
Kalau pertama saat kami tiba di rumah itu, semua orang akan sibuk di kamar masing-masing, tetapi setelah hampir empat bulan aku di rumah. Kebiasaan itu mulai berubah, saat semua orang pulang kerja akan duduk bersama, mengobrol di ruang tamu bahkan menonton bersama.
“Rin, kenapa sih kamu pelit kasih adik buat Haikal," ucap Lesa membahas itu lagi.
“Ah, jangan membahas itu lagi Mbak, lebih baik kita makan ini, tadi kami sama bibi buat ini masih panas, kue klepon, kita makan sambil nonton bola Liga Inggris,” ucapku karena Farel dan seluruh keluarganya suka menonton bola maka aku jadi ikut-ikutan suka.
“Oh, iya kamu benar. Liga inggris, aku pegang Chelsea kamu apa Rel?” tanya Burak menyambar remote televisi. Acara seperti itulah yang bisa menyatukan mereka kembali.
“Kalau Kakak Chelsea Aku MU”
“Abi juga MU.”Ayah mertua ikut bergabung .
Burak Sama suami Laras, Farel sama ayah mertua, sorak, teriakan gol kehebohan terdengar di rumah besar Farel, bahkan para supir ikut-ikutan heboh ikut menonton bersama dan kami para wanita menyiapkan cemilan.
“Ini baru terjadi di rumah ini Rin, terimakasih, aku tahu, suasana rumah ini akan hidup lagi saat kamu dan Haikal datang ke rumah abi, terimakasih Rin telah memberikan kebahagian berharga yang tidak bisa, kami berikan pada abi selama ini, kami anak-anaknya terlalu sibuk bekerja dan sibuk mengurus diri sendiri hingga melupakan kebahagian abi, terimakasih.
Oh iya Rin, kami memutuskan memberi pengobatan pada Virto. Alhamdulillah dia mau," ujar Lesa
Dek …!
Jantungku berdetak cepat, saat mendengar nama itu lagi, rasa sangat berbeda saat kakak Farel yang mengucapkannya, padahal aku sudah berusaha untuk tidak ikut campur urusan Virto.
“Oh,” ucapku sekedarnya, aku tidak ingin menunjukkan rasa bahagia di hadapan Mbak Lesa
“Farel yang membujuknya,"Ucapnya lagi.
“Apaaa?” kataku hampir menjatuhkan piring berisi kacang.
"Tapi kenapa?” tanyaku panik.
“Farel bilang, dia ingin berdamai dengan masa lalu, seperti yang kamu minta, dia bilang kamu mengajarinya banyak hal, dia bilang Virto juga berjasa saat menyelamatkanmu di hari naas itu”
“Iya”
“Karena itu, kami bekerja sama dengan temanmu Sinta, Alhamdulilah bangat, pendonor jantungnya ada yang cocok untuk Virto.
Hari Senin, operasinya, doakan iya, agar berhasil. Farel yang melakukanya dengan kakak Burak dan Kakak Mona juga. Emang Farel tidak bilang?”
__ADS_1
Aku menggeleng.
“Aduh ...! aku keceplosan dong, jangan bilang kalau aku yang bilang iya, kamu pura-pura tidak tahu aja,”ujar Mbak Lesa.
Entah kenapa aku ingin menangis memeluk Farel, bagiku dialah pahlawan sesungguhnya dalam hidup ini.
'Aku mencintaimu Farel, sangat mencintaimu, ucapku dalam hati.
“Hei, kok melamun sih," ujar Lesa menjentikkan jarinya.
"Iya Mbak aku tidak akan bilang,"ucapku.
Berjalan ke ruang tamu, membawa kacang dalam piring, mendengar hal itu, ingin rasanya aku memeluk suami tampanku saat itu juga, mungkin kalau tidak ada ayah mertuaku aku sudah mengigit bibirnya.
Melihat dia berteriak keras, meneriaki bola itu, membuatku menatapnya dengan penuh sayang, betapa beruntungnya diri ini, mendapat suami seperti Farel. Ganteng muda, dokter pula.
Paling penting, ia bisa menerima anak-anakku dengan baik dan sangat menghargai ayah dan ibuku.
‘Eyang, aku sudah melakukan apa yang kamu katakan padaku, apa ini yang di sebut .
Aku berharap kebersamaan ini, awal dari kebahagian di rumah kami.
‘Hamba ingin melihat tawa bahagia ayah mertuaku selamanya Ya Allah’ ucapku dalam hati.
Kami tertawa terpingkal-pingkal, saat team jagoan mereka kalah. Dapat hukuman bagi yang kalah, hukumannya: Memakai daster dan di dandani ala badut. Saat itu team jagoan Kak Burak di kalahkan MU 3:2. Itu artinya ayah mertua dan Farel menang.
Mereka berdua harus rela didandani ala badut dan berjoget dangdut sesuai permintaan Farel dan anak-anak.
Anak-anak perempuan itu tertawa saat melihat ayah mereka berdandan, ala badut. Ekspresi Haikal yang paling lucu, ia geli melihat penampilan kedua pamannya.
“Rel, ini gantilah masa ... ginian! Norak tau gak,” ujar Burak.
“Ini paling ringan Kak, sudah lakukan saja,” ucap Farel, mengarahkan kamera ponselnya dan melakukan siaran langsung, alhasil ulah Farel mengundang kehebohan di kalangan sesama dokter.
“Rel …! Kamu apa-apaan!”
Teriak Burak merebut kamera di tangan sang adik saat ia sadar kalau Farel merekamnya.
__ADS_1
Karena permainan konyol itu. Pertama kalinya di keluarga Farel, tidur sampai jam satu lewat beruntung besok hari minggu dan mereka semua shift malam. Jadi bisa bangun kesiangan.
“Jarang-jarang kita ngumpul begini, kita tidur di sini di ruang tamu semuanya.
Bibi tolong rentangkan karpet dan kasur lipat di sini,” pinta Lesa. Jadilah tidur semuanya di ruang tamu.
“Abi, kalau merasa punggungnya sakit di kamar saja”
“Tidak ...! Kakek tidur ama Haikal di sini,” ujar Haikal meminta kasur kakeknya di angkat.
Kami semuanya terdiam, menunggu tanggapan ayah mertua, seperti yang di ketahui, ayah mertua tidak bisa tidur dengan orang lain, sejak kepergian istrinya.
“Baiklah,” ucapnya membuat anak-anaknya saling sikut.
“Rin, kamu tidur di sini apa di kamar”
“Di sinilah Mbak, ini mengingatkanku kalau pulang ke kampung nenek dari ayahku. Dulu kami tidur di kampung begini juga .... Tidur bagai ikan asin di jemur,"ucapku memulai cerita.
“Sama Rin, aku kalau pulang ke rumah nenekku juga seperti ini," ujar Mbak Mona, ia juga cerita tentang masa kecilnya.
Maka cerita masa lalu yang lucu-lucu di mulai,
Ayah mertua hanya jadi pendengar yang baik, sesekali ia ikut tersenyum, saat anak-anaknya cerita masa kecil mereka yang penuh kelucuan.
Tangan ayah mertua mengelus-elus ujung kepala Haikal, sampai bocah bocah tampan itu ketiduran dipeluk sang kakek, sementara Farel dan kedua kakaknya masih asik bercerita masa lalu, hingga jam terus berputar, sampai jam satu satu lewat tiga puluh menit.
“Aku mau tidur sudah mengantuk,” ujar Farel menarik selimut mendaratkan satu kecupan kecil punggung tanganku dari balik selimut dan akhirnya rumah itu hening dan tertidur.
Acara malam itu rupanya sangat membekas di hati ayah mertua, sejak hari itu ia sudah mulai perhatian lagi pada anak-anaknya sikapnya mulai hangat dan lembut pada cucunya tidak lagi seperti sosok yang serius dan tegas pada cucunya, tetapi jadi sosok kakek yang hangat.
Kejadian- kejadian lucu dan curhatan para anak-anak gadis itu, jadi agenda untuk topik obrolan hangat di ruang tamu, untuk kami setiap malam.
Semua anak-anaknya pada akhirnya pindah ke rumah ayah mertua, hidup bersama dalam satu atap. Saat semua anak-anak dan menantunya memilih untuk berkarier sebagai dokter maka urusan tanggung jawab dapur, aku yang mengendalikan di rumah itu.
Bersambung ...
Bantu like dan vote iya Kakak....
__ADS_1