Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Tidak bisakah, kamu melupakannya?


__ADS_3

Saat mobil melaju ingin meninggalkan rumah kosong, sebuah tembakan masih terdengar dan satu peluruh menembus pundak Virto mobil yang ia kendarai tidak stabil.


"Haaa ...! da-darah!" teriakku semakin panik,


Tidak ingin kami mati, Farel dari jok belakang mengulurkan satu tangannya dan memegang kemudi, sementara Virto meringis menahan sakit. Ternyata bukan hanya bagian pundak yang terkena peluru, para bajingan itu juga menusuk tulang rusuk .


Mereka berdua kekurangan orang, para penjahat ada delapan orang dan mereka hanya berdua.


Aku semakin panik melihat cairan merah di kemeja Mas Vito dan di wajah Farel. Melihat darah dan melihat mereka berdua terluka, membuat tubuh ini gemetaran, tangan ini, terus saja memeluk perut besarku.


Takut, pusing, mual, membuatku muntah, menambah kepanikan dalam mobil.


Beruntung mobil bisa berhenti sejenak.


"Mas pindah ke belakang," Pinta Farel, meminta Virto berpindah tempat. Saat ini, Farel yang memegang kemudi, aku duduk di jok belakang meringkuk ketakutan dengan tubuh menggigil.


"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai,"ucap Virto melihatku muntah dan gemetar, dengan tubuh lemah, ia memangku kepala di pangkuannya. Seketika air mataku berlinang, aku sangat merindukan pelukan hangat itu,


Aku tenang, saat tangannya mengusap wajahku, aku mengigit bibir bawahku menahan tangisan, ku eratkan wajah ini ke perutnya, kalau saat itu, tidak ada Farel, aku sudah memeluk mencurahkan semua masalah yang aku pendam selama ini.


'Mas, aku merindukanmu, aku merindukan cintamu dan perhatianmu yang besar itu itu' aku merasakan buliran air menetes.


Mas Virto menangis, aku merasakan tangannya dengan erat menggenggam telapak tanganku diam-diam.


Aku tahu itu salah, tetapi, aku belum menemukan cinta yang bisa menggantikannya, jiwaku damai dan tenang bila bersamanya.


'Maafkan aku, jika aku masih mencintaimu' ucapku dalam hati.


Farel menyetir, membawa kami ke salah satu rumah sakit terdekat.


Aku sudah tidak sadarkan diri saat di pangkuan Mas Virto, tetapi dengan samar-samar aku masih merasakan petugas rumah sakit mengangkat ku ke dalam ranjang.


'Apa aku akan mati sekarang? Tuhan ... jangan dulu, sebelum aku mati, izinkan aku melihat wajah anak-anakku dan melihat … dia untuk terakhir kalinya' ucapku dalam hati dan aku masuk dalam alam mimpi.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Virto saat kami berada dalam taman, wajahku sumringah sangat bahagia.


"Apakah kamu sesenang itu?" tanya Virto menyentuh ujung hidungku seperti kebiasaannya.


"Iya, aku sangat senang apalagi saat melihatmu," ucapku memeluk tubuhnya yang kekar.


"Jangan tinggalkan aku lagi Rin, aku hampir gila gara- gara kamu."


"Baiklah.” Aku tertidur tenang di dadanya.


"Ririn! Ririn ... bangun! buka matamu," suara itu membangunkan ku, ternyata aku hanya bermimpi. Bermimpi bersama Mas Virto.


“Pak Farel?”

__ADS_1


'Kenapa jadi lelaki pemarah ini, sih?’ rutukku dalam hati.


"Iya ini aku, lelaki yang sudah menjadi suamimu,” ucapnya datar, seolah-olah ia tahu aku mimpi, ia memegang erat tanganku, matanya tampak sembab. Tangannya tidak henti-henti mengelus perut ini.


"Siapa mereka? kenapa mereka menculik ku? Lalu kenapa kamu bisa datang bersama dengan Mas Virto?”


"Aku tidak tahu siapa mereka. Virto melihatmu dibawa para penjahat itu, dia yang meneleponku, kita akan pergi dari sini, aku takut para penculik itu mencari mu lagi"


Farel dan seorang perawat, membantuku untuk duduk di kursi roda.


'Bagaimana dengan Mas Virto, apa dia selamat? aku terus bertanya dalam hati.


Tetapi takut bertanya pada Farel, aku takut ia salah paham. Mataku mencari ke sekeliling sudut rumah sakit, berharap aku melihat Mas Virto.


Namun, aku tidak melihatnya, hatiku sedih, sedih rasanya, karena tidak tahu kabar darinya.


"Jangan khawatir dia selamat," ucap Farel seolah-olah, ia tahu kalau aku mengkhawatirkan Mas Virto.


'Syukurlah' ucapku dalam hati.


Tetapi aku tidak ingin menunjukkan rasa senang itu di hadapan Farel. Mobil terus melaju hingga tiba di sebuah hotel.


"Kenapa kita ke sini, kenapa tidak ke rumah?"


"Aku takut mereka menunggu kita di sana, istirahatlah, aku akan menjagamu"


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku menatapnya.


Tangannya berhenti. Lalu ia menatapku dengan tatapan dingin, dia akan melakukan itu padaku kalau ia sedang marah.


"Aku baik, terimakasih sudah bertanya, aku pikir kamu tidak akan bertanya, aku berpikir kamu hanya mengkhawatirkan Virto," ujarnya dengan wajah datar.


‘Lagi-lagi aku salah di matamu’ aku membatin.


"Apa Bapak sudah tahu siapa mereka?"


"Tidak, aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku akan mencari tahu, tenang saja, istirahatlah. Jangan takut, aku di sini menjagamu, walau aku tidak sehebat Virto yang gagah pegang senjata, tapi aku suami yang bertanggung jawab untuk menjagamu dan anakku,” ujarnya dengan wajah dingin, sedingin balok es. Farel masih saja cemburu pada kakak iparnya, aku bingung bersikap padanya.


Kepalaku langsung sakit, setiap kali ia membawa-bawa nama Virto di setiap obrolan dan membanding-bandingkan dengannya.


Aku tidak ingin bertengkar dan tidak ingin berdebat, diam adalah hal yang paling tepat, hanya itu yang bisa aku lakukan.


Aku merasakan perutku sangat sangat sakit. Melihatnya masih marah, jadi aku menahannya, aku tidak ingin bersikap manja pada Farel walau ia sudah suamiku.


Kalau aku bisa menahannya aku akan menahan. Tetapi, rasa sakitnya tidak tertahan lagi.


Meremas sisi ranjang, meringis menahan sakit. Ternyata Farel memperhatikanku.

__ADS_1


"Apa kamu merasa sakit lagi?'


Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil.


"Kenapa tidak ngomong Rin, kamu sampai berkeringat be-"


"Auh sakit ...!" Meremas lengan Farel.


"Aku tidak tahan lagi, aduh perutku sangat sakit." Aku merintih kesakitan tangan memeluk perut.


"Bertahanlah aku akan memeriksa" Ia membuka koper yang berisi peralatan kedokteran miliknya.


*


Aku merasa tenang setelah ia menyuntik dengan obat yang di dikhususkan untuk orang hamil.


Setelah melihatku tenang dan infus sudah terpasang, ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, wajahnya tampak sangat lelah lingkaran hitam terlihat jelas di area matanya. Setelah kembali tenang lalu ia menatapku dengan tatap dalam.


"Ririn ... tidak bisakah, kamu menerimaku sebagai suami, tidak bisakah kamu memberikan aku sedikit cinta?” Matanya tampak berkaca-kaca, aku tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku takut salah bicara padamu Pak Farel, aku takut kata-kata yang keluar dari mulut ini, membuatmu marah, maka itu aku selalu menyimpan semuanya dalam hati"


"Tidak bisakah kamu melupakan lelaki itu?" Tanya Farel dengan tatapan sendu.


"Bagaimana aku melupakannya, jika kamu sendiri selalu membawa-bawa setiap kali kamu bicara denganku,


kamu tidak mengajariku bagaimana untuk melupakannya, tetapi yang kamu lakukan hanya membanding-bandingkan.


Aku ini wanita yang kehilangan arah jalan pulang, Pak Farel, harusnya Bapak menuntunku untuk kembali ke jalan yang benar


bukan meninggalkanku untuk mencari jalan sendiri. Hal itu akan sulit untukku,”


Farel diam, ia mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, lalu ia


berdiri menatap jauh dari jendela kaca hotel.


Ada banyak beban yang ia pikul dalam pundaknya. Di satu sisi, ia ingin membalaskan dendam kakaknya untukku, tetapi di sisi lain ia tidak ingin anaknya yang ada rahimku terluka. Farel di lema, antara kakaknya dan anak yang ada dalam rahimku, aku tahu Farel saat ini , berada di posisi sulit


Farel izin keluar, mencari udara segar, ia pergi entah kemana. Meninggalkan aku sendiri yang sibuk menata hati dan pikiran, aku masih berbaring lemah.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


“ Kasih donk komentar kalian tapi komentar yang membangun iya … Kalau komentar yang julid mending gak usah deh, bikin sakit kepala


Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya. Beri tanggapan kalian Ririn sebaiknya untuk siapa? Farel atau Virto yang begitu mencintai Ririn

__ADS_1


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2