
“Farel, aku ingi-”
“Sudah jangan bicara dulu, otakku lagi panas,” ucap Farel saat aku ingin bicara, suasana hatinya tidak lagi baik, ia memang payah dalam mengontrol emosi. Tetapi aku selalu punya cara sendiri setiap kali ia terlihat emosi. Aku akan diam sejenak dan membiarkan ia menenangkan dirinya baru aku buka mulut. Cara itu selalu berhasil aku lakukan untuk Farel. Intinya kalau ia lagi emosi diamkan dan beri ia waktu berpikir sebentar. Nanti akan balik normal dengan sendirinya.
Sesuatu yang diawali dengan kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lainnya dan begitulah seterusnya, hal itulah yang aku takutkan, aku tidak mau hal itu terjadi, maka aku memikirkan cara untuk mengatakan pada Farel, tentunya setelah aku tahu apa semua yang di katakan Farel tentang belum menikah. Apakah itu sebuah kebenaran atau kebohongan.
Josua meninggalkan aku dan Farel di lobby hotel, ia pergi entah kemana.
‘Aku harus mulai dari mana untuk mengajak ia pulang ke Bali?’ tanyaku dalam hati.
“Apa kita makan di sini?’ tanyaku menunjuk restauran hotel, setelah ia terlihat tenang.
“Tidak kita makan di kamar saja, aku sudah pesan tadi” Farel berjalan ke lift dan aku mengekor dari belakang, kali ini mata itu terfokus pada layar ponsel, mimik wajahnya terlihat masih kesal. Sepertinya ia membaca dan membalas pesan dari seseorang terdengar dari dari bunyi pesan ponsel itu.
Aku memilih diam, ada banyak hal yang aku pikirkan padanya, saat ini, tentunya membuat hati bertambah pusing.
Tiiing ….!
Lift terbuka, Farel keluar dengan tulang pipi tampak mengeras, tetapi membuatku tersenyum, saat ia dalam ke adaan marah, ia tidak melupakan memegang tanganku.
“Ayo” Tangan Farel menggenggam telapak tanganku.
Seolah-olah diri ini, anak kecil yang harus ia jaga, agar tidak melarikan diri.
Mulut ini masih terdiam, aku takut aku salah bicara dan membuatnya semakin marah.
Ia menempelkan card itu lagi ke sensor pintu kamar hotel dan kita kembali ke kamar hotel itu, benar saja di atas meja sudah ia pesan untuk makan siang.
Aku berpikir setelah makan siang akan bicara dengan Farel, karena terkadang saat perut lapar pikiran sering ngaco, salah membuat keputusan, maka aku menunggu sampai kami selesai makan.
Saat tahu Farel akan dioperasi aku berpikir bagaimana cara membujuknya, pantas saja, saat kami jalan kemarin, ia beberapa kali mengerakkan pundak di sebelah kiri. Aku pikir itu efek ia mengangkat tubuhku saat itu.
Ia mengangkat kedua alisnya saat aku menyajikan makan itu dalam ke dalam piring dan menyajikannya.
“Kenapa?” tanyaku saat ia menatapku.
“Tidak biasanya kamu mau melakukan itu, biasanya kamu cuek bebek,” ucap Farel saat aku meletakkan potongan daging dalam piring Farel.
“Tidak apa-apa biar pernah,” ucapku fokus ke piring makan.
Saat makan, ponsel miliknya berdering lagi.
Aku memilih tidak ikut campur hanya fokus ke makanan dalam piring, tetapi tiba-tiba wajah Farel langsung berubah merah padam saat pemanggil dalam ponselnya tidak kunjung berhenti. Ia menyambar ponselnya .
“Ada apa Kakak! tidak bisakah kalian membiarkan aku hidup tenang?”
“Kakak aku bukan anak kecil lagi, aku tahu mana yang baik dan tidak baik untuk hidupku,” jawabnya lagi, aku tidak tahu apa yang di katakan sang kakak padanya, membuatnya tampak lebih marah dan lebih menyeramkan, karena seluruh wajahnya tampak menghitam.
__ADS_1
“Sudah deh, kakak urusi saja pekerjaan kakak. Kalau tidak balik lagi ke Jerman sana. Katakan pada abi aku belum pulang,” ucap Farel pada sang kakak.
Setahuku, Farel empat bersaudara dua perempuan dan dua lelaki dan kakak yang bernama Alesa sudah lama tinggal di Jerman bersama keluarganya, makanya aku juga tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya.
Tetapi sepertinya sang kakak masih bersi keras padanya membuatnya semakin murka. Mereka tidak paham sikap Farel, jika ia semakin di desak dan semakin dibantah, Farel semakin murka.
Praaang …!
Aku sangat kaget, ternyata ponsel miliknya dilempar, hingga pecah, ia memang sangat menakutkan kalau sudah marah besar.
Melihat itu nyaliku semakin ciut, aku memilih diam dan menuntaskan makan, sedangkan Farel tidak makan lagi, ia berjalan menuju jendela kaca hotel, ia berdiri di sana menatap keluar jendela, sepertinya ia berusaha menenangkan pikirannya.
Aku membereskan semuanya dan memilih duduk , membiarkan Farel waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Menghadapi Farel memang harus begitu, kalau ia sudah marah besar lebih baik di diamkan saja.
Aku mengeluarkan ponselku dari tempat persembunyian itu dan menghidupkan kembali dan melihat pesan masuk, benar saja, saat dihidupkan ada banyak pesan masuk yang paling banyak dari Sinta.
[Aku akan kembali ke Indonesia, ada urusan yang harus aku selesaikan] Isi pesan Sinta, melihat waktu di layar ponsel, pesannya baru di kirim setengah jam yang lalu dengan cepat aku membalas pesan.
[Kita jadi buka, cabang butik tetapi di Bali saja] balasku tidak nyambung dengan pesan yang dikirim padaku.
Aku menunggu dengan gelisah, aku berharap dengan alasan itu aku bisa mengajak Farel pulang ke Bali.
[???? …]
[Apa maksudnya bukanya kita sepakat, akan buka di Grand Indonesia?”
[Maaf diriku ini. Tolong lah urgent bangat! …] Balasku penuh harap
[Please selamatkan aku] Balasku dengan emoji menangis.
[Lalu apa yang akan kita lakukan?]
[Buka di Bali saja iya … please Sinta … ini antara hidup dan mati] Balasku lagi.
[Boleh telepon?]
[Oh, jangan aku masih dalam tawanan di atas ranjang dan apa kamu katakan itu benar adanya. Sakiiit! …]
[Ha …Ha …Ha …] Balas Sinta
[Maka itu tolongin aku, butiknya di buka di Bali saja, biar aku ada alasan untuk pulang]
[Ok baiklah] Balas Sinta akhirnya wanita cantik itu setuju.
[Ok, iya, aku matikan lagi ponselnya]
[Ok, selamat menikmati berduaan dengan suamimu] Emoji tertawa.
__ADS_1
Setelah saling mengirim pesan dengan Sinta aku buru-buru menghapus semuanya. Saat mataku melihat-lihat foto yang aku kirim dari ponsel Farel ke ponselku, foto saat kami di puncak menara.
Tiba-tiba Farel berdiri di depanku.
“Pinjamkan aku ponselmu,” pinta merentangkan telapak tangganya.
“Ah, tapi jangan dilempar iya, ini baru aku beli dan di dalamnya banyak foto desainku,”ucapku memelas.
“Iya … Ririn, aku hanya cek email” Wajahnya tidak semarah tadi lagi.
Aku memberikannya dengan berat hati, aku takut ia melempar karena marah lagi, karena ponsel itu ponsel kerjaku.
Saat ia sedang sibuk memeriksa email di ponselku, aku memberanikan diri untuk bicara.
“Pak Farel, aku akan pulang ke Bali, besok pembukaan butik kami di Bali, aku bekerja sama dengan seorang teman,” ucapku dengan suara sedikit bergetar aku tahu Farel orang yang kritis dan pintar ia akan menyelidiki.
“Jangan sekarang Rin, aku ingin mengajakmu jalan ke Jepang”
“Pak Farel begini-”
“Rin, tolonglah sekali saja mengalah denganku”
Pak, begini saja, setelah acara di Bali selesai, kita akan pergi kemanapun, aku akan mau, tolonglah, karena aku bekerja sama dengan seorang teman”
“Kenapa harus ke Bali, saat banyak kota di Indonesia ini”
“Pak Farel, temanku orang Bali, dia yang memilih tempatnya dia juga bilang karena peluang untuk di kenal dunia lebih nyata, karena Bali, salah satu tempat wisata yang paling banyak di kunjungi dari berbagai belahan dunia, kan,” ucapku tenang. Aku tahu Farel akan bertanya ini itu , makanya sebelum mengucapkan hal itu padanya, aku sudah memikirkan jawaban sebelumnya.
“Aku lagi malas kembali ke Bali,” ucap Farel sepertinya ia menghindari operasi..
“Ini peluangku, aku ini, bagai seekor anak burung yang lagi belajar terbang, jika kamu tidak mengijinkan aku pergi, itu sama saja seperti mematahkan sayap burung kecil itu sebelum bisa terbang,” ucapku sedikit membuat dramatis.
Setelah menjelaskan panjang lebar dan butuh kerja keras dan kesabaran untuk melakukanya dan akhirnya ia mau.
“Baiklah aku ikut,” ucap Farel.
Akhirnya ia mau kembali ke Bali.
Bersambung ….
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata