
Akhirnya lelaki tampan itu keluar juga dari kamar mandi, kali ini ia memakai kaos berbahan t-shirt membuat otot tubuhnya tercetak jelas di balik kaos berwarna navi.
“Tidak mandi?” Farel menatapku.
“Iya mandi,” ucapku membuka pakaian yang di beli di butik untuk pakaian ganti. Terpaksa menggunakan pakaian itu tanpa di cuci terlebih dahulu, karena Farel tidak memberiku pilihan untuk pulang ke apartemen Sinta. Karena pakaian bersih milikku ada di sana.
Aku masuk ke kamar mandi membawa pakaian ke sana,setelah mengamankan ponsel punyaku menyembunyikannya, aku sengaja cepat keluar dari kamar mandi, aku takut Farel menemukan ponsel itu.
Saat keluar dari kamar mandi, ia sudah duduk di sofa dengan wajah terlihat sangat serius.
‘Ada apa lagi dengannya?’
“Mau makan apa biar aku pesan?”
Mata Farel menatapku dengan serius, seolah-olah ada hal yang ingin ia ungkapkan padaku melihat wajahnya membuat terdiam.
“Apa saja,” jawabku setengah hati.
Aku merasa seperti ada jarak begitu tinggi di antara kami berdua dengan Farel sejak ia menerima telepon dari wanita itu.
“Rin, duduklah, aku tidak tahan lagi harus menunggu. Bagaimana dengannya katakan padaku,” ucap Farel. Padahal ia sudah berjanji padaku kalau ia tidak bertanya sampai aku siap, tetapi sepertinya tidak sabar lagi untuk menunggu.
Aku menarik napas panjang dan duduk di samping Farel.
“Ada katakan padaku apapun juga”
Aku mengangguk, memasang wajah yang paling sedih.
“Maaf”
“Ada apa Rin? Katakan sesuatu”
“Aku tidak bisa menjaganya aku meminta maaf”
Wajah Farel langsung berubah pucat, terlihat sangat menegang ia manahan napas, saat aku membuka suara.
“Apa maksudnya , apa kamu kehilangan dia?” Ia menatapku dengan tatapan mata menatap serius, bahkan aku sendiri tidak tega melihatnya.
“Aku meninggalkan rumah kamu saat itu, karena nyawa kami dalam bahaya”
“Iya aku tahu. Lalu …?”
“Aku berhasil melahirkannya, tetapi aku meninggalkannya dan aku pergi ke Taiwan”
“Artinya ia masih hidup?”
“Iya”
__ADS_1
Farel menarik napas lega.
“Tetapi seminggu setelah melahirkannya, aku meninggalkannya di panti asuhan,” kataku dengan suara pelan.
“Apa …? Kamu meninggalkan bayi satu minggu?” tanya Farel.
“Itu aku lakukan lebih keselamatan kami berdua,” ucapku penuh sesal
“Aku ada Rin, kenapa tidak memberitahukanku, kenapa meninggalkan anakku di panti asuhan”
“Aku masih mending meninggalkannya di panti asuhan Pak Farel, dari pada aku meninggalkannya begitu saja di jalanan. Kakakmu ingin membunuh kami berdua, lalu apa yang bisa aku lakukan?”Tanyaku menahan emosi.
“Telepon aku Rin, kabarin akut.” Mata Farel berkaca-kaca.
“Kalau aku meneleponmu hari itu , itu sama saja aku mencelakai diri kami”
“Katakan padaku kamu meninggalkan di panti asuhan mana?” Kali ini Farel menatapku tajam bagai sebilah pisau.
“Aku tidak tahu, aku meninggalkannya pada seorang perawat”
“Lalu …?” Mata itu benar-benar sangat marah.
“Dia memberikannya pada panti asuhan, saat aku datang ke sana, setelah empat tahun, dia tidak ada lagi sudah diambil orang untuk diadopsi dan di bawa ke Jepang,” kataku mulai membuat kebohongan.
“Apa? Ibu seperti apa kamu Rin dengan tega meninggalkan darah dagingmu sendiri yang baru berusia satu minggu!” Teriak Farel dengan suara tinggi.
“Tidak akan, sekarang katakan padaku di panti mana kamu membuang putraku?” Wajahnya benar-benar sangat marah dan kecewa.
“Aku melahirkan di desa terpencil Bali dan perawat mengantarnya ke Panti asuhan Dharma Bhakti. Saat aku kembali ke Bali setelah empat tahun,” kata pengurus panti, sudah ada yang mengadopsinya, orang Jepang keturunan Indonesia dan di bawa ke Jepang”
Benar saja mendengar penuturanku mata yang tadinya hanya berkaca-kaca kini menumpahkan air, kristal-kristal itu berjatuhan dari ujung matanya, Farel akhirnya menangis, tetapi tanpa suara.
Aku melihat tangannya terkepal kuat menahan luapan emosi di dalam dada.
“Maaf jika aku menempatkannya di panti asuhan,” kataku menunduk.
Farel membalikkan tubuhnya, ia menyingkirkan air matanya dengan kasar, lalu menatap jauh kearah luar dari jendela hotel, ia tidak bisa menyembunyikan luapan emosi kesedihannya.
“Kamu tahu, dari dulu kalau aku sangat menginginkan anak itu Ririn, kamu tahu itu Tetapi bagaimana mungkin kamu begitu tega meninggalkannya di panti dan membiarkan orang lain membawa anakku,” ucap Farel masih dengan tubuh menghadap jendela.
“Aku juga tidak tega melakukanya Farel, ibu mana yang tega melakukan hal seperti itu”
“Kenapa tidak membawanya ke Taiwan bersamamu?”
“Lalu kami makan apa di sana kalau aku membawanya, aku datang ke Taiwan untuk bekerja, niatnya aku akan membawanya setelah empat tahun setelah aku mengumpulkan uang, te-”
“Kamu hanya ingin menyelamatkan dirimu saja Rin, jika kamu perduli dan sayang padanya seharusnya kamu berusaha bagaimana menghubungiku, aku tidak menduga sama sekali kalau kamu dengan teganya membiarkan anakmu, darah dagingmu sendiri pada orang lain”
__ADS_1
“Lalu kamu ada di mana saat kami dalam bahaya, saat kakakmu ingin melenyapkan kami berdua. Kamu ada di mana?”
“Rin, hari itu aku juga di culik seseorang, makanya aku tidak bisa menyelamatkanmu”
“Iya sudah intinya kamu juga tidak bisa menyelamatkannya kami dari kakak perempuanmu. Eyanglah yang memintaku meninggalkan rumah, orang tua itu meninggal di pangkuanku setelah kedua preman itu tidak sengaja mendorong eyang. Farel, sampai sekarang rasa trauma itu sangat membekas di hati ini.”
“Iya, aku salah karena tidak bisa menolong kalian saat itu, tetapi tidak ada sedikitpun di pikiranku kalau kamu akan meninggalkannya di panti.
Aku tidak habis pikir apa tidak ada niat menemui atau memberiku kabar sebelum kamu pergi? Tidak ada usahamu sedikitpun untuk mencariku?” ucap Farel ia menyalahkanku.
“Lalu kamu … apa yang sudah kamu lakukan setelah kamu tahu, kami meninggalkan rumah?”aku balik bertanya.
“Aku mencarimu Rin, aku mencarimu seperti orang gila, sampai-sampai aku … ah sudahlah,” ucapnya dengan suara putus asa.
“Jangan pernah menyalahkanku karena tidak bisa mempertahankan dia. Sekarang tanyakan dirimu, apa usaha besarmu untuk memperjuangkan keselamatan kami saat itu,” ucapku terbawa emosi.
“Jangan mendikte ku Rin! kamu tahu bagaiman perjuangan besarku untuk menjaga kalian,kamu yang tidak pernah menginginkannya sejak dari awal kehamilanmu”
“Jangan kamu pikir aku juga senang meninggalkan dia di panti asuhan seperti itu. Satu minggu setelah ku melahirkan, aku datang ke Jakarta. Aku datang menemuimu dengan bersusah payah , sampai-sampai aku menyamar seperti orang lain untuk bertemu denganmu, agar kakakmu yang gila itu tidak menemukanku. Aku datang ke rumah sakit di mana kamu bekerja, saat aku datang, ingin mengadu padamu. Tetapi apa yang di lihat mataku sungguh di luar dugaan, saat aku mati-matian berjuang melahirkan di sendirian, saat aku datang menemuimu . Tetapi apa yang aku lihat …?”
Farel membalikkan tubuhnya menatapku dengan tatapan serius.
“Kamu datang ke rumah sakit? setelah melahirkan?”
“Ya, niatnya … aku ingin memberikan tahukan kalau putramu sudah lahir, tetapi melihatmu bersama wanita itu saat itu, membuatku mundur dan aku memutuskan pergi meninggalkan Indonesia besok harinya. Jadi jangan hanya bisa menyalahkan aku,” ucapku mengingat masa lalu masa sulit itu membuatku sangat sedih.
“Apa yang kamu lihat tidak seperti kenyataanya, aku dan dia tidak apa-apa”
“Apa yang dilihat mataku saat itu cukup jadi jawaban dari pertanyaan hatiku. Pak Farel!”
“Aku dan dia tidak ada apa-apa sampai hari ini, bahkan detik ini Ririn. bagiku. Kamu istriku satu-satunya sampai detik ini, aku tidak pernah menikah dengannya dan tidak pernah menikah dengan siapapun. Apa kamu paham itu?”
“A-a-apa?” Mataku menatap Farel dengan tatapan terkejut.
‘Apa aku salah menduga lagi?’ tanyaku panik.
Bersambung ….
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata