Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Kado ulang tahun


__ADS_3

Sejak Farel memutuskan memilihku menjadi pendampingnya dan membatalkan pernikahan dengan tunangannya, perlahan hati ini sedikit mulai tenang, walau tidak sepenuhnya percaya pada Farel.


Dua bulan sudah aku berada di rumah Farel, rumah yang dulunya kuanggap sebagai penjara, tetapi saat ini, sedikit demi sedikit, keadaan mulai berubah, keluarga Farel sudah mulai menerima kehadiranku di keluarga mereka.


Aku berharap, tidak ada lagi masalah yang terjadi.


Ayah mertua yang dulunya sangat membenci kehadiranku di rumah ini, perlahan memberikan perhatiannya. Ia menunjukkan perhatiannya padaku, Farel meluangkan waktunya, sepenuhnya untukku, selama ia di rumah.


Karena usia kehamilanku sudah memasuki delapan bulan, aku sudah mulai merasa sangat begah dan kaki sudah mulai membengkak, kalau biasanya kakiku bengkak saat memasuki usia sembilan bulan. Namun, kali ini semua tampak berbeda kakiku membengkak belum pada waktunya.


"Jangan banyak stres saat seperti ini," ujar Eyang, saat kami dalam kamar.


"Bersama Eyang aku tidak stres kok eyang,"kataku sembari memeluk tubuh tuanya, bau parfum yang mahal yang di pakai orang tua itu menyeruak ke hidung.


Tetapi aneh, sedikitpun tidak membuatku merasa mual atau pun pusing, mungkin karena mereknya yang mahal, jadi terasa nyaman saat di cium.


" Sana ke kamarmu, ada Farel menunggu di sana," ujar wanita itu, seolah-olah tahu Farel sedang menungguku.


“Aku sama Eyang saja, lebih nyaman, sama eyang merasa di peluk ibu sendiri, dari dulu aku sangat merindukan bau tubuh ini, bau tubuh khas orang tua,” kataku memeluk tubuhnya.


“Kamu , kan, masih punya ibu Nak, ia juga pasti rindu kamu peluk”


“Tidak Eyang, ibuku tidak suka di peluk anaknya sendiri, ia sukanya di peluk sama brondong,” ucapku berkata apa adanya.


“Sana … temanin suamimu, tidak baik meninggalkan suami sendirian, saat dia ingin berangkat kerja, eyang tidak apa-apa tidur sendiri, kamu lebih membutuhkan suamimu,” ujar eyang mengusap punggung tanganku.


“Benar eyang tidak apa-apa sendiri?”


“Tidak apa-apa, pergilah,” ucapnya mengelus perut ini.


*


Saat masuk ke kamar, lelaki berwajah tampan itu sudah berpakaian rapi, hari ini, ia ada pekerjaan di luar kota.


Sama seperti milik Farel, wangi Citrus jadi ciri khas parfum milik Farel, setiap kali ia memakainya, ia akan bertanya padaku.

__ADS_1


“Mau kemana?” tanyaku,menatap Farel yang sudah rapi.


"Aku ada kerjaan di luar kota, tidak apa-apa kan, kamu di rumah?"


"Tidak apa-apa sih"


"Kalau ada apa-apa telepon saja aku. Oh kamu tidak apa-apa kalau aku memakai ini?" Farel menunjukkan botol parfum buatan Jerman itu padaku, Ia takut aku merasa mual.


"Tidak, wangi kok, mungkin karena harganya mahal," ujarku , duduk di kursi meja rias.


"Tidak semua barang mahal, kita miliki karena harganya yang mahal atau karena ia punya brand, tetapi pakailah jika kamu merasa nyaman atau saat kamu memang membutuhkannya, jangan memakai karena mengikuti tren dan karena ingin merasa keren," ujar Farel, menatapku yang bersikap santai.


"Iya, aku salah satu wanita yang tidak mau memakai dan mengikuti tren, aku memakai karena merasa cocok," kataku dengan malas.


"Berarti kita sama," ujar Farel, ia menyodorkan sebuah bag, ia membelikan satu tas untukku yang saat itu lagi tren


Dengan cepat aku mengeluarkan dari bungkusnya. 'Wah ... tas yang sudah lama aku impikan' ujar dalam hati.


Lalu ia menunggu reaksiku, ia tiduran di ranjang dengan satu tangan dijadikan menopang tubuhnya, tidur miring, matanya menunggu reaksi dariku, awalnya aku bersikap tenang. Tidak ingin menunjukkan rasa yang amat senang, tetapi Farel menceritakan , keinginannya membeli tas mahal itu, ceritanya dan cara ia mempraktekkan membuatku tidak bisa menahan tawa pagi itu.


Melihatnya bertingkah manja dengan tubuh kekar dan wajah seperti itu membuatku tidak menahan tawa dan aku tertawa terbahak-bahak sampai-sampai perut terasa kram.


"Kok , kamu tertawa sih, aku benar menceritakan apa adanya, bahkan saat memeriksa pasien kaya itu, ia memperlakukan tas mahal miliknya seperti bayi," ujar Farel, "Dia, memperlakukan seperti ini,"Lagi-lagi ia mempraktekkan gaya orang kaya yang di maksud.


Aku kembali tertawa lepas sampai hampir terkancing celana. Aku baru kali ini merasa geli, tetapi lucu melihat seorang pria macho, menirukan sikap wanita manja dengan gaya tangan manja dan tubuh berjalan melenggak-lenggok.


"Tidak, caramu mempraktekkannya membuatku merasa geli," ujarku menutup mulut menahan tawa.


Baru kali ini aku tertawa saat bersama Farel, dan baru kali ini juga lelaki itu mulai bercerita tentang pasiennya padaku, hubungan kami pagi itu sedikit berbeda dari hari sebelumnya, ia bersikap terbuka padaku.


"Makanya aku membeli satu untukmu ,aku ingin melihat reaksimu, apa sama seperti wanita lainya, tapi, kamu reaksimu biasa saja tadi, tidak seperti wanita itu," ujar Rangga.


"Jadi kamu membelinya hanya penasaran reaksiku dan membandingkan dengan pasien kayamu?" tanyaku memincingkan bibir ini.


"Tidak juga, aku ingin memberimu hadiah, sebagai hadiah pertama dan ini hadiah keduanya, ia memperlihat sebuah kakung berwarna putih. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter ini, berusaha bersikap romantis padaku.

__ADS_1


“Jangan marah lagi padaku, aku berharap kamu bisa mencintaiku dan berharap kamu sehat selalu terutama saat melahirkan nanti.


Selamat ulang tahun Rin, panjang umur dan sehat selalu, aku berharap di ulang tahunmu ini ada tempat di hatimu untukku”


“Haaa? Memang aku ulang tahun?” tanyaku menatap kalender di atas meja.


Farel tertawa saat aku melupakan hari kelahiran ku sendiri.


“Apa kamu tidak mengingatnya?” Matanya serius saat menatapku.


“Iya, aku tidak ingat. Oh … ternyata aku sudah tua,” kataku memegang wajahku yang m[ a]


“Aku lebih tua Rin dari kamu beda empat tahun, walau kamu sudah punya anak”


“Iya akibat kawin muda akunya,” jawabku.


Farel membuka laci meja di bawa televisi, mengeluarkan kue tart mini, memintaku meniup lilin. Hati ini sangat tersentuh, saat ia melakukan semua ini.


“Maaf iya aku hanya bisa melakukan ini untuk kamu,”ucap Farel meminta meniup dua lilin angka dua dan lima yang sedang menyala.


“Terimakasih, karena mengingat ulang tahunku, aku saja tidak ingat, aku sangat senang untuk dan berterimakasih untuk semua ini, aku terharu, senang”


“Aku berharap di ulang tahunku kali, aku semakin dewasa dalam berpikir dan hidupku di limpahi berkat, aku berharap melahirkan dengan selamat”


“Amiiin ,” ucap Farel.


Ulang tahun sederhana tetapi berkesan.


Bersambung…


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


OH JANGAN LUPA BACA KARYA KEDUAKU IYA. KASIH VOTE DAN LIKE DI JAMIN LEBIH SERU DAN MENGHIBUR.


‘MENIKAH DENGAN BRONDONG’

__ADS_1


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2