
Setelah persiapan yang matang, akhirnya Farel akan bertemu keluargaku sesuai tradisi adat yang sudah di persiapkan keluargaku.
Saat tiba di Jakarta, di rumah ayah suasana meriah sudah terlihat. Ayah ternyata tidak tanggung-tanggung untuk, ia mengundang semua keluarga dari ayah dan keluarga ibu dan keluarga dari almarhum ibuku. Tidak hanya itu, saat malam tiba, ayah juga mengundang anak-anak yatim untuk pengajian di rumah. Haikal kegirangan saat bertemu kakeknya dan kedua saudaranya.
“Bu. Ayah Haikal, ternyata ganteng, pantas Ibu meninggalkan Om Virto,” bisik Damar padaku satu cubitan mendarat di pinggang anak lajangku.
“Auuu sakit Ibu.” Ia menjerit.
“Jangan singgung itu lagi .... Anak tampan. nanti terjadi badai di sini,” Bisikku menggertakkan gigi melotot pada Damar.
Damar tertawa mendengar ceritaku kalau Farel tukang cemburu, tetapi di balik semua itu. Damar mau menerima Farel sebagai suamiku baik Jeny Juga demikian .
Padahal dulu dia orang yang tidak setuju aku dengan Farel , Ia ingin aku berbaikan dengan Dimas ayah mereka, tetapi saat ini semuanya berubah dengan baik. Anak gadis bertubuh tinggi ramping itu, pada akhirnya mendukung pilihanku, malah ia akrap dengan Farel.
“Nanti, aku ingin jadi dokter seperti Om, Bu,” ujarnya saat duduk santai, kini cita-citanya berubah lagi, kalau sebelumnya, ia pernah bilang ingin guru, lalu ia bilang ingin desainer seperti aku, lalu ia pernah bilang juga ingin slepgram dan kini jadi dokter.
“Kok ganti lagi Dek, saat itu kamu bilang ingin guru,” protes ibu.
“Iya ni, ganti-ganti mulu,” ujar ayah.
“Jeny berubah pikiran Yah, kayaknya Jeny cocoknya jadi dokter seperti om,” ucapnya tertawa malu.
“Aku mau jadi polisi seperti kakekku,” ucap Haikal tidak mau kalah.
“Bagus itu kakek Ikal pasti hebat,” puji ayah, aku sudah menceritakan hubungan Farel dengan keluarganya, makanya saat di depan Farel Ayah dan Ibu tidak mau membahas tentang keluarga Farel
Akrap, kekeluargaan, itulah yang terjadi di keluargaku saat ada Farel, Damar ingin sekali ingin pemain bola basket profesional sejak dulu dan ternyata Farel jago main basket. Maka selama beberapa hari di rumah ayah, Farel mengambil kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Damar ia melatih Damar. Mereka berdua habiskan latihan bola basket setiap sore.
*
“Aku tidak ingin pulang, aku ingin , di sini saja,” ucap Farel setelah kami habiskan beberapa Minggu di rumah ayah, ia tidak mau pulang.
“Rel, besok jadwal pemeriksaan mu, lalu sekolah Haikal bagaimana?"
“ Pindah ke sini, aku meminta teman dokter yang akan memeriksa di sini”
“Farel, aku sudah membawamu ke rumah keluarga, bagaimana kalau kamu bawa aku juga ke rumahmu secara resmi”
“Sayang lupakan mereka, kita tidak akan menjauhi keluarga itu,” ucapnya dengan marah.
Aku sangat sedih mendengarnya, aku ingin seimbang antara keluargaku dan keluarganya.
"Padahal aku ingin menepati janji pada almarhum eyang,,” ucapku, aku ingin memperbaiki hubungan anak dan ayah.
“Tapi mereka akan terus bergosip tentang kamu dan anakku, itu yang tidak aku sukai,” ujarnya dengan wajah datar.
“Tidak lagi, maksudku aku tidak akan marah, aku hanya kasihan sama abi, kita tidak tahu umur manusia berapa lama , aku tidak ingin kamu menyesali nanti”
__ADS_1
Awalnya Farel berkeras, setelah di bantu ayah ikut menjelaskan, ia akhirnya mau. Aku menelepon ayah mertuaku kalau kami akan pindah ke rumah ayah mertua. Lelaki yang duduk kursi roda itu sangat senang mendengarnya.
“Aku ingin ayah dan anak-anak ikut ke rumah,” ucap Farel.
Aku merasa sangat gugup, apa nanti kata anak-anak Marisa kalau sudah bertemu anak-anakku.
Aku menolak dan menjelaskan padanya, untungnya ia mau mendengar ayah dan nasihat ibu, bukanya aku tidak mau mengajak ayahku bertemu besannya . Tetapi aku tidak ingin ada masalah karena masa lalu.
“Mungkin lain kali Nak, jika hubungan kalian sudah baik dan semua sudah tenang,” ujar ayah.
“Baik Yah.” Farel menunda keinginannya untuk mempertemukan keluargaku dan keluarganya.
**
“Selamat datang di rumah keluarga kita ganteng, baru beberapa bulan tidak bertemu sudah kangen,” ujar Kak Burak mulai menggoda Haikal.
“Selamat datang kembali di rumah kita Nak," ucap orang tua itu tidak bisa membendung rasa bahagianya saat melihat Farel dan Haikal ada di rumah.
