Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Pertemuan yang Menegangkan


__ADS_3

Bertemu dengan istri Mas Virto membuatku ketakutan, wanita jahat itu meninggalkan trauma yang sangat dalam di hidupku, ia sungguh wanita yang menakutkan, bahkan saat aku sedang hamil pun, ingin ia lenyap kan.


Aku tidak tahu, apa aku masih bisa membuka mata di rumah ini atau akan menutup mata selamanya? biarlah waktu yang menjawab.


Lagi-lagi tubuhku sangat lemah, aku sangat lemah, tidak mampu menahan semua tekanan, Farel langsung membawaku ke kamarnya.


Saat membuka mata setelah ter sadar dari tidur panjang itu, aku menemukan tubuh ini berada dalam kamar yang bernuansa kuning, mataku menoleh ke samping ada Farel yang setia menunggu-ku.


Lelaki berwajah tampan itu sedang tidur di atas sisi ranjang, dengan satu tangan menggenggam telapak tanganku. Aku terbangun karena mahluk kecil dalam perutku bergerak aktif , kurasa gerakannya menendang dan berputar dalam perut.


Mungkin ia merasa lapar karena aku hanya serapan pagi sedikit, sebelum di bawa paksa Farel ke rumah orang tuanya.


"Sudah bangun syukurlah, kamu membuat kami khawatir," ujar Farel membantuku duduk.


"Kita di mana?" tanyaku masih dalam setengah sadar.


"Di rumahku, kamu pingsan tadi, mungkin karena kamu gugup," ujar Farel menyelipkan anak-anak rambut yang menutupi wajahku.


"Bukan gugup Pak Farel, tapi aku takut, takut sekali pada kakak perempuanmu," ujar ku berkata jujur.


Aku takut pada kakaknya, itulah perasaanku yang sebenarnya, aku juga takut saat melihat tatapan sinis semua keluarganya. Hanya satu yang menatapku dengan tatapan Iba. Mas Virto selalu menatapku dengan rasa khawatir. Ia takut keluarga Farel menyakitiku, ia juga sudah pulang ke Jakarta.


"Jangan takut aku akan selalu menjagamu," ujar Farel terlihat seperti seorang ayah dan seorang suami yang selalu siaga.


Aku mengelus perutku lagi, ia menendang saat mendengar suara Farel.


"Dia lapar, aku juga,” kataku mengelusnya.


"Ayo kita turun kita makan malam bersama, mereka pasti sudah menunggu kita."Farel merentangkan tangannya memintaku memegangnya.


"Maaf Pak Farel, tubuhku masih lemah dan aku merasa lemas kurang enak badan aku di sini saja," kataku mencari alasan.


"Baiklah, aku akan meminta bibi membawakan makanan nanti ke kamar, agar kamu bisa makan di sini," ujar Farel, ia menatapku dengan tatapan hangat.


Saat Farel sudah turun, Si Utun dalam perut mulai menendang lagi, ia menggeliat berputar dalam perutku, aku merasakan kulit perutku mengeras, karena bayi kecil itu menendang semakin aktif.

__ADS_1


"Tenanglah, tunggu ayahmu datang membawakan kita makan malam, Ibu juga lapar," ucapku mengelus-elus dengan lembut.


Ia seolah-olah mengerti, diam dan kembali tenang.


Saat kehamilan usia enam bulan, aku sering merasa kelaparan dan bawaannya ingin makan.


Ketukan pintu dalam kamar membuatku bersemangat."Makanan kita sudah datang," ujar ku senang dengan tangan mengelus perut.


Tetapi saat pintu terbuka, mata ini terbelalak kaget,tubuhku bergetar dan tangan berkeringat,


"Selamat datang di rumahku wanita murahan," bisiknya pelan, sesekali matanya melirik pintu memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, ia memberi isyarat pada asisten rumah tangga agar ia keluar.


Menyadari hanya kami berdua dalam kamar, aku merasa kalau nyawaku dalam bahaya. Tatapan kebencian yang di perlihatkan Marisa membuat nyaliku semakin ciut.


"Berani sekali kamu memasuki rumahku, apa anak yang kamu kandung itu benih suamiku atau anak dari adikku?" tanya Marisa masih dengan suara berbisik, ia duduk di sisi ranjang menatapku dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Menyadari nyawa kami berdua dalam bahaya otakku berpikir cepat, untuk menghadapi wanita galak ini, kita perlu sedikit bersikap licik, aku berpura-pura ingin makan dan meraih nampan yang ada di atas nakas di samping ranjang, seketika ….


Piring dan mangkok pecah menimbulkan keributan, saat ia tidak melihat, aku mengambil pecahan kaca dan menggores lenganku, hingga terluka dan mengeluarkan cairan merah yang mengotori seprai.


"Kamu gila iya!" Teriak Marisa ikut panik.


Mendengar piring jatuh dan suara ribut Farel berlari ke kamar, ia panik melihatku terluka.


"Iya ampun Ri. Farel panik, lalu menarik seprai membungkus tanganku yang terluka.


"Kakak apa yang kamu lakukan?" Bentak Farel pada kakaknya.


"Aku tidak melakukan apa-apa wanita ****** ini yang-"


"Kakak cukup, Ririn istriku," ujar Farel marah.


"Kamu gila ya Ga ... wanita itu bekas suamiku, dia wanita kotor yang hina"


"Kakak hentikan nanti Abi dengar," ujar Farel meminta kakaknya untuk diam.

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan itu, aku marah dan kecewa pada kalian semua!"


Tidak lama kemudian Virto datang, hatiku entah kenapa setiap kali melihatnya merasa sangat aneh, melihatku terluka, ia terlihat sangat sedih, ia hanya menghela napas.


Apa yanga aku takutkan akhirnya terjadi juga, ayah Farel naik setelah mendengar keributan.


"Apa yang kalian ributkan?" tanya lelaki itu, dengan tatapan bingung,


Farel panik, ia terdiam bagai patung sampai-sampai melupakanku yang terluka, tetapi sesuatu yang tidak terduga terjadi,


"Apa yang kalian lakukan, kenapa malah diam. Ririn terluka apa kamu mau dia kehabisan darah," ujar Virto ia mengendong tubuh ini ke sofa dan mengobati kakiku yang terluka.


Saat itulah, aku merasa dalam neraka, di mana mantan kekasihku mengobati dan memberi perhatian dan Farel menatapku dengan tatapan sinis, tangannya mengepal kuat ada tatapan kemarahan yang hampir meledak di balik sorot mata tajam itu.


lebih parah lagi , wanita yang bernama Marisa itu lebih tajam menatapku, melihat Virto menyentuh dan mengobati, ia semakin marah.


Kalau saja ayah mereka tidak ada di kamar itu, aku yakin, ia akan menelanku hidup-hidup.


Hal inilah yang aku takutkan selama ini pada Farel, makanya aku menolak menikah dengannya, karena kemarahan kakak perempuannya, tetapi penolakan yang aku lakukan selama ini tidak dihiraukan Farel, kemanapun aku melarikan diri, Farel tetap saja menemukanku, hingga beginilah akhirnya, terjadi kekacauan seperti ini di rumahnya, coba saat itu, ia membiarkanku pergi, semua ini tidak akan terjadi.


Tatapan menajam dari Farel membuatku semakin melemah, aku tidak tahan dengan tekanan dari mereka semua, di tambah perut yang sangat lapar membuatku semakin tidak berdaya.


‘Ya ampun situasi seperti apa ini? ' ucapku dalam hati.


Saat Mas Virto mengobati dan menunjukkan perhatian . Lagi-lagi Farel , menatapku dengan tatapan jijik, seolah-olah aku sampah.


‘Apa salahku? Virto hanya mengobati lukaku’ ucapku dalam hati.


Bagaimana kami berdua hidup saat semua orang di rumah ini membenciku. Derita seorang pelakor …. sepertinya, tiada habisnya.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA AGAR VIWIERS NAIK


Beri komentar untuk setiap Babnya. Terimakasih kakak, Semoga semua pembaca novel selalu sehat.

__ADS_1


Jangan lupa follow IG @sonat.


__ADS_2