Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Datang untuk meminta maaf


__ADS_3

Malam itu aku dan Virto masih duduk berdua.


“Rin, tolong jangan membenciku, maafkan aku," ucapnya beberapa kali, seakan-akan hari itu, hari raya, sehingga membuatnya mengucapkan minta maaf beberapa kali.


“Aku sudah melupakan Mas, dan saat ini, aku berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik. Mas juga tahu kan , aku dan Farel masih status suami istri , walau hanya status”


“ Aku tahu Rin, Damar sudah cerita … Rin, anggap saja ini pertemuan kita yang terakhir. Jika kelak, aku datang tiba-tiba dalam ingatanmu, tolong jangan membenciku,”ucapnya dengan wajah yang terlihat begitu terpukul.


“Apa sakitmu begitu parah? Aku merasa kamu seolah-olah menyampaikan kata-kata perpisahan,” ucapku, kali ini, aku menatapnya dengan lebih serius.


“Anggaplah seperti itu, anggaplah Tuhan memberiku hukuman atas kelakuanku di masa lalu,” ujarnya sendu.


“Apa yang kamu rasakan?” tanyaku memburu.


Tetapi Virto tidak menjawabnya , ia hanya tertawa getir tatapan matanya terlihat putus asa.


“Apa jantungmu sakit lagi? Apa kamu sudah periksa. Tolong jawab aku”


“Terimakasih sudah mengkhawatirkan, tadinya aku pikir kamu tidak mau menemui ku lagi”


“Tolong katakan padaku, apa jantungmu kambuh lagi? Ayo kita berobat, pasti bisa sembuh,” ucapku, tiba-tiba rasa benciku padanya berubah jadi rasa iba.


“Tidak ada gunanya Rin, untuk apa? Aku hidup sendirian sekarang, aku kesepian. Kedua putriku, sangat membenciku bahkan tidak mau menemui ku”


“Jangan putus asa, pasti akan ada Jalan keluar”


“Sudah terlambat Rin, aku hanya ingin tidur tenang selamanya, tanpa meninggalkan penyesalan. Karena itulah, aku datang jauh-jauh menemui ke sini, tolong jangan membenciku lagi. Hiduplah dengan bahagia,” ucap Virto, mendengarnya hatiku terasa sangat perih.


“Aku akan menemani berobat. Tolong jangan berputus asa,” merasa sangat khawatir.


“Itu hanya akan membuang-buang uang dan tenaga Rin, tidak akan bisa lagi dipulihkan”


“Memangnya sangat buruk, apa? Separah apa, sampai kamu bilang tidak punya harapan hidup, tolong jangan seperti ini Mas, kamu lelaki yang kuat yang aku kenal"


“Sangat parah Rin aku sudah mengganti ring beberapa kali, aku lelah melakukan itu. Aku hanya ingin melihat kamu dan anak-anak untuk terakhir kalinya”

__ADS_1


“Tolong berusahalah Mas, masih banyak dokter hebat di dunia, jika kamu tidak berhasil di tempat itu, kamu bisa ke tempat yang lain."


Aku membujuknya.


“Tidak bisa di selamatkan lagi Rin, ibarat kain, ia sudah banyak tambal sulamnya, sudah terlalu banyak kerusakannya. Aku hanya memberitahukan kondisiku ini, padamu, anak-anak tidak, Damar juga tidak tahu. Tadinya aku tidak ingin memberitahukannya ,tetapi karena kamu terus memaksa makannya aku memberitahukannya”


“Lalu Mas harus bagaimana?”


“Setelah dari sini, aku akan pulang ke kampung dan akan mati di sana di samping kedua orang tuaku, empat tahun lalu ... aku tidak jadi keluar dari ke polisian, karena komandan saya tidak mengijinkannya, karena saat itu banyak kasus besar yang aku pegang. Tetapi, saat ini, saat aku menulis surat pengunduran diriku, atasanku memberiku izin pensiun dini, mereka semua tahu, kalau aku sakit. Jangan khawatir … aku masih dapat gaji , walau aku tidak kerja, sampai aku menutup mata nanti”


“Jangan seperti itu Mas, mari kita berobat sekali lagi”


“Rin aku sudah lelah, aku hanya ingin menemanimu untuk minta maaf itu saja, lalu aku akan pulang. Tetapi, aku punya hutang janji denganmu, apa kamu ingat, aku pernah bilang, ingin melihat menara Eiffel bersamamu? Aku akan merasa sangat senang, jika kamu mau menemaniku melihatnya. Jangan salah paham lagi … kamu boleh mengajak Mbak Sinta juga, aku hanya ingin menunaikan janjiku.


Kalau kamu mau … kabarin aku besok. Setelah melihat menara dan melihat Fashion Show hasil rancangan mu, aku akan pulang dan tidak akan menemui mu lagi, selamanya, aku janji,” ucap Virto.


“Baiklah, akan aku pikirkan dan aku bicara dengan Sinta. Nanti akan aku kabarin Mas lagi”


“Baiklah aku pulang"


Aku duduk lemas di sofa, jam malam sudah menunjukkan pukul 24: 05 Waktu Paris. Tetapi mata ini tak kunjung mengantuk.


“Rin, Virto ternyata tampan Iya, aku tidak mengira kalau lelaki itu setampan itu loh, dalam pikiranku lelaki yang bernama Virto itu. Perut buncit dan kulit gelap dan gemuk. Ternyata dia tinggi tegap ber- otot, pantas saja Marisa sampai tergila-gila padanya, pembawaannya juga santun, iya”


Sinta mengagumi pesona Virto, jarang-jarang wanita cantik ini mengagumi pria sedetail itu.


“Iya. Kamu mau?” Aku menatapnya.


Paaak …!


Satu pukulan mendarat di lenganku.


“Canda,” ucapku tertawa.


“Tapi dia sedang sakit keras, sakit jantung” ucapku sedih.

__ADS_1


“Sayang sekali, tapi masih bisa di obati ,kan?” Sinta menatapku dengan serius.


“Katanya sudah kronis Sin, jantungnya sudah lemah, ibarat mobil mesinnya sudah sangat hancur, dulu saat kami masih bersama, kebiasaan dia, bergadang sampai pagi dan tidur di kantor, belum lagi merokok . Itu kebiasaannya, saat dia masih bertugas sebagai polisi intel, dia juga jarang pulang ke rumah, lebih banyak waktunya ia habiskan bergadang demi kerjaan, sekali pulang kadang satu minggu pulang pun ke kontrakanku, bisa dia tidur satu hari penuh, jika dia sudah sangat capek,” ucapku mengenang masa lalu bersamanya.


“Kamu lebih tahu tentang Virto dari pada istrinya, kali, iya Rin?”


“Bisa di bilang seperti itu, pengakuan Virto. Jika dia pulang ke rumah istrinya, bukan ketenangan yang dia dapat, pertengkaran dan hinaan dan makian, itulah yang dia terima jika pulang ke rumah istrinya, Marisa selalu curigaan padanya dan suka mengatur hidupnya.


Hidupnya Virto itu, sebenarnya sangat kasihan di tinggal ibu dan ayahnya saat masih kecil. Lalu dibesarkan saudara dari ibunya, omnya Virto, kebetulan supir keluarga Farel. Lalu dia diambil alih ayah mertuaku, disekolahkan hingga dia jadi polisi, lalu dinikahkan dengan putri mereka, sebagai imbalan. Walau ia tidak suka sama Marisa, karena saat itu, ia juga punya kekasih”


“Kasihan hidupnya iya,” ucap Sinta.


Wajah cantiknya tampak sangat sedih saat aku menceritakan tentang hidup Virto.


“Rin, turuti saja apa kemauannya, tidak baik menolak permintaan orang yang sedang sakit keras, sepertinya ia benar sakit jantung, terlihat dari kuku tangannya yang sedikit membiru sebagai seorang dokter, aku tahu, kalau dia memang sedang sakit jantung”


“Aku takut Farel akan melihat nanti, Sin”


“Kita akan pergi rame-rame, aku, kamu dan kedua asistenku itu. Bagaimana?”


“Baiklah, kalau begitu,” ucapku setuju


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR Viewer NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


“Menikah Dengan Brondong”


Di jamin menghibur kakak semua di situasi saat ini dan ceritanya, menghibur.


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata

__ADS_1


__ADS_2