Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Saat kenyataan tidak sesuai harapan


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dr.Sinta datang juga, kali ini, raut wajahnya berubah lagi, berbeda dari saat kami datang tadi.


‘Dia bagai bunglon, bisa berubah-ubah setiap saat’ ucapku dalam hati, melihat raut wajahnya yang tampak sangat gugup kali ini.


“Rin Farel, tidak ada di ruangannya,” ucapnya dengan tatapan ragu membuatku semakin penasaran.


“Kemana?”


“Kata seorang perawat yang aku temui tadi … ia lagi makan siang di pantry rumah sakit , bagaimana kalau kita pulang saja,” ucapnya berusaha membujukku untuk pulang.


“Kita sudah berjalan sampai sejauh ini Dok, tinggal satu langkah lagi, masa kita harus mundur”


“Rin, pantry rumah sakit itu, di dikhususkan untuk para dokter di rumah sakit ini”


“Dokter lupa iya …. Aku, kan, dokter bedah saraf, namaku. dr. Linda,” ucapku menatap wajahnya yang terlihat panik itu, aku yakin dr. Sinta sudah melihat Farel di sana, Aku semakin gugup dan sekaligus penasaran, aku berjalan buru-buru dengan penuh semangat untuk menemui Farel lelaki yang saat ini, jadi suamiku. Aku bahkan melupakan, kalau hidupku dalam bahaya.


“Rin, begini -” Kalimat dr. Sinta terpotong, saat melihatku terdiam.


Aku berhenti, dengan wajah tertegun, saat masuk ke dalam pantry, ruangan tempat makan para dokter di rumah sakit itu. Mataku tertuju pada sepasang lelaki dan perempuan, yang memakai jubah putih duduk makan berdua dengan santai.


Farel duduk dengan tunangannya, mereka berdua makan siang, terlihat sangat akrap, tatapan wanita itu dan keakraban keduanya membuatku tertegun, dalam diam, sampai-sampai kakiku tidak bisa di gerakkan.


Aku berpikir, kalau Farel telah menikahi tunangannya terlihat dari tatapan wanita itu padanya dan perhatian yang diberikan wanita itu, pada Farel.


Apa yang aku pikirkan ternyata salah, dr. Sinta benar …. Tidak semua yang kita harapkan akan terjadi seperti itu yang kita inginkan, terkadang malah kebalikannya.


Saat aku yakin, kalau Farel tidak menikahinya dan akan memilih aku dengan Haikal. Sepertinya keyakinanku salah lagi.


Farel tampak tenang, menikmati makanan di piringnya, walau tidak ada senyum di wajahnya, maupun membalas perhatian wanita itu, tetapi berbeda dengan wanita menatap Farel dengan penuh cinta, apa yang dilihat mata ini, cukup untuk mengobati rasa penasaranku dan bisa menjawab rasa bersalah dalam satu bulan ini.


Tadinya aku merasa bersalah, karena pergi dari Farel tanpa pamit, aku berpikir kalau Farel akan mati-matian mencariku dan putranya.

__ADS_1


‘AH …. AKU TERLALU BERHARAP PADAMU’ ucapku tertawa kecut, menertawakan diri sendiri.


Nyatanya … lelaki berwajah tampan, itu kembali pada rumah sakit yang sempat memecatnya karena menikahiku. Farel, kembali bekerja di sana, harusnya aku peka akan hal itu tadi.


‘Apa yang dikatakan Virto mungkin benar, kalau ia menungguku ... melahirkan, baru menikahi tunangannya? Baiklah nikmati saja hidupmu’ ucapku dalam hati.


“Kita pulang saja,” ucapku berbalik badan membelakangi Farel dan wanitanya. Wanita yang tadinya tunangannya dan mungkin saat ini, sudah jadi istrinya.


“Rin, jangan salah paham, mungkin mereka hanya makan siang bersama,” ucap dr. Sinta mencoba menenangkan hati ini.


“Tidak apa-apa Dok, kita pulang saja, kamu benar, tidak seharusnya aku datang ke sini … kali ini feeling ku salah lagi,” ucapku tertawa kecil, menutupi luka hati yang aku rasakan, tetapi, walau bibir ini tertawa, hati ini menjerit sakit.


“Rin, mungkin wanita itu hanya temannya, mungkin mereka sama-sama dokter,” ucap dr. Sinta. Ia tidak tahu kalau itu tunangan Farel.


“Dok, aku pulang saja, dokter masih akan melakukan operasi ,kan?” ucapku nyaris jatuh, karena tatapan mataku tiba-tiba berkunang-kunang.


“Rin, kita pulang sama-sama”


“Tapi bagaimana dengan jadwal operasimu?”


“Kenapa?” tanyaku mencoba bersikap tegar di hadapan dokter Sinta, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita itu.


“Untuk kamu,” ucapnya menatapku dengan tatapan dalam. Lalu mengajakku keluar dari rumah sakit dan mengajakku menjauh dari sana dan membawa ke taman, agak jauh dari rumah sakit.


“Rin, jika kamu ingin menangis menangis lah, aku akan menemanimu,” ujarnya menatap mataku yang sudah di penuhi air yang siap akan tumpah ke dunia ini, aku megerjap-erjapkan mata ini, tidak ingin menangis di hadapan dokter cantik itu.


“Untu apa?” Tanyaku tertawa kecil, tawa yang dipaksa, walau bibirku tertawa tetapi hatiku terasa bagai terbakar.


“UNTUK KEHIDUPAN YANG TIDAK ADIL YANG KAMU LALU INI!”ujarnya dengan suara meninggi.


Untuk pria-pria brengsek yang jahat itu,, Hik …Hik …Hik.” Sinta yang malah menangis .

__ADS_1


”Aku merasakan apa yang kamu rasakan Rin, aku merasakan semua itu . Kamu tahu .... Kenapa aku tidak mau menikah sampai saat ini? Itu karena kekasihku menikah dengan wanita pilihan ibunya, rasanya sakit itu Rin, aku benci pernikahan, aku benci pria, aku lebih baik hidup sendiri selamanya.


Kamu wanita yang sangat kuat Rin, kalau aku di posisimu, entah apa yang aku lakukan”


“Air mataku sudah kering Dok, aku tidak mau menangis lagi untuk hal itu, setidaknya perasaan bersalah selama satu bulan ini, akan hilang, tadinya aku berpikir kalau aku melakukan kesalahan karena pergi darinya tanpa permisi. Aku berpikir kalau Farel mencariku kesana-kemari. Tetapi kalau ia sudah menikahi tunangannya seperti permintaan keluarganya, aku bisa apa, Dok? Bukankah hidup akan berjalan terus?" ucapku pura-pura tegar.


“Apa kamu mencintainya?” tanya Dokter masih terisak-isak karena menangis tadi.


“Iya, aku sempat membuka hati ini untuknya. Tetapi mungkin mulai saat ini , akan tertutup lagi”


“Bagaimana dengan Virto? lelaki itu sangat mencintaimu dan dia juga sudah berpisah dengan istrinya, tidak ada yang salah lagi jika kamu memulai hidup baru dengannya,” ujar dr. Sinta.


“Untuk saat ini, tidak lagi, aku tidak akan memilih siapapun di antara mereka berdua … Mari kita pergi ke luar negeri”


“Kamu mau Rin, kamu mau menerima tawaranku?”


“Iya, aku akan bekerja keras untuk ketiga anakku dan melupakan mereka semua”


“Kamu wanita yang sangat kuat Rin, tetapi kenapa malah aku yang merasa sangat sedih kamu malah bersikap biasa saja. Aku tidak tahan Hik .. hik, aku hanya mendengarnya dan hanya melihatnya merasa sangat terpuruk, aku tidak akan kuat jika berada di posisimu Rin” dr. Sinta kembali menangis apa yang aku alami mengingatkannya pada pengalaman hidupnya.


Kekasihnya yang sudah bersamanya selama enam tahun. Namun, memilih wanita lain, menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Padahal mereka sudah membahas tentang pernikahan dengan keluarganya. Setelah hubungan mereka kandas dan pernikahan yang mereka rangkai gagal, ibunya sakit dan meninggal dan dua minggu ayahnya menyusul sang ibu. Trauma kehilangan itulah membuatnya tidak mau menikah lagi.


“Mungkin eyangnya Farel benar Dok, ia pernah bilang padaku; 'Mencintai manusia melebih cinta pada Sang Pencipta, sebuah kesalahan'


Mungkin aku seperti itu. Maka itu, aku lebih baik pergi menjauh dan meninggalkan mereka semua. Meniti hidup baru demi anak-anak”


“Iya, kamu benar Rin, aku salut dengan ketegaran hatimu. Tadinya aku pikir kamu akan menangis meraung-raung saat melihat suamimu tadi, karena itulah aku lakukan saat melihat kekasihku bersama istri barunya saat itu. Tetapi, kali ini aku mau angkat jempol atas sikap tabahmu menghadapi getirnya rintangan hidup yang kamu alami”


“Aku juga sedih, aku juga rapuh Dok, hati ini juga sakit. Tetapi aku berpikir, aku harus kuat demi anak-anak”


“Baiklah kamu benar. Mari kita pergi dan lupakan semuanya,” ucap dr. sinta

__ADS_1


Bersambung ....


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


__ADS_2