
Farel, membawaku menjauh dari Virto
"Apa kamu menunggunya selama ini, inikah yang kamu inginkan makanya tidak mau menikah denganku?"
"Tidak ada niat menemui dia, aku juga kaget, saat melihatnya, Pak Farel”
"Jangan bilang! kamu mengharapkan kakak ipar ku untuk kembali!”
"Aku tidak pernah bilang seperti itu,” ujar ku tetapi hatiku berkata lain.
"Ririn, mulutmu boleh berbohong. Tetapi, apa kamu tahu, kalau matamu berkata lain. Matamu bilang … kalau kamu sangat merindukan suami kakakku, matamu bilang kalau kamu sangat merindukan dia. Apa aku salah?"
Aku terdiam, apa yang dikatakan Farel sebuah kebenaran.
‘Iya! aku sangat merindukan lelaki itu, bohong, kalau aku tidak merindukannya, bahkan ingin memeluknya tadi, menjalani hubungan selama lima tahun bukanlah waktu yang singkat, dia selalu memperlakukanku dengan baik, dia tidak pernah merendahkan, seperti yang kamu lakukan’ ucapku dalam hati
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," ucapku memalingkan wajahku darinya.
"Apa lelaki itu segitu berharganya di matamu? dia suami kakakku, dia ayah keponakanku, Ririn! apa kamu sadar itu.
Kamu mencintai suami orang lain, kalian membangun cinta yang salah," ucap Farel dengan suara meninggi wajahnya tampak murka.
"Aku tidak tahu kamu marah karena apa, tapi aku mau bekerja lagi"
"Sampai kapan kamu melarikan diri saat aku bicara," ujarnya, dengan wajah yang memerah, terlihat jelas di wajahnya ada perasaan terluka di sana, saat ia mengetahui kalau aku masih merindukan Virto.
"Aku ingin kerja lagi"
"Persetan dengan pekerjaanmu!" Farel menarik tanganku ke ruangannya, melewati banyak orang.
"Pak Farel, apa yang bapak lakukan, semua orang melihat kita," ucapku dengan satu tangan menutup wajah ini
"Aku tidak perduli dengan orang lain, mereka juga tidak perduli denganku"
Tiba di dalam ruangannya ia menutup pintu dengan cara membanting dan melepaskan tanganku dengan kasar, tangannya menuangkan air putih ke gelas dan meneguknya sampai ludes.
Dengan pundak naik turun, menahan kemarahan, lalu ia berkata lagi;
"Apa kamu mengharapkan lelaki itu menjadi suamimu?"
"Tidak ada yang seperti Pak Farel, anda salah paham.” Saat lelaki tampan itu merasa terbakar, aku masih bertahan di mode tenang …
"Salah paham apa?"
Paaak !
Ia melempar gelas itu, ke dinding menimbulkan suara riuh. Aku kaget, karena aku tidak pernah menduga lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu akan semarah itu.
Aku berbalik badan ingin keluar dari ruangan Farel, aku berpikir lelaki itu tidak pantas marah-marah seperti itu padaku, karena kami tidak punya hubungan apa-apa.
"Aku keluar," ucapku tidak ingin melihat kemarahan itu.
__ADS_1
"Aku akan melaporkan lelaki itu ke kantor polisi, apa kamu tahu, kalau aku melapor pada atasnya dia akan diberi sangsi.
Apa kamu tidak tahu perselingkuhan akan mendapat sangsi berat, bisa berupa mutasi, penurunan pangkat, paling parah pemecatan, apa kamu mau Virto mendapat itu …!?”
"Aku tidak perduli dengan ancaman seperti itu, lakukan saja, toh, juga dia bukan siapa-siapaku," ucapku bersikap santai, walau dalam hati tidak ingin hal itu terjadi pada Mas Virto.
"Kalau kamu tidak perduli padanya, lalu kenapa kamu tidak mau menikah denganku? tidak akan aku biarkan kamu menghancurkan rumah tangga kakakku untuk ke sekian kalinya"
"Itu tidak akan terjadi”
"Siapa yang menjamin! Kamu tidak melakukannya, lalu tatapan apa yang kamu pamerkan tadi?"
"Jangan asal menuduh, tidak ada seperti itu"
"Ok. Baiklah, buktikan kalau kamu tidak ingin jadi wanita simpanan ipar ku lagi, buktikan kalau kamu tidak jadi pelakor untuk keluarga kakakku"
"Iya akan aku buktikan,”Kataku dengan sikap tenang.
"Kalau begitu menikah denganku"
"Tidak"
"IYA HARUS"
“Tidak”
“HARUS RIRIN, HARUS!”
Farel menatap dengan tajam, "Ini semua aku lakukan demi kakakku," ucap Farel memegang pundak ku dengan erat." Suka tidak suka kamu harus melakukan itu"
“Alasan, itu lagi, itu lagi. Karena itulah aku tidak mau menikah denganmu”
“Lalu kamu ingin alasan Apa? Karena Cinta?”
“Lupakan saja,” kataku malas.
Merasa terjebak dalam situasi ini, aku merasa tidak punya pilihan.
“Saat itu, aku sudah setuju menikah dengan Bapak, kan?Tetapi Bapak yang malu.” Aku menatapnya dengan tegas.
“Tidak, aku tidak malu," ujar Farel dengan yakin.
“Haaa! kenapa sekarang baru kamu bicara seperti itu? Pak Farel ... kamu selalu merendahkan. Kamu malu punya istri sepertiku”
“Tidak, kamu salah, kita harus menikah secepatnya."
*
Farel, semakin menggila saat aku bertemu dengan Virto, bagaimanapun aku menolak ia memaksa. Hingga malam tiba ....
“Malam ini, kita akan mengadakan sebuah pernikahan.
__ADS_1
Pernikahan yang hanya di hadiri beberapa orang sebagai saksi, aku sudah menelepon seseorang untuk mempersiapkan pernikahan untuk kita”
“Bapak gila iya! Ini pemaksaan namanya”
“HARUS!”
“Bapak, selalu memaksakan kehendak mu padaku”
“Ini untuk kebaikan bersama, juga, untuk menyelamatkanmu”
“Tapi aku belum siap”
"Ini pakai gaungnya, hanya itu yang buat untukmu tidak ada yang lain,” ucap Farel memberikan sebuh gaun besar entah dari mana ia mendapatkan itu.
Perutku terlihat semakin membesar saat menggunakannya gaun pengantin pilihan Farel, membuatku merasa sesak.
"Ini membuatku sesak, gaun ini, tidak buat untukku" Farel datang, membawa gunting dan memotong bagian pinggang membuat dua bolongan di bagian pinggang kanan dan kiri.
"Apa ini?" kataku dengan mulut menganggap.
"Anggap saja itu model terbaru," ucap Farel dengan sikap dingin, ia masih sangat marah dan kesal denganku.
"Apa kamu masih marah padaku?"
Ia membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan yang mendominasi.
"Apa aku harus tertawa dan senang saat kamu menyimpan perasaan pada lelaki lain, sementara kamu mengandung, anakku?"
“Hadeeeh , aku harus bagaimana? Cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan, Pak’ ucapku dalam hati,
"Aku tidak seperti itu," kataku dengan suara kecil, tidak yakin dengan kata-kata sendiri.
"Baguslah, kalau kamu memang tidak seperti itu, kamu buktikan sendiri setelah kita menikah," ujar Farel.
Setelah selesai berpakaian ala kadarnya, ia menggenggam tanganku dan membawa ke satu ruangan di mana sudah ditunggu seorang penghulu dan beberapa orang saksi.
Aku masih belum percaya kalau aku akan menikah dengan Farel, aku bagaikan tubuh tanpa jiwa, walau tubuh ini berada dalam ruangan itu, tetapi pikiranku bergentayangan entah kemana.
Farel mengucapkan Ijab Kabul dengan lancar. Hingga akhirnya, aku sah menjadi istri dari Farel.
Semua terasa begitu buru-buru sampai-sampai otakku kewalahan mencerna semua yang terjadi. Aku tidak heran, kalau Farel bisa mempersiapkan itu, dengan waktu yang singkat dengan kekuasaan yang ia miliki.
Aku merasa telah mengkhianati anak-anakku, karena aku sudah berjanji pada mereka kalau aku tidak akan menikah lagi dan akan fokus mengurus mereka berdua.
Tetapi apa ini? bagaimana ini, rohku berkelana jauh. Hingga aku merasakan tubuh ini lemas dan terkulai tidak sadar, setelah selesai akad
'Menikah dengan Farel Taslan? apa yang terjadi selanjutnya?'Mataku terpejam.
Bersambung …
Bagaimana dengan bab ini Kakak? Kasih dong komentar kalian tapi komentar membangun iya bukan yang julid … Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya.
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.