
Nanti malam, akan ada acara pesta kecil-kecilan diadakan di rumah, karena kebetulan ulang tahun Farel dan ulang tahun ayah mertua sudah lewat beberapa hari yang lalu di buat sekalian perayaan.
Saat jarum jam, bertengger di angka tiga. Farel akhirnya pulang, selama dua minggu ia bertugas di Bali. Aku sudah menyiapkan kejutan untuknya. Aku sudah merasa gugup sejak ia mengabari kalau ia dalam perjalanan pulang. Ia menelepon.
“Mau di bawa apa sayang dari Bali?” tanya Farel sebelum terbang dari Bali.
“Tidak ada”
“Yakin?”
“Hmmm …”
“Jangan ngambek iya, kalau Ayah gak bawa apa-apa”
“Hmmm”
“Kamu tidak apa-apa. Apa kamu sakit?” Ia langsung khawatir, padahal aku hanya menguji. Ia menganti panggilan ke panggilan video call.
“Ada apa?” tanyaku mengalihkan kamera ponsel ke arah lain.
“Rin, mana wajahmu? Ada apa …?”
Aku menutup kepalaku dengan selimut. ”Kenapa”
“Kenapa ditutup pakai selimut? Kamu sakit?” wajahnya tampak sangat khawatir. “Apa kamu sakit?”
“Iya”
“Sakit apa? Apa orang rumah tidak ada yang tahu?” wajahnya tampak serius.
“Sakit Rindu sama kamu”
__ADS_1
“Idiiih dasar. Kirain beneran sakit … baru aku mau telepon ambulans,” ucapnya, wajahnya berubah cerah lagi.”Kenapa di tutupi sih, buka!”
Aku membuka selimut malu-malu. “Ehhh … Masya Allah, cantiknya istriku,” ucapnya tersenyum sangat manis, saat melihatku pakai hijab.
“Sudah mantap hati. Kah?” tanya Farel dengan senyum seakan-akan memenuhi wajahnya.
“Iya, cocok gak?” tanyaku malu-malu, bahkan belum percaya diri.
“Masya Allah. Sayang, sangat cantik, baiklah, sepertinya aku tidak perlu bertanya lagi, oleh-olah yang akan aku bawa untuk kamu,” ucap Farel mengedipkan matanya, membuatku salah tingkah melihat tatapan mata Farel. “Tunggu ayah pulang, sayang”
Farel mematikan sambungan telepon, tetapi aku merasa semakin gugup, aku bolak-balik melihat diri ini, di pantulan kaca, bahkan dari tadi aku tidak mau keluar dari kamar, aku ingin Farel yang melihatku pertama kalinya memakai kerudung. Di rumah , hanya aku dan ayah mertua yang tahu kalau aku sedang hamil. Jadi, saat Haikal mengetuk kamarku kakeknya mengajaknya main.
“Biarkan ibu istirahat , Jagoan, ibu lagi capek,” ucap ayah mertua di balik pintu kamarku, ia mengajak Haikal bermain bola di halaman, sejak beliau tahu aku hamil, aku sangat manja, meminta semua asisten rumah tangga tidak memperbolehkanku melakukan pekerjaan rumah.
**
Tok …Tok …
Farel datang, aku membuka pintu, saat ia masuk aku langsung memeluknya dengan erat.
“Eh, tumben,” ucapnya membalas pelukanku, hubunganku dengan Farel semakin lama, semakin mesra, karena pada akhirnya, aku jatuh cinta sepenuhnya padanya, bahkan sangat mencintainya.
“Selamat Ulang tahun sayang, cintaku,” ucapku mendaratkan ciuman di pipinya.
“Terimakasih istri cantikku. Ini kado untuk kamu,” ucapnya setelah meletakkan barang bawaannya. Ia membeli beberapa hijab untukku.
“Terimakasih sayang. Kadoku untuk kamu, apa dong?” tanyaku pura-pura, padahal aku sudah mempersiapkan kado spesial untuknya, kado tentang kehamilanku.
“Tidak perlu, kamu saat ini, sudah kado paling indah untukku, Masya Allah, cantik istriku,” ucapnya mencium keningku.
Saat ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, aku memberikan satu gelas air minum, untuk melepaskan dahaganya. Terimakasih sayang” Meneguknya sampai ludes.
__ADS_1
“Ini untuk Ayah”
“Apa ini?”
Sebuah kotak dompet tetapi diatasnya aku letakkan taspack, ia tersenyum, saat melihat gambar dompet, ia memang menyukai satu brand kenamaan itu, untuk dompet dan ikat pinggang. Tetapi saat ia membuka, ia terdiam sejenak, ia mengangkat benda bergaris dua itu, lalu matanya melotot menatapku dengan wajah tidak percaya.
“Benaran …!?”
“Hmmm”
“Oh …Oh …” Matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk dengan erat “Ya Allah makasih. Terimakasih … Terimakasih,” ucapnya berulang-ulang sembari memelukku dengan erat.
“Ayah senang?”
“Senang bangat sayangku. Terimakasih Istriku, terimakasih Bidadari surgaku,” ucapnya masih memelukku. “ Ini kado ulang tahun yang paling spesial yang pernah aku dapatkan, sampai aku menangis karena bahagia,” ucap Farel.
“Aku ingin ayah yang pertama melihatku pakai hijab dan orang kedua yang tahu kalau aku hamil”
“Orang kedua?” tanya Farel dengan bibir tertawa kecil.
“Abi yang membawaku periksa ke dokter”
“Kok bisa?” tanya sampai terkejut. “Wah istriku memang hebat, bisa ambil hati bapak mertua, jarang-jarang menantu perempuan dekat sama ayah mertua, sampai-sampai antar ke dokter,” ucapnya memujiku.
Aku juga menceritakan sikap mertua yang memanjakanku Farel hanya tertawa bangga, mendengarnya, matanya menatapku dengan tatapan mata berbinar-binar.
“Baiklah sayang, abi benar. Kamu tidak boleh capek lagi mulai saat ini,” ucap Farel.
Bersambung …
Jangan lupa vote dan like kakak kasih hadiah juga iya.
__ADS_1
Jangan lupa baca
“Menikah Dengan Brondong”