
"Kamu gila iya ! Apa kamu ingin memperkosaku ?” tanyaku setelah berhasil lepas dari pangutan bibirnya.
“Iya! Berteriaklah kalau kamu tidak terima” ucapnya lagi.
Farel memang selalu seperti orang gila, kalau lagi cemburu.
Ia menekan kedua lenganku dengan kuat dan dia benar-benar menindih tubuh ini,
“Kamu kenapa suka memaksa! Kenapa tidak mendengarkan pejelasanku”
“Mataku sudah melihat semuanya, apa yang dilihat mata ini, sudah cukup memberiku jawaban,” ucapnya.
Apa yang di katakan Farel saat ini, persis seperti yang aku katakan empat tahun lalu, di mana saat aku melihatnya bersama wanita itu, aku hanya menyimpulkan sendiri.
‘Apa saat itu juga aku salah paham dan membuat kesimpulan sendiri?’ tanyaku dalam hati.
“Tolong hentikan … jangan membuatku terlihat buruk.Baik aku akan jelaskan!"
Bukannya berhenti, ia semakin liar.
Ia tidak menghiraukan segala, ucapanku, bibirnya semakin liar menyusuri bagian tubuh ini, di mulai dari cerukan dileher dan turun di dada, meninggalkan banyak tanda kepemilikan si setiap tempat, seolah-olah ia ingin mengatakan kalau aku miliknya dan ia memberi tanda stempel.
Kreaak …!
Lagi-lagi ia bersikap brutal, rok panjang milikku terlepas dalam satu tarikan kancing depannya lepas dan berserakan.
“Dasar gila!” teriakku panik, tubuh ingin bangun dan kembali berontak, mulutku kembali di bungkam dengan bibirnya, aku terus berontak menolak kemarahan Farel. Walau tubuh ini masih haknya sepenuhnya. Tetapi tidak seharusnya ia melakukan itu dengan cara kasar dan mengambil haknya karena di dorong kemarahan karena dorongan rasa cemburu.
Aku semakin panik, tubuh ini, semakin berontak saat ia membuka kain pengaman persegi tiga berwarna pink itu.
“Ummm … Ummm ….” Suaraku tidak jelas, karena mulut ini, masih di bungkam Farel dengan bibirnya.
Ia memang sangat licik, setelah membuatku kehabisan tenaga dan tidak berdaya, ia baru melepaskan pakaian miliknya, aku hanya bisa melihat dengan mata melotot tajam, tanpa bisa melakukan perlawanan
Dengan sisa tenagaku, aku mencoba ingin duduk kembali, tetapi Singa jantan yang sedang marah itu, lagi-lagi menekan lenganku, kini tubuh kekarnya itu, polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya memperlihatkan dada bidang dan kedua lengannya sangat berotot , lengannya mengeras karena tangannya menahan lenganku dengan kuat, cengkraman kuat dari tangan Farel membuatku lemas dan pasrah. Tenagaku hanya bisa untuk bernapas.
Saat Farel membuka pangkal kakiku, aku menggeleng panik, tanpa perasaan ia benar-benar melakukanya.
“Aaaa sakit Farel!” Aku meremas lengan Farel, karena merasa sangat sakit di bagian intiku.
“Kamu tidak punya perasaan,” ucapku pasrah.
__ADS_1
Membiarkan dia melakukanya, meluapkan kemarahan dan emosinya. Aku tahu, itu bukan hanya sekedar ***** belaka atau tuntutan hubungan suami istri, tetapi apa yang di lakukan Farel itu dorongan kemarahan karena cemburunya, karena ia melihatku bersama Virto.
“Apa kamu mau bilang, kalau kamu sudah mengingat suamimu sekarang,” ucapnya masih dengan tatapan sinisnya.
Aku mengalihkan wajah ke arah lain, membiarkan Farel menghentakkan tubuhnya dan mendorong miliknya membuatku mengigit bibir bawahku menahan rasa perih di bagian bawah sana.
Aku bukan bersikap berlebihan atau aku juga memang bukan seorang perawan ataupun janda muda yang merasa kesakitan saat melakukan hubungan suami istri saat pertama kali. Tetapi aku sudah empat tahun tidak melakukannya dan tiba-tiba Farel melakukannya dengan kasar, membuatku kesakitan.
Saat aku mengalihkan wajahku tidak mau melihatnya, rupanya hal itu memancing kemarahannya. Ia menghentakkannya dengan kuat membuatku menjerit dan membekap mulutku dengan telapak tanganku, karena ia sudah melepaskan tangan ini.
Aku terus menutup mulutku dengan kedua telapak tangan ini, membiarkan Farel menuntaskan apa yang sudah ia mulai.
Aku terus bertahan dengan menutup mulutku, hingga aku mendengar Farel mengerang panjang dan menarik tubuhnya. Dengan napas terengah-engah dan peluh-peluh sebening kristal memenuhi keningnya dan seluruh tubuhnya, lalu ia berbaring terlentang.
Aku membalikkan tubuh membelakanginya.
“Terimakasih sudah mengingatku istriku , jadi kerja kerasku tidak sia-sia,” ucap Farel terdengar seperti sebuah ledekan, lalu ia berjalan santai kearah kamar mandi.
“Aku membencimu! Bagaimana aku mencintaimu dengan tulus jika kamu sendiri tidak menghargaiku," ucapku marah.
“Aku tahu … aku sudah tahu itu dari dulu, tanpa kamu ucapkanpun aku sudah tahu, kalau kamu membenciku, kamu hanya mencintai Virto. Kamu juga harus tahu, aku sedang marah besar sama kamu," ucapnya menutup pintu kamar mandi dengan cara membantingnya.
Aku masih dalam posisi tidur menyamping, apa yang di lakukan Farel benar-benar membuatku sangat lelah, tidak berdaya, kurang tidur beberapa malam , belum lagi bagian bawahku yang masih berdenyut perih, membuatku merasa sangat lemas dalam hitungan menit, sudah terlelap dalam tidur.
Sepertinya Farel baru keluar dari kamar mandi, tercium olehku wangi sabun mandi ber-aroma buah-buahan dan tangannya dingin saat menyentuh leherku.
*
“Hei, bangunlah aku membawamu kesini bukan untuk tidur,” ucap Farel menepuk-nepuk pundakku.
Mata ini terbuka dengan sangat berat, karena aku merasa tiba-tiba dingin merasa meriang.
“Berikan aku pakaianmu!” pintaku saat aku duduk.
Farel duduk di sofa memainkan ponselnya.
“Aku tidak meminjamkan pakaianku pada orang yang tidak mengenalku,” ucapnya dingin.
Aku dan Farel belum berubah, sama-sama keras kepala.
“Terserah,” ucapku memungut pakaianku yang robek.
__ADS_1
“Apa kamu ingin memakai pakaian robek itu?"
“Iya,” ucap memungut beberapa kancing di dekat kakinya.
“Berhentilah keras kepala, apa kamu ingin memamerkan tubuhmu!”
“Iya, itu bukan urusanmu,” ucapku marah.
“Mulai sekarang akan menjadi urusanku, sepertinya otakmu perlu di cuci.” Farel menyeretku ke kamar mandi dan menyalahkan shower kamar mandi menarikku masuk ke bawah semburan air dingin.
“Apa yang kamu lakukan!” teriakku mendorong tubuhnya.
“Aku ingin otak batumu ini, cair,” Ucap Farel menahan tubuhku membuat pakaian Farel basah kuyup juga. Tiba-tiba aku merasa badan ini meriang saat air dingin itu menguyur kepalaku.
“Haciiim … Haciiim … Haciiim” Bersin pertama dan kedua, ia masih acuh, saat bersin ketiga ia mematikan kran airnya dan melihatku menggigil.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Farel panik. dengan cepat ia meraih handuk dan melilitkannya di tubuh ini.
Punggung tangannya ia tempelkan di dahi dan leherku.
“Sial badanmu panas bangat,” ucapnya meletakkan punggung tangannya leherku juga.
Aku menampiknya dengan kasar, berjalan kembali ke ranjang, aku merasa sangat pusing dan perut mual, tidak tidur dan makan tidak teratur membuatku masuk angin. Dengan wajah yang berkeringat dingin, aku duduk di bibir ranjang dengan tubuh hanya di balut handuk.
“Ayo minum ini ,” ujar Farel memberiku air hangat dalam gelas.
“Jangan sok perhatian! Tidak perlu,” ucapku ingin berdiri.
“Jangan kera-”
“Uaaak … ueeek … burrr” Aku menumpahkan semua ke tubuh Farel. Muntahan yang menyembur dari mulutku mengotori pakaian Farel.
Bersambung
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR Viewer NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata