
Berhasil menjauh dari rombongan Farel, aku dan Netta duduk di salah cafetaria di sudut ruang tunggu Bandara.
Jantung ini, belum berdetak stabil kakiku juga masih gemetaran, tetapi aku mencoba bersikap tenang di depan Netta.
Aku tidak mau wanita muda ini membuat gosip baru dilingkungan pekerjaan, saat kami tiba di Taiwan nanti.
“Ada apa sih Teh, kayaknya panik bangat.” Matanya meneliti wajah ini.
“Mau makan apa?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.
“Teh manis hangat saja,Teh, aku kayaknya masuk angin,” ucapnya menepuk-nepuk perutnya.
“Ok” Memesan satu teh manis hangat dan satu dingin untukku.
Aku merasa sangat gerah dan berkeringat saat melihat Farel tadi, bahkan aku belum melepaskan mantel yang aku kenakan dan kaca mata yang aku pakai. Mataku masih mengawasi kanan kiri memastikan Farel tidak mengikuti dan menemukan kami.
Menghabiskan teh manis itu dengan beberapa sedot.
“Haus Teh?” tanya Netta masih menatapku dengan tatapan bingung. Aku berharap tidak bertemu dengan Netta, kalau saja aku tidak bertemu ia tadi, mungkin saat ini detak jantung ini tidak sekencang ini.
“Iya,” jawabku singkat.
“Apa ada masalah?”
“Netta, bisa tidak jangan bertanya terus, kamu habiskan minuman kamu, sebentar lagi kita akan ke pesawat,’ ujarku bersikap sedikit tegas.
“I-iya Teh.” Ia diam, sepertinya ia paham kalau aku tidak ingin diajak mengobrol. Saat minumanku hanya menyisakan batu es dalam gelas.
Ting …!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku, dengan cepat tanganku merogoh kantong jaket yang aku pakai.
Sebuah pesan dari Sinta;
[Riiiin … aku salah melihat tanggal Fashion Weeknya bukan bulan depan! Ternyata ... bulan ini, dua hari lagi]. Isi pesan.
[Oh ...? Aku coba lihat]. Balasku ikut panik.
Aku membuka tas tangan milikku, tetapi aku kehilangan tiket berharga itu, aku tidak tahu kemana rimbanya, aku sudah membongkar semua barang bawaanku tetapi tidak menemukanya.
[Aku kehilangan Tiketnya, aku tidak tahu kemana. Aku dalam keadaan darurat saat ini, bertemu Farel di bandara, saat ini ... aku bersembunyi]Balasku dengan emoji menangis.
[ Apaaa …!?]
[Iya]
[Iya sudah begini saja ... kamu beli tiket langsung ke Paris kita bertemu di sana. Jangan ke Taiwan lagi]
[Ok]
__ADS_1
Saat sibuk membalas pesan dari Sinta, tiba-tiba seorang duduk di sebelahku dan aku tidak menyadarinya.
“Bu, susu hangat satu”
Jari-jari tanganku langsung terdiam di layar ponsel milikku. Aku tahu suara baritton yang bernada tegas itu. Walau kami tidak bertemu selama empat tahun, tetapi bau parfum dari tubuh lelaki itu, aku masih sangat hapal wangi Citrus yang dipadukan wangi mint, wangi segar itulah yang aku cium saat ini.
Ia mengikuti ternyata dan saat ini, mata itu menyelidiki, menatap wajahku dari samping . Untung aku tidak melepaskan kaca mata hitam yang aku pakai dan tidak melepaskan mantel tebal itu juga.
Aku mencoba bersikap tenang, walau ada setitik rindu yang mengintip dari balik hatiku, untuknya. Apalagi, saat mencium bau parfum mahal yang ia kenakan. Farel sepertinya tipe lelaki setia pada wewangian, tetapi aku tidak tahu kalau ia tipe lelaki setia untuk wanitanya.
Tetapi rasa rinduku, rupanya bisa dikalahkan rasa kecewa untuknya, melihatnya bersama wanita itu saat ini dan empat tahun yang lalu. Membuatku tidak ingin menyapanya.
Walau terkadang, apa yang dipandang mata belum tentu sebuah kebenaran. Tetapi, saat ini, aku yakin kalau wanita itu adalah istrinya.
Menjauh dan menghilang dari kehidupan pasangan itu, hal yang tepat, aku tidak ingin menjadi pembawa air mata dalam hubungan orang lain lagi. Aku tidak mau jadi orang ketiga lagi, aku akan membiarkan Farel memiliki wanita itu seutuhnya, tanpa ada orang kedua dan orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Lalu dengan cepat aku mengirim pesan untuk Netta, untung aku menyimpan nomor wanita itu, agar aku bisa berkomunikasi dengannya.
[Netta, bersikaplah pura-pura tidak mengenalku]
[Aaaa … kenapa Teh?]
[Jangan banyak bertanya, nanti aku jelaskan. Lelaki yang duduk bersama kita, dia orang yang tidak ingin aku temui, ayo kita pergi dari sini]. Tulisku lagi.
Saat susu hangat pesanan Farel datang, aku berdiri di ikuti Netta.
“Aku tahu itu kamu Rin, aku tahu bau tubuhmu. Walau kamu mengubah penampilanmu dengan mengubah warna rambutmu dan memakai kaca mata itu.Tetapi, kamu melupakan luka di tanganmu!” Teriaknya dari belakang. Aku terdiam sejenak.
Touring ....Nong!
Panggilan untuk penumpang pesawat Garuda dengan nomor G 398. Tujuan Bandara Tayeoung Taiwan di persilahkan memasuki pesawat!
Bel pengumuman di bandara.
“Teh, pesawat kita, kan. Ayo!” Netta melihat kertas putih di tangannya.
“Iya, Ayo" Aku melangkah.
Aku Berjalan meninggalkan Farel di belakang saat aku melihat wanita itu datang, aku tidak mau membalikkan badan untuk melihatnya.
“Rin, berhentilah! Jelaskan padaku kemana anakku!”
Melihat wanita itu berjalan kearah kami, aku melangkahkan kaki ini, semakin cepat.
“Teh, siapa lelaki tampan itu?” tanya Netta dengan mata membesar.
“Cepatlah, kita akan ketinggalan pesawat,” ucapku berlari kecil.
“Tidak usah berlari Teh, masih ada waktu,” teriak Netta.
__ADS_1
'Aku berlari bukan karena takut pesawat terbang itu meninggalkanku. Aku berlari kecil, karena takut Farel Taslan mengejarku ... pea' ucapku dalam hati.
“Cepatlah, nanti kita ditinggal,” ucapku semakin melangkah cepat.
“Teh! Teteh itu anu”
Buk …!
Sebuah tangan menarik tanganku dengan kasar, membuat koper yang aku seret terjatuh menimbulkan suara.
“Berhenti melarikan diri dariku. Ririn Wulandari Taslan ...!" Teriaknya dengan suara keras.
Deg … Deg …!
Jantung ini seakan-akan ingin melompat dari dadaku.
‘Iya ampun apa yang aku lakukan sekarang?’ tanyaku dalam hati.
Aku mencoba bersikap tenang seperti yang diajarkan dr. Sinta padaku. Aku bisa melihat urat-urat di tulang pipinya saling bertarikan karena kemarahannya.
Aku melihat dari balik kaca mata hitam yang aku kenakan, tatapan semua orang tertuju pada kami, karena Farel mendorong koperku dengan kakinya dengan kemarahan.
Aku bisa melihat para lelaki yang sebagian memakai jubah putih itu menatap Farel, semua teman-temannya tampak berdiri dan berjalan mendekat termasuk wanita itu.
“Ada apa?” tanyaku berusaha bersikap tenang, membuka kaca mata yang aku pakai. Mata Farel melotot saat melihat wajahku, saat aku membuka kaca mata itu.
“Ada apa kamu bilang …?”
“Iya aku bertanya pada Bapak, ada apa, kenapa membuang koper saya?”
“Haaa? Apa kamu mau bilang sekarang … kalau kamu tidak mengenalku?”
Apa yang diajarkan dr. Sinta sebagai dokter bagian psikologi dan bagian analisis, aku praktekkan pada Farel.
Aku seakan-akan mendapat kekuatan dari langit, saat aku mengingat putra tampanku Haikal. Saat melihat wajah Farel saat ini, mereka berdua tampak seperti pinang di belah kampak. Sangat mirip.
Aku berani menatap langsung ke dalam matanya dengan tegas, keberanian itu datang begitu saja, kekuatan seorang ibu yang tidak ingin anaknya di rebut dan diusik kehidupannya.
“Iya saya tidak mengenal, Bapak,” ucapku dengan nada suara yang tegas.
“Apaaa …?” Kali ini Farel yang terlihat ragu, wajah yang mengeras itu perlahan-lahan menurun dan gemetar. Matanya tidak berhenti menyelidiki.
Bersambung ...
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“ Kasih donk komentar kalian tapi Untuk Babnya juga, iya, Terima kasih.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1