
PART 39
Kenapa Memaksa Menikah
"Kenapa?"
"Karena kamu ipar dari Mas Virto dan adik dari Marisa, aku tidak ingin kembali ke masa lalu, aku akan membesarkan dia sendiri, biarkan aku menata lembaran baru dalam hidupku"
"Tapi aku ayahnya!
Aku lelah membujuk mu!
"Aku tahu, tetapi aku tidak mau menikah dengan Pak Farel. Karena aku tidak mau memiliki hubungan apapun dengan keluargamu"
“Nanti, aku akan mengurus semuanya yang penting kita menikah dulu”
“Lalu …?”
Aku menatap wajahnya dengan sinis.
“Begini Ririn, aku hanya ingin menikahi mu dulu, setelah kamu jadi milikku baru kita pikirkan hal yang lain”
Otak, hati, badanku rasanya sangat lelah bersamaan, saat Farel memaksa untuk menikah, aku memijit-mijit keningku dengan lemah.
“Tolong jangan memaksa Pak Farel, aku sungguh lelah menjalani kehidupanku,” Ujar ku dengan suara lemah, satu tangan ini memijit keningku yang terasa sangat pusing.
“Aku hanya ingin membantu,” ujar Farel ia duduk di sofa di sampingku.
“Kamu tidak membantu, tapi Bapak itu meneror ku dan memaksaku.
Kalau kamu terus memaksaku seperti itu , aku lebih baik melompat ke laut sana”
“Kenapa sih susah bangat hanya di suruh menikah, kalau kita tidak cocok ,kan, tinggal pisah ribet amat,” ujar Farel dengan wajah ketus.
“Katakan padaku dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa sebenarnya alasan Bapak memaksaku menikah. Apa karena aku hamil anak ini?”
“Ada banyak alasan Ririn”
“Sebutkan alasannya apa?
“Salah satunya karena kamu hamil anak darah daging ku”
“Lalu …?”
Farel tampak gelisah sebelum menjawab pertanyaan ku.
“Agar rumah tangga kakakku tidak terganggu lagi”
__ADS_1
Mendengar alasan itu ada bagian di hati ini yang terasa sangat sakit. Aku yakin tidak ada di dunia yang tulus mencintaiku selain Mas Virto, sayangnya, cintanya padaku, datang pada waktu yang salah dan jalan yang salah juga.
‘Apa yang kamu harapkan Ririn, sadarlah ...!lelaki tampan itu tidak akan pernah mencintaimu, buka matamu’ ucapku pada diri sendiri.
“Jadi alasan yang kuat ada dua iya Pak. pertama; Aku tidak ingin jadi perusak rumah tangga kakak bapak kan?
Poin kedua; Karena aku hamil.
Baik, begini pak Farel … Aku sudah menjauh dari keluarga kakakmu, kamu yang mengusikku.
Lalu untuk kehamilanku, aku sudah pernah bilang sama bapak, aku tidak ingin bapak bertanggung jawab, aku akan membesarkan ia sendiri.
Jangan Khawatir kamu bisa kok melihatnya nanti, kalau ia sudah besar. Jadi … bapak tidak perlu menikah denganku, kalau begitu, mulai sekarang Jangan memaksaku untuk menikah denganmu lagi, dan tolong jangan mengganggu hidupku lagi.
Aku menolak menikah denganmu, Titik!”
“Jangan khawatir, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau”
‘Dasar lelaki egois’ ucapku membatin
“Besok aku akan kembali bekerja, jadi aku akan pulang.” Aku berdiri ingin pulang ke hotel.
Farel berdiri mengedipkan matanya dengan bibirnya tersenyum nakal.
“Ini sudah malam sayang, kamu mau kemana malam-malam begini, tinggallah di sini bersamaku,” ujar Farel memeluk pinggangku dari belakang.
“Ha … ha ..ha, kamu itu menggemaskan kalau sedang marah, apa kamu tidak tahu, melakukannya saat hamil sangat menyenangkan?”
“Aku tidak tahu!
Dan tidak mau tau, sudah awas,” ujarku melepaskan tangannya’
Farel bukanya melepaskan ia malah mendudukkan ku di pangkuannya, mengkekap tubuhku, satu tangannya menyisihkan rambutku yang panjang ke depan.
“Rambutmu sangat indah dan harum, tapi akun lebih suka dengan wangi tubuhmu,”ujar Farel.
Mendaratkan bibirnya di belakang leherku.
‘Oh, my God, aku ini bukan robot, aku bisa terangsang juga, jika diperlakukan seperti itu’ ucapku dalam hati, tubuhku menegak kebelakang karena kelakuan Farel.
“Pak Dokter, apa yang kamu lakukan, aku tidak akan merasakan apa-apa walau kamu melakukan hal-hal seperti itu, aku ini bukan remaja yang sedang kasmaran, yang gampang terbuai saat disentuh, aku ini janda beranak dua. Jadi berhentilah melakukan itu,” pintaku kesal.
“Jangan memanggilku seperti itu, panggil saja aku Farel,
kamu memancingku, ha ..!” Farel meletakkan dagunya di pundak ku, aku bisa merasakan hembusan napas hangat dari hidungnya.
‘Sialan ini orang, uda udaranya sangat dingin juga, bagaimana aku bisa bertahan kalau seperti ini’ ucapku dalam hati.
__ADS_1
Tubuhku sudah mulai terbuai saat Farel mengigit belakang kuping ini, salah satu titik hasrat dari seorang wanita, Farel memang sengaja ingin memancingku.
Tetapi aku akan menolaknya.
“Pak Farel berhenti! Perutku sakit,” ucapku pura-pura. Ia langsung berhenti dan melepaskan ku.
“Sakit dimana?” Ia ikut berdiri saat aku berdiri, tangannya menyentuh gundukan di perutku.
‘”Baiklah, aku akan tidur di sini malam ini, besok pagi aku akan pulang untuk bekerja.
Dikamar mana aku aku tidur?”
Aku memundurkan tubuh ini darinya memberi jarak dari Farel.
Ia tahu, sikapku yang menghindarinya. Farel menghembuskan napas dengan kasar dari mulutnya. Ia tampak putus asa karena tidak berhasil merayuku dengan segala pesona yang ia miliki.
“Sayangnya, hanya ada satu kamar, kita akan tidur satu kamar”
‘Gila aja, rumah besar ini kamar hanya satu, bilang saja itu hanya modus’ aku membatin.
“Baiklah, aku akan tidur di sofa ini, aku sangat lelah dan kepalaku sangat pusing sejak tadi sore . Tolong biarkan aku tidur.” Merebahkan tubuhku di sofa panjang, Farel hanya diam melihatku.
“Di sini dingin Ririn’
“Dingin dingin tidak apa-apalah, yang penting ada selimut, bisa tolong berikan aku selimutmu?”
“Baiklah, kamu di kamar, biar aku di sini kalau kamu tidak mau berdua denganku”
“Tidak usah Pak Farel, jangan khawatir aku ini wanita yang kuat, mau panas, dingin saat tidur, sudah biasa aku alami”
“Kamu kenapa selalu menolak ku? Tidak bisakah kamu menerima apa yang aku ingin berikan padamu?”
“Tidak bisa Pak Dokter, sudahlah, kalau ingin marah, ingin protes besok saja, aku benar-benar sangat lelah,” ujarku menutup mata ini dan tidur meringkuk.
Farel masih berdiri menatapku.
“Ah, baru kali ini dalam hidupku, aku bertemu wanita keras kepala seperti kamu,” ujar Farel menggendong tubuhku.
“Eh,eh apa lagi sih yang ingin kamu lakukan?”
“Diamlah Ririn, kasihan dia, kalau kamu tidur di sofa dia akan kedinginan, baiklah kamu tidur di kamar aku akan di sofa.” Farel meletakkan tubuh ini diatas ranjang.
Malas untuk berdebat lagi, tubuh dan pikiranku sudah lelah dipaksa untuk berpikir keras sejak ia datang kembali menemui ku. Aku butuh istirahat, aku menarik selimut dan tidur.
Bodo amat dengan lelaki ini. Aku tidak perduli walau Farel tidur di tengah laut sekalipun.
Bersambung ….
__ADS_1
Bantu like dan komen di setiap bab ya kakak,biar makin semangat menulisnya dan makin banyak yang baca,mudah mudahan kakak suka dengan karya saya ,terima kasih.