
Aku penasaran dengan hal itu, Farel bersikap sangat baik dan perhatian saat kami tiba di restaurant, mulai dari memotong-motong daging steak yang ia pesan untukku, di sela-sela kami sedang makan, doa kecil seakan terjawab. Tiba-tiba teman Farel dari Jakarta mendatangi meja kami.
“Farel!” panggil seorang lelaki, ia baru selesai makan di restaurant yang sama dengan kami.
“Hai Bro” Farel berdiri, tetapi tiba-tiba wajahnya terlihat sangat gugup.
“Sama siapa?”Lelaki berkulit putih itu ,menatapku.
‘Hmmm … jawablah, aku selalu penasaran dengan hal itu, jika kamu sok berani memperkenalkan aku pada pegawai hotel sebagai istrimu.
Aku penasaran, apa kamu juga berani mengakui ku di depan keluargamu? Atau di depan teman-temanmu?’ tanyaku dalam hati.
“A-a-ah, oh Ini sama Ririn,” ucapnya terbata-bata, saat melihat wajahnya yang gugup, saat itulah aku ingin tertawa, terbahak-bahak, keraguanku selama ini terjawab.
“Oh, Hai! saya Ririn,” ujar ku, sengaja berdiri dan satu tangan memegang perut, agar mereka tahu kalau aku sedang hamil. Aku sungguh penasaran apa yang dikatakan Farel nantinya.
“Eh? Bini Loe?” tanya lelaki itu dengan wajah terkejut.
“Oh-oh itu, tidak, dia hanya teman,” ucap Farel tidak berani menatapku.
‘Ha.Ha. Ha’ Aku tertawa keras dalam hati saat melihat wajah panik Farel. Walau ada bagian, hati ini yang terasa amat sakit, saat ia tidak mengakui kami.
Aku selalu bertanya; Kenapa Farel selalu bersikukuh ingin menikah denganku, kalau ia sendiri malu memperkenalkanku sebagai calon istrinya? Aku sudah memberinya jalan yang mudah, tetapi karena keegoisannya ia memilih jalan yang sulit.
Saat aku setuju menikah dengannya, tetapi ia sendiri tidak mengakui kami berdua. Ah, jalan hidupku memang miris ….
Aku sudah tahu sebenarnya, akan hal itu, aku tahu, kalau dia tidak akan mau memperkenalkan aku sebagai calon istrinya pada teman-temannya. Aku tahu Farel akan malu, tetap saja hati ini, terasa sangat perih, tetapi aku tidak akan menunjukan perasaan sakit itu, padanya. Aku bisa menebak, Farel hanya ingin bayi ini.
“Oh, gue kira loe uda nikah, tinggal nunggu anak lahir, tadinya gue sempat iri,” ucap,” lelaki itu melirikku.
“Kok iri?” tanya Farel.
“Loe, kan, tau Bro, gue sudah tiga tahun menikah belum di kasih sama yang di Atas”
“Oh, gitu” Wajah Farel terlihat semakin panik. Saat istri temannya menyentuh perut ini dan duduk di sampingku.
“Berapa bulan mbak? Aduh gemasnya.” Wanita cantik itu menempelkan tangannya di perut ini. Lalu ia menempelkan tangannya ke perutnya lagi.
“Jalan enam bulan,” kataku menjawab. Lucunya , saat ia menyentuh perutku si Utun dalam perut menendang tangannya wanita itu, membuat wajah wanita itu terkejut.
“Eh …! Dia menendang tanganku. Pi,” ujarnya menatap suaminya, ia tertawa gembira. Aku melihat ada kerinduan ingin memiliki momongan, di wajah kedua pasangan suami istri itu.
“Iya, dia sangat aktif menendang dan bergerak belakangan ini”
__ADS_1
“Mbak Ririn, wanita yang sangat beruntung, suami Mbak pasti sangat senang karena akan punya anak. Cewek apa cowok?” tanya wanita itu penasaran.
“Saya belum tahu Mbak.”
“Ha?”
Mereka bertiga tampak terkejut mendengarnya, memang benar, aku belum pernah periksa jenis kelaminnya, bagiku baik cewek dan lelaki sama saja. ‘Sama-sama anak di luar nikah’
“Oh, nanti, biar jadi kejutan, saat lahir,” kilahku membuat alasan.
“Oh, iya benar, aku suka hal seperti itu juga, injak ibu jariku kakiku donk Mbak Ririn,” ujar wanita itu menatapku.
“Ha? Untuk apa, Kak? “ tanyaku penasaran.
“Kata orang tua jaman dulu, kalau kita bertemu wanita hamil yang baru pertama bertemu, bila diinjak jempol kakinya, bisa ikut hamil juga katanya,” ucapnya tertawa. Ternyata wanita cantik itu percaya sama takhayul juga.
“Boleh, sini aku injak.” Melepaskan sepatu dan menginjak ibu jarinya.
Rahasia hidup manusia tidak ada yang tahu. Selain Sang Pemilik hidup itu sendiri, saat aku selalu menolak anak yang aku kandung ini, dari saat kehadirannya di rahimku, Ternyata wanita cantik itu, sudah berusaha keras untuk mendapatkan anak, tetapi belum mendapatkannya.
Saat kami mengobrol santai dengan istri teman Farel, ternyata Farel sudah terlihat sangat gelisah, beruntung temannya pintar, mereka tahu kalau Farel merasa terganggu karena kedatangan mereka.
“Ok lah Bro, lanjut makan lagi, kita mau pulang duluan”
Ia duduk kembali, wajahnya tampak merasa bersalah, aku bersikap santai, aku sudah tahu ia akan melakukan itu, secara, aku seorang janda memiliki dua anak hampir tiga.
Farel seorang dokter, perjaka tampan yang sudah mapan dalam segala hal dan anak seorang pejabat pula.
“Mereka teman dari Jakarta,” ucap Farel memberitahukan, padahal aku tidak bertanya.
“Oh,” jawabku tidak perduli.
“Mereka mengenal keluargaku dan istrinya juga, teman Marisa, makanya aku tidak mengakui mu," ujar Farel meremas kepalan tangannya.
“Tidak masalah bagiku-’
Tiba-tiba si kecil di perut menendang kuat dan berputar gelisah, seolah-olah ia marah saat Farel tidak mengakuinya.
“Aaa.”Aku meringis kaget dengan tubuh sedikit meringkuk mengusap-usap perut ini.
“Kamu tidak apa-apa ? wajah Farel tampak panik, ia ingin mendekat, tetapi aku menolaknya.
“Duduklah, temanmu masih di sini, mereka masih mengobrol,” kataku berbisik meminta Farel tetap duduk, karena teman yang tadi belum keluar dari restaurant.
__ADS_1
Suaminya sedang menerima panggilan telepon.
Aku menunduk mengigit bibir bawah menahan rasa ngilu di bawa perut, karena ia bergerak liar seperti cacing kepanasan dalam perutku
”Tenanglah sayang tidak apa-apa,” ucapku menenangkannya. Bukannya tenang, ia malah semakin berontak membuat kulit perutku terasa seperti ditarik-tarik.
“Ada apa ?” Farel bertanya ragu-ragu, kedua bola mata coklat itu bergerak kesamping dan ke depan mengawasi temannya.
“Aku tidak tahu ada apa dengannya, tiba-tiba ia bergerak gelisah, padahal aku tidak memakan yang pedas .... Pak, aku tidak tahan lagi, bisa kita keluar dari sini?” bisik ku pelan memegang perut ini.
“Baiklah tunggu di sini, aku akan mengambil mobil.” Farel berlari kecil mengambil mobil di sebrang jalan.
Tanganku masih sibuk mengusap-usap perut ini, karena si kecil dalam perutku masih belum tenang.
“Ada apa sayang tenanglah apa kamu marah karena ayahmu tidak mengakui mu? Tidak apa -apa anakku, kita berdua harus kuat mental untuk mendengar hal-hal seperti itu,” kataku mengusapnya.
Aku sampai berdiri karena ia tidak mau tenang, aku juga mulai merasa ikut kesakitan perut terasa sangat mulas. Keringat sudah membanjiri kening dan pakaianku basah, karena menahan rasa sakit.
“Sudah, ayo!” Farel berdiri di sampingku.
“Kamu bayar saja dulu tagihannya, aku jalan duluan ke mobil, soalnya temanmu masih di situ,” ujar ku berdiri berjalan sedikit membungkuk, tangan memegang bawah perut ini
“Ada tangga, kita turun sama bersama-sama” Wajah Farel sangat ketakutan saat melihatku kesakitan.
“Tidak apa-apa nanti ada orang lain yang melihatmu.” Aku berjalan pelan, menahan rasa sakit, tetapi sakitnya tidak tertahankan lagi aku merasa seperti orang yang mau melahirkan.
Farel buru-buru membayar tagihannya, lalu ia berlari ke arahku dengan cepat mengendong tubuhku masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak perduli dengan tatapan banyak orang pada kami.
Menidurkan tubuh ini di jok, setelah mendudukkan ku dan membuatku nyaman, ia memegang setir dan buru menghidupkan mesin mobilnya.
Aku meremas sisi jok mobil menahan rasa sakit di perut ini.
“Ada apa denganmu sayang, tenanglah jangan berputar-putar seperti itu. Ibu, jadi ikut kesakitan, Aaaa ….” Aku mengusapnya lembut.
“Bertahanlah, kita sebentar lagi sampai di rumah sakit,” ujar Farel ia sangat ketakutan juga.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1