
Farel hanya ingin pengakuan dari mulut ini, ia sudah tahu kalau aku sedang hamil, ia menyelidiki rekan kerja ku yang mengetahui tentang kehamilanku.
Bahkan bicara langsung dengan direktur hotel, menurut seorang pegawai hotel, ia bahkan membawa data-data kerja milikku.
‘Kamu memang orang yang nekat Farel, baiklah, lakukan apa yang perlu kamu lakukan, aku juga akan melakukan apa yang perlu aku lakukan untuk melindungi diriku’ ucapku dalam hati.
“Mbak, sebenarnya siapa sih lelaki itu?” tanya Rita saat kami selesai mendengar pengarahan pagi itu.
“Yang mana?” tanyaku pura-pura tidak tahu, saat Rita dan Nela, melapor padaku pagi itu.
“Memang kenapa dengannya?”
“Dia bertanya padaku tentang kehamilan, Mbak”
“Lalu apa yang kamu katakan?”
“Aku bicara jujur padanya, melihat wajah tampannya, aku tidak bisa berbohong,” ujar Rita, tertawa cengengesan.
‘Hadeeeh … ketampanan yang penuh racun’ rutukku kesal dalam hati.
“Dia hanya teman yang datang dari Jakarta.”
“Tetapi dia bilang-” Mulut mereka berdua langsung menganga.
Saat sedang mengobrol di samping hotel, tiba-tiba Farel datang dengan teman-temanya, wanita yang bersamanya terlihat bergelayut manja di lengan Farel saat melihatku.
‘Hmmm, makan tuh laki-laki, kalau perlu ikat tangan Farel lehermu, agar ia tidak mengangguku’ucapku dalam hati.
Kedua wanita muda yang mengobrol bersamaku langsung terpelongo mengarahkan pandangan pada teman-teman Farel yang datang dari Jakarta.
Menurut informasi yang aku baca, mereka team olah raga surfing yang bergabung di clup surfing dari Jakarta, yang akan bertanding dari propinsi dari seluruh Indonesia.
*
Hari ini, festival akan dimulai, kemeriahan sudah mulai terlihat di pinggir pantai, beberapa karyawan hotel ikut bertugas membantu panitia pelaksana, termasuk aku juga. Saat sedang sibuk membantu persiapan di tepi pantai, ternyata sepasang mata bermanik coklat itu tidak berhenti mengawasi ku. Membuatku merasa tidak nyaman, tidak nyaman saat Farel selalu mengawasi gerak-gerik ku, kemana tubuh ini bergerak kesitu juga mata Farel mengikuti.
Wanita yang ikut bersamanya berusaha keras mengalihkan perhatian Farel. Tetapi, lelaki keras kepala itu tidak menghiraukan perhatian yang diberikan wanita cantik bertubuh seksi tersebut, sampai-sampai wanita itu menatapku seperti musuh setiap kali bertemu mata.
“Apa sih yang lihat-lihat? Bertanding, bertanding saja …. kenapa harus terus melihatku ?’ gumam ku pelan, merasa kesal dengan Farel.
Farel sedang berdiri bersama teamnya, karena dalam putaran ketiga akan grup mereka yang akan bertanding melawan team dari Bali. Aku dan beberapa karyawan hotel ikut mengawasi para peserta, memastikan tidak ada yang cidera dan tidak ada yang tenggelam.
__ADS_1
Saat berdiri, tiba-tiba Pak Bayu dari cabang hotel Bali berdiri di belakang ku.
Tangannya mencolek pundak ini dari belakang.
“Eh, Pak Bayu, kapan datang? Mana?” Tanganku terulur padanya.
Lelaki berkaca mata itu tertawa terkekeh melihat ulahku.
“Iya ampun Ibu Rin, kalau orang datang itu ucapkan selamat datang , suguhkan air dingin, bukan seperti ini,” ujarnya bergurau.
“Itu air laut minum,” ujar ku dan masih mengulurkan kedua tanganku padanya. Terlihat seperti anak kecil yang meminta permen coklat pada kakak lelakinya.
Bayu semakin tertawa melihat kedua telapak tangan ini, lalu ia mengeluarkan dompetnya dan meletakkannya di atas telapak tanganku.
“Aku kehabisan uang karena permintaanmu, Bumil,” ujar Bayu menggeleng.
“Aku tanya, ada gak pesanan ku?”
