Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Dia ingin dioperasi


__ADS_3

“Apa yang kamu lihat tidak seperti kenyataanya, aku dan dia tidak apa-apa,” ucap Farel


“Apa yang dilihat mataku saat itu,  cukup jadi  jawaban dari pertanyaan hatiku. Pak Farel!”


“Aku dan dia tidak ada apa-apa  sampai hari ini,  bahkan saat ini Ririn. Bagiku. Kamu istriku satu-satunya sampai detik ini, aku tidak pernah menikah dengannya dan tidak pernah menikah dengan siapapun. Apa kamu paham itu?”


“A-a-apa?” Mataku menatap Farel dengan tatapan terkejut, antara terkejut dan tidak percaya,  itulah yang aku rasakan saat itu, rasanya tidak mungkin, jika tidak menikahi wanita itu,  karena aku melihat mereka bersama saat ke di bandara.


Saat kami terlibat pembicaraan serius dengan Farel, suara ketukan terdengar dari pintu membuat pembicaraan kami terputus.


Tok …! Tok …Tok …!


Farel menuju pintu membuka daun pintu.


“Maaf menganggu acara kalian Berdua”


“Lah, Jo bukannya sudah pulang ke Jakarta?”


Seorang pria muda tampak berdiri dengan wajah menegang menatap kami bergantian.


“Belum, ada hal yang sangat penting,” ucap lelaki itu dengan wajah tampak panik.


“Ada apa?” Farel menatapnya dengan serius.


“Aku minta tolong  sebentar pinjam Mbak Ririn, boleh?”


“Untuk apa?” suara Farel tampak tegas.


“Sebentar saja Dok, ini tentang hidup dan matiku,” ucap lelaki itu masih dengan raut wajah  yang masih terlihat panik.


“Saya? Tetapi saya tidak mengenal Bapak ,” ucapku protes.


“Iya Mbak Ririn tidak kenal saya, tetapi saya dan segenap jajaran saya sudah mengenal Mbak,” ucapnya dengan raut wajah serius.


Membuatku tampak bingung.


“Buat apa?” tanya Farel masih dengan nada suara yang terdengar menyelidiki.


“Ini  tentang masalah perempuan, Dokter tidak akan tahu,” ujarnya menatap Farel.


“Apa katakan saja saya bisa semuanya, istri saya tidak dipinjamkan pada siapapun, termasuk sama kamu.” Farel menatapnya dengan serius.


“Baiklah,  pakaian tipe lingerie yang mana iya? Boleh dokter membantuku?”


Seketika wajah Farel terkejut.


“Kamu gila, nanyain itu sama saya?”


“Maka itu tadi saya bilang Dok, hanya Mba Ririn yang tahu”

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengar perdebatan keduanya.


“Baiklah, nanti kembalikan secepatnya  ke sini karena kami berdua lagi membahas sesuatu yang penting,” ucap Farel mengijinkan aku ikut.


Meninggalkan Farel di kamar,  aku dan lelaki itu berjalan dalam diam. Setelah di dalam lift barulah ia buka mulut.


“Mbak Ririn maaf bangat sudah merepotkan, Mbak,” ucapnya dengan sungkan.


“Tidak apa-apa, kita kemana?’ tanyaku.


“Itu sebenarnya a-anu-itu …”


“Ada apa?” tanyaku penasaran karena tiba-tiba wajah berubah panik saat ini.


“Jangan marah iya Mbak, sebenarnya aku hanya ingin bicara dengan mbak Ririn”


“La … untu apa?”


Tiiing …!


Lift terbuka dan kami sampai di lantai lobby hotel.


“Sini saja kita bicara takut dia mengikuti kita,” ucap lelaki yang terlihat masih muda itu,  ia menarik sebuah kursi  mengajakku duduk di cafe di dalam butik.


“Ada apa? sepertinya sangat mendesak, tetapi ngomong-ngomong dari mana kamu mengenal aku?” tanyaku  penasaran.


“Lah, itu berlebihan saya bukan artis,” ucapku, menganggapnya terlalu mengada-ngada.


“Gini mbak, saya akan mendapat masalah besar dari   dr. Lesa kalau saya tidak bisa  mengajak Farel kembali ke Bali, karena dua hari lagi dia dijadwalkan melakukan operasi”


“Operasi ? Farel?”


Iya”


“Memang dia kenapa?” tanyaku terkejut.


“Mbak Ririn  tidak tahu kalau Pak Farel pernah kecelakaan empat tahun yang lalu? Dia  hampir  satu tahun berbaring di rumah sakit  pundak kirinya  patah  jadi di pasang pen sebagai penyangga di bahu kirinya. Nah … pen penyangga itu kata dokter yang  mengontrolnya sudah lama tidak di periksa, ia melupakan jadwal kontrolnya, semua  keluarganya sangat khawatir termasuk kakak perempuannya seorang dokter juga, jadi dokter itu memintaku untuk membawa dr. Farel kembali ke Bali, bagaimanapun caranya. Sulit, Kan? Siapa yang bisa memaksa dr. Farel, aku butuh bantuan Mbak Ririn”


“Apa parah?”


“Akan parah Mbak,  kalau   besi penyangga itu tidak segera diganti, karena bisa karatan dan akan infeksi ke sarat yang lain yang paling parah bisa merusak  hati dan jantungnya nanti”


“Aku tidak tahu, dia tidak pernah bilang, kalau ia pernah kecelakaan,” kataku semakin bingung.


“Dia memang lelaki yang keras kepala Mbak, makanya dr. Lesa mengancamku, kalau aku tidak bisa membujuk maka tamatlah aku,” ucapnya dengan wajah memelas.


“Dr. Lesa siapa?’ tanyaku  sampai lupa.


“Lesa, itu kakak perempuan Pak Farel, dia kepala rumah sakit di tempat kami bekerja  saat ini, mereka satu rumah sangat menyusahkan aku. Dr farel tidak mau diajak pulang dari kemarin. Padahal  kami semua sudah membujuknya tetapi dia bilang ingin mengajak Mbak Ririn pulang bersama-sama. Mbak … tolong aku, tolong ajak dr. Farel pulang agara aku hidup dengan tenang,” ucap lelaki itu dengan wajah memelas.

__ADS_1


“Tadi maaf nama kamu siapa?”


“Iya ampun aku sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya Josua Mbak, bisa panggil Jojo juga tidak apa-apa, saya tidak keberatan,” ucap Josua tetapi wajahnya tampak lelah.


Menurut cerita Josua, ia sudah sempat pulang tetapi di suruh balik lagi dan harus berhasil membawa Farel pulang, kalau tidak kakak perempuan Farel akan menghukumnya. Aku masih diam seakan tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar, Farel bilang ia  tidak menikah  sudah cukup membuat hati ini  sangat terkejut, ditambah lagi kabar kalau Farel kecelakaan semakin membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.


“Lalu, apa yang terjadi pada Farel?”


“Dia harus dioperasi segera Mbak, tolong bantu saya agar dia mau,” ucap Josua memohon.


“Baiklah, saya akan berusaha,” ucapku, memikirkan cara untuk membujuk Farel kembali ke Bali. Karena di sanalah ia dijadwalkan operasi.


“Bantu iya Mbak, tolong bangat …. Kita semua, sudah membujuknya  tetapi dia memang  keras kepala,” ucap Josua.


“Baiklah, akan aku usahakan, tetapi aku tidak bisa janji, kita semua tahu bagaimana Farel,”ucapku.


Saat mengobrol serius dengan Josua,  tiba-tiba Farel datang,  ia terlihat mencari kami berdua di toko pakaian di samping butik.


Untung  cafe mini dalam butik itu sedikit tertutup jadi Farel tidak melihat kami sedang mengobrol.


“Farel datang kamu berdiri, ambilkan pakaian itu satu,” pintaku dengan sikap buru-buru.


Josua dengan tubuh mengendap-endap,  ia berjalan menuju pakaian wanita dan membeli  lingerie agar Farel tidak curiga , agar ia tidak tahu kalau sedang membahas tentang dia.


Saat pura-pura memilih pakaian,  Farel sudah ada di  situ juga.


“Belum? Lama bangat,” ucapnya kesal.


“Sudah, ayo pergi” Josua menunjukkan bag. Kami keluar dari butik.


“Terimakasih Mbak Ririn, atas bantuannya,” ucap Josua meninggalkan kami.


Kini aku tiba-tiba merasa bersalah karena telah membohongi Farel, mendengarnya akan dioperasi , aku berniat ingin memberitahukan Haikal.


Tetapi aku harus memikirkan cara yang tepat untuk memberitahukannya,  karena aku sudah sempat berbohong padanya tadi kalau aku tidak tahu keberadaan putranya, jika aku kasih tahunya sekarang yang ada ia marah padaku.


Bersambung ….


 JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


 KASIH BANYAK HADIAH juga  AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA  SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


                 Baca juga:


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata

__ADS_1


__ADS_2