
Ruangan Farel sengaja di pilih yang paling luas dan di lengkapi dengan segala fasilitas, kamar perawatan itu di sulap seperti ruang keluarga.
Saat semua sudah siap menyambut kedatangan Haikal.
Tidak ingin mengecewakan semua orang aku mengirim pesan pada Sinta.
[Sudah di mana?]
[Bersabarlah, kami sudah di depan rumah sakit, nomor kamarnya berapa?
[Lantai 2 kamar enam ruangan VViP. Semua keluarga Farel sudah siap menyambut di sini]
[Ok]
“Ada apa , ada masalah?” tanya Farel sat melihatku menarik napas panjang, ia terlihat sangat gugup.
“Tidak apa-apa mereka sudah di bawah”
“Benarkah” Lagi-lagi ia menarik napas panjang beberapa kali, melihat penampilannya di kaca.
Tidak lama kemudian artis yang di nanti-nantikan keluarga Farel akhirnya tiba juga, seorang bocah tampan dengan wajahnya seperti orang barat berdiri dengan mata menyelidiki setiap orang yang menatapnya, ia terlihat sangat gugup saat semua mata tertuju padanya.
“A-aunte Haikal takut,” ucapnya bersembunyi di belakang pengasuhnya.
“Sayang sapa dulu dong. Itu ada ibu.” Sinta menunjuk ke arahku.
“Assalamualaikum!”
Bocah tampan itu akhirnya memberanikan diri.
“Wallaikumsalam”
“Ibu!” Ia berlari ke samping ranjang Farel dan memeluk erat leherku.
“Aku kangen Ibu, aku sayang ibu,” ujarnya masih memeluk leherku dengan erat.
“Ibu juga kangen,” ucapku menciumi pipinya beberapa kali.
“Ibu …?” Matanya menatap semua orang dalam ruangan itu.
“Sayang peluk ayahnya,” pintaku, melepaskan pelukannya.
Ia menatap Farel dengan tatapan ragu, ia berdiri melihat Farel dengan takut-takut, mungkin ia berpikir dalam foto yang di kalungnya Farel ada kumis tipis di dagunya tetapi kali ini wajahnya mulus.
“Sayang, kenapa itu ayah yang di kalungmu, peluk dong,” ucapku memintanya mendekat, ia menunduk seperti merasa tidak yakin. Aku bisa melihat butiran kristal berjatuhan dari mata Farel. Aku tidak tahu kenapa Haikal tiba-tiba ragu pada saat bertemu langsung, padahal sebelumnya ia sudah tidak sabar ingin bertemu ayah kandungnya.
“Sayang, apa kamu tidak rindu ayah?” tanyaku, ia berbalik badan dan memeluk kaki lalu menangis.
__ADS_1
“Nanti ayah pergi kalau peluk, sama seperti ibu,” ucapnya terisak-isak.
“Ayah, tidak akan pergi Haikal, ayah janji,” ujar Haikal menatap dengan mata sendu.
“Ayah sama ibu janji tidak akan ninggalin Ikal lagi ?” menatapku dengan bahu terguncang-guncang.
“Iya ibu Janji,” ucapku menggendongnya dan meminta memeluk ayahnya juga.
Dengan perasaan ragu-ragu ia mendekat. Hal yang wajar untuknya bersikap ragu, karena sosok ayahnya baru kali ini di lihat.
Melihat putranya berdiri ragu-ragu Farel menariknya dan memeluknya dengan hangat.
“Jangan Takut jagoan, ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi,” ucap Farel, pada akhirnya ia terisak-isak memeluk Haikal dengan penuh Rindu terlihat dari wajahnya yang menghitam menahan tangisan. “Maafkan Ayah sayang karena kamu mengalami kesulitan” ucap Farel.
“Tidak apa-apa Ayah, ibu menjagaku dengan baik, ibu juga berjanji untuk membawaku menemui kakek”
“Terimakasih, terimakasih jagoanku,’ ucap Farel memeluknya terus terus.
“Haikal juga mengenal bibi, paman, dan kakak semuanya. Lihat iya Ayah” Akhirnya sikap berani dan percaya diri itu hidup lagi. Ia berjalan menghampiri Kakeknya.
“Ini kakek, Paman Burak, Paman Agam, Bibi Lesa, Bibi Mona , Kaka Rosa, Kakak …?Ibu ini kakak siapa?” Wanita-wanita cantik itu dan paman dan bibinya melongo tidak percaya, ketika Haikal mengenal semua keluarga daru ayahnya.
“Itu siapa iya, aku lupa,” bisikku pada Farel.
“Yang paling cantik Kakak Kartika!” Jawab Farel.
“Hai ganteng aku kakak siapa?” Tanya seorang yang wajahnya seperti orang bule.
“Hmmm … Ayah ini siapa?” tanya lagi,
“Itu Kakak Sania”
“Aku siapa?” tanya si tomboi anak Marisa, saat ia menyapa Haikal jantungku seketika berdetak cepat. Ia sudah anak remaja, sudah pasti tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya, aku berharap di masa lalu tidak membuatnya membenci adiknya Haikal.
“Aku ingat kakak. Kakak Vania,” ucap Haikal dengan yakin.
“Oh, kamu curang Vania kamu ingat, tetapi kakak tidak”
“Sania menggoda Haikal”
“Soalnya otak Haikal kecil tidak muat menampung semua gambar yang di berikan Ibu,” jawabnya jujur mengundang tawa semua orang di ruangan itu.
“Ikal apa kamu tidak akan memperkenalkan tante Sinta dan aunti?”tanyaku aku berharap ia tidak melupakan jasa kedua wanita baik itu.
“Oh, kakek, Om, bibi. Ini tante Sinta kakak Ibu,” ucap Haikal. Ia selalu berpikir kalau Sinta adalah saudara kandungku, karena kebaikan dan kasih sayang Sinta yang tulus padanya. “Tante Sinta yang membantuku lahir iya kan Tante?”
“Iya sayang”
__ADS_1
“Ayah! tanteku juga dokter loh!” Teriak Haikal mendengar bibir cadelnya saudara sepupunya tertawa gemas melihat Haikal.
Mendengar kalau Sinta yang membantu Haikal lahir seketika itu juga mereka semua mengangguk hormat pada Sinta.
“Terimakasih Nak,” ucap Ayah mertua padanya.
“Ini aunteku yang merawat aku dari baru lahir sampai sekarang,” ucapnya lagi memperkenalkan pengasuh Haikal, wanita paru baya itu wanita yang luar biasa menurutku ia wanita yang banyak mendidik Haikal dengan nilai-nilai agama dan kesopanan, ia sudah seperti mama kedua untuknya.
“Terimakasih Bu sudah menjaga cucuku dengan baik,” ucap kakek Haikal dengan suara lembut.
“Haikal kamu belum memeluk kakek dari tadi,” ucapku, tangis orang tua itu kembali pecah saat memeluk cucunya.
“Kakek jangan menangis, aku juga rindu kakek,” ucap Haikal.
“Apa kamu menjalani hari yang baik selama ini?” tanya kakeknya dengan isak tangis.
“Walau Ibu meninggalkanku Ibu di panti , aku baik-baik saja, kek,” ucapnya dengan yakin.
“Pantiasuhan?” Mata mereka semua terkejut, hanya Farel yang aku kasih tahu kalau Haikal di besarkan di panti.
“Iya saya meninggalkan Haikal di sana dan di jaga seorang pengasuh dan aku bekerja di Taiwan”
“Ya Allah, jadi selama ini, ia besar dan tumbuh di panti asuhan.” Lesa mengusap air matanya.
“Kenapa tidak kamu berikan saja pada kami dari pada kamu tinggalkan di sana,” ujar dr. Mona , kakak ipar Farel memegang dadanya.
“Sudah-sudah aku tidak perduli dengan masa lalu, aku sangat senang sudah dipertemukan dengan dia, jadi tolong … Kalian semua jangan ada yang menyalahkan Ririn lagi,” ucap Farel dengan tegas.
Saat kami duduk mengobrol dengan semua keluarga Haikal sudah mengobrol dengan saudara-saudara perempuannya, ia tidak suka saat kakaknya menyalahkan ku.
“Rel, aku hanya menyesalkan tindakan Ririn, kenapa dia menaruh anaknya di panti, saat kita ada,” ucap dokter Mona lagi, aku merasa sikapya sedikit menyudutkanku, padahal ia tahu sendiri bagaimana aku melarikan diri dari rumah Farel.
Melihat wajahku yang mulai merasa kurang nyaman dengan kalimat-kalimat kakak ipar.
“Sudah, kalian semua berhenti membahas masa lalu, abi ingin kita semua hidup lebih baik dan jangan merusak hari yang baik ini,” ucap Farel tegas.
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata
__ADS_1