
Hari itu Haikal sudah seperti bintang besar, karena keluarga ayahnya, tidak sabar lagi ingin melihat sosok Haikal
Sebelumnya aku sudah meminta Sinta untuk menemui Haikal di panti, awalnya Sinta menolak mempertemukan Haikal dengan keluarga Farel, memintaku menyelidiki Farel dan keluarganya sebelum memperkenalkan Haikal. Tetapi setelah aku menceritakan semuanya termasuk kondisi Farel akhirnya ia setuju.
Saat kami duduk menunggu di ruangan Farel, dr Sinta mengirim pesan masuk.
[Sudah, Rin]
[Ok, makasih Sinta] balasku mengirimnya emoji love-love yang banyak, mengungkapkan rasa terimakasiku pada wanita baik itu.
[Ok sayangku, semoga suami lekas sembuh] balasnya lagi.
“Sudah … kita bisa menelepon,” ucapku menekan nomor.
“Tunggu Rin. Bagaimana penampilanku?” tanya Farel menatapku dengan wajah gugup, berbicara dengan putranya untuk pertama kali membuat Farel gugup, seolah-olah ia mau bertemu pejabat penting.
“Gini, saat kita meneleponnya tolong jangan menangis di depan Haikal, ia akan bingung nanti, biarkan aku bicara yang pertama padanya”
“Baiklah”
Kriiing!
Wajah mereka tampak menegang saat wajah si tampan itu, muncul di layar monitor.
“Assalamualaikum Ibu”
“Wallaikum salam sayang”
‘”Ibu … kapan pulang! Ibu tahu guru ngaji Haikal sakit, terus buku Haikal di sobek Tina.” Ia mulai mengeluarkan juru ngoceh tanpa rem itu.
“Oh bukunya nanti Ibu beli lagi, iya”
“Iya Ibu. Tapi ibu kapan pulang aku sudah melakukan semua yang ibu bilang, Haikal rajin ngaji, berbagi makanan sama teman seperti yang ibu bilang, lalu ibu kapan pulang lagi?’ tanya dengan wajah sedih.
“Sayang! Haikal! Dengar ibu …” Matanya menatap kelayar ponsel itu.
“Iya Bu”
“Ibu ingin memperkenalkan mu dengan orang penting dalam hidup kita.” Wajahnya tampak bingung”Ibu ingin, Haikal menyapa mereka “
“Iya Ibu”
“Haikal ... apa kamu mengenalnya?” kataku mengarahkan kameranya ke arah Farel.
Matanya terlihat mengerjap-erjap mencoba mengingat.
“Sayang, apa kamu tidak mengenalnya? coba buka kalung yang kamu pakai”
Ia membukanya dan menatap foto dalam kalung yang dipakai.
Seketika mata berwarna coklat indah itu melotot
“Ayah …!? AYAH!" Bola matanya membesar kaget.
Seketika mereka Farel dan semua saudaranya menatapku dengan bingung.
“Hai ja-jagoanku!” ucap Farel dengan suara bergetar menahan tangisan, ia berusaha keras menahan diri, agar tidak menangis di depan putranya, aku bisa melihat waha
“Ayah! Kapan kita bertemu , kapan ayah pulang ke Indonesia, kata ibu kalau aku rajin mengaji dan hapal doa, Ibu akan mengajakku bertemu ayah,"Ucapnya menangis.
“Kita akan bertemu sayang, kita akan bertemu. Jangan menangis, Kata Ibu kamu lelaki yang kuat .... Lalu dari mana kamu mengenal ayah, kita, kan, belum bertemu?”
“Ini ada foto ayah sama ibu.” Haikal menunjukkan foto di dalam gantungan kalung yang di berikan eyang untuknya. “Kalau aku kangen ayah dan ibu aku akan berdoa dan melihat foto ini”
Farel mengalihkan kamera dari hadapannya dan ia menutup wajah dengan bantal dan ia juga menangis.
“Maafkan aku anakku, maafkan ayah,” ucap Farel pelan.
“Jangan menangis, semua akan baik-baik saja,” bisikku menggenggam telapak tangannya, meminta melihat putranya
“Sayang, apa kamu ingat kakek dari ayah yang ibu ceritakan, ibu ingin kamu menyapanya”
“Kakek Polisi!?”
“Iya kakekmu seorang mantan polisi”
“Assamualaikum kakek!”
“Walaikum salam , Ha-ha-halo cucuku,” ucapnya terbata-bata ternyata ayah mertua tidak bisa menahan diri sama seperti Farel, ia juga menangis sesenggukan.
“Apa kakek seorang polisi, pegang pistol?” tanya Haikal dengan polosnya pada sang kakek.
“Iya benar, iya itu benar,” jawab sang kakek dengan gugup.
“Wah kakek hebat! Ibu benal kakekku polisi, aunte! Aunte!” Haikal melompat kegirangan memangil pengasuhnya” Aute benal, kakekku polisi,” ucapnya kegirangan bahkan tidak menghiraukan kamera lagi.
“Haikal, jangan melompat-lompat lagi Nak, duduklah dengan tenang soalnya ada ayah,kakek, bibi, paman di sini. Mereka ingin mengobrol dengan Haikal,” ucapku memintanya untuk duduk tenang.
Haikal anak yang sangat baik dan penurut.
“Baiklah Ibu,” ucapnya duduk dengan baik.
“Sayang dengar ayah lagi sakit, aku ingin kamu berdoa untuk ayah”
“Apa palah apa ayah akan meninggalkan kita?” wajah itu benar-benar sangat sedih.
“Tidak sayang jangan sedih, apa kamu ingat Aa Damar yang jatuh dari motor, kakinya di pakai besi agar Aa bisa jalan, kan? Ayah Haikal juga seperti, ayah jatuh dari mobil lalu pundak ayah terluka”
“Apa kesakitan?”
“Setelah melihat wajah tampan Haikal tidak begitu terasa sakit.” Farel tersenyum.
“Tidak parah sayang, lihat bibi dan Paman, kami sama seperti Ayah Haikal seorang dokter, kita akan menyembuhkan ayah, agar kita datang untuk menjemput Haikal."
__ADS_1
"Benarkah ...! Bibi janji?" Ia mengarahkan jari kelingking pada dr.Lesa.
“Tentu sayang, tentunya Haikal bawa ayah dan kakek dalam doa, iya"
“Baiklah Bibi, Ikal, akan melakukanya untuk ayah dan kakek. Tapi, apa setelah ayah sembuh Haikal bisa beltemu?” tanya lagi, bibir cadelnya membuat yang mendengar kalimatnya ingin tertawa.
“Tentu sayang, setelah ayah sembuh kita akan berkumpul,"kataku.
“Janji?”
“Ibu janji sayang, ibu tidak akan ingkar janji lagi” Mengarahkan jari kelingking sebagai simbol janji.
“Ayah, kakek, bibi sampai jumpa nanti”
“Sudah iya, Ikal mau main,” ucapnya mulai bosan.
Saat ayahnya dan kakeknya masih ingin Haikal bicara, layaknya anak kecil ia mulai merasa bosan.
“Apa kamu tidak kangen ayah, bicaralah sebentar lagi,”bujuk Farel.
“Nanti kita berltemu lagi Yah, ayah cepat sembuh iya. Yah, Kakek , Bibi, Paman Assamulaikum”
“Walaikum salam”
Ia pergi keluar meninggalkan kamera ponsel yang masih terhubung, terlihat juga Sinta dan pengasuh membujuknya untuk duduk kembali, tetapi bocah tampan itu membuat alasan yang membuat Farel dan keluarganya tertawa gemas.
Panggilan di berakhir karena sang bintang utama, tidak mau tampil lagi.
“Rin, aku kaget saat dia mengenali Farel” Dr.Lesa menatapku.
“Aku tidak pernah mengambil atau menjauhkannya dari dari keluarga Mbak, aku mengikuti apa yang di sarankan eyang, aku bilang Farel sedang bekerja di luar negeri, sama seperti Ibunya. Dia anak yang kuat, patuh, baik,” kataku Farel masih diam matanya masih merah .
“Rel, kamu harus sehat, apa kamu tidak ingin memeluk putra tampanmu secara langsung?"
"Iya Kak," ucapnya dengan kemah.
Setelah mengobrol dengan Haikal kemarahan dalam hati Farel berkurang, ia tidak lagi marah pada saudara-saudaranya, akhirnya, mau menerima apa yang dikatakan dr. Lesa.
“Farel kamu harus sehat dan kuat, agar kita dan Abi, bisa bertemu Haikal," ucap dr. Burak memeluk sang adik.
“Baiklah, aku siap lakukan apa saja yang penting aku sembuh,” ucap Farel.
“Baiklah Rel, terimakasih telah mau menerima pengobatan kali ini," ucap dr.Lesa.mendaratkan satu kecupan di kepala Farel.
“Ini demi putraku,” ucap Farel dengan yakin.
Akhirnya Farel mau di operasi tanpa ada bantahan , ia menyerahkan semuanya pada sang kakak, orang yang bertanggung jawab untuk operasi Farel. Ia mau melakukan operasi demi bisa bertemu langsung dengan putranya.
Maka persiapan operasi sudah siap, malam Farel akan melakukan operasi Setelah Farel setuju akan dioperasi, semua dokter sibuk mempersiapkan operasi Farel, bahkan seorang dokter ahli bedah didatangkan dari Jerman.
Rumah sakit besar itu , tempat Farel akan dioperasi.
Saat semua saudara sibuk mempersiapkan segalanya, aku juga sibuk menenangkan Farel di atas ranjang rumah sakit itu, ia terus saja meneror ku tiap menit tentang putranya, karena aku berjanji padanya akan menelepon Haikal sebelum ia dioperasi, ternyata hal itu juga yang membuatnya semangat dan berubah seperti bayi besar yang penurut.
Tetapi ia menggeleng, matanya terus menatapku kemana aku melangkah.
“Ada apa?” tanyaku menatapnya dengan bingung.
“Lalu kapan aku menelepon putraku, aku sudah jadi anak yang baik sejak dari tadi,” ucap Farel menatapku dengan tatapan memburu.
“Baiklah kita akan meneleponnya nanti, habiskan minumannya dulu,”Tanpa membantah dia menghabiskan satu gelas dan menghabiskan bubur tanpa rasa, satu bangkok tanpa ada penolakan.
Lalu mata itu, menatapku dengan tatapan sendu solah-seolah ia ingin mengatakan ‘sudah aku habiskan mana janjimu?’
“Farel, begini bersabarlah, aku sedang meminta orang membawanya ke tempat yang ada sinyalnya, agar kamu bisa melihat dan bicara dengannya dengan jelas tanpa terputus-putus. Bisakah kamu bersabar sebentar lagi?”
“Kamu tidak sedang ingin berbohong kan Rin, kamu tidak ingin mempermainkan ku?”
“Tidak, percayalah lihat layar di depan ranjangmu, aku sudah meminta Josua tadi memasangnya, agar kamu dan kakakmu bisa melihat wajah tampan anakmu,” ucapku duduk di samping ranjang Farel.
“Lalu berapa jam lagi aku akan menunggu?”
“Jika mereka telah mengabari dari sana, kita akan sambungkan”
“Baiklah, apa wajahku pucat?” Ia mengusap wajahnya, ia seperti ingin bertemu dengan pacar baru.
“Hanya sedikit kurang sinar matahari,” ucapku membuatnya menghela napas.
“Memangnya aku pakaian basah apa harus butuh matahari,” ucapnya dengan wajah datar.
“Pak Dokter tidak hanya pakaian basah yang butuh matahari tumbuhan dan manusia aku pikir membutuhkan sinar matahari. Pak dokter lebih tahu lah hal itu,” ucapku duduk di samping Farel.
“Rin, coba tanya lagi, apakah di sana sinyal sudah ada,” pintanya lagi bolak balik melirik jam.
“Bersabarlah Pak Dokter,” ucapku menatap dengan senyuman .
Tetapi sepertinya kata-kataku tidak begitu berpengaruh untuk Farel, ia terlihat sangat gelisah .
“Rin tolonglah aku tidak akan bisa menunggu lagi, ini berat untukku aku tidak bisa mengendalikan detak jantung ini,” ucap Farel memegang dadanya.
*
Satu jam menunggu sudah seperti menunggu satu bulan untuk Farel, ia bolak balik melirik jam di tangannya.
Saat kami menunggu dr. Burak datang .
“Apa benar kamu akan melakukan panggilan pada putramu?” tanya dr. Mona kakak ipar Farel.
“Iya Mbak, kami lagi munggu sinyal mereka, dulu,” ucapku.
“Benarkah …? A-abi. Harus kah, aku memberitahu tentang putramu Rel? Soalnya abi dari kemarin menelepon, boleh gak Rel? Abi pasti sangat senang mendengar kamu mau di operasi pasti dia sangat senang, apalagi abi tahu putramu dan Ririn ada. Abi pasti lebih bahagia lagi”
Lesa dengan tatapan haru menatap sang adik, ia meminta izin Farel untuk memberitahukan ayah mereka dengan cucunya.
__ADS_1
“Nanti saja kakak, biar aku yang melihat putraku yang pertama,” ujar Farel ia menolak permintaan dr. Lesa.
“Tidak apa-apa ayah mertua mungkin lebih semangat lagi,” ucapku ikut membujuk.
“Kamu tidak apa-apa emang?” tanya Farel menatapku.
“Tidak apa-apa dia cucunya. mereka bibi Haikal.” Aku memegang tangan Farel.
“Baiklah telepon abi”
Dengan wajah bercampur haru dr. Lesa menelepon ayah mereka di ruangan Farel.
“A-abi aku sangat bahagia …”
“Lesa, ada apa Nak?” tanya ayah mertua di layar monitor itu.
“Abi … Farel mau di operasi”
“Alhamduillah Nak, Abi senang lakukan yang terbaik buat adik kalian”
“Abi ada yang membujuk dia ke rumah sakit. Ririn, dia ada di sini Bi”
Lesa menarikku ke arah kamera.
“Assalamualaikum Ayah”ucapku dengan sangat gugup
“Waalaikumsalam Nak”
Aku menunduk dengan lutut bergetar, tiba-tiba Farel menggenggam telapak tanganku, sepertinya ia tahu kalau aku sangat gugup.
“Terimakasih Nak, sudah kembali dan kamu berhasil membujuk Farel ke dokter,” ucap ayah Farel ayah mertuaku, ia terlihat duduk di kursi roda .
“Ayah aku meminta-”
“Sttt jangan bahas masa lalu mari kita lihat ke depan saja Nak,” potong ayah mertuaku.
“Apa yang terjadi pada ayah, kenapa duduk di kursi roda” tanyaku penasaran.
“Nanti kita akan bicarakan,” ucap Farel menggenggam tanganku lebih erat, seolah-olah ia ingin mengatakan, ia mengalami hal buruk selama empat tahun dan aku tidak mengetahuinya karena aku pergi.
“Baiklah,” ucapku mengangguk pada Farel. Dan mata kami kembali menatap kamera.
“A-a-abi tapi ada yang lebih penting dari itu semua,” ujar dr Lesa wajahnya tampak tegang, ia melihat kami bergantian, ia seperti ingin memberi ayah sebuah kejutan besar terlihat dari sikapnya yang sangat tegang.
“Ada apa Lesa?” Wajah ayah mertua ikut menegang bercampur gelisah.
“Abi …! cucumu anak Farel sangat tampan,” ucap Lesa memegang dadanya dan beberapa kali menahan napas.
“APAAA! MANA CUCUKU MANA?”
Wajahnya tampak sangat terkejut, orang tua yang sudah duduk di kursi roda itu memegang dadanya.
“Abi! Coba lihat pesan di ponsel abi, aku sudah mengirim foto cucu laki-lakimu abi, abi sudah punya cucu laki-laki seperti yang kamu inginkan Bi,” ujar dr. Lesa dengan suara terjedah-Jedah kerena menahan perasaan
Dalam layar yang di sambungkan ke panggilan viedeo call ayah mertua tampak buru-buru memakai kaca mata miliknya agar ia bisa melihat dengan jelas foto Haikal di layar ponselnya, seketika ia memegang dadanya saat melihat foto.
“Masya Allah Ibu, cicitmu sangat tampan, masya Allah,” akhirnya tangisnya pecah juga.
Sama halnya dengan Farel kedua lelaki yang terlihat tangguh seperti batu itu akhirnya menangis pilu, sekuat apapun lelaki tangguh yang aku lihat itu, ternyata mereka memiliki titik lemah sendiri.
“Oh, cucuku … Masya Allah … cucuku pertemukan aku dengan dia tolong …” ucapnya memegang matanya masih menangis sesenggukan.
Aku berpikir hanya ayah mertuaku yang menangis saat itu, saat aku melihat kanan kiri, ternyata Farel tampak sesenggukan dalam tangisan tanpa suara. Melihat ayah mereka menangis untuk pertama kalinya, membuat ketiga bersaudara itu menangis. Ternyata Haikal Adnan Taslanku, malaikatku kecilku, bisa membuat mereka semua menangis.
“Abi, tolong jangan menangis,” bujuk Lesa mencoba memenangkan.
“Lesa sayang … abi mau datang ke sana. Tolong,” ucapnya memohon.
“Abi jangan sekarang, abi belum pulih”
“Sayang anakku … abi akan dengan tenang setelah melihat cucuku, aku akan Ceritakan di surga nanti pada ibuku, kalau cicit yang ia perjuangkan dan ia selamatkan sampai akhir hayatnya sangat tampan … Abi akan katakan pada ibumu, nenekmu dan adikmu kalau impian abi kenyataan, abi punya cucu lelaki, abi akan katakan pada ibu, cucunya mirip bangat dengan Farel”
Mendengar itu semua mereka semua semakin teriksak-isak.
“Abi jangan katakan seperti itu, abi akan bertemu dengan cucumu asalkan abi sehat,” ucap dr Lesa membujuk ayah mereka.
“Tidak sayang! tidak, Abi tidak akan bisa menunggu. Burak, tolong yakinkan adikmu kalau abi akan baik-baik saja” ucapnya pada putra pertamanya dr. Burak.
“Baiklah abi, baiklah, abi akan ke Bali, tetapi dengar dulu … biarkan kami selesai menangani Farel dulu, baru aku akan menjemput abi, lalu kita akan bertemu cucumu. Iya Rin”
“I-iya ayah, untuk saat ini. Bagaimana kalau ayah sapa dia lewat video call,” ucapku.
“Sekarang? Bolehkah, benarkah?”
“Boleh Abi, minta Sara untuk menyambungkan panggilan ponselnya ke laptop agar Abi, bisa melihat cucu dengan jelas,” ucap dr. Lesa.
“Baiklah Nak, sambungkan sekarang Abi akan melihatnya”
dari putranya.
Bersambung ….
“
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata