
Setelah Farel setuju akan dioperasi, semua dokter sibuk mempersiapkan operasi Farel, bahkan seorang dokter ahli bedah didatangkan dari Jerman.
Rumah sakit besar itu , tempat Farel akan dioperasi.
Saat semua saudara sibuk mempersiapkan segalanya, aku juga sibuk menenangkan Farel di atas ranjang rumah sakit itu, ia terus saja meneror ku tiap menit tentang putranya, karena aku berjanji padanya akan menelepon Haikal sebelum ia dioperasi, ternyata hal itu juga yang membuatnya semangat dan berubah seperti bayi besar yang penurut.
“Apa kamu mau minum?” tanyaku menatap Farel.
Tetapi ia menggeleng, matanya terus menatapku kemana aku melangkah.
“Ada apa?” tanyaku menatapnya dengan bingung.
“Lalu kapan aku menelepon putraku, aku sudah jadi anak yang baik sejak dari tadi,” ucap Farel menatapku dengan tatapan memburu.
“Baiklah kita akan meneleponnya nanti, habiskan minumannya dulu,”Tanpa membantah dia menghabiskan satu gelas dan menghabiskan bubur tanpa rasa, satu bangkok tanpa ada penolakan.
Lalu mata itu, menatapku dengan tatapan sendu solah-seolah ia ingin mengatakan ‘sudah aku habiskan mana janjimu?’
“Farel, begini bersabarlah, aku sedang meminta orang membawanya ke tempat yang ada sinyalnya, agar kamu bisa melihat dan bicara dengannya dengan jelas tanpa terputus-putus. Bisakah kamu bersabar sebentar lagi?”
“Kamu tidak sedang ingin berbohong kan Rin, kamu tidak ingin mempermainkan ku?”
“Tidak, percayalah lihat layar di depan ranjangmu, aku sudah meminta Josua tadi memasangnya, agar kamu dan kakakmu bisa melihat wajah tampan anakmu,” ucapku duduk di samping ranjang Farel.
“Lalu berapa jam lagi aku akan menunggu?”
“Jika mereka telah mengabari dari sana, kita akan sambungkan”
“Baiklah, apa wajahku pucat?” Ia mengusap wajahnya, ia seperti ingin bertemu dengan pacar baru.
“Hanya sedikit kurang sinar matahari,” ucapku membuatnya menghela napas.
“Memangnya aku pakaian basah apa harus butuh matahari,” ucapnya dengan wajah datar.
“Pak Dokter tidak hanya pakaian basah yang butuh matahari tumbuhan dan manusia aku pikir membutuhkan sinar matahari. Pak dokter lebih tahu lah hal itu,” ucapku duduk di samping Farel.
“Rin, coba tanya lagi, apakah di sana sinyal sudah ada,” pintanya lagi bolak balik melirik jam.
“Bersabarlah Pak Dokter,” ucapku menatap dengan senyuman .
Tetapi sepertinya kata-kataku tidak begitu berpengaruh untuk Farel, ia terlihat sangat gelisah .
“Rin tolonglah aku tidak akan bisa menunggu lagi, ini berat untukku aku tidak bisa mengendalikan detak jantung ini,” ucap Farel memegang dadanya.
*
Satu jam menunggu sudah seperti menunggu satu bulan untuk Farel, ia bolak balik melirik jam di tangannya.
Saat kami menunggu dr. Burak datang .
“Apa benar kamu akan melakukan panggilan pada putramu?” tanya dr. Mona kakak ipar Farel.
__ADS_1
“Iya Mbak, kami lagi munggu sinyal mereka, dulu,” ucapku.
“Benarkah …? A-abi. Harus kah, aku memberitahu tentang putramu Rel? Soalnya abi dari kemarin menelepon, boleh gak Rel? Abi pasti sangat senang mendengar kamu mau di operasi pasti dia sangat senang, apalagi abi tahu putramu dan Ririn ada. Abi pasti lebih bahagia lagi”
Lesa dengan tatapan haru menatap sang adik, ia meminta izin Farel untuk memberitahukan ayah mereka dengan cucunya.
“Nanti saja kakak, biar aku yang melihat putraku yang pertama,” ujar Farel ia menolak permintaan dr. Lesa.
“Tidak apa-apa ayah mertua mungkin lebih semangat lagi,” ucapku ikut membujuk.
“Kamu tidak apa-apa emang?” tanya Farel menatapku.
“Tidak apa-apa dia cucunya. mereka bibi Haikal.” Aku memegang tangan Farel.
“Baiklah telepon abi”
Dengan wajah bercampur haru dr. Lesa menelepon ayah mereka di ruangan Farel.
“A-abi aku sangat bahagia …”
“Lesa, ada apa Nak?” tanya ayah mertua di layar monitor itu.
“Abi … Farel mau di operasi”
“Alhamduillah Nak, Abi senang lakukan yang terbaik buat adik kalian”
“Abi ada yang membujuk dia ke rumah sakit. Ririn, dia ada di sini Bi”
“Assalamualaikum Ayah”ucapku dengan sangat gugup
“Waalaikumsalam Nak”
Aku menunduk dengan lutut bergetar, tiba-tiba Farel menggenggam telapak tanganku, sepertinya ia tahu kalau aku sangat gugup.
“Terimakasih Nak, sudah kembali dan kamu berhasil membujuk Farel ke dokter,” ucap ayah Farel ayah mertuaku, ia terlihat duduk di kursi roda .
“Ayah aku meminta-”
“Sttt jangan bahas masa lalu mari kita lihat ke depan saja Nak,” potong ayah mertuaku.
“Apa yang terjadi pada ayah, kenapa duduk di kursi roda” tanyaku penasaran.
“Nanti kita akan bicarakan,” ucap Farel menggenggam tanganku lebih erat, seolah-olah ia ingin mengatakan, ia mengalami hal buruk selama empat tahun dan aku tidak mengetahuinya karena aku pergi.
“Baiklah,” ucapku mengangguk pada Farel. Dan mata kami kembali menatap kamera.
“A-a-abi tapi ada yang lebih penting dari itu semua,” ujar dr Lesa wajahnya tampak tegang, ia melihat kami bergantian, ia seperti ingin memberi ayah sebuah kejutan besar terlihat dari sikapnya yang sangat tegang.
“Ada apa Lesa?” Wajah ayah mertua ikut menegang bercampur gelisah.
“Abi …! cucumu anak Farel sangat tampan,” ucap Lesa memegang dadanya dan beberapa kali menahan napas.
__ADS_1
“APAAA! MANA CUCUKU MANA?”
Wajahnya tampak sangat terkejut, orang tua yang sudah duduk di kursi roda itu memegang dadanya.
“Abi! Coba lihat pesan di ponsel abi, aku sudah mengirim foto cucu laki-lakimu abi, abi sudah punya cucu laki-laki seperti yang kamu inginkan Bi,” ujar dr. Lesa dengan suara terjedah-Jedah kerena menahan perasaan
Dalam layar yang di sambungkan ke panggilan viedeo call ayah mertua tampak buru-buru memakai kaca mata miliknya agar ia bisa melihat dengan jelas foto Haikal di layar ponselnya, seketika ia memegang dadanya saat melihat foto.
“Masya Allah Ibu, cicitmu sangat tampan, masya Allah,” akhirnya tangisnya pecah juga.
Sama halnya dengan Farel kedua lelaki yang terlihat tangguh seperti batu itu akhirnya menangis pilu, sekuat apapun lelaki tangguh yang aku lihat itu, ternyata mereka memiliki titik lemah sendiri.
“Oh, cucuku … Masya Allah … cucuku pertemukan aku dengan dia tolong …” ucapnya memegang matanya masih menangis sesenggukan.
Aku berpikir hanya ayah mertuaku yang menangis saat itu, saat aku melihat kanan kiri, ternyata Farel tampak sesenggukan dalam tangisan tanpa suara. Melihat ayah mereka menangis untuk pertama kalinya, membuat ketiga bersaudara itu menangis. Ternyata Haikal Adnan Taslanku, malaikatku kecilku, bisa membuat mereka semua menangis.
“Abi, tolong jangan menangis,” bujuk Lesa mencoba memenangkan.
“Lesa sayang … abi mau datang ke sana. Tolong,” ucapnya memohon.
“Abi jangan sekarang, abi belum pulih”
“Sayang anakku … abi akan dengan tenang setelah melihat cucuku, aku akan Ceritakan di surga nanti pada ibuku, kalau cicit yang ia perjuangkan dan ia selamatkan sampai akhir hayatnya sangat tampan … Abi akan katakan pada ibumu, nenekmu dan adikmu kalau impian abi kenyataan, abi punya cucu lelaki, abi akan katakan pada ibu, cucunya mirip bangat dengan Farel”
Mendengar itu semua mereka semua semakin teriksak-isak.
“Abi jangan katakan seperti itu, abi akan bertemu dengan cucumu asalkan abi sehat,” ucap dr Lesa membujuk ayah mereka.
“Tidak sayang! tidak, Abi tidak akan bisa menunggu. Burak, tolong yakinkan adikmu kalau abi akan baik-baik saja” ucapnya pada putra pertamanya dr. Burak.
“Baiklah abi, baiklah, abi akan ke Bali, tetapi dengar dulu … biarkan kami selesai menangani Farel dulu, baru aku akan menjemput abi, lalu kita akan bertemu cucumu. Iya Rin”
“I-iya ayah, untuk saat ini. Bagaimana kalau ayah sapa dia lewat video call,” ucapku.
“Sekarang? Bolehkah, benarkah?”
“Boleh Abi, minta Sara untuk menyambungkan panggilan ponselnya ke laptop agar Abi, bisa melihat cucu dengan jelas,” ucap dr. Lesa.
“Baiklah Nak, sambungkan sekarang Abi akan melihatnya”
Bersambung ….
“
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan