Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Jika ada kelahiran maka ada kematian.


__ADS_3

Menaiki pesawat dari Bali ke Jakarta, setelah beberapa jam akhirnya tiba juga di Bandara Halim Perdana Kusuma, aku sengaja memilih bandara itu, agar lebih cepat tiba di rumah ibu malam itu.


Saat ingin pulang kerumah, aku tidak sempat membeli oleh-oleh untuk Ibu dan tidak mungkin rasanya aku datang lepas tangan, tanpa membawa apa-apa.


Kerena tidak baik bertemu orang tua tanpa buah tangan, itulah yang selalu ia bilang padaku saat aku ada pekerjaan di luar kota, saat diri ini bekerja dulu.


Karena aku dulu tidak pernah membawa oleh-oleh untuknya, aku terlalu cuek dan selalu benci pada beliau.


Dulu aku selalu menyalahkan ibu. Kenapa hidupku menderita seperti ini? Untuk apa aku dilahirkan di dunia ini, hanya untuk sengsara, itu dulu yang selalu aku katakan padanya jika aku banyak masalah.


Dulu aku sangat membenci ibu, karena tidak pernah merawat ku dengan baik seperti ibu-ibu yang lain.


Ibuku dulu tidak pernah memberiku kasih sayang dan tidak pernah mengajarkanku tentang agama, tentang bagaimana membaca Alquran, bagaimana cara sholat, tidak pernah menyuruhku mengaji, ia selalu memberiku contoh yang buruk, mulai kawin cerai, menyimpan brondong , selingkuh, mabuk-mabukan, merebut suami orang setelah uangnya habis. Lalu, ia tinggalkan.


Contoh-contoh itulah yang selalu aku lihat dari ibu. Tetapi kali ini, aku ingin berdamai dengannya, dan berharap ibuku menerima niatku dengan baik.


Aku berharap ibuku tidak menganggap ku sebagai mesin pencetak uang lagi seperti yang dulu-dulu.


Saat keluar dari bandara, tidak ada lagi toko yang buka karena sudah terlalu larut malam. Aku berpikir lebih baik menunggu sampai besok untuk menemui ibu kalau aku datang sekarang tidak membawa apa-apa itu artinya aku tidak ada bedanya dengan Ririn yang dulu-dulu.


Aku memutuskan, mencari sebuah penginapan untuk istirahat malam itu, sembari menunggu toko buka.


Memilih sebuah penginapan yang sederhana, kalau aku memilih yang mewah, aku takut Virto atau Marisa kebetulan di sana.


*


Saat pagi tiba, aku bergegas keluar penginapan, dan kebetulan sudah ada toko yang sudah buka. Membeli beberapa macam cake kesukaan ibu, dan satu keranjang buah sebagai buah tangan.


Untuk saat ini, aku berpikir itu saja dulu sebagai awal. Nanti selebihnya biar aku memberikan uang dan perhiasaan untuk ibu’ ucapku dalam hati.


Masih dengan sikap waspada, aku memesan kendaraan berbasis online untuk mengantarku ke kontrakan ibu, di Kampung Baru di Cimanggis Depok.


Saat dalam kendaraan berwarna putih itu, aku mulai merasa sangat tegang, rasa gugup dan perasaan menyerang bayangan Marisa lebih kuat menghantui pikiranku. Tangan ini selalu berkeringat dingin setiap mengingat preman yang mendorong eyang sampai meninggal.

__ADS_1


Beberapa kali aku menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa gugup, sampai-sampai bapak drivernya menoleh kaca depan melirik wajahku yang tampak pucat dan gelisah.


“Mbak tidak apa-apa?” tanya bapak drivernya memulai percakapan


“Tidak apa-apa Pak,” ucapku menengadahkan kepa ini di jok belakang menutup mata.


Sekitar empat puluh lima menit akhirnya mobil berhenti di titik aplikasi yang aku order.


“Mbak kita sudah sampai,” ucap si Bapak berhenti di depan rumah kontrakan ibu.


Bunyi jantung ini, semakin berdetak tidak karuan aku enggan keluar dari mobil.


“Tunggu sebentar iya Pak, kalau ibu saya tidak di rumah, saya ikut bapak lagi nanti, saya tidak lama,"ucapku sembari keluar dari mobil.


“Baik mbak,” ucapnya ramah.


Aku menghela napas panjang, sebelum melangkah, kualihkan mata ini, ke kanan dan kiri. Rumah kontrakan yang kami tinggali dengan ibuku, di lingkungan Texas, ada banyak cafe yang buka live musik setiap malam.


Kebisingan dari suara sound sistem mengkelanggar sudah jadi penghantar tidur untuk kami setiap malam, kontrakan milikku dengan ibu hanya beda tiga pintu.


Rumah itu terlihat sepi, seakan-akan tak berpenghuni, teras bagian depan kontrakan ibu tampak kotor, rembesan tanah dari percikan tanah dan pasir akibat hujan, mengotori kontrakan ibu, seolah-olah sudah berhari-hari tidak disapu.


‘Apa ibuku pergi?’ tanyaku dalam hati, aku letakkan keranjang buah dan bag berwarna merah berisi cake kesukaan di atas pembatas kontrakan.


Aku coba mengetuk beberapa kali, aku berpikir, barang kali ibuku ibu pergi ke cafe mabuk-mabukan lagi dan pulang pagi hari .


Tok … Tok ….!


“Ibu! Ibu …!” Panggilku beberapa kali. Namun, tidak ada sahutan, walau aku sudah beli ponsel baru, untuk menelepon, tetapi aku lupa nomor gawe ibu.


Aku mencoba mengetuk lagi, tiba-tiba orang keluar dari dalam rumah kontrakan, deretan kamar ibu, ia mendekat dengan wajah penuh tanya. Aku masih tetap teguh dengan penyamaran ku.


“Cari siapa Mbak?”

__ADS_1


“Ibuku, eh maksudku Ibu Lasminya kemana iya?”


“Mbak siapanya?” tanya Mbak Nur tetangga ibu, wanita itu tidak mengenaliku karena aku pakai wig dan kaca mata hitam.


“Saya teman anaknya, Bu,” jawabku tergagap.


“OH … emang mba tidak tahu, kalau Ibu Lasmi sudah meninggal”


Bagai di sambar petir di siang bolong, begitulah reaksiku saat mendengar itu.


Tanganku menjatuhkan bag yang berisi buah segar hasil pilihanku, aku sengaja memilihnya yang bagus-bagus untuk ibuku, berharap ibuku senang saat aku memberinya oleh-oleh. Tetapi apa ini … apa yang aku dengar ini. Apa aku salah mendengar? Batinku berteriak pilu.


“Apaaa?”


“Ibu Lasmi sudah meninggal satu bulan yang lalu,” ujarnya lagi.


Tubuhku masih mematung memandangi daun pintu berwarna coklat muda, coretan-coretan menggunakan spidol berwarna hitam itu hasil karya tangan jahil putraku Darma.


Ia selalu iseng mencoret-coret tembok kontrakan nenek mereka, membuat wanita paruh baya itu mendesis kesal setiap kali cucunya datang ke kamar kontrakannya, tetapi meninggalkan banyak coretan mulai dari pintu dinding bahkan meja. Tetapi untuk cucunya ia tidak pernah marah, Semarang apapun ia samaku tetapi untuk anak-anakku ia pernah marah, itulah Ibuku.


Walau memberi karya coretan di setiap sudut rumahnya ia tidak akan marah.


“Ibu!” Panggilku lirih, mataku tidak menangis tetapi lututku terasa lemas tidak berdaya.


Aku terduduk dengan tatapanku nanar menatap buah yang ditata rapi dalam keranjang rotan, ku pandangi bag berwarna merah, cake kesukaan ibu, cake yang ditaburi irisan buah, itu kesukaan ibuku. Terlambat sudah.


Terlambat sudah aku mengucapkan satu kalimat Maaf pada Ibu, ia sudah pergi sebelum aku meminta maaf kepadanya. Mirisnya lagi


Ia meninggal di hari yang sama, saat putraku lahir. Selamat jalan Ibu.


Bersambung ....


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA,

__ADS_1


Maaf tidak update kemarin karena sibuk urus bocil dan jualan. next time mudah-mudahan lebih rajin updatenya, sampai ceritanya tamat . Tapi jangan lupa dukungannya, iya Kakak biar diriku tambah semangat lagi.


Salam sehat untuk semua pembacaku.


__ADS_2