
"Bohong, itu tidak benar," kata wanita itu dengan panik.
"Kamu telepon suamimu dan tanyakan padanya, ia akan mejelaskan padamu kalau kalian hanya menumpang di rumah putraku," kataku dengan yakin.
Hal itu juga membuat wajah Darma dan Jeny bersemangat. Anak lelakiku yang duduk di bangku kelas enam SD itu tersenyum puas melihat wajah wanita itu panik.
"Wanita jahat seperti anda, tidak pantas jadi ibuku, kamu selalu menghina dan merendahkan ibuku, dan sering memukul Jeny, suatu saat nanti, aku akan menendangmu dari rumah ini," ucap Darma, seketika kepercayaan dirinya kembali.
Aku memilih duduk tenang menunggu Dimas datang. Wanita itu menelepon suaminya dan memintanya pulang, aku menanam bom dalam pikirannya, setelah ia tahu rumah dan toko milik suaminya, semuanya milik anak-anakku, ia sangat marah.
*
Tidak lama kemudian, Dimas datang, ia berdiri dan menatapku dengan tatapan rindu. Aku tahu, mantan suamiku masih mencintaiku dan masih mengharapkan ku untuk kembali padanya. Tetapi aku tidak akan meliriknya ataupun bersikap baik padanya, melihat anak-anakku tersakiti karena ulah istrinya membuatku ingin menendang bokongnya.
"Rin, kapan datang?"
Belum juga aku jawab, wanita itu berlari dan memeluk tubuh suaminya, ada perasaan lucu saat melihat sikap manjanya.
Dimas masih menatapku penuh rindu, sementara manusia mirip ibu gajah itu, bergelayut manja di lengan suaminya, berharap ia mendapat pelukan balik dari Dimas. Namun. lelaki itu menatapku penuh minat .
"Apaan sih Lin, sudah , tidak usah manja-manja," katanya melepaskan rangkulan tangan istrinya.
'Ah, lelaki semua sama saja, ga bisa lihat yang bening, dia, kan, sudah punya isteri kenapa tidak disyukuri saja' ucapku dalam hati.
Tidak lama kemudian datang ibu Dimas, mantan ibu mertuaku, wanita itu tidak pernah akur denganku.
"Kamu mau apa lagi ke sini? Wanita yang tidak tahu malu ," ucapnya di depan anak-anakku.
"Aku melihat anak-anakku, Ibu. Jangan khawatir aku tidak lama-lama," ucapku santai dan tenang, karena sudah biasa menghadapi wanita bermulut lemes itu.
"Ibu ... ! wanita ini, memukuliku," ujar istri Dimas, mengadu pada ibu mertuanya.
"Apa ...? memukuli? aku akan panggil polisi ." Mengambil ponsel miliknya dan menelepon polisi, kebetulan markas polisi tidak jauh dari rumah.
__ADS_1
Darma panik, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan padaku.
Anakku sudah pintar, ia tahu caranya membantu ibunya tanpa menyakiti hati ayahnya.
[Ibu, kenapa diam, dia yang memukuli kami tadi?] isi pesan yang ia kirim.
[Jangan khawatir Nak, ia akan masuk ke penjara nanti, aku sudah merekam perlakuannya tadi, dia akan ke penjara kalau Jeny mengakui perbuatanya] balasku pada Darma
[Baiklah, Bu]
Tidak lama kemudian ia mengajak adiknya ke kamar, entah apa yang mereka rencanakan, tetapi saat polisi tiba yang terjadi ...
"Pak polisi wanita itu mantan istri anakku, dia memukuli menantuku," ujar ibu Dimas, mantan mertuaku ia melaporkanku ke polisi.
"Pak polisi, baguslah bapak cepat datang, tolong tangkap wanita ini ...! dia ibu tiri yang jahat, beruntung aku datang tepat tadi. Dia memukuli anak-anakku dengan sapu dan merusak mental anak saya dengan kata-kata kasar yang tidak mendidik," ujarku mulai melakukan serangan balik yang mematikan.
Aku menunjukkan rekaman video pada polisi dan Darma dan Jeny keluar dari kamar. Tetapi alangkah terkejutnya hati ini, luka di tangan dan kaki Jeny tiba-tiba bertambah parah entah apa yang mereka lakukan.
‘Ke-kenapa jadi separah itu?’ tanyaku dalam hati, kedipan mata Darma, membuatku berakting.
Melihat bukti dan kekerasan, polisi akhirnya menangkap wanita itu, sedangkan mantan ibu mertuaku dan ayah mereka tampak shock melihat luka memar di tangan Jeny dan mendengar pengakuan keduanya.
"Kamu lelaki bodoh! tidak tahu kalau istri gilamu itu melakukan kekerasan pada anak-anakmu selama ini, kamu tidak tahu berapa kali, ia melakukan itu pada anak-anak.
Dengar anak-anak akan aku bawa dan tinggal bersama kakek mereka, jangan harap kamu bisa menemui mereka. Dengar ibu ... kamu tidak berhak mengusirku dari rumah ini, apa ibu tidak tahu? kalau rumah ini sudah di berikan Dimas padaku atas nama Darma? Apa perlu surat-suratnya aku berikan ke Ibu?” kataku marah.
"Apa? rumah ini, milik kamu?" wanita paru baya itu kaget.
"Iya, kan, Aa. Apa kamu masih mengingatnya malam itu” tanyaku menatap Dimas.
"I-iya Ibu," ujar Dimas gelagapan.
"Sekarang kamu kemas barang-barng mu dan milik istrimu, tinggalkan rumah ini." Dimas kaget, aku datang menjungkir balikkan hidupnya, itu hukuman untuk mereka karena telah menyakiti anak-anakku.
__ADS_1
Mantan ibu mertuaku, tidak tahu, kucing sekalipun bisa berubah jadi seperti macan betina, bila melihat anak-anaknya tersakiti.
Ia dan istrinya terusir dari rumahnya, setelah istrinya ditangkap polisi atas laporan yang aku lakukan. Kasus kekerasan pada anak di bawah umur akan menyeretnya ke pengadilan.
Saat itu, ia masih ditahan, ia bersalah melakukan kekerasan pada anak di bawah umur, bukti rekaman dan pengakuan Damar dan Jeny membuat ibu tiri mereka akan merasakan dinginnya hotel prodeo. Setidaknya, itu yang bisa aku lakukan untuk anak-anakku untuk menebus rasa bersalahku selama ini.
Aku berhasil mengembalikan senyum ana-anakku. Berkat bantuan dr.Sinta dan teman pengacaranya. Akhirnya ibu tiri yang jahat itu akan mendekam dalam penjara dan tidak bisa mengusik anak-anakku.
Aku menolak mencabut gugatan sekalipun Dimas dan ibunya memohon padaku. Tidak boleh siapapun melukai anak-anakku, aku boleh terluka. Tetapi tidak untuk anak-anakku, bahkan nyawa ini rela aku korbankan untuk kebahagian mereka.
Saat istrinya masih di tahan, Dimas keluar dari rumah. Ia tidak punya hak asuh atas anak-anak.
Sebagai gantinya, ayahku yang menjaga dan menempati rumah Dimas. Ayahku dan ibu tiriku orang yang sangat sabar, karena ayah tidak punya anak dari istrinya . Jadi ayah sangat sayang pada kedua cucunya, selama ini, ayah ingin merawat mereka. Tetapi, ibu Dimas mantan ibu mertuaku selalu melarang.
Setelah menyelesaikan semua urusan anakku dari balik layar, aku akhirnya bisa tenang, selama beberapa hari di Jakarta, aku tidak pernah kemana-mana, aku bersembunyi di hotel dan melakukannya dari balik layar yang mengatur semuanya pengacara yang di minta dr. Sinta.
Setelah semuanya selesai aku akan berangkat kembali ke Taiwan.
"Ayah, aku akan mengirim uang tiap bulan, jangan khawatir," kataku sebelum berangkat.
"Ayah masih kuat Nak, lagian usaha rumah makan ayah lagi maju, ayah tidak akan menyusahkan kamu lagi, jadi fokuslah pada kehidupanmu, kedua cucuku ini serahkan pada ayah," ucap ayahku seketika hati ini sangat tenang. Aku belum menceritakan tentang cucunya satu lagi, biarlah satu-satu terselesaikan dulu.
"Terimakasih Ibu," kataku memeluk ibu sambungku, beliau wanita yang sabar berbanding balik dengan anakku yang dapat ibu tiri jahat.
"Jaga dirimu sayang” ucap Ayah membalas pelukanku. Kedua anak itu, akhirnya mengizinkanku pergi, mereka sangat senang tinggal dengan ayah.
Aku buru-buru pergi dari Jakarta, sebelum kembali ke Taiwan, aku mampir ke Bali menjenguk Haikal membeli semua kebutuhannya. Lalu terbang kembali ke Taiwan, kini aku bisa bekerja dengan tenang.
Bersambung ....
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Bersambung ….
__ADS_1
“Kakak jangan lupa baca “Menikah Dengan Brondong”
Jangan lupa follow IG @sonat.ha Fb. Nata