
Saat malam tiba dan para tamu sudah pada datang aku dan Farel bersiap akan turun.
“Ayah, apa aku pantas?”
“Sangat cantik Ibu, ayo turun, dari tadi kakak Buruk bolak balik menelepon”
“Baiklah, aku sangat gugup,” ucapku menghembuskan napas pendek-pendek.
“Tidak apa-apa, pegang tanganku ayo” Farel merentangkan telapak tangganya. Aku meraihnya dan berjalan ke lantai bawah bersama Farel. Saat berada di tangga mau turun , aku sangat kaget saat semua mata menatap kami dengan tatapan terpana membuatku semakin gugup. Aku tidak menduga kalau orang yang datang akan sebanyak itu, abi bilang, hanya keluarga dekat. Tetapi yang datang sudah seperti tamu resepsi pernikahan. Melihat keadaan saat itu dan melihat tatapan semua orang saat turun dari tangga mengingatkanku seperti film-film india yang sering sekali scan ceritanya seperti itu. Dimana pengantin wanita turun dari tangga dan lihatin semua mata dengan tatapan terpana.
“Aduh, ini sedikit lebay,” ucapku protes.
“Tidak apa-apa, anggap saja kita berdua pengantin baru, aku ingin memperkenalkan mu pada semua orang, lalu nanti kita akan berdansa, seperti di film India yang Ibu tonton, bulan lalu,” ucap Farel. “Kalau tidak, anggap saja dirimu Kajol, saat ia ingin menikah dengan Salman, bayangkan … saat dia lagi turun tangga dengan gaun pengantinnya,” ucap Farel, membuatku tertawa.
“Ayah! Ibu …?” Haikal berlari ke arah kami, tetapi matanya menatapku dengan tatapan bingung.
“Iya ini Ibu,” ujar Farel.
“Ih, Ibu cantik,” ucap Haikal, matanya terus menatapku. Ia merasa asing dengan penampilanku.
Saat berjalan ke arah meja.
“Ibu?” Damar terpana. “Ibu cantik,” ucapnya.
“Apa benar, ibu cantik?”tanyaku belum percaya diri.
“Bangat Bu,” sahut Jeny.
Saat ulang tahun Farel anak-anakku dan ayah dan ibu juga datang. Ditengah-tenga acara makan, tiba-tiba Farel maju ke panggung di halaman depan. Ia mengumumkan kehamilanku dengan wajah gembira.
__ADS_1
Suasana jadi riuh mengucapkan selamat untukku.
“Ibu hamil?” tanya Damar dan Jeny bersamaan.
“Iya”
“Wah, kita punya adik baru lagi iya dek,” ucap Jeny mengusap kepala Haikal.
Saat ingin duduk ternyata Sinta juga datang.
“Hai, selamat iya”
“Sinta …? Kamu datang, oh iyampun bumil cantiknya,” ucapku mengusap perut besarnya “Sama siapa?” tanyaku penasaran.
“Sama Mas Virto, itu lagi mengobrol dengan ayah mertuamu.” Sinta menunjuk ke arah depan. Suaminya tampak mengobrol hangat dengan Farel dan ayah mertua.
‘Syukurlah, kalau mereka dapat menerima dia dengan baik’ ucapku dalam hati, aku merasa sangat senang akhirnya semuanya indah pada waktunya. Kuncinya sabar.
Pesta malam ini sangat menyenangkan bisa melihat semuanya bahagia
**
Beberapa bulan kemudian.
Ayah mertua sudah menganggap Damar seperti cucunya sendiri, karena anak lajangku seorang anak yang baik dan sopan yang membuat ayah mertua menyukainya. Ia bercita-cita ingin jadi polisi, sama seperti Haikal sama-sama ingin polisi, mertua sangat mendukung dan memberinya beberapa masukan untuk melakukan pelatihan untuk Damar menjadi polisi.
Tawa bahagia terlihat dari ayah mertuaku saat melihat semua anak-anak dan cucunya bisa berkumpul. Ayah dan Ibu juga sering datang melihat Haikal. Damar dan Jeny sudah mau menginap dan tinggal di rumah Farel sejak mereka tahu aku hamil. Kini diri ini, bagai ratu sejagat di rumah. Tidak boleh melakukan apapun, jika aku melakukan satu pekerjaan di rumah, semua mulut melarang.
“Tante sini saja, biar Intan yang lakukan,” ucap si Cantik Intan, saat aku ingin memetik kuntum bunga-bunga segar di taman, untuk aku letakkan di ruang tamu.
__ADS_1
“Iya Ela Tan, hanya memetik bunga apa capeknya, sih,” protesku.
“Tetap saja Tan, kalau kakek sama Paman Farel lihat, Tante melakukan pekerjaan, mereka akan menatap kami dengan tatapan sinis, tatapan kedua lelaki itu memang yang paling menakutkan di rumah ini,” Ucap Intan, ia anak kedua dari Kak Burak dan Mona.
“Baiklah, aku akan jalan-jalan, keliling halaman,” ucapku, berjalan mengeliling . Kehamilan kali ini yang paling luar biasa, aku mendapatkan banyak kasih sayang dari semua keluargaku dan keluarga Farel. Farel sangat memanjakan ku bahkan tidak boleh melakukan apapun selama aku hamil.
‘Terimakasih eyang, apa yang dulu eyang ucapkan padaku, semuanya terbukti, kini aku bahagia eyang, tersenyumlah untuk kami eyang. Ibu, tenanglah di alammu iya, aku sudah punya keluarga yang baik’ ucapku menatap langit cerah pagi itu.
**
Suara tangisan memenuhi sebuah rumah sakit , bayi berjenis kelamin laki-laki itu telah lahir kedua dengan proses Cesar. Farel tidak membiarkanku melahirkan normal, ia ingin caesar, sesuai waktu yang sudah di tentukan. Maka tepat jam dua siang, akhirnya tangisan itu terdengar menggema di ruang operasi.
Saat aku membuka mata setelah biusnya hilang, semua keluarga sudah berkumpul dalam satu ruangan itu , mata semua orang, tertuju pada bayi mungil yang sedang di gendong Mbak Lesa.
Tidak lama kemudian datang juga Sinta mengendong putranya yang sudah lahir duluan.
Virto bahagia, akhirnya ia punya anak lelaki yang akan mengikuti jejaknya menjadi seorang polisi.
“Terimakasih sayangku,” ucap Farel memelukku setelah putranya lahir.
Semua bahagia. Apakah … Ini namanya Pelangi sehabis Hujan? setelah penderitaan panjang yang aku lalui selama ini. Allah menuliskan takdir yang indah untukku.
Tamat.
Jangan lupa untuk membaca karyaku yang lain ya Kakak.
-Menikah dengan Brondong
Nantikan juga karyaku berikutnya. Sekali lagi terimakasi untuk kakak semua yang selalu menduku dan mengikuti cerita ini.
__ADS_1
Salam sehat untuk kita semua.