan tadi, aku sangat yakin dengan cara itu aku akan berharap bisa menjauh dari Farel. Aku memasukkan obat sakit kepala yang aku bawa dari rumah bapak tadi, tadinya aku ingin meminum sendiri.
Tetapi, kali ini aku meremukkannya sampai halus dan memasukkan ke dalam botol.
Lalu aku menuangkan kedalam gelas kemasan, tidak lama kemudian Farel masuk matanya terkejut, saat melihatku duduk ingin menenguk minuman yang memabukkan itu.
“Eh, apa yang kamu lakukan …? itu tidak bisa untuk orang hamil.” Farel menariknya dari depanku dan meneguknya sampai habis.
“Sayang kalau tidak di minum, tidak baik membuang pemberian orang,” Ujar ku mulai menjalankan misi.
“Sini berikan padaku, bukannya kamu tadi mau tidur?” tanya Farel menuangkan isi botol lagi ke dalam gelas.
“Aku tidak bisa tidur, dingin, makanya aku ingin minum ini”
“Ibu Ririn Wulandari, orang hamil itu dilarang minum minuman keras, apa kamu tidak tahu itu?”
“Tau, aku hanya ingin meminum sedikit”
“Tetap tidak boleh, aku akan menghabiskannya agar tidak sayang kebuang,” ujar Farel. aku tersenyum kecil, rencana ku berhasil, aku tahu Farel tidak akan membiarkan aku meminumnya.
“Rin, tolong jangan membenci terlalu dalam, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang aku buat,” ujar Farel dengan mata mulai mengecil.
“Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah.” Aku menunjuk ranjang.
“Aku tidak akan mau tidur, aku yakin kamu pasti akan kabur lagi,” ujar Farel sudah mulai loyo, karena hanya sekejap ia menghabiskan isi dalam botol.
“Tidak, aku akan tidur di sini,” ujar ku, pura-pura tidur.
“Aku akan mencari mu, walau kamu ke ujung dunia sekalipun, jika kamu melarikan diri lagi dariku Ririn, ingat itu,” ujar Farel wajahnya sudah mulai teler.
“Baiklah,” kataku pura-pura tidur, berharap Farel cepat tidur, agar aku bisa pergi.
Saat pura-pura tidur, tiba-tiba Farel naik ke ranjang memeluk pinggangku dari belakang. Mata ini melotot karena terkejut.
__ADS_1
Menempatkan bibirnya di belakang leher, aku bisa merasakan napasnya yang hangat menyapu bagian leher belakangku.
Aku memilih diam, aku berpikir mungkin hitungan menit lelaki berwajah tampan itu akan tertidur pulas, Karena aku sudah memasukkan satu tablet obat pereda sakit kepala, kedalam minumannya yang menimbulkan efek cepat mabuk.
Dulu saat bekerja di bar, kami sering melakukan itu pada tamu yang datang, jika sudah malas untuk menemani, dikasih itu saja sudah langsung tepar, hal itu juga yang ingin aku lakukan untuk Farel.
Tetapi yang terjadi … Ia membalikkan tubuhku dengan posisi miring menghadapnya
Aku bisa melihat dengan begitu jelas wajahnya yang tampan, aku baru sadar Farel memiliki bulu mata yang panjang.
Farel tanpa permisi, lagi-lagi mengambil sesuatu yang bukan miliknya, ia mencuri satu ciuman dari bibirku, ingin rasanya aku mendorongnya dari ranjang itu sampai jatuh. Tetapi otakku berpikir, saat ini ia sedang mabuk.
‘Baiklah, kali ini aku memaklumi mu, tapi jika kamu melakukannya lagi, aku akan memukul bibirmu sampai dower’ ucapku dalam hati.
Ciuman Farel sangat lembut, membuatku terpesona, hampir lupa diri, biar bagaimanapun aku wanita normal yang memiliki hasrat.
Aku bukan membandingkan ... Jika Mas Virto sudah mabuk seperti saat seperti ini, ia sudah melakukan gaya yang aneh-aneh, kadang tidak masuk akal dan malah menyakitiku, tetapi lelaki tampan ini, walau aku sudah membuatnya sangat mabuk, ia memperlakukanku dengan sangat lembut .
Tidak menyakiti dan tidak mengebu-gebu, bahkan membuatku terbuai, mungkin aku akan berterimakasih untuk malam ini, bisa menikmatinya walau hanya ciuman kepalsuan, aku tidak mengharapkan apa-apa lagi darinya. Ia tersenyum kecil, wajahnya memerah karena panas.
Aku memberikan satu botol untuknya, ia menarik bibirnya dan meletakkan kepalanya di atas lengannya dan tertidur.
"Terimakasih telah menyelamatkan hidupku hari itu, aku berharap kita tidak bertemu selamanya.
Tolong menjauh lah dari hidupku, jalani hidupmu dengan baik,” ujar ku pelan, aku berharap di bawah alam sadar, Farel mendengarnya.
Tiba-tiba ia buka mata menatapku dengan tatapan misterius, mata kami saling menatap, aku sangat kaget.
"Jangan pergi ," ujarnya dan kembali menutup mata.
Aku terduduk memegang bagian dada untuk menenangkan jantungku.
aku pikir, ia sadar saat menatapku.
Aku harus buru-buru pergi jauh darinya.
Setelah membuat Dr. Farel mabuk, saat subuh tiba, aku meninggalkan motel.
__ADS_1
Tetapi sebelumnya pemilik motel sudah bilang padaku, kalau subuh ia akan mengantar barang ke pelabuhan, yang akan di bawa ke Bali, karena barang yang diantar barang yang dilarang pemerintah, maka pemilik motel akan mengirimnya subuh.
Bukan hanya bir yang diantar ke Bali, bahkan barang antik, yang di maksud beberapa wanita seksi yang akan dikirim ke Bali.
Aku baru ingat kalau ibu dokter pemilik penginapan tempatku bekerja, memiliki penginapan di Bali, kerena itu saat pemilik motel cerita ingin mengantar barang ke Bali, aku memutuskan ikut, ada Pak Bayu juga di sana.
Tepat pukul 04:00 aku bangun, menarik beberapa lembar uang cas milik Farel, untuk ongkos kabur, sebelum aku pergi, aku menulis secarik kertas pesan untuk.
To Farel:
Maaf Pak aku pergi diam-diam, bukan ingin melarikan diri, ini untuk kebaikan kita bersama, terimakasih sudah menyelamatkanku
Aku harap aku tidak punya hubungan apa-apa dengan bapak, maaf aku meminjam uang bapak dan meminjam card bapak, nanti saya akan kembalikan
Terimakasih
Ririn.
Aku terpaksa aku menggunakan surat ala zaman dulu, karena aku kehilangan ponsel.
Sebelum pergi, aku meminta pemilik motel untuk membangunkannya tepat jam enam.
"Apa dia suamimu, kenapa ditinggal? sayang tampan begitu di tinggal," ujar pemilik Motel saat aku meminta tolong untuk membangunkannya.
"Dia sudah punya istri, kami hanya melakukan hubungan terlarang, dan aku ingin menyudahinya sampai disini sebelum menyakiti hati banyak orang,"ujar ku santai.
"Oh, begitu kamu wanita yang kuat Neng, ibu berharap kamu menemukan lelaki yang baik, untuk ayah bayimu, jalani hidup dengan baik, jika anakmu sudah lahir tidak baik-”
“Aku jalan dulu,” kataku memotong nasihat panjang lebar yang diberikan wanita itu.
Aku tidak membutuhkan nasihat-nasihat panjang lebar, saat ini yang aku butuhkan sebuah rumah tempatku bersembunyi dari Farel dan kakaknya.
“Ba-baik Neng.” Wanita mengangguk.
Aku meninggalkan motel.
Bersambung....
__ADS_1
Bantu like dan komen di setiap bab ya kakak, biar semakin banyak yang baca semoga kakak terhibur dengan karya ku,terima kasih.