“Rin, kalau tidak ada, tidak mungkin aku bilang kehabisan uang, aku membeli barang pesanan mu,” ujar Bayu. “Ayo kamu ikut aku , Bayu mengajakku dari area pertandingan, aku masih bisa melihat Farel dari ekor mata ini, melihat kearah ku dan Pak Bayu, mata yang masih terus mengawasi ku.
Aku tahu, ia pasti sudah salah paham, ia pasti berpikir kalau Bayu kekasihku. Tetapi aku tidak perduli dengan Farel dengan segala pikirannya.
”Pesanan, ibu hamil tidak bisa di tolak,” ujar Bayu menghidangkan ayam masakan khas Bali yang di masak utuh, yang dibaluri dengan bumbu dan diungkap, lalu digoreng, tulangnya lunak dan dagingnya lembut, mencium bau rempah-rempahnya, membuatku ngiler. Bayu membawa dua piring nasi dari restoran, kami akan bersama.
Beberapa hari ini aku ingin sekali makan ayam khas bumbu Bali, tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja, aku ngidam ayam masakan khas Bali. Mendengar Bayu ingin datang ke hotel, aku memintanya membawa untukku.
“Terimakasih Pak Bayu , ini membuat air liurku hampir tumpah,” ujar ku mulai memakan dengan lahap.
Makan bersama Bayu dan mengobrol santai. Aku mengenal Bayu dari Bu Dokter, tadinya ia bekerja sebagai pengawas di hotel, setelah aku datang, ia dipindahkan ke Bali dan naik jabatan, sebelum ia pindah saat itu, ia diminta Bu Dokter mengajariku. Karena itulah hubunganku dan Pak Bayu akrab.
Saat sedang asik makan, Farel tiba-tiba datang, tanpa permisi, tanpa basa-basi, ia menarik kursi dan duduk di samping ku dan ikut makan dari piring yang sama denganku.
Bayu bingung, ia mengangkat kedua alisnya dengan mimik wajah bertanya.
“Siapa Rin?” tanya Bayu dengan gerakan bibir tanpa suara.
Aku hanya membalasnya dengan mengangkat kedua pundak ku. Kami berdua hanya diam, melihat sikap nekat Farel, dari sejak ia tiba di hotel, ia mengawasi ku seperti buruan. Seolah-olah ia tidak ingin ada orang lain yang mendekatiku.
“Ayo …! kenapa jadi pada bengong, ayo diteruskan makanannya,” ujar Farel santai.
“Pak Farel bukannya team Bapak sudah di panggil untuk bertanding?” tanyaku mengingatkan
__ADS_1
“Tidak apa-apa, masih ada teman yang lain yang akan menggantikan ku,” ujar Farel menghiraukan panggilan panitia dari pengeras suara.
“Lalu apa yang Bapak ingin lakukan di sini? ini ruangan makan khusus karyawan hotel.”
“Tidak apa-apa, aku juga nanti akan menjadi pegawai di sini, mendampingi mu,” sikapnya santai.
“Pak ini ur-”
“Kamu diam! ini urusan saya dengan istri saya,” ujar Farel kasar pada Bayu. Lelaki bertubuh jangkung itu menatapku dengan tatapan bingung.
“Istri ….?”
“Iya, sebaiknya kamu pergi jangan ganggu wanitaku,” pinta Farel dengan angkuhnya. Menatap tajam pada Bayu.
“Baiklah silahkan mengobrol, aku tidak ingin ada keributan dengan tamu hotel.”
Bayu meninggalkan kami berdua duduk di atas meja. Farel masih menikmati makanan itu dengan tenang.
‘Ada apa lagi dengan ini orang? sudah punya teman wanita masih saja mendekatiku’ aku membatin membiarkannya menikmati makanan di dalam piring.
Saat aku ingin menggeser kursi yang aku duduki tangannya dengan cepat menahan .
“Apa dia kekasihmu?” tanya Farel tidak mengalihkan matanya dari piring, masih makan dengan santai.
‘Hati ini orang terbuat dari apa sih?’ tanyaku dalam hati.
“Bukan.”
“Lalu …?”
“Apa aku juga harus menjelaskan padamu … siapa temanku dan aku berteman dengan siapa?”
“Iya!”
“Aku pikir tidak perlu, iya Pak, karena kita tidak dalam hubungan yang seperti itu,” kataku membantah.
Bersambung …
Jangan lupa vote,like dan share iya Kakak …! Kasih hadiah juga boleh, biar author nya semakin semangat untuk up tiap hari.
Oh, jangan lupa kasih pendapat kalian dalam setiap bab. Terimakasih , Salam sehat.
__ADS_1