
Prancis-Paris,
Pukul 08: 00 Waktu Paris,
Jarum jam menunjukkan jam delapan pagi.
Aku mulai merasa sangat gugup, entah berapa kali aku bolak balik memeriksa koleksi pakaian hasil rancangan ku yang akan di pamerkan, nanti malam di panggung besar itu.
Memikirkan perhelatan Fashion show kali ini, aku benar-benar membuatku melupakan tentang para pria-pria itu. Otakku hanya terfokus pada acara nanti malam.
Lagi-lagi aku meminta kedua wanita yang jadi asistenku itu memakai dan mencoba pakaian yang aku rancang. Aku tipe orang yang bekerja maksimal dalam mengerjakan sesuatu.
“Bagus bangat kok Mbak, yakin deh,” ucap salah seorang dari mereka.
“Ini Indonesia bangat unik karena ada motif batiknya dan ini cocok di padukan dengan hijab, model kayak yang aku pakai,” ucapnya membuatku kepikiran untuk di padukan dengan hijab model yang lain.
“Oh, iya kamu benar, akhirnya aku menemukannya gaya hijab yang cocok di padukan dengan model ini.
Selama ini aku terlalu terfokus pada kerudung yang dipakai putriku. Karena rancanganku, terinspirasi dari perempuan muda yang tangguh, kalau putriku yang pakai, biasanya ia pakai hijab model khimar. Ternyata dengan model hijab hoodie lebih cocok dengan gaya busana ini,” ucapku mencoba memadukan dengan hijab model Hoodie dan hasilnya sangat memuaskan hati.
Koleksi desainku yang aku bawa dari Taiwan ada empat belas model.
Beberapa sebagian model yang aku padukan dengan hijab untuk anak-anak remaja dan sebagian musim dingin.
Beberapa rancangan yang di padukan dengan hijab aku membuatnya lebih banyak terinspirasi, gaya style fashion Jeny, walau ia memakai hijab tetapi tidak tampak monoton, ia bisa memadukannya dengan berbagai model style yang menarik dan cantik.
“Rin, jika rancanganmu ini sudah di lirik dunia, maka kamu harus siap untuk produksinya, nanti. Apa kamu punya stok model yang kita bawa ini?” Sinta menatapku,
“Di butik kita, ada stok tiga setiap model yang, aku buat”
“Ok boleh lah, jika promosi mu ini sudah tembus dunia, aku yakin, kamu akan sibuk untuk pesanan pakaian nanti. Aku bersedia kok jadi karyawan kamu,” ucapnya bercanda membuatku tertawa.
“Bos besar jadi karyawan?”ucapku menggeleng.
“Iya tidak apa-apa, asal diajak jalan-jalan lagi kayak sekarang, tahun depan, mudah-mudahan kamu dapat undangan lagi dari slot New York Fashion Show (NYFW)
Pasti keren jalan-jalan ke negara itu," ucap Sinta, jalan-jalan memang kesukaannya.
“Amiiin, mudah-mudahan,” ucapku berharap.
“Tapi Rin, apa kamu yakin Virto akan datang?”
“Iya, kalau dia berjanji, pasti dia akan datang”
“Tetapi bagaimana kalau suamimu datang juga, soalnya, dia sudah tahu kamu ikut Fashion Paris, pasti dia akan berusaha keras untuk mendapatkan tiket masuk”
“Aku berharap dia tidak datang, Sin," ucapku memelas.
“Kalau aku pikir-pikir, sih, Farel pasti datang, justru itu kesempatannya untuk menangkap kamu lagi”
__ADS_1
“ Benar juga …. Lalu bagai mana kalau mereka bertemu di sana nanti?” tanyaku menatap Sinta.
“Jangan tanya aku, aku juga tidak tahu," ucap Sinta mengedipkan pundaknya.
“Ah pikiranku jadi kacau nih, apa aku perlu telepon Mas Virto ... agar tidak usah datang, agar tidak ada perang dunia ke tiga” ucapku lagi.
“Bukan Virto yang kamu suruh tidak datang! Tetapi si Farel itu yang perlu kamu karungi, agar dia jinak,” ucap Sinta ketus.
“Tetapi aku tidak tahu nomornya, Sin”
“Iya sudah suruh saja orang untuk menculiknya, seperti yang dilakukan keluarga itu padamu. Harusnya dia bangga kalau kamu sukses bukan malah menekanmu," ucapnya lagi.
“Baiklah, aku tidak mau pusing dengan kedua lelaki ini, aku harus fokus untuk semua ini,” ucapku kembali memeriksa semua persiapan.
“Rin, jangan terlalu panik seperti itu, kamu harus tenang dan santai” Sinta menepuk pundakku.
Pukul 14:00 waktu Paris.
Aku dan Sinta sudah tiba di gedung Museum yang terletak di Kota Paris.
Gedung bersejarah itu nantinya akan di gunakan perhelatan Fashion Show Week kali ini.
Megahnya persiapan panggung membuatku semakin gugup waktu menunjukkan sore waktu setempat, tetapi kemeriahan tampak sudah terlihat, brand-brand ternama; seperti Dior dan Chanel sudah memamerkan hiasan-hiasan sebagian di ruangan.
“Iya ampun kenapa aku jadi,nervous sih …uh La … la” ucapku bersenandung kecil membuang rasa gugup yang tiba-tiba datang melanda.
“Tidak apa-apa sayang semua akan baik-baik saja,” ucap Sinta memberiku botol mineral. “Ini minum dulu”
Jantung ini mulai berdendang duluan.
“Tenanglah, acara ini akan di tonton secara langsung di Indonesia anggap saja keluargamu menontonnya, lihat, aku sudah memberitahukan Damar untuk membuka chanelnya,” ucap Sinta menunjukkan ponselnya.
“Baiklah! demi anak-anakku, aku ingin mereka bangga,” ucapku yakin.
Ada tiga orang desainer dari tanah air yang beruntung yang lulus seleksi kali ini. Kami juga diwawancara singkat ini, aku menjelaskan;
Pewawancara: “Ada berapa model yang diikutkan dalam show kali ini?”
Saya : ”Ada empat belas koleksi busana yang saya bawa “
Pewawancara : “Apa tajuk busana yang Mbak bawa?”
Saya : “Saya terinspirasi dari wanita-wanita kuat Indonesia, terlihat dari motif yang aku pakai, garis tegas sebagai simbol kekuatan. Kelopak bunga yang berwarna coklat terang dan garis tebal di setiap motif.
Pewawancara : “Tehnik apa saja yang di gunakan untuk menciptakan desain bisa seindah ini?” tanya lelaki pewawancara dalam sesi wawancara singkat itu.
Saya : “Saya memakai tehnik printing dan bordir”
Pewawancara : “Untuk Materialnya sendiri?
__ADS_1
Saya : “Saya pakai yang beragam; mulai dari Mikado sebagai kain untuk printing, satin, organza, setiap model beda material” ucapku menghela napas.
Pewawancara : “Model apa saja yang anda bawa?”
Saya : “Saya bawa; blus, shirt, pants, dress, outer dan beberapa perpaduan kebaya dengan dengan motif batik, karena batik salah satu karya kebanggaan Indonesia.
Pewawancara : “Bagaimana dengan Make Over sendiri?”
Saya : “Untuk model sendiri saya pakai yang di sediakan panitia dari sini, tetapi untuk konsep makeup nya saya yang menentukan dan saya sesuaikan dengan model pakaian. Makeupnya yang saya pakai bertema Shampagne Gold dan konsep natural”
“Oh terimakasih untuk penjelasanya Ibu, kami sangat terpukau dengan konsep yang anda bawakan,” ucap Lelaki bule yang mewawancarai ku, walau agak sedikit ribet, karena aku butuh penerjemah untuk wawancara itu, karena aku sendiri tidak bisa bahasa asing.
Wawancara singkat berakhir.
“Kamu sangat keren,” ucap Sinta saat wawancara selesai.
“Ta-tapi jantungku, Sin," ucapku membawa telapak tangannya ke dalam dada ini.
“Ok, tidak apa-apa Jantungmu masih ada kok,” ucapnya terkekeh.
Saat aku gugup setengah mati, tetapi melihat Sinta selalu bersikap tenang membuatku sedikit lebih tegar.
Dalam satu ruangan yang di dikhususkan untuk aku pakai, semua sudah sibuk menata model yang akan memakai pakaian koleksiku kali ini.
Waktu cepat berputar dalam sekejap ruangan yang tadinya masih kursi kosong, kini sudah ter- isi penuh, ruangan yang bertabur banyak bintang.
Karena di penuhi banyak artis dari seluruh dunia.
“Wow, ada artis idolaku,” teriak kedua asistenku saat melihat bintang Kop BTS para lelaki muda berwajah tampan itu, memasuki ruangan VIP. Bintang muda asal Korea Selatan, salah satu band yang ikut di undang untuk mengisi perayaan kali ini.
Mata kedua wanita itu tidak henti-hentinya menyisir setiap tamu yang datang, aku sibuk menenangkan bagian tubuhku yang tidak bisa aku kendalikan saat ini. Jantungku, seolah tidak merespon perintah dari otakku. Ia terus saja berdendang kuat sesukanya.
“Hei jantung ... tenanglah! tidak akan terjadi apa-apa”gumamku mengelus dada ini.
Beberapa menit kemudian acara di mulai.
Ribuan penonton sudah memenuhi kursi tamu undangan baik kursi tamu VIP juga sudah penuh.
“Apakah Farel dan Virto akan datang, ah ... aku berharap Farel tidak datang” ucapku melirik dari balik tirai panggung.
Bersambung …
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR Viewer NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata