
Bali.
Pukul 06:00.
Saat aku terbangun, tidak menemukan Farel dan Haikal di sampingku. Setelah menyelesaikan ritual bangun tidur, aku menunggu ayah dan anak itu, tetapi menunggu beberapa menit tidak kunjung datang juga.
Setelah hampir tiga puluh menit barulah keduanya muncul.
“Dari mana?” tanyaku merasa jengkel.
“Ada deh” Jawab Farel dengan santai.
“Kamu habis olah raga?”
“Iyaap”
“Emang sudah bisa, bukannya luka jahitan di pundak kamu belum kering?”
“Sudah. Luka itu mah kecil,” ucap Farel menyeka keringat di dahinya.
“Rel, jangan menganggap semuanya menjadi enteng”
“Ibu, jangan marah-marah sama ayah. Ayah lagi sakit, kan?”
“Tuh dengar anakmu tuh …”
“Sayang, ibu tidak marah-marah, ibu hanya mengingatkan ayah agar banyak istirahat, karena luka di pundaknya belum sembuh”
“Tadi ayah hanya ajak Ikal, jalan-jalan di tepi pantai Kok. Haikal yang ajak ayah, Ibu bangunnya lama, makanya ayah yang temanin,”ucapnya sekarang Farel punya pembela setia.
“Baik-baiklah, Ibu tidak akan marah lagi.” Melihat mata Haikal berkaca-kaca, karena aku mengomel sama ayah membuatku berhenti.
Farel mengerjap-erjapkan kedua alisnya, ia tersenyum meledek.
Aku hanya mendengus dan mencubit pinggang Farel, saat Haikal tidak melihat.
“Auuu sakit Rin,” rintihnya memegang pinggangnya.
“Jangan memancingku marah,” ucapku mergertakkan gigi.
“Dasar tukang marah”
Saat Haikal berbalik badan melihat ke arah kami, aku berpura-pura mengusap-usap punggung ayahnya. Bocah tampan itu tidak suