
Melarikan diri dari Farel, hal yang tepat yang bisa aku pikirkan saat itu. aku tidak ingin dimanfaatkan untuk menyakiti hati Mas Virto, lelaki yang menjadikan ku kekasih gelapnya selama ini.
Kini setelah melarikan diri dari Farel, aku tinggal di daerah terpencil yang sangat indah, jauh dari Ibukota, aku berniat memulai hidup baru di sini, mengurus penginapan milik ibu dokter, wanita yang merawat ku dan menyelamatkan nyawa ku malam itu.
Beliau orang yang sangat baik, ia memberiku pekerjaan untuk mengurus tempat penginapan milik keluarganya. Aku bekerja bersama puluhan karyawan untuk mengurus taman wisata, dan sebuah penginapan di tepi pantai, tepatnya di ujung bumi Indonesia.
Aku berharap tempat yang indah ini, tidak ditemukan Farel ataupun Virto.
Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian pelarian ku dari Virto, aku akan mulai menata hidup yang baru.
“Aku ingin memulai hidup yang baru Dok, demi anak-anakku.”
“Baiklah itu bagus Rin, semua orang punya kesempatan kedua, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hidup, dan Allah juga maha pemaaf, jika kamu sungguh ingin bertobat, asal kamu jangan mengulangi kesalahan yang buruk lagi.”
“Baik Dok, terimakasih sudah menerimaku bekerja di sini Dok, terimakasih untuk membuatku menyadari kesalahanku.”
Dokter berwajah cantik itu meninggalkanku, ia akan bertugas ke luar kota.
Aku tidak pernah merasa tenang selama ini, bahkan selama menjalani hidup, baru kali ini aku merasa tempat yang bisa menerimaku dengan segala kondisiku, dokter pemilik penginapan memperlakukanku dengan sangat baik, menganggap diri ini sebagai adik sendiri.
Mempercayakan semua penginapan untuk aku urus, aku merasa seperti di beri kesempatan untuk memperbaiki diri di tempat ini, aku merasakan bagaimana di hargai sebagai sesama manusia.
Saat hati senang pikiran pun tenang, aku mulai membenahi hidup.
Satu bulan cukup memulihkan kondisi pikiran yang berantakan, kini saatnya untuk bangkit dan melupakan semua masa lalu.
Aku akan berjuang untuk menjalani hidup yang baik demi anak-anak.
Pagi ini, saat memakai safari seragam kerja sebagai staf pengawas di taman wisata, merangkap untuk mengawasi bagian penginapan restauran juga.
Saat ingin mulai bekerja pagi ini, aku melihat pantulan diriku memakai setelan seragam kerja di kaca, bentuk tubuhku saat ini sangat berbeda.
“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja,” gumamku pelan, lalu menghela napas.
Saat masih berdiri di pantulan kaca di kamar yang aku tempati, suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku.
Tok … Tok ….!
"Iya."
__ADS_1
"Rin, ibu mau ke Jakarta, kamu mau menitip apa untuk anak-anakmu?"
tanya Bu Dokter.
"Kalau ibu bisa menemukan alamat sekolah anak-anakku, tolong kasih tahu anak-anakku kalau ibu mereka baik-baik saja Bu.”
"Ok, urus dengan baik iya, Ibu mungkin agak lama di Jakarta, kalau kurang tenaga, Minta bantuan cabang Rika.”
"Iya Bu."
Ibu dokter berangkat ke Jakarta, aku berharap ia bisa menemukan sekolah Jeny dan Darma.
Bisa mendengar kabar anak-anakku keadaan sehat, itu membuatku paling bahagia, itu harapanku saat ini, aku ingin bisa berkomunikasi dengan anak-anakku.
Doa kecilku akhirnya terjawab, setelah beberapa bulan tidak bisa berkomunikasi dengan anak-anakku, akhirnya kali ini bisa mendengar suara mereka berdua, semua berkat wanita yang baik yang memperkerjakan ku saat ini.
Kebetulan rumah anak ibu dokter dekat, dengan sekolahan anak-anakku di Jakarta.
Ibu Dokter memanggil anakku dan meminjamkan ponsel miliknya, untuk bisa berkomunikasi dengan mereka berdua.
Tidak ada yang lebih bahagia dari seorang ibu saat melihat anak-anak mereka sehat.
“Ibu juga sayang, bersabarlah.”
“Ibu kapan pulang?”
" Nanti kalau pekerjaan ibu sudah selesai, tetapi, tidak ada yang boleh tahu siapapun Kalau ibu masih hidup iya Nak," ucapku saat itu.
"Kenapa Bu? tapi kami sangat kangen ibu," ujar Darma dengan tangisan.
"Dengar Nak, jika kalian memberitahukan ibu masih hidup, Om Virto akan mencari ibu dan memukuli ibu lagi nantinya, apa kalian mau itu?"
Mereka berdua menggeleng.
"Baik Bu, kami tidak akan memberitahukan siapapun."
"Bagus, nanti ibu akan menjemput kalian berdua untuk liburan di tempat ibu bekerja, lihat, tempatnya indah kan,"
Aku mengarahkan Kamera ponsel ku kearah pantai.
__ADS_1
Wajah Darma langsung gembira, bocah tampanku memang sangat suka dengan pantai.
"Ibu janji?" ujarnya memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapih.
"Ya, Ibu janji, tapi kalian juga harus rajin belajar, saat ibu bekerja katakan apapun yang kalian mau."
"Benar!" pekik Jeny menahan luapan kegembiraan.
Semuanya berjalan baik, saat aku menceritakan dengan jujur pada ibu dokter, tetapi aku hanya ingin cukup anak-anakku yang tahu keberadaan ku saat ini.
Bahkan aku tidak memberitahukan pada ibu dan ayahku, aku sadar jika aku memberitahukan kabarku pada ibu, aku yakin seratus persen, ia akan memberitahukannya juga pada Virto, dan paling buruknya, Ibu akan mendatangi tempat kerjaku dan ia mulai menempel padaku bagai permen karet, dengan ribuan permintaan yang kadang tidak bisa aku penuhi.
Karena hal itulah aku lebih baik tidak memberitahukan kabar pada kedua orang tuaku, cukup anak-anakku yang tahu, aku ingin tetap hidup dan kuat demi mereka berdua.
Biarkan saja aku jadi anak durhaka pada ibuku, karena ibuku juga durhaka pada anak sendiri.
Ibu lebih membela Virto setiap kali kami bertengkar, Ibuku tidak punya rasa sayang pada anaknya sendiri, ibu hanya memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapatkan berondong untuk menghangatkan tubuhnya, saat suaminya berbulan-bulan tidak pulang.
Ibu rela membiayai semua kebutuhan laki-laki, yang penting mau ia ajak tinggal di kontrakannya untuk memberi kehangatan.
Saat ia memelihara seorang berondong di kamar kontrakannya, uang untuk biaya hidupnya terkadang ia minta dari aku, kalau tidak dari Mas Virto.
Mirisnya, suami ibu tahu tentang perselingkuhan istrinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Terkadang aku bingung dengan jalan hidup yang kami jalani dengan ibuku, jalan hidup yang kami jalani dengan ibuku tidak normal .
Tetapi saat ini, kesempatan untuk menikmati hidup dalam kedamaian dan ketenteraman, aku berharap sampai menua nanti hidupku bisa tenteram dan damai seperti saat ini. Aku tidak membutuhkan laki-laki lagi dalam hidup ini, karena mereka semua hanya membuatku menderita.
Besok pantai akan ramai dan penginapan kami akan dipenuhi orang-orang yang mengikuti festival, sebuah pertandingan olah raga surfing.
Olahraga yang paling di Minati anak-anak muda.
Itu juga yang membuat karyawan perempuan sangat bersemangat pagi ini, karena akan bertemu orang-orang tampan dari seluruh Indonesia, karena festival itu diikuti dari berbagai daerah.
Acara perlombaan itu selalu diadakan tiap tahun, tiap tahun juga mereka bertemu orang-orang tampan. Aku berharap nama Taslan dalam daftar tamu yang akan datang bukan Farel Taslan yang sama.
Bersambung …
Kakak yang baik hati jangan lupa vote,like dan share iya … Kasih hadia juga boleh, biar authornya semakin semangat untuk up tiap hari.
Oh, jangan lupa kasih pendapat kalian dalam setiap bab. Terimakasi , Salam sehat.
__ADS_1