Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Aku Pasrah


__ADS_3

Mendengar kabar Farel akan menikahi tunangannya, aku pasrah, memang apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku berpikir akan pindah kamar, mungkin kamar Farel akan mereka pakai, sebagai kamar pengantin.


Maka saat seorang asisten rumah tangga datang mengantar makan siang, aku meminta satu kamar kosong yang aku tempati dengan bayiku nantinya.


"Di sini sudah kosong, Non, tapi di rumah depan masih ada, tapi ..." Wanita paru baya itu menggantung kalimatnya.


"Kenapa, Bi?" tanyaku penasaran.


"Gedung itu di tempati eyang"


"Lalu?" tanyaku ingin tahu.


"Tidak ada satu orang pun keluarga ini yang punya kamar di gedung depan, karena eyang itu sudah tua dan sering mengamuk suka melempar barang-barang dan suka teriak-teriak kalau malam"


"Siapa dia, apa wanita tua yang duduk di kursi roda?"


"Iya, beliau ibundanya Pak Ali, kalau ibunya Mas Farel sudah lama meninggal," ujar wanita itu menjelaskan.


Aku baru tahu, kalau ibu dari Farel sudah tiada,


"Aku di sana saja Bi, tidak apa-apa' kan?”


"Ta -tapi Non, tidak apa-apa?" Ia menatapku dengan wajah kaget.


"Tidak apa-apa,”ucapku santai.


Rumah keluarga Farel, sangat besar ada satu bangunan yang dulunya rumah milik nenek Farel yang digabungkan jadi satu dengan rumah Farel, jadi bentuk bangunan rumah itu berbentuk huru L.


Jadi bagian paling depan di tempati nenek Farel yang sudah tua, aku memutuskan tinggal di sana, aku merasa akan lebih nyaman dan tenang, karena tidak akan melihat Marisa dan keluarga yang lain, jika aku pindah ke rumah depan.


Aku meninggalkan kamar Farel, tidak perlu meminta izin pada siapapun, karena di rumah itu, aku merasa tidak ada yang perduli denganku, jadi setelah membereskan pakaianku aku pindah ke bangunan depan, persis di sebelah kamar wanita tua yang di panggil eyang itu.


Kamar yang akan aku tempati , sangat indah, tempatnya di lantai dua di depannya ada balkon yang luas yang dijadikan taman, yang di penuhi tanaman dan tempat berjemur dan sebuah kolam renang mini tempat eyang berendam.


"Wah ini sangat indah" kataku menatap takjub.


“Kita akan senang di sini iya, kan’ sayang,” ucapku mengusap perut buncitnku.


"Iya, tapi tidak ada orang yang betah di sini, karena Eyang selalu berteriak dan marah- marah, tidak ada pengasuh yang betah merawat eyang, karena sering mengamuk tanpa sebab, padahal dulu tidak seperti itu, tetapi setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan bersama putri bungsunya, ia berubah seperti itu," ucap si bibi yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Farel.


*

__ADS_1


Benar saja, baru juga aku merebahkan badanku di ranjang, suara teriakan orang tua itu, terdengar jelas sampai ke kamar yang aku tempati, yang kebetulan satu dinding dengan kamarku.


Aku penasaran dan mengetuk pintu eyang.


"Masuk," jawabnya dengan tegas.


"Eyang tidak apa-apa?" tanyaku dengan badan menempel di daun pintu dengan sikap ragu.


"Kamu siapa?" tanya wanita berkerudung abu-abu itu dengan suara tegas.


“Saya Ririn Eyang, istri Farel," ucapku pelan. Ia diam dan menatap jendela kaca dengan tatapan hampa, aku bisa melihat wanita tua itu amat kesepian.


"Untuk apa kamu ke sini? ingin menertawakan keadaanku?"


"Tidak eyang, aku pindah ke kamar sebelah Eyang ingin mencari ketenangan dan kedamaian seperti eyang lakukan"


"Ketenangan apaan! dengan cepat tangannya melempar vas bunga ke keningku, aku tidak sempat menghindar, tepat mengenai pelipisku darah segar mengucur deras dari kening ini.


“Kamu ingin meledekku!” teriaknya marah.


"Aduh sakit Eyang," kataku mendekat, bukanya takut, aku malah mendekatinya aku melihat wanita tua itu, hidupnya lebih memprihatinkan dari aku.


Mendengar suara barang pecah seorang pengasuh datang berlari melihatku berdarah, ia panik.


Aku tertawa lucu, karena belakangan ini sepertinya, aku sering sekali aku menumpahkan darah, lama-lama aku bisa kering kehabisan darah.


"Eyang, orang ke tiga membuatku mendapat luka minggu ini," kataku tertawa.


Setelah lukanya diberi obat dan ditempel perban, kini ada perban luka yang menempel setia di tubuh ini, di kening, lengan dan kaki.


"Siapa suruh kamu datang ke sini?"


"Bayi dalam perutku ngidam ingin menyapa nenek dari ayahnya. apa tidak boleh?" kataku mendekat.


“Non …!”Suster yang merawat eyang tampak tegang,


"Jangan mendekatiku atau kamu akan terluka lagi," ujarnya membuang wajahnya, terlihat jelas wajahnya merasa bersalah saat melihatku terluka, apa lagi saat ia melihat aku sedang hamil.


"Mana ada nenek yang ingin menyakiti cucunya saat datang berkunjung," kataku akhirnya berdiri di sampingnya aku merasa kegirangan saat ia tidak marah.


"Minggirlah, aku ingin berjemur,' ucapnya dengan wajah dingin, persis seperti Farel, saat sedang marah.

__ADS_1


"Aku mendorong Eyang, Iya," kataku membujuk.


Ia tidak menolak saat aku membawanya ke teras dan menikmati udara segar, aku membuka payung besar di bantu suster dan membantu eyang duduk di kursi kayu.


"Tidak usah ikut, nanti kamu kelelahan,"ucapnya perhatian, aku semakin kegirangan, akhirnya aku menemukan seseorang yang peduli padaku di rumah ini.


Saat ia merentangkan kakinya di kursi kayu itu, aku duduk di kursi kecil dan memijat-mijat kakinya.


"Aku urut iya Eyang aku pintar hal urut mengurut," kataku membujuk, dan memberinya pijatan-pijatan kecil. Ia tidak menolak membiarkanku mengurut kakinya.


Tetapi ia terus saja menatap wajahku entah apa yang dipikirkan wanita tua itu tentangku, aku tidak bisa menebaknya.


"Farel akan menikah lagi, kamu tidak apa-apa?" aku mendongak kaget, ternyata wanita tua itu tahu. ‘Pasti ia tahu siapa diriku?’ tanyaku dalam hati membuatku merasa kikuk.


"Tidak apa-apa Eyang, dia menikah dengan wanita yang sepadan," kataku menunduk malu.


"Apa kamu sudah bertanya pada Farel?" ia bertanya lagi.


"Aku rasa tidak perlu Eyang, aku tidak punya hak untuk bertanya tentang hal itu," kataku ingin rasanya aku menghilang saat itu juga, aku tidak tahan melihat tatapan mata wanita itu.


"Kamu berhak, karena kamu istri pertama, dan ia wajib meminta izin padamu"


"Eyang apa kamu merasa sakit punggung aku akan mengurutnya," kataku mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas Farel.


Eyang tahu aku tidak ingin membahas tentang Farel.


"Baiklah, mari kita tidak membahas tentang lelaki itu, bagaimana kalau kita membahas yang lain"


"Terimakasih Eyang," kataku ingin rasanya aku memeluk eyang.


Tidak lama kemudian makan siang untuk eyang datang, aku menemaninya makan siang, dan wanita itu sangat senang saat aku mau makan bersamanya.


Hubungan kami hari itu berjalan dengan baik, seperti yang aku pikirkan wanita itu hanya butuh seseorang memperhatikannya, ia meminta perhatian dengan cara marah-marah dan melempar barang dan merusak barang , ia melakukan semua itu agar anak-anak dan cucunya memberi perhatian padanya, bukan perhatian yang ia dapat, ia malah dikucilkan, dan diasingkan di rumah itu, hal itulah yang membuatnya frustasi.


Saat kedatanganku, wanita tua sangat berubah, ia tidak ada suara marah atau teriakan satu hari itu, saat bersamaku


Bersambung.


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


“ Kasih donk komentar kalian tapi komentar yang membangun iya … Kalau komentar yang julid mending gak usah deh, bikin sakit kepala

__ADS_1


Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya. Beri tanggapan kalian Ririn sebaiknya untuk siapa? Farel atau Virto yang begitu mencintai Ririn


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2