Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Mendadak lupa ingatan


__ADS_3

Aku berjalan menuju kamar mandi. Tetapi saat berjalan mata ini … membelalak kaget, ada Farel duduk sedang menonton layar televisi, ia menatap layar televisi dengan fokus dan hearsed menutup daun telinganya.


Aku terdiam sejenak, ingin mundur, tetapi aku menyadari kalau Farel tidak melihatku dan mungkin ia juga tidak tahu kalau aku satu pesawat dengannya. Ia mungkin berpikir kalau aku terbang menuju Taiwan.


Aku tidak tahu suratan takdir apa lagi yang dilukis Sang Pemilik kehidupan untukku kali ini, sekuat apapun diri ini menghindar tadi, tetapi pada akhirnya tanpa aku sadari, aku yang malah berlari mendatanginya ke pesawat.


Aku tidak tahu tujuan Farel ke Paris. Tetapi satu hal yang pasti, fellingku kali ini salah lagi, aku marasa hidupku akan sulit lagi, seperti empat tahun lalu, kerena saat ini, ada Farel bersamaku.


‘Tidak, aku tidak boleh mundur, aku sudah berani menghadapinya tadi, aku juga harus berani kali ini’ ucapku berjalan melewati kursi miliknya. Lelaki berwajah tampan itu terlalu serius menonton film laga di layar televisi, ia tidak menyadari kehadiranku, aku berjalan melewatinya.


Dalam kamar mandi aku tampak seperti orang gila, membentur-benturkan kepala ini, ke dinding kamar mandi pesawat.


“Takdir hidup sialan, nasip kurang ajar …! Bagaimana mungkin seperti ini! padahal tadi aku sudah capek-capek berlari menjauh darinya.


Aku pikir, aku jauh meninggalkannya. Ternyata, aku berlari dengan napas terengah-engah menemuinya kembali di sini.


Ah …. Apa ini? Kenapa jadi seperti ini?"


Mulut ini mengoceh di kamar mandi.


“Apa Sinta tahu Farel akan menaiki pesawat ini? Ah, tidak mungkin …,”ucapku bicara sendiri di toilet.


‘Aku harus pura-pura tidak mengenalnya. Lupa ingatan akan jadi senjataku, untuk bisa lepas darinya, seperti yang tadi aku lakukan’ ucapku dalam hati, membasuh wajah ini di wastafel, menatap kaca dengan tegas. 'Kamu harus berani Ririn’ ucapku menatap tajam ke pantulan kaca, meyakinkan diri sendiri.


Saat keluar dari Toilet.


Buuuk …!


Aku menabrak seseorang yang kebetulan keluar dari kamar mandi juga.


Sepatu hells yang aku pakai tersendul, membuatku kehilangan keseimbangan, lalu menabraknya.


“Aduh maaf Pak, lantainya licin,” ucapku menundukkan kepala.


“Tidak apa-apa,” ucapnya datar.


Saat aku mendongak dan menatap wajahnya, ternyata Farel. Sesaat kemudian, matanya melotot panik menatapku.


“Ririn …!?” Matanya terbelalak, bahkan ia sampai mengangkat dadanya, karena kaget.


Mungkin, ia tidak menduga kalau aku satu pesawat dengannya.


”Kok, bisa? Bukanya kamu tadi sudah terbang ke Taiwan?”


“Maaf, menabrak Bapak,” ujarku melangkah.

__ADS_1


Wajah datar itu kini berubah dengan tatapan tidak percaya.


“Tunggu, tunggu . Bukanya kamu tadi terbang ke Taiwan?”Tanyanya lagi, ia menghalangi jalan tubuh ini. Wajah tampan itu benar-benar terlihat bingung.


Saat melihat wajah panik seperti saat ini, mengingatkanku pada empat tahun silam, saat Haikal dalam kandungan, setiap kali aku meringis memegang perut, ia akan tampak panik memintaku rebahan.


‘Ternyata aku pernah merasakan kasih sayang yang begitu membekas di hati, dari pria ini. Apakah itu dulu cinta? Apa karena kasihan? Bagaimana kabarmu saat ini? Apakah sudah punya anak? Tanyaku dalam hati.


Mataku terus menatap wajahnya, dengan tatapan nanar, tetapi pikiranku, berkelana masuk ke masa lalu.


“Hei! Apa kamu mendengar.” Farel menjentikkan jari tangannya, membangunkan ku.


“Maaf sekali lagi, karena saya menabrak Bapak, permisi”


Berjalan menuju kursiku, Farel masih berdiri menatap kearahku dengan bingung.


Aku menuju lorong kursi milikku dan menekan tombol mode tidur, tidak lama kemudian kursi yang aku duduki perlahan berubah menjadi ranjang tidur, lengkap dengan selimut. Aku buru-buru merebahkan tubuh ini dan menutup seluruh badanku dengan selimut dan mematikan lampu.


Aku yakin Farel pasti bingung dan mengira kalau Ririn ada dua jenis, terlihat dari tatapan kebingungan yang ia perlihatkan padaku.


Mungkin ia berpikir kalau Ririn istrinya wanita yang berlari menuju penerbangan ke Taiwan tadi.


Saat dalam selimut, aku mendengar suara-suara sumbang ,beberapa pramugari di samping bilik kursiku.


Aku yakin Farel tidak akan mau tinggal diam, ia pasti akan mencari tahu tentang diriku.


“Ibu Ririn, maaf menganggu Bu, bisakah ibu bangun sebentar?”


‘Ini pasti kerjaan Farel’ ucapku dalam hati.


Aku bangun dengan muka malas dan rambut sedikit berantakan, karena rambut panjang berwarna kecoklatan itu, sengaja aku acak-acak.


“Iya,” ucapku duduk menyalahkan lampu di kursi. Benar saja. Farel dan lelaki yang bertukar tempat duduk denganku sudah berdiri menatapku. Mata Farel tidak berhenti menyelidiki.


“Maaf bangat iya Bu, karena menganggu waktu tidur, Ibu," ujar kepala pramugari dengan sopan.


“Mas Gerrad bilang kalian salah tempat duduk, ia ingin memperjelas”


“Kan, tadi, sudah saya bilang mbak tidak apa-apa,” ucapku menghela napas panjang.


“Boleh kami minta kartu identitas Ibu?”


‘Ha, apa mereka mencurigai ku?’ tanyaku dalam hati.


Aku memberikan kartu identitas ku, pada kepala pramugari.

__ADS_1


“Oh, ini cara Farel menyelidiki?" gumam ku pelan, tetapi aku bersikap santai.


“Maaf tadi yang memesan tiket penerbangannya atas nama siapa?” tanya wanita itu penuh penyelidikkan.


“Oh, atas nama Sinta Fernandes kakak saya, apa perlu aku telepon?” tanyaku mulai merasa jengkel.


“Oh, maaf kalau boleh saya tahu tujuan Ibu ke Paris mau apa?”


Aku menarik napas pendek di selidiki dan dicurigai seperti ini, selalu membuatku geram.


Aku tahu Farel yang merencanakan itu semua aku bisa melihat tatapannya tidak bisa lepas dariku.


“Maaf jika menyingung Ibu, kami hanya menjalankan prosedur penerbangan”


“Harusnya jika kalian mencurigai ku, kalian melakukannya saat sebelum aku masuk. Jangan saat aku istirahat seperti ini,” ujarku merasa jengkel.


“Maaf,maaf banget, kami hanya menjalankan tugas,” ujarnya dengan rasa bersalah.


“Saya seorang desainer, saya ingin mengikuti Fashion Week tahunan di Paris,” ucapku memberikan kartu nama.


Alis mata Farel mengkedik saat aku memberikan kartu namaku.


“Oh, maaf iya mbak. Maaf bangat,” ucapnya setelah aku memberikan kartu namaku dan memberikan kartu nama milik dr. Sinta Pernandes.


‘Kamu memang sangat pintar Farel, kamu ingin memastikan tentang diriku dengan meminta kerja sama para petugas itu’ ucapku dalam hati.


“Mas Gerrad silahkan tempati lagi kursinya, tidak apa-apa, terimakasih karena tidak menggangguku tadi saat tidur. Oh, maaf karena menyerobot tempat duduknya tadi,” ucapku pada lelaki muda yang tertukar kursinya denganku.


“Sama-sama Mbak.” Ia meninggalkan kursiku, saat semua pramugari itu bubar karena masalahnya sudah clear . Namun, tidak demikian pada Farel, ia berdiri di samping kursiku dengan tangan melipat di dada.


“Jadi benar, kamu tidak ingat denganku? Lalu bagaimana caranya kamu dari Taiwan pindah ke sini? Jangan bilang, kalau kamu punya kembaran"


“Maaf Pak saya sangat mengantuk, saya ingin istirahat ,” ucapku mematikan lampu. Tetapi tangan Farel dengan cepat menyalahkan lagi.


"Ayo kita bicara ..."


"Maaf saya tidak bicara dengan sembarangan orang," ucapku mematikan lampu.


'Aku akan bicara terus terang padamu Farel, jika


aku sudah yakin, kalau hidupku dan anak ku sudah aman dan kamu dan keluargamu, tidak berniat mengambilnya dariku' ucapku dalam hati. Farel meninggalkan kursiku, ia kembali duduk.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,

__ADS_1


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


__ADS_2