
NB: Maaf iya para kakak pembaca tercinta, saya belum bisa update lancar, karena kesibukan di dunia nyata, pindahan toko dan repot urus anak yang sudah masuk sekolah. Nanti kalau semuanya sudah klear urusan di dunia nyata. Insya Allah akan kita update dua sampai tiga bab sampai Tamat.
Jangan lupa vote iya kakak-kakak sayang. Mohon maaf kalau banyak typo.
Untuk pengobat rindu, saya update satu bab dulu hari iya …
Bali.
Pukul 20:00
Udara serasa semakin dingin, menusuk ke dalam tulang-tulang malam itu, aku juga merasa pasokan udara yang masuk ke paru-paru ini seakan-akan menipis.
Karena tepat jam itu, Farel akan di bawa keruang operasi.
Wajahnya tampak tegar.
“Tidak apa-apa Sayang , jangan khawatir, aku akan baik-baik saja,” ucapnya, terlihat santai di tangannya ada foto Haikal.
“Aku takut,” bisikku, memeluk dadanya mencium pipinya.
“Terimakasi telah memberiku jimat ini,” ucapnya menunjukkan foto Haikal.
Foto Haikal tidak pernah lepas dari tangannya, sejak aku menunjukkannya padanya.
“Iya, kamu harus kuat, agar aku bisa menepati janji pada putramu,” ucapku mencium punggung tanganya. Aku tidak memperdulikan tatapan semua dokter dan perawat bahkan tatapan saudara Farel padaku, aku hanya ingi lelaki tampan itu keluar dari ruang operasi dalam kedaan bernyawah nantinya, agar putraku bisa bertemu dengan ayahnya.
“Iya sayang, jangan takut … kamu belum jadi janda kok,” ucapnya bercanda.
“Ckkk.” Aku mendecak kesal, saat aku merasa sangat gugup, ia malah tertawa terlihat santai, tetapi melihatnya tertawa dan terlihat ceria hati ini merasa sedikit tenang.
“Sini, mendekat,” ucap Farel memintaku mendekat, seolah-olah ia ingin membisikkan sesuatu ke kuping ini,
“Ada apa?” tanyaku mendekatkan wajahku ke mulutnya.
“Sini mendekat kupingnya,” pintahnya lagi,
Aku menurut, aku pikir ia akan memberitahukan sesuatu yang rahasia sebelum ia masuk ke ruang operasi.
‘Ada apa ini …. Apa dia ingin mengucapkan kata-kata perpisahan apa ia punya pirasat ada hal buruk padanya tanyaku dalam hati, semua team dokter yang akan menangani Farel sudah berbaris bersiap membawa Farel ke ruang bedah.
Farel mendapat penanganan spesial, karena ia anak pemilik setengah saham rumah sakit dan sekaligus adik dari direktur rumah sakit, maka itu dia dapat perlakuan istimewah, apalagi Farel di kenal dokter yang sangat pintar di rumah sakit itu.
Mataku masih melihat para dokter ,
“Sini,” bisik Farel lagi.
Jantung ini berdetak sangat cepat
“Apa?” tanyaku dengan kupingku di didekat ke bibirnya.
__ADS_1
“Ririn, aku sangat mencintaimu, sangat,” ucap Farel dan mendaratkan ciuman di pipi ini, teman-teman dokternya dan kedua kakaknya hanya tersenyum kecil melihat kelakuan norak Farel.
“A-a-a Farel aku kirain apa,”ucapku tiba-tina merasa wajahku terasa panas.
“Tunggu aku iya. Jangan kemana-mana,” pintahnya sebelum masuk ke ruangan, wajahnya tersenyum padaku dan masih sempat mengedipkan matanya.
Aku membalas senyuman manis itu, tetapi dadaku terasa panas menahan rasa khawatir.
“Tidak apa-apa dia anak yang kuat,” ucap dr. Lesa menepuk pundakku.
“Aku dan kakak Farel dan dr. Burak duduk di depan ruang operasi Lelaki berbadan tinggi itu mengcapkan kata-kata penguat, tetapi ia sendiri terlihat sangat gugup, jika, aku masih bisa menyembunyikan rasa khawatir. Tetapi Burak tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranya pada sang adik.
Ia beberapa kali bolak- balik ke kamar mandi dan mondar seperti setrikaan.
Satu jam, dua jam, tiga jam telah berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda lampu di depan ruangan itu belum berganti.
‘Ya Allah hanya padamu hamba mengadu, kuatkan tubuh Farel’ ucapku dalam hati.
Waktu begitu terasa lama, bahkan aku tidak merasa lapar ataupun haus selama menunggu Farel.
“Rin, kamu istrirahat saja,” ujar dr. Burak.
Melihatku beberapa kali menghela napas panjang.
“Tidak kak, aku tidak merasa lapar,” ucapku membuang napas dengan perlahan.
Saat kami duduk menunggu operasi itu selesai, kami semua terkaget dengan kedatangan ayah mertuaku yang datang tiba-tiba dari Jakarta.
“Abi!?” Burak panik ia mendekat.
Akhirnya pemilik kursi roda itu tiba di dekat kami, aku mengulurkan tanganku meraih tangan ayah mertuaku, mencium punggung tangannya dengan hormat.
“Ayah selamat datang, apa kabar,” ucapku masih menunduk dengan sungkan.
“Ayah baik Rin, terimakasi,” ucapnya dengan lembut tidak ada penolakan dari keluarga Farel membuat hati ini sangat bahagia penuh syukur.
“Apa yang Abi lakukan? Abi siapa yang bawa, tidak bisakah Abi menunggu sebentar lagi sampai Farel ke luar dari ruang operasi?
“Abi tidak apa-apa Nak, Saya kuat, tapi bagaimana adikmu?”
“Dia masih di ruang operasi, Bi”
“Ya Allah tolong berikan kekuatan pada team dokter,” ujar ayah mertua.
“Abi! Kenapa datang ke sini, abi belum kuat”
“Abi tidak bisa tenang Nak tidak bisa tidur , tidak selera makan. Kapan cucuku akan datang?”
“Abi nanti setelah Farel telah selesai dioperasi.”
“Tidak bisakah kita jemput sekarang?’ ucapnya, ayah Farel sampai datang sari Jakarta padahal tubuhnya juga belum sehat, ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Haikal.
__ADS_1
“Farel yang ingin setelah ia selesai dioperasi, dia ingin orang pertama ia lihat saat buka mata adalah putranya Bi, itulah yang membuatnya mau dan kuat”
“Oh, baiklah, aku akan mencoba sabar”
“Abi kenapa tidak mendengar permintaan aku tadi, bagaimana kalau terjadi hal yang buruk tadi?” Burak tampak marah
Melihat ayah mereka tiba-tiba datang tanpa pembertahuan.
“Abi sudah bilang, tidak tenang dan tidak sabar menunggu dan tidak mau merepotkanmu, aku pikir kamu ikut di dalam.” Ia menatap putra pertamanya.
“Mona dan Lesa sudah ada di sana, harus ada yang memantau dari luar,” ucap dr. Burak.
“Baiklah ayah akan menunggu dengan tenang di sini”
“Ayah istirahat saja, di hotel di samping rumah sakit saja agar dengan mudah ayah datang melihat Farel”
Awalnya ia terlihat ingin menolak, tetapi wajahnya sudah terlihat sangat lelah.
Aku tidak berani mengatakan apa-apa, aku hanya diam aku salah bicara.
“Baiklah, abi akan istirahat,” ujarnya kemudian.
*
Setelah menunggu berjam-jam akhirnya seorang dokter berpakaian warna hijau keluar dari ruang operasi, dr Lesa.
“Bagaimana Dok”
“Alhamdulilah berjalan lancar,” ujar wanita itu memasuki ruang ganti pakaian.
“Terimakasi, kalian hebat,” ucap dr. Burak memeluk adik perempuanya setelah keluar dari ruang ganti.
“Apa ada masalah Mbak, perasaan lama bangat di dalam.” Aku mencerca dr. Lesa dengan berbagai petanyaan.
“Tidak ada masalah Rin, kita melepaskan logam peyanggan di pundaknya, tulangnya sudah menyatu sempurna, hanya masalahnya peyangga logam itu, tidak di ganti-ganti membuat dia infeksi, tetapi semua akan baik-baik saja”
Akhirnya operasi Farel berjalan lancar walau sempat sangat khawatir karena waktu yang operasi yang mereka perkirakan bertambah durasi panjang karena membersihkan cairan yang menyebabkan infeksi.
Team dokter yang menangani Farel saling berpelukan sebagai tanda keberhasilan mereka.
“Alhamdulilah semua berjalan dengan baik. Operasi untuk Farel berhasil,” ucap dr. Lesa sebagai dokter yang memimpin operasi Farel.
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata