Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Gagal cetak anak


__ADS_3

Lama tidak terdengar kabar Sinta, setelah menemani pengobatan Virto, tetapi sore itu,   Sinta memberiku kabar kalau ia dan Virto akan menikah dan meminta izin padaku , aku sangat bahagia mendengar.


Akhirnya orang baik itu,  mendapat jodoh, aku merasa Allah menjawab doaku satu persatu. Mendengar Sinta akan menikah , aku berpikir sudah saatnya menepati janjiku atau nazarku pada Tuhan.


 Aku pernah berjanji pada diriku, kalau Sinta menikah dengan orang yang ia cintai dan lelaki yang baik, aku akan memakai hijab. Walau  ketiga anak-anakku ingin ibu mereka memakai hijab , dulu, aku bilang belum siap,  aku selalu menolak,  karena aku memang belum siap secara lahir batin. Namun, saat mendengar Sinta akan menikah aku mantap hati ingin hijrah.


“Semoga bahagia sayangku, aku sayang padamu,” ucapku sangat gembira.


“Rin, sebenarnya …. Sebelum operasi aku sudah menikah dengan Virto. Aku melakukan itu agar ia mau operasi, tenyata aku jatuh cinta beneran dengannya dan saat ini aku …”


“Hamil?” tanyaku ingin melompat kegirangan.


“IYa”


“IYa ampun. Ya Allah bahagianya aku, Haikal pasti akan kegirangan kalau ia tahu sebentar lagi ia punya adik,” ucapku heboh sendiri.


“Iya, aku juga sangat bahagia Rin, Mas Virto tidak mengizinkanku bekerja, saat ini,  kami tinggal di kampung halamannya. Iya ampun Rin indah dan sejuk bangat,” ucap Sinta.


“Oh, selamat menikmati kebahagiaanmu , Sin”


“Makasih, tapi kenapa  kamu tidak mau hamil lagi, Rin?”


“Iya belum dikasih, padahal,  aku tidak meminum pil KB tapi belum isi, padahal  tiap malam mah …  bikin … tapi gagal mulu,” ucapku bercanda. “Tetapi sekali lagi selamat sayangku,” ucapku kegirangan.


Terimakasih Rin, doakan aku iya, aku suka panik orangnya”


“Pasti Sin, jangan panik, kamu harus tetap tenang, jangan banyak pikiran,” ucapku memberi nasihat, sebagai suhu,  aku wajar mengajarinya karena aku sudah melahirkan tiga anak secara normal.


Sinta, belum berpengalaman, ia banyak  meminta saran padaku, walau ia  seorang dokter bagian kandungan , tidak lantas membuatnya tenang. Ia bertanya pengalamanku saat mengalami mual.


Bercerita panjang lebar dengan Sinta, tidak menyadari Farel sudah duduk di belakangku, mungkin karena aku terlalu bersemangat  sampai-sampai tidak tahu  kapan ia di sana.


“Astaga … Setan!” teriakku terkejut.


“Kenapa sih kamu  kadang seperti jelangkung. Datang tidak  gak bilang … keluar tidak pamit,” ucapku sewot, tangan ini masih memegang  jantungku.


“Emang jelangkung begitu, iya?” tanya Farel tertawa.


” Makanya Ibu, jangan banyak melamun”


“Siapa yang melamun,  orang lagi menelepon Sinta,” ujarku.


“Tapi terimakasih”

__ADS_1


“Untuk apa?” Farel, memeluk dari belakang.


“Karena kamu memaafkan Virto dan membantunya sembuh, Sinta sangat bahagia mereka sudah menikah,” ucapku, aku tidak ingin ia salah menilai ucapan terimakasih ku.


“Benarkah … Wah selamat”


“Dia bahkan sedang hamil muda saat ini”


“Oh … benarkah, kamu kapan dong sayang."Farel mengelus perutku.


“Belum di kasih,  padahal kita sudah kerja keras,  tiap malam,”ucapku tertawa terkekeh.


“Oh, berarti, kita harus lebih bekerja keras lagi. Ayo  kita cetak anak lagi,” ucap Farel dengan wajah  serius,  membuatku tertawa  melihat wajah tampannya.


“Rin, aku serius,” ucap Farel dengan mimik wajah serius.


“Farel ini masih sore, masa minta jatah, nanti Haikal datang”


Saat kami berdua sedang bercanda dan Farel membuka kancing daster yang aku pakai.


“Ayah, kenapa buka baju, Ibu?”


“Haaa …! Fareeel.” Aku menarik selimut dan telungkup.


“Ibu lagi apa?”


Haikal malah ikut masuk ke dalam selimut, ia berpikir kalau aku dan Farel sedang bercanda.


“Ibu mau tidur Kal, sana  ke kamar  sama kakek,” pintaku buru-buru mengancing   pakaian, sebelum anak pintar ini  cerita sama kakeknya.


“Gak, malam ini.  Haikal, mau tidur sama ibu”


“Aduh … batal deh,” ujar Farel lemas. Aku tertawa ngakak melihatnya lemas.


“Sana, ke kamar mandi jinakkan sendiri,” ucapku menunjuk juniornya.


“Batal apa, ibu mau main apa tadi? Haikal ikutan dong,” ucapnya polos.


“Gagal biki-”


“Aku membekap mulut Farel, jangan mulai lagi,  nanti dia akan mempermalukan ku di depan semua orang,” bisikku di telinga Farel.


“OH,  tadi ayah mau mengurut ibu,” kilah Farel.

__ADS_1


“Oh, Haikal bantu deh, kasihan ibu  capek. Ayah urut kaki Ibu dan Haikal urut tangan ibu,” pinta Haikal membuka laci lalu mengeluarkan minyak gosok.


“Lah, kok jadi kamu yang di urut, ini yang perlu diurut,” bisik Farel menunjuk  juniornya yang masih berdiri tegap.


Aku semakin tertawa melihat ekspresinya, saat Haikal memaksa ayahnya mengurut kakiku.


“Terima takdirmu Bos … Ayo urut kakiku,” ujarku pelan.


“Ah, ini mah …  apes namanya,” ucapnya lemas, tetapi tangannya mengurut kakiku.


Haikal membuat ayahnya patah hati, saat hasrat sudah di ubun-ubun putranya datang menganggu,  malah dapat tugas  mengurut kaki.


Tidak bisa dipungkiri wajah Farel terlihat tidak bersemangat saat mengurut kaki ini.


“Ayah yang selius dong kasihan ibu capek tau, tulun naik-tulun naik,” ucapnya dengan bibir cadel.


Mendengar ucapan Haikal menyebut tulun-naik-tulun naik,  aku tertawa terpingkal-pingkal.


“Ayah, juga batal tulun naik-tulun naik makanya dia lemas,” ucapku menggoda Farel.


“Awas nanti kalau dia sudah tidur iya, kupaksa kamu tiga ronde,” bisik Farel.


“Tidak apa-apa empat ronde juga aku kuat,” ucapku menggodanya lagi.


Ia mendengus lelah, saat Haikal meminta mengurut pundakku juga.


“Ayah, juga capek Kal, masa ibu terus yang di urut.” Farel protes.


“Ayah tidak capek, hanya tusuk,  suntik-suntik doang kan? Cus .. masuk … cus masuk,” ujar Haikal membuatku tertawa ngakak lagi. Mendengar kata tusuk dan cus masuk, membuat otak mesumku traveling lagi.


Lagi-lagi aku tertawa terbahak-bahak memegang perut.


“Otak Ibu mesum mulu, ayo, siapa sekarang yang jadi pengen …,” ujar Farel mendesah di kupingku membuat  bulu kudukku merinding. Membuatku terus tertawa. Aku merasa sangat bahagia malam itu, terlebih,  setelah mendengar kabar tentang Sinta yang hamil.


“Aku mau tidur saja,  aku lelah tertawa, sana ayah ke kamar mandi saja, main solo saja dulu,” ucapku menahan tawa.


Wajah kecewa Farel, membuatnya terlihat lucu, aku semakin menggodanya.


Farel ke kamar mandi, ia terpaksa pakai sabun untuk menuntaskan tuntutan tubuhnya, karena Haikal tiba-tiba datang ke kamar kami dan minta tidur bersama. Karena hal itulah, acara Jumat sunah jadi gagal terlaksana.


Aku memilih tidur, karena siangnya aku memang benar-benar lelah  menyusun semua peralatan dan barang-barangku di  ruangan  lantai tiga. Aku pakai sebagai kantor, aku tidak merasa Farel kapan selesai  dari kamar mandi, saat bagun pagi,  ayah anak itu, tidur saling berpelukan.


Bersambung

__ADS_1


Bantu Vote dan Like iya.


__ADS_2