
“Pergi dari sini. Marisa wanita yang nekat, ia tidak akan segan-segan membunuhmu, Kenapa kamu harus datang kerumah mereka Ririn .. ini bukan tempatmu. Pulanglah.” Ia memegang tanganku, ingin membawaku untuk naik ke motornya, ingin menjauhkan ku
dari keluarga istrinya.
Tetapi saat aku ingin pergi, tiba-tiba tangan yang lain menarik ku, Farel menarik tangan kiri ku dan Mas Virto menarik tangan kanan.
‘Oh, iya ampun …! Drama apa lagi ini?’ teriakku dalam hati, saat melihat kedua lelaki tampan itu sama-sama menarik ku yang satu di tangan kiri dan satu lagi di tangan kanan.
Farel datang entah dari mana, saat Mas Virto ingin membawa ku menjauh ia menarik tanganku, tarik-tarikan pun tak terhindarkan di depan mini market.
"Kamu mau bawa dia kemana? bukankah kamu tadi mengusirnya, kamu hanya lelaki banci yang tidak bisa melindungi wanita yang sedang mengandung anakmu," ujar Virto.
"Itu bukan urusanmu, dia istriku,"balas Farel tidak mau melepaskan tanganku.
"Kamu sudah tahu kalau kakakmu ingin membunuhnya, tetapi, kenapa kamu mau dia kerumah ini.
Tadi aku melihat kakakmu meminta pembantu memasukkan sesuatu ke dalam makanan Ririn. Apa kamu masih ingin membalas dendam padanya?
Lelaki apa yang membalaskan dendamnya pada seorang wanita" Virto marah.
“Lepaskan dia, aku janji tidak akan mendekati Ririn lagi, Dia tidak salah apa-apa Farel, aku yang salah, selama ini, aku yang tidak mau melepaskannya. Biarkan dia pergi, sebelum kakakmu menyakitinya,” ujar Virto dengan mata berkaca-kaca
"Urus saja rumah tanggamu, kamu hanya lelaki hina, tukang selingkuh. Semua ini tidak akan terjadi kalau dulu kamu tidak melakukanya,” ujar Farel dengan suara meninggi.
"Aku tidak akan berpaling, kalau saja kakakmu tidak selalu merendahkan ku di rumah, dia selalu menyebutku menantu yang dibeli, dia selalu bilang hanya lelaki miskin dan aku bisa jadi polisi karena ayah kalian.
Tidak akan ada asap kalau tidak ada api Farel …. Kakak wanita yang sangat sombong.
Aku rela mengantikan sepuluh wanita seperti kakakmu yang jahat itu, untuk mendapatkan Ririn, kamu dan kakakmu sama jahatnya, ingin menghukum perempuan yang tidak berdaya, kalau kalian ingin memberi hukuman ... itu pantas untukku, selama ini aku yang mengejar-ngejar Ririn," ujar Virto ikut-ikutan terbawa emosi.
Paaak ...!
__ADS_1
Farel, memberi bogem mentah pada Virto, wajah lelaki itu, lebam dan bibir pecah, tetapi ia tidak membalasnya.
"Ayo, lakukan lagi, kalau itu yang membuat balas dendam mu terpuaskan, kamu boleh melakukanya dengan kakakmu padaku, hanya padaku, bukan pada Ririn," ujar Virto. Membuat Farel semakin emosi.
"Kamu jangan memancingku marah ….!” Farel ingin menghajar Virto lagi.
Aku tidak ingin Virto tamba terluka, aku memeluk Farel
"Tolong hentikan, aku mohon," ujar ku degan wajah memohon. Ia berhenti dan menatapku dengan tatapan kemarahan, pundaknya naik turun menahan luapan emosi yang hampir meledak.
"Katakan padaku kamu membela dia atau aku, kamu memilih dia atau aku? aku bertanya padamu?" Farel menatapku sangat tajam.
"Aku tidak membela siapa-siapa," kataku melakukan kesalahan, harusnya saat ia dalam keadaan marah seperti itu, harusnya, aku katakan saja memilihnya, agar tenang. Namun bibir ini rasanya berat untuk mengucapkan hal itu.
“Bapak yang memintaku pergi, makanya aku pergi, aku melakukan apa yang kamu suruh,” kata berucap pelan.
" Oh, jadi kamu akan melakukan apa yang akan aku suruh?” Farel menatapku.
“Iya”
Ia seolah-olah kehilangan harga diri, saat aku menolak membela dirinya di depan Virto.
"Aku ini suamimu, ayah dari anak yang kamu kandung, tidak bisa kah kamu berpura-pura memilihku? agar suasana ini semua aman dan damai," ucap Farel dengan raut wajah yang amat sangat marah.
Terlihat Virto menatapku sedih, saat tanganku diseret paksa oleh Farel, Farel semakin erat memegang tanganku yang terluka, perban yang aku pakai tadi, terlepas dan darah segar menetes deras dari lengan ku yang di genggam kuat olehnya.
Ia menyeret ku sampai ke hadapan keluarganya.
Pagi itu keluarga besarnya sedang duduk berkumpul di ruang tamu, saat tiba di tengah-tengah keluarganya, Farel seolah-olah kehilangan kontrol diri.
“Kamu bilang, melakukan apa yang aku suruh Kan? Berlututlah ...! minta ampun padanya"
__ADS_1
Farel berubah menjadi monster menakutkan, wajahnya menghitam dan matanya memerah menahan kemarahan. Aku tahu, Farel merasa malu dan marah di depan Virto saat aku tidak memilihnya.
"Farel apa yang kamu lakukan, istrimu sedang hamil," ujar kakak iparnya dengan wajah panik.
"Iya benar, aku menikahi mu untuk membalaskan dendam kakakku padamu, aku tidak ingin kakakku jadi pembunuh, karena itu, aku menikahi mu,, apa kamu dengar!” Teriak Farel Lalu ia memintaku berlutut di hadapan kakaknya.
"Kakak, jika kamu ingin membunuh wanita ini, lakukan saja sekarang di hadapanku, aku sudah membawanya ke hadapanmu, tidak perlu menyewa pembunuh bayaran untuk melakukannya," ujar Farel dengan kemarahan, ia juga mempermalukan dan membeberkan perbuatan kakaknya di hadapan ayah mereka.
Aku tahu Farel melakukan karena putus asa, ia marah padaku dan pada kakaknya dan untuk menghentikan Marisa untuk menyakitiku.
‘Baiklah, jika berlutut bisa membuat kemarahan mu reda dan bisa meredakan masalah ini, itu tidak susah bagiku, akan aku lakukan’ ucapku dalam hati, aku menurut dan berlutut, di hadapan kakaknya, sesuai permintaan Farel , bersimpuh di hadapan Kakaknya yang bernama Marisa itu.
"Maafkan aku Mbak, aku salah," kataku menunduk, ternyata Mas Virto berdiri di depan pintu, melihatku berlutut, aku melihat dia meneteskan air mata, karena aku melakukanya, saat ia ingin mendekat aku menggeleng untuk memintanya, agar tidak ikut campur. Ternyata hal itu di lihat Farel juga, ia semakin murka.
Aku masih duduk bersimpuh di lantai dengan kedua lutut bertumpu di lantai, memohon pengampunan dari wanita yang pernah aku rusak rumah tangganya.
Aku membayar semua dosa yang aku lakukan di masa lalu, seluruh luka di tubuh ini dan tetesan darah dan air mata sebagai bayaran atas perlakuanku di masa lalu.
Tetapi entah kenapa, aku hanya ingin di hukum sendiri, aku tidak ingin Mas Virto mendapat hukuman.
“Cukup Farel, suruh istrimu berdiri kasihan,” ujar ipar Farel
"Pembunuh bayaran? ingin membunuh? Marisa apa yang sudah kamu lakukan?" tanya ayahnya dengan suara parau.
“Sejak kapan kamu menjadi wanita yang kejam seperti ini,” ucap ayah mereka dengan tatapan bingung.
"Wanita itu berselingkuh dengan Mas Virto, karena itu aku ingin melenyapkan nya," ucap Marisa mengakui semuanya.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH AGAR VIWERS NAIK
__ADS_1
Kasih komentar buat Bab ini iya kakak.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha