
“Kita akan kemana Mas?” tanyaku saat Virto mengeluarkan ponsel miliknnya.
“Kita akan cari tempat untuk tempat persembunyian untuk kamu”
“Kalau begitu pinjamkan aku ponselmu, aku akan menelepon Farel, Mas”
“Rin, apa yang ingin kamu katakan padanya? Memintanya membawamu kembali kerumah itu? Ngapain aku susah-susah membawa kamu dari sana kalau tetap kamu akan kembali ke sana”
“Tapi dia suamiku saat ini Mas”
“Iya aku tahu, dia memang suamimu, ayah dari bayimu, tetapi apa kamu pikir dia bisa menyelamatkanmu?”
“Tentu, aku percaya padanya”
“Kamu memintanya memilih antara istri dan kakaknya, kamu pikir Marisa akan melepaskanmu? Pergilah dari sini Rin, jauhi keluarga itu, Farel tidak akan bisa berbuat banyak untukmu. Karena bukan hanya kakak perempuanya yang harus ia jaga. Sebenarnya … keluarga tunangannya meminta Farel tetap menikahi putri mereka. Farel akan menikah Rin … setelah kamu melahirkan, itu permintaan mereka”
“Bohong …. Kamu bohong! Farel bilang kalau dia sudah memilihku jadi istrinya”
“Rin, Farel dan ayahnya inginnya pernikahan itu di batalkan, tetapi, tidak semudah itu, keluarga pihak perempuan ingin pernikahan, tetap diadakan. Tidak perduli, walau, anak mereka istri kedua, itu hasil pertemuan yang terahir. Jadi … setelah kamu melahirkan Farel akan menikahi tunangan,” ucapnya lagi membuat hati ini, semakin sakit.
“Bohong! Aku tidak percaya, aku lebih percaya pada Farel suamiku,’ ucapku lemas.
“Rin, dengarkan aku baik-baik …. Mari kita pergi dari sini. Kita pergi ke kampungku, kita mulai hidup baru di sana, lupakan semua tentang orang kaya itu, mereka tidak akan akan menerimamu hanya aku yang bisa mencintaimu. Mari kita hidup bersama dengan Jeni dan Darma di kampungku”
“Mas, gila iya …! Aku ini sedang hamil, aku masih istri Farel”
“Aku tahu, apa artinya status istri, kalau mereka tidak bisa menerimamu di rumah mereka dan Farel tidak akan bisa melindungimu"
“Aku percaya padanya, Mas”
__ADS_1
“Kamu percaya padanya, apa dia percaya padamu? Apa dia bisa menjagamu dari kakak perempuannya? Apa dia bisa menantang keluarga besar tunangannya, agar tidak menikah? Kamu dan aku berada di tempat yang tidak seharusnya Rin, mereka seakan-akan membuat batas untuk orang-orang yang datang dari kalangan bawah, aku tidak ingin seperti itu , aku tidak mau tunduk pada mereka karena mereka punya harta dan kekuasaan. Aku ingin hidup di kampung menghirup udara segar jauh dari hiruk pikuk keramaian. Aku berharap kamu mau ikut denganku”
“Itu tidak akan terjadi lagi Mas, kalau aku ikut kamu, apa bedanya aku dengan Ririn yang dulu seorang Pelakor dan sekarang berubah status, kamu yang akan jadi Pebinor"
"Farel yang merebutmu dariku, kan?"
"Mas, lupakan masa lalu, situasinya, sudah berubah,"ucapku menolak Mas Virto.
“Tetapi Farel akan menikah lagi dengan tunangannya, bagaimana kamu mengatasi itu?”
“Aku tidak percaya,” ucapku ingin berteriak.
"Gini saja, pegang ponsel ini, hubungi aku kapanpun kamu butuhkan, tenangkan pikiranmu dulu dan pikirkan bai-baik, kapanpun kamu siap pergi dari sini, ayo kita pergi dan tinggal bersama, aku juga sudah meninggalkan wanita gila itu," ujar Virto membawaku ke penginapan dan meninggalkanku di sana, lalu ia pergi memberiku waktu untuk berpikir.
'Siapa yang bisa aku percaya tanyaku dalam hati'
Mungkin ucapan Eyang benar, biarlah aku pergi jauh dari mereka semua demi keselamatan bayi dalam rahimku.
Jika Farel memang jodohku ia akan menemukanku kelak.
Keluar diam-diam dari penginapan, aku tidak ingin Mas Virto melihatku. Aku melepaskan mereka berdua, saat ini yang ku pikirkan menjauh dari ibukota dan melahirkan dengan selamat. Aku berjalan menuju jalan raya dan menghentikan taxi yang kebetulan lagi menurunkan penumpang di depan hotel. Aku masuk dengan sikap sembunyi-sembunyi aku tidak ingin Virto mengikuti.
"Non, kita mau kemana?" tanya Pak supir taxi melirik kaca di depanya.
Kini saat dalam taxi aku bigung harus pergi kemana yang pasti aku tidak ingin Marisa menemukanku lagi, aku muak melihat satu keluarga itu.
Bahkan aku juga tidak menelepon Virto, aku tidak ingin terlihat cinta masa lalu lagi denganya.
"Bawa aku ke hotel Lexa saj Pak "
__ADS_1
Sebuah hotel di Jakarta utara, di dekat laut, setiap kali aku merasa pusing dan banyak masalah dulu, aku selalu ke sana, aku berharap Virto tidak menemukanku di sana.
Mobil itu melaju membawaku ke sebuah hotel, setelah chek -in aku sengaja menggunakan uang cas agar mereka berdua tidak menemukan keberadaanku, aku masih beruntung Eyang memberiku banyak uang sebelum ia pergi dari dunia ini, saat dalam kamar hotel, hati ini kembali di selimuti rasa sedih dan bimbang.
Aku memikirkan ucapan Virto yang mengatakan Farel dipaksa keluarga tunangannya menikahi kekasihnya, tetapi menunggu, sampai aku lahiran. Kenapa hidup begitu rumit sih? Baru juga hati ini mau terbuka untuk Farel, tetapi, mendengar semua ini. Aku ingin menghilang dan menjauh dari mereka semua. Tidak ada virto dan tidak ada Farel dalam hidup ini lagi. Hanya aku dan calon bayiku, Aku pergi dengan status sebagai istri Farel.
Uang tidak masalah bagiku saat ini, Eyang memberiku semua harta miliknya, agar aku pergi dan melahirkan dengan selamat
Dalam kebingunganku, tiba-tiba, aku ingat seseorang yang sangat baik. Dulu dimutasi Farel dari Bali ke Jakarta. Aku mencari nomor Bayu dan meminjam ponsel orang untuk menghubungi Bayu dan kebetulan kontrakan tempat ia tinggal tidak jauh dari hotel yang aku tempati saat itu.
"Rin, ada apa, kenapa menyuruhku?" tanya lelaki berkacamata itu saat tiba di depan hotel.
Menceritakan semuanya pada Bayu, terpaksa aku merepotkan lelaki jangkung itu lagi.
“Iya ampun Rin, kenapa sih jalan hidupmu begitu rumit, baru juga beberapa bulan, kamu, hampir kehilangan nyawah dan sekarang terjadi lagi”
“Maaf kalau saya melibatkanmu lagi Pak, aku bigung harus meminta tolong sama siapa dalam keadaan seperti ini.”
“Tidak apa-apa Rin, aku akan membantumu. Apa yang kamu lakukan saat ini menurutku pilihan yang tepat. Cinta akan menemukan pemiliknya, suatu saat nanti yang terpentiing kamu dan bayimu selamat dulu,” ujar Bayu. Terpaksa aku merepotkan ia lagi, karena aku tidak punya saudara dan teman yang bisa aku percaya.
“Jangan pernah beritahukan Farel tentang keberadaanku, jika ada Farel ada, maka akan ada Virto, jika ada Virto akan ada Marisa, saat itulah nyawahku dalam bahaya,” ucapku memohon.
“Baiklah, baiklah Rin, aku janji tidak akan memberitahukan siapapun, kamu boleh pegang kata-kataku,” ujarnya dengan tulus.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“ Kasih donk komentar kalian tapi Untuk Babnya juga, iya, Terima kasih.
__ADS_1