
Dua hari sebelum pulang,
Sebelum terbang dari Taiwan ke Indonesia, dr. Sinta selalu memperingatkan, agar hati-hati pada keluarga Farel dan hati-hati jangan sampai bertemu Farel, bahkan memintaku melakukan operasi plastik. Tetapi aku menolaknya dengan halus.
“Aku punya teman Rin dari Korea yang bisa merombak wajahmu agar wanita itu dan suamimu, tidak mengenalmu lagi. Paling, bentaran doang prosesnya paling satu bulan,”ucap Sinta.
“Wajahku pemberian Sang Pencipta sangat cantik Sin, ini anugrah yang paling berharga yang aku miliki, sayang, kalau harus di tukar dengan ember plastik,” ujarku sembari tertawa.
“Tetapi kecantikan wajahmu itu membawa petaka Rin, nyawamu hampir melayang dan diperebutkan dua lelaki, kamu tidak khawatir?”
“Mungkin mereka semua sudah lupa padaku, jadi aku tidak perlu khawatir lagi,” ucapku sebelum pulang ke Jakarta saat itu.
“Melupakan apa? Aku yakin, saat Farel melihatmu, yakin gw, dia akan semakin mengejar mu. Kamu semakin cantik Rin, tidak terlihat seperti wanita yang memasuki usia kepala tiga,” ucap Sinta.
“Aku sudah berjanji pada anak-anak, akan pulang untuk menghadiri kelulusan Darma, ia sangat bersemangat saat aku berjanji pulang. Aku harus menempati, aku tidak mau anak-anak malang itu kecewa lagi,” ucapku.
Empat tahun bekerja untuk dr. Sinta, wanita baik itu akhirnya, setuju aku pulang ke Indonesia.
“Tapi apa kamu sudah seyakin itu?” tanyanya lagi. Wanita cantik yang memutuskan menjadi wanita singel untuk selamanya. Walau hati ini selalu berharap agar trauma dalam hatinya, segera hilang dan ia mendapatkan jodoh yang lebih baik.
Sangat di sayangkan, jika melihat wanita cantik itu menutup diri, pada namanya pernikahan, ia bahkan sangat pemilih pada lelaki yang mengajaknya berkencan. Walau usianya lebih tua dariku tiga tahun, tetapi ia tetap cantik, karena rutin melakukan perawatan.
“Iya Sin, aku ingin mempertemukan Haikal dengan ibu dan putriku Jeny dan ibu sambungku.
Karena satu tahun yang lalu , kan, hanya Darma dan ayah yang melihat Haikal Jeny dan ibu sambungku belum, makanya aku akan pulang dulu, nanti kalau urusanku sudah selesai aku akan datang,” ucapku merapikan pakaian ke dalam koper.
“Tetapi kamu harus tetap hati-hati Rin, aku khawatir ayah Haikal mengambil anakmu”
“Tidak akan Sinta, aku akan berjuang untuk dia selamanya,” ucapku tegas.
“Aku ingin memberikan tiket Paris Fashion Week ini untuk mu, akan diadakan di bulan depan di Paris,” ucapnya memberiku godaan terberat.
“Oh, benarkah, tawaran yang mengairahkan,” ucapku penuh semangat, saat itu, otakku jadi terbagi atas Indonesia atau negara impianku Paris, acara yang sudah lama aku nantikan.
__ADS_1
“Baiklah, pulang dulu ke Indonesia dan kembali ke sini. Lalu kita akan jalan-jalan ke Paris untuk melihat Fashion show, dan kita akan berkeliling di negara yang romantis itu,” ujar Sinta bersemangat, ia wanita yang bebas, hidupnya saat ini, ia habiskan untuk jalan-jalan ke berbagai negara. Kali ini, ia mengajakku untuk ikut ke Paris.
“Baiklah Sin. Oh … terimakasih atas perhatianmu selama ini,” ucapku mengusap punggung tangannya, aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak dan sahabat.
Aku tidak memanggilnya dengan sebutan ‘dokter’ lagi karena ia marah, aku hanya cukup memanggil namanya saja.
Beruntung di masa sulit dalam hidupku selama empat tahun, bisa bertemu orang baik seperti Sinta yang bisa jadi sahabat untuk bisa berbagai suka dan duka dengannya.
“Tidak apa-apa Rin, kamu sudah seperti keluarga untukku,” ujarnya tersenyum kecil, menampakkan dua lubang kecil di kedua ujung bibirnya, ia wanita yang memilki lesung pipi.
Bukan hanya itu, yang kebaikan aku terima dari Sinta. Selama bekerja di Taiwan, Sinta memberiku kesempatan mengembangkan bakat yang aku miliki. Merancang pakaian, memang dari dulu impianku, aku punya bakat mendesain pakaian. Tetapi aku memendamnya karena tidak punya kesempatan untuk belajar.
Tetapi saat bekerja di Taiwan. Sinta melihat keahlianku, karena saat punya waktu senggang, aku membuat pakaian sendiri, untuk ketiga anak-anakku.
Melihat hal itu, ia juga meminta membuat pakaian untuknya , berawal dari hal kecil itu, akhirnya bakat ku tersalurkan. Ternyata teman dokter Sinta ikut memesan, ia mencoba memakai rancangan ku untuk dipajang di butiknya.
Akhirnya, aku mengambil sekolah desainer selama tiga tahun di Taiwan, dan aku juga masih tetap bekerja sebagai pengawas di restaurant milik keluarga Sinta.
Aku sangat bersyukur untuk itu. Walau ayahku juga ikut andil membangun rumah impian kami. Aku berharap suatu saat nanti, putraku Haikal, bisa tinggal di sana bersama ke dua saudaranya.
Flas on.
Saat ingin kembali lagi ke Taiwan.
Setelah mempertemukan Haikal dengan keluargaku, dan mengantarnya kembali ke panti , kini aku duduk di ruang tunggu di bandara Bali, aku akan terbang menuju Taiwan lagi, setelah itu aku dan Sinta akan terbang ke Paris. Tetapi saat duduk di ruang tunggu.
Lagi- Lagi suratan takdir mempermainkan.
Saat aku sudah hidup bahagia dalam kesendirianku dan hidup bahagia dengan anak-anakku. Kini Lelaki yang aku ingin lupakan selamanya, ada di gedung yang sama denganku.
Aku nyaris pingsan dibuatnya. Karena ada Farel sedang duduk di bandara bersama beberapa dokter, sepertinya, akan kembali ke Jakarta.
'Oh, jangan lagi. Ya Allah, jangan pertemukan aku dengan pria ini lagi' ucapku memohon pada Tuhan.
__ADS_1
Mudah-mudahan Farel Taslan lupa ingatan dan melupakan aku dengan Haikal.
Sungguh … aku tidak ingin bertemu dengannya lagi’ ucapku dalam hati.
Aku duduk diam bagai patung, di ruang tunggu keberangkatan, tidak berani menoleh kanan- kiri. Bahkan untuk melihat ke arah kiri, di mana Farel duduk, aku mengunakan ponselku, aku terpaksa memakai jaket tebal dan kaca mata hitam untuk menyamarkan penampilan.
Karena aku merasa tidak tenang duduk berdekatan dengan Farel, aku berdiri, ingin mencari tempat duduk yang jauh dari lelaki yang masih berstatus suamiku tersebut. Tetapi saat aku berjalan seseorang memanggilku.
"Rin ...! Ririn!"
Dug … Dug … Suara jantung di dada ini, bagai gendang dipalu.
Seketika tubuhku mematung, tidak berani menoleh ke belakang, sampai empunya suara yang menghampiriku dan berdiri di depan.
"Kamu balik hari ini juga?" Netta, berdiri dengan wajah ceria di depanku. Ia teman yang bekerja di Taiwan juga. Jantungku hampir mau copot saat melihat pantulan kaca, Farel berdiri menatap kami, aku bisa melihat jelas ekspresi wajahnya dari pantulan dinding kaca di bandara itu.
"Ada apa …? Kok kamu tegang?” Netta mencolek lenganku.
"Ayo berjalan santai menuju ke depan, bersikaplah biasa, jangan melihat ke belakang," kataku berjalan meninggalkan Farel Taslan.
"Ada apa?" tanya Netta, ia bingung.
"Tidak apa-apa hanya tidak ingin bertemu dengan teman lama," kataku mengajak Netta bersembunyi di gedung bandara. Netta orang Bali yang bekerja di restaurant yang sama denganku di Taiwan.
Bersambung lagi iya besok kita sambung lagi...
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE DAN TEKAN tombol Favorit
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“ Kasih komentar jika kalian berkenan bukan untuk Memaksa, Iya"
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1