
“Apa dia kekasihmu?” tanya Farel tidak mengalihkan matanya dari piring.
“Bukan.”
“Lalu …?”
“Apa aku juga harus menjelaskan padamu siapa temanku dan aku berteman dengan siapa?”
“Iya!”
“Aku pikir tidak perlu iya Pak, karena kita tidak dalam hubungan yang seperti itu,” kataku membantah.
“Itu menurut kamu, menurutku berbeda juga, kamu pikir aku datang jauh-jauh ke sini, untuk apa? Tentu saja untuk kamu, kan? Aku ingin menjelaskan padamu tentang apa yang kita bicara ditelepon beberapa lalu.
Kamu salah paham saat mendengar pembicaraanku dengan kakakku, kamu hanya mendengar sebagian Ririn, aku menginginkan anak itu, saat aku tahu kamu hamil, aku punya sejuta mimpi saat itu, salah satunya aku membayangkan kalau aku akan menjadi seorang ayah tapi ..."
"Tetapi saat itu, kamu tidak pernah bilang menginginkannya, kamu hanya bilang tujuan utamamu ingin mengadakan pernikahan semua demi kakakmu, jangan salahkan aku jika aku pergi malam itu, aku tidak tahu kamu berbohong atau tidak pak Farel. Tetapi malam itu, aku meninggalkan apartemen mu karena aku mendengar pembicaraanmu dan kakak perempuanmu, aku pikir aku harus lari karena nyawaku dalam bahaya, aku tidak ingin mati sia-sia.”
“Ririn, aku sudah bilang, kalau kamu hanya mendengar sebagian pembicaraan dengan kakakku, aku tidak pernah ingin melakukan hal itu, aku ingin memperbaiki keadaanmu saat itu.”
“Harusnya kamu bicara jujur padaku donk ….”
"Aku tidak bisa bicara manis Ririn, aku tidak bisa bicara romantis pada orang lain.”
“Aku tidak memintamu bersikap romantis saat itu, aku juga tahu diri, aku hanya tidak tahu aku harus berpijak di tanah yang mana dan berpegangan pada siapa?. Aku kehilangan kepercayaan pada semua orang termasuk pada kamu …. Maaf jika saat itu aku membuat Bapak jadi bingung, aku berharap Bapak Farel mendapatkan anak kelak, mari kita melupakan semuanya dan menjalan kehidupan masing-masing."
Aku harus bekerja lagi Pak Farel," ucapku dengan suara lembut aku tidak ingin ada keributan lagi. Hati ini sebenarnya sudah lelah, aku hanya ingin tenang, aku hanya ingin hidup damai.
"Apa itu karena lelaki yang tadi?”
"Apa …? Oh, bukankah karena itu, tolong biarkan aku menjalankan kehidupanku sendiri."
__ADS_1
"Apa kamu pikir ini adil untukku? saat aku menderita, hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah, tetapi kamu hidup bahagia dengannya, apa ini adil menurutmu?"
“Jangan membicarakan keadilan denganku karena aku sendiri, belum menikmati yang namanya hidup adil.”
“Aku tidak akan tinggal diam," Farel menatapku dengan tatapan sinis.
“Siapapun tidak boleh mendekatimu!” Ujarnya dengan suara keras.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan?"
Pipiku mulai terasa panas dan suaraku terdengar bergetar, karena ingin meneriakinya dan mengusirnya menjauh dari kehidupanku.
“Aku tidak boleh dekat dengan lelaki, tetapi kamu bebas membawa wanita ke hotel. Kelucuan apa yang kamu ciptakan untukku? kita tidak punya hubungan apa-apa, aku sudah menjelaskan padamu berulang kali. Aku tidak perduli walau kamu membawa wanita atau bersama wanita sepuluh sekali gus, aku tidak akan urus, karena aku menganggap, aku tidak berhak mengurusi kehidupanmu, karena kita tidak punya hubungan."
"Harusnya Anda juga bersikap dewasa dan melakukan hal yang seperti yang aku lakukan. Aku capek membahas hal yang itu, itu lagi.”
“Dengar, aku tidak perduli apa yang kamu pikirkan denganku, tetapi aku berpikir kalau kamu milikku calon istriku. Tentang wanita yang bersamaku, dia adik perempuan temanku yang kebetulan menyukaiku. Tetapi, aku tidak tertarik padanya. Saat ini, aku hanya tertarik denganmu,” ujar Farel santai.
Aku ingin kembali bekerja dan meminta maaf pada Bayu, karena sikap Farel.
"Aku hanya ingin tahu dan meli-”
"Baiklah, nanti kita akan bicara lagi Pak Farel, tapi aku akan kerja dulu hari ini, aku sangat sibuk."
"Aku yakin kamu akan melarikan diri lagi. Aku jauh-jauh datang ke sini hanya untukmu, Ririn.”
Sekali lagi hidupku kembali kacau saat ini. Aku bingung dengan sikap Farel
“Aku tidak perduli bapak datang untuk siapa dan untuk apa? aku hanya ingin kerja lagi. Aku berdiri, bersiap ingin bekerja, dengan tiba-tiba tangan Farel menarik lenganku, mencoba menahan ku agar tetap bersamanya.
Aku menghempaskan tangan Farel dengan kasar. Tetapi, karena kehilangan keseimbangan dan lantainya licin, aku nyaris jatuh ke belakang, dengan sigap Farel menarik tanganku kearahnya. Aku tidak bisa mengelak, perutku menabrak wajahnya dan kedua tangan Farel memeluk pinggangku.
__ADS_1
Aku mematung dengan mata melotot, saat mahluk kecil dalam perutku menendang wajah Farel yang kebetulan menemplok di gundukan perut ini, aku ingin mundur, tetapi, tangan Farel memeluk pinggang ini, semakin erat, ia merasakan tendangan dan gerakan aktif dari dalam perutku.
‘Apa yang harus aku lakukan sia-sia sudah aku menyembunyikan kehamilanku padanya, mustahil rasanya, kalau ia tidak merasakan gerakan-gerakan kecil dari si utun yang ada dalam perut ini’ ucapku membatin.
“Pak Farel tolong lepaskan! ada banyak orang yang melihatmu,” ujar mendorong pundaknya. Bukanya melepaskan, ia malah mempererat dekapannya dan mengarahkan pipinya ke perutku. Aku bisa merasakan cairan hangat yang membasahi pakaian. Aku tidak bisa melihat, apa itu air dari mata Farel atau ingus.
Pasti Farel sudah tahu, dengan jelas, kalau aku hamil. Sebagai seorang dokter, ia pasti sudah menebak usia kehamilanku dan ia sangat tahu kalau janin dalam rahimku calon anaknya.
“Kenapa ….? Kenapa kamu harus berbohong padaku lagi? apa kamu tidak pernah menganggap ku sebagai manusia?” tanya Farel. Ia menyingkapkan seragam yang aku pakai, lalu mengarahkan bibirnya ke perut ini, aku bisa merasakan bibir Farel menyentuh kulit bagian perut ini. “ Dia masih ada ternyata,” ujar Farel.
Tubuhku seketika menegak dan tegang, merasakan bulu kuduk di seluruh tubuh ini bergelidik, saat Farel mencium gundukan di bagian perutku.
“Aku ingin ke kamar mandi tolong lepaskan,” ujar ku ingin melepaskan diri, dari dekapan erat Farel.
Farel tidak melepaskannya, wajahnya berubah menjadi pucat, karena akhirnya ia bisa menyentuh langsung perut ini, memastikan sendiri kalau aku benar-benar hamil, keinginan itu akhirnya berhasil, karena sejak dari kemarin, ia sudah berusaha ingin menyentuh perut ini , memastikan apa aku hamil atau tidak.
Namun, setiap kali ia mendekat , aku selalu menghindar, bahkan tadi mengancamnya akan melempar kepalanya jika ia mendekat.
“Biarkan seperti ini, aku bahkan telah rela mati, setelah mengetahuinya, kenapa kamu begitu tega melakukannya padaku?” ujar Farel masih memeluk pinggangku.
“Lepaskan Pak Farel, aku ingin ke kamar mandi, kamu tidak ingin aku mengompol di sini, kan?”
Ia melepaskan tangannya dari tubuh ini. Farel sudah menemukanku di pulau ini dan sudah mengetahui kebenaranya, aku merasa hidupku kembali dalam bahaya, sang kakak tidak akan melepaskan ku.
Ia tidak akan membiarkanku hidup, saat wanita itu tahu aku hamil, ia masih berpikir, kalau anak yang aku kandung anak dari Mas Virto.
Bersambung …
Jangan lupa vote,like dan share iya Kakak …! Kasih hadiah juga boleh, biar authornya semakin semangat untuk up tiap hari.
Oh, jangan lupa kasih pendapat kalian dalam setiap bab. Terimakasih , Salam sehat.
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @ sonat.ha