Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Saat dia meminta Maaf


__ADS_3

Kabar aku terluka karena eyang sampai juga di telinga Farel, saat hendak mau tidur malam itu. Ia datang ke kamar yang aku tempati, bersama pak Ali.


Malam itu, sebagai awal aku terpaksa tidur sendiri, karena Eyang belum terbiasa tidur bersama orang asing, ia berjanji padaku akan tidur bersama, setelah ia mempersiapkan mental dulu sebelum menerima orang lain di kamarnya.


“Berikan aku waktu sedikit sebelum kamu tidur di kamar ini, iya,” ujar Eyang saat aku meminta tidur di kamarnya.


“Kenapa Eyang, apa takut karena aku bunting?” tanyaku bercanda.


“Bukan Nak, Eyang sudah lama hidup dan tidur sendiri, butuh waktu menyesuaikan diri, aku takut menyakitimu tanpa sengaja," ujar Eyang, kini raut wajah lebih ramah.


“Baik Eyang, aku tidak ingin memaksa, aku akan datang kalau sudah eyang siap,"kataku kembali ke kamar.


*


Saat waktu bertenggker di angka jam sepuluh, suara Farel dan ayahnya terdengar di luar kamar, aku pura-pura tidur terlelap walau sebenarnya mata ini belum bisa diajak tidur.


Kreaak …!


Suara denyit pintu saat Farel masuk.


“Bi, siapa yang meminta dia pindah kamar?” tanya Farel, dia masuk dengan asisten rumah tangga juga.


“Bu-bukan saya Pak Farel,” suara si bibi asisten rumah tangga terdengar gagap.


“Lalu kenap dia bisa ada di sini?”


“Tadi Non, sendiri yang meminta,” ujarnya lagi , masih dengan suara takut-takut.


“Harusnya Bibi kabarin saya sebelum dia pindah, dia lagi hamil Bi, kalau tadi terjadi kenapa-napa padanya bagaimana?” tanya Farel masih dengan suara tegas.


“Ma-ma-maaf pak Farel saya salah.”


“Baiklah, lain kali beri tahu saya apa yang terjadi Bi, itu tugas kamu di rumah ini.”


“Baik Pak Farel, saya minta maaf"


Baiklah, Bibi boleh keluar”

__ADS_1


Wanita bertubuh tambun itu terdengar membuka pintu lalu keluar, kini dalam kamar hanya aku dan Farel yang tinggal, sementara Pak Ali ada di kamar eyang.


*


Aku bisa merasakan tangannya menyentuh luka di keningku, luka yang di lempar Eyang tadi pagi.


“Maaf, karena aku kamu merasakan semua ini, maaf membuatmu menderita,” ujar Farel berjongkok di samping ranjang yang aku tiduri.


Satu tangannya menyentuh perutku dan satu tangan menyentuh keningku yang terluka.


”Jika disuruh memilih, aku lebih baik akan memilih kamu Rin, tetapi jika aku memilih kamu, aku akan di cap lelaki yang ingkar janji, karena meninggalkan tunangan ku.


Tetapi jika aku menikah aku akan menyakiti hati kamu, aku maju salah, mundur pun salah.


Ririn katakan padaku ... apa yang harus aku lakukan. Katakan sesuatu agar aku bisa membuat pilihan yang tepat,” ujar Farel, aku bisa merasakan ada buliran air yang jatuh mengenai lenganku.


‘Jika kamu memintaku mengatakan apa yang aku inginkan saat ini, aku mau bilang aku ingin kamu Farel, aku butuh kamu sebagai suami mendampingiku, saat aku keadaan hamil seperti saat ini, tapi, saat aku mengingikannya, apa semua keluargamu akan mengijinkanya? Apa kakakmu tidak akan semakin murka? Apa ayahmu akan menerima itu?’ ucapku dalam hati.


‘Ah, lebih baik diam, lakukan apa yang menurutmu benar, aku akan menerima semua dengan lapang dada’ ucapku lagi dalam hati ini, aku enggan membuka mulut dan membuka mata.


Farel masih berjongkok menenggelamkan kepalanya di telapak tanganku, ia merasa di lema saat ini.


Aku tahu, dia dalam keadaan sulit, tidak akan mudah membuat keputusan. “Rin, aku tidak tega melihat kamu terluka seperti ini, maafkan aku, tidak seharusnya aku melakukan itu di masa lalu, tidak seharusnya aku membalas dendam padamu saat itu, kini, bukanya hanya kamu yang menderita, aku juga, lebih merasa sakit,” ujar Farel dengan kepala menunduk dengan bahu terguncang-guncang.


Saat aku membuka sedikit mata, mengintip, aku melihat Pak Ali berdiri menarik napas panjang melihat Farel menangis, entah apa yang dipikirkan lelaki paru baya itu, saat melihat putranya menangis sedih di sampingku.


Tidak lama kemudian suster yang merawat eyang datang.


“Maaf Pak Farel bapak memanggil saya?”


Ia masuk bersama Pak Ali, aku masih pura-pura tidur, tidak ingin ikut campur apapun yang mereka bicarakan.


Seolah-olah, aku tidak boleh mendengar, Farel mengajak mereka keluar dari kamarku. Tetapi karena pintu tidak di tutup aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana Farel bicara dengan perawat.


“Apa yang terjadi? Kata Bibi … Ririn terluka, bagaimana bisa? Bukannya kamu mengawasi eyang?”


“Iya, tetapi Non yang memaksa masuk Pak Farel, kebetulan saya sedang di dapur untuk mempersiapkan serapan eyang,” ujar suster dengan suara takut.

__ADS_1


“Tapi, harusnya suster memberitahukan saya, kalau istri saya sakit,” ucap Farel dengan suara penuh penekanan.


“Maaf Pak, saya tidak kepikiran ke sana,” jawab suster, dengan suara pelan.


“Apa luka sampai parah?” tanya Pak Ali, lelaki itu juga merasa bersalah karena yang melakukanya ibundanya.


“Pak sebenarnya … itu hanya sebentar, habis itu eyang dan Non Ririn jadi akrap”


“Ha? Maksudnya ibu tidak marah-marah lagi dia mau menerima orang lain?”


“Iya, Eyang akrap dengan Non Ririn, mereka menghabiskan waktu satu hari ,” ujar perawat bersemangat.


“Benarkah? Soalnya Ibu sudah lama tidak mau menerima orang lain dekat dengannya.


Saat mereka masih asyik mengobrol mataku tidak bisa di ajak kompromi, aku terlelap dan tertidur, aku terbangun, karena merasa ada tangan yang melingkar di pinggang ini.


Membalikkan badan saat berbalik Farel tidur di ranjang yang sama denganku malam itu.


‘Ada apa dengannya, apa dia merasa kasihan padaku, saat neneknya melempar ku dengan Vas bunga?’tanyaku dalam hati.


Saat aku memindahkan tangannya ia menolak, ia mempererat rangkulan tangannya.


“Biarkan saja seperti itu,” ucap Farel dengan mata masih di tutup.


“Aku ingin minum Pak ,” kilahku mencari alasan, matanya terbuka dengan tatapan sendu.


“Baiklah, aku akan mengambilkannya untukkmu istirahatlah di sini.” Farel menyeret kakinya yang setengah ngantuk menuju dapur di samping kamar eyang.


Dapur ke dua yang diperhususkan untuk memasak makanan dan untuk merebus obat-obatan herbal untuk wanita tua itu.


Kalau dapur utamanya sendiri ada di rumah belakang, aku duduk menunggu Farel datang membawa teko kecil tempat air hangat.


“Jangan bertanya kenapa aku tidur di sini,” ujar Farel, seakan-akan ia sudah tahu aku akan bertanya hal itu padanya.


Bersambung.


l

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


Mohon Maaf update babnya lama iya kakak, ada masalah urgent di dunia nyata yang harus di selesaikan, mudah-mudahan semuanya urusannya cepat selesai agar bisa update bab baru lancar.


__ADS_2