“Terimakasih Rin, karena sudah berhasil membujuk Farel untuk tinggal di sini" Lesa menepuk pundakku.
Saat tiba makan malam, butuh tambahan meja untuk menampung semua keponakan dan anak-anak dari mertuaku, mendengar kami pulang ke rumah Kak Burak dan istrinya ikut pulang kerumah, kalau biasanya mereka akan tinggal di rumahnya. Tetapi karena kami datang semua orang datang baik kedua anak dari Virto dan Marisa.
“Wah, ini sudah seperti hari raya nih Haikal! rumah kakek rame karena kamu datang,” ucap Burak. Haikal jadi idola semua orang karena dia anak lelaki satu-satunya di rumah besar itu.
“Kak Ica jangan makan dulu atuh … baca doa makan dulu,” ujar Haikal, membuat semua orang menahan diam dan menahan tawa, membuat cewek tomboi itu malu, langsung meletakkan pada ayam yang di pegang, si cantik tomboi itu, ia anak Marisa,b tetapi Haikal beruntung karena kakak sepupunya baik padanya tidak mengingat masa lalu.
**
“Terimakasih sayangku karena kamu mendidik anak kita dengan baik,” ujarnya setelah beberapa bulan tinggal di rumahnya. Ia memeluk pinggangku di didepan kaca.
“Sebenarnya Aa dan tetehnya yang selalu mengingatkannya rajin sholat dan ayahku juga, Sinta, pengasuhnya mereka semua orang-orang yang baik, aku hanya memantau lewat telepon,”ucapku menolak di puji.
“Sama saja Rin, aku bangga pada kalian berdua,” ucapnya.
“Kalau kamu bangga jangan marah lagi pada ayah mertua, lupakan masa lalu,” ujarku menatap wajahnya.
“Baiklah, aku akan berusaha. Terimakasih sayang, karena memberikan aku kebahagian ini. Kalau begitu berikan Haikal satu adik lagi, iya," Ia memohon. Ini sudah permintaan ke empat kalinya ia ucapkan, sejak kami mulai bersama.
Aku tidak mau, aku selalu membuat alasan klasik untuk mematahkan keinginan Farel Baik kali ini juga.
“Sayang ... Ririn ... Bu! Berikan Haikal adik lagi iya, jangan minum pil itu lagi, iya,”ujarnya merengek manja seperti anak kecil menarik-narik ujung bajuku.
“Eh, Haikal kemana iya …?” Aku berdiri, mencari Haikal ke kamarnya, ternyata Farel mengekor juga. “Bu, Iya! Iya Bu” ucapnya seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan, membuatku sakit kepala.
“Ayah … Jangan minta adik, adik lagi, aku sudah bilang aku gak mau punya anak lagi. Aku sudah tua, usiaku sudah diatas tiga puluh,” ucapku menggertak gigi.
“Temanku umur empat puluh tahun saja, masih bisa, Ayolah,” ujar Farel merengek.
__ADS_1
“Ayah minta apa?” tanya Haikal ia baru pulang dari Mushola bersama kakeknya.
“Minta adik sama ibu”
“Ayah …! Jangan bilang seperti itu, Haikal belum ngerti”
“Iya Bu, Ikal mau adik perempuan”
"Tuh ... Haikal juga mau,"ucap Farel.
“Kalian berdua bikin kepalaku sakit. Bikin saja sendiri beli tepung dan telurnya," ucapku merasa jengkel, meninggalkan Farel dan Haikal. Ternyata hal itu di respon salah oleh Haikal . Ia mengadu sama kakeknya kalau ibunya pelit, tidak mau memberinya adik.
Maka saat makan malam tiba, bocah tampan itu membuat ibunya malu di meja makan, saat semuanya sedang berkumpul makan malam. Pamannya Burak bertanya:
“Tadi sore Ikal, kenapa sedih mengadu apa sama kakek?"
Kakeknya langsung diam, ia menatap Farel dengan senyum kecil. Awalnya aku tidak tahu kalau Haikal mengadu sama kakeknya.
“Itu Paman. Ibu pelit”
“Ibu tidak mau beli apa? Bilang sama Bibi biar bibi beli,” ucap Lesa.
“Ibu tidak mau kasih adik buat Haikal”
“Uhuk … uhuk.” Aku terbatuk karena terkejut, semua orang di meja makan tertawa ngakak kecuali aku, aku merasa wajahku terasa terbakar.
“Memang Ibu, bilang apa Haikal?” tanya Mona semakin menggodanya.
“Ibu Bilang sama ayah; Kalian berdua bikin aku pusing …! bikin saja sendiri beli tepung dan telur lalu bikin adonannya ,” ucapnya menirukan ucapanku sore itu.
Mereka semua semakin ngakak, kakeknya yang tidak pernah sejarahnya, aku lihat tertawa, kali ini ikut tersenyum melihat tingkah polos Haikal.
Aku mencubit pinggang Farel, karena ulahnya, aku jadi malu.
“Haikal mau dedek beberapa sih?” tanya Lesa lagi.
“Aku mau tiga Bi, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Bibi aja yang bikin adiknya buat Haikal iya. Ibu tidak mau lagi,” ujarnya sama Bibi Lesa membuat suaminya tertawa ngakak.
Topik obrolan di meja makan malam itu , Haikal minta adik, suasana ramai dan penuh canda.
.
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata