Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Katakan apa yang kamu pikirkan.


__ADS_3

Aku terbangun saat tangan oma membelai ujung kepalaku dengan lembut, aku memeluk tubuhnya dengan erat, karena sepanjang malam tangan wanita tua itu memeluk memperlakukanku seperti


Putrinya. Tetapi, saat aku mendekatkan wajahku ke perut, aku mencium bau yang berbeda dan tubuh yang aku peluk itu, sangat keras dan kokoh.


Seketika mataku terbuka dan mendongak, ternyata Farel yang tidur di sampingku.


Aku tidak tahu sejak kapan lelaki itu datang dan tidur di sampingku, Fakta lelaki itu lagi mempersiapkan pernikahannya membuatku tidak ingin bertemu. Namun, saat aku akrab dengan eyang seakan-akan banyak yang berubah, Pak Mertua yang tiba-tiba peduli denganku.


Kini, Farel yang memperlihatkan perhatiannya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi satu hal yang pasti.


Aku akan menerima Apapun keputusannya.


Aku duduk dengan wajah masih muka bantal menoleh ke samping tidak ada lagi Eyang di sampingku, saat aku ingin bangun Farel memeluk pinggang ini, dengan erat mengarahkan kepalanya ke perut dan terus memeluk tidak mau melepaskan.


"Selamat pagi sayang!" panggil Farel ke arah perut bucitku.


Seketika mahluk kecil dalam perut bergerak aktif menendang dan berputar membuatku menegakkan tubuh karena tendangan kakinya yang sangat terasa.


Aku membiarkan ayah anak itu saling bercengkrama, aku memilih diam, mataku sibuk mencari eyang, ' Kenapa ia meninggalkan aku berdua dengan cucunya tidur di ranjang ini? apa eyang berpindah tempat karena aku tidur dengan Farel di sini?' Batinku bertanya.


"Eyang, sedang di bawa kontrol ke rumah sakit," ucap Farel, seolah-olah tahu apa yang sedang aku cari.


"Oh, baiklah, aku ingin ke kamar mandi dulu"


Farel melepaskan pelukannya , di kamar mandi aku mematung lama di pantulan kaca, wajahku semakin membulat, kulitku semakin kusam, banyak yang ingin aku beli dan aku butuhkan tetapi, aku tidak ingin meminta pada Farel


'Kenapa dia masih menunjukkan wajahnya saat ini padaku, harusnya ia melupakanku dan fokus mengurus pernikahannya' ucap dalam hati.


Tetapi aku tidak akan membuka bibir ini untuk bertanya, kapan? dimana? untuk pernikahan Farel. Keluar dari kamar mandi, Farel sudah mempersiapkan serapan pagi di teras depan.


"Kemari lah, ayo kita serapan." Farel menarik tanganku membawaku duduk di kursi di taman.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Farel menatapku dengan tatapan hangat, baru kali ini aku melihat tatapan hangat itu lagi, tatapan hangat yang beberapa waktu lalu sempat hilang entah kemana. Kini, ia memamerkannya lagi.


'Ada apa? apa dia ingin sesuatu?' tanyaku dalam hati.


"Tidak ada Pak Farel"


"Baiklah. Lalu ia mengeluarkan card dari dompetnya memberikan padaku." Ini pegang saja, password-nya tanggal lahir kamu,"ucap Farel.

__ADS_1


"Tidak usah, Pak pegang saja"


"Itu bukan untuk kamu, itu untuk kebutuhan anakku," ucapnya lagi.


"Nanti, kalau ia membutuhkan apa-apa, aku akan meminta dari bapak, aku mandi dulu" Meninggalkan meja.


"Kenapa susah membujuk mu Rin, kenapa begitu sulit menaklukkan hatimu! apa aku harus berteriak dan bertengkar setiap kali bertemu?" tanya Farel.


"Apa aku juga harus tertawa saat bertemu denganmu? sementara kamu ingin menikahi wanita lain"


"Baiklah, katakan sesuatu tentang perasaanmu Ririn, biar aku tahu bagaimana mengambil keputusan"


"Baik ... Aku mau katakan tentang perasaanku. Begini .... Aku mau. Kamu tidak menikah lagi," kataku dengan suara pelan.


Farel tersenyum kecil.


"Rin, kenapa begitu susah mengatakan itu pada suami sendiri, coba kamu bilang dari awal"


"Bicara mah gampang Pak Farel, tidak tahu posisiku bagaimana," kataku mendengus kesal.


"Aku tahu," ujarnya santai, tetapi tidak memberikan jawaban yang pasti tentang keinginanku.


Aku berjalan masuk kembali ke kamar yang aku tempati, tetapi mata ini terkejut, saat masuk ke dalam kamar, barang-barang milik Farel dipindahkan ke kamar itu juga.


"Ada apa dengan semua ini?" Aku terdiam melihat kamar yang saat itu tampak berbeda.


"Ini akan jadi kamar kita dan anak kita nanti," ujar Farel. "kenapa, apa kamu tidak senang?" Farel mencoba bersikap baik , ia sangat mengalah dalam menghadapi ku kali ini.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau,” kataku bersikap biasa saja.


"Aku ingin kamar bayi kita nanti di sana, aku sudah menyuruh tukang untuk membobol itu nanti," ujar Farel bersemangat, ia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Baiklah," kataku berusaha bersikap tenang. Namun, ia tidak tahu, kalau hati ini, terasa diaduk-aduk bagai adonan tepung.


"Apa kamu tidak akan bertanya lagi?"


"Aku tidak tahu harus memulai bertanya dari mana Pak Farel," kataku menghela napas panjang.


"Rin, berhenti memanggilku dengan sebutan Pak ...! Pak ...! Aku tidak suka mendengarnya, kamu memperlakukan suami sendiri seperti orang asing," Ujar Farel. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu, membuatnya sangat berbeda kali ini..

__ADS_1


Farel menarik tanganku dan mendudukkan tubuh ini di kursi, lalu ia merendahkan tubuhnya menjajarkan denganku, ia menyentuh luka di keningku.


“Apa masih sakit?” tanya Farel menatapku dengan tatapan mata yang sangat dalam.


‘Luka itu tidak seberapa Pak Farel , ketimbang luka yang ada di hati ini' aku membatin.


Farel menghela napas, karena apa yang ia lakukan dan ia katakan sikapku tetap saja biasa padanya , apapun yang di lakukan kali ini, tidak akan bisa menjawab rasa penasaranku.


"Rin, apa kamu masih marah padaku?"


"Tidak," jawabku pelan.


"Abi, memperbolehkan ku pindah ke kamar ''ini, Abi juga berterima kasih padamu karena kamu, eyang mau menerima perawatan kembali"


"Aku yang harusnya berterimakasih karena eyang kamu satu-satunya yang mau menerimaku di rumah ini," kataku.


"Aku berharap kamu dan dia, baik-baik saja, Rin"


"Aku akan berusaha menjaga jangan khawatir kataku berjalan melewati ingin ke kamar mandi"


"Aku tidak jadi menikah Rin ... aku berharap dengan keputusan besar yang aku ambil kamu tidak membenciku lagi, aku harap keputusan yang aku ambil, ada kamu di belakangku, sebagai orang yang mendukungku.


Aku terdiam, bohong bila aku bilang hatiku tidak senang. Tetapi apa Farel sudah memikirkan konsekuensinya?


Aku membalikkan tubuh ini, menatap matanya.


"Apa itu tidak apa-apa?" tanyaku dengan hati-hati. " Bagaimana dengan Abi kamu, bukan dia yang memaksa kamu untuk bertanggung jawab untuk menikahi tunangan mu?"


"Awalnya seperti itu, tapi kemarin malam Abi yang memintaku pindah ke kamar ini, ia sangat tersentuh saat eyang berubah dan mau menerima pengobatan.


Dulu Abi, sempat putus asa saat eyang seperti itu, tetapi malam itu, saat eyang tidur memelukmu, wajah Abi tampak terharu, kamu malaikat untuk eyangku," ujar Farel mendaratkan bibirnya ke bibir ini.


Aku hanya bisa diam, jaringan otak ke hati belum bisa konek.


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha

__ADS_1


__ADS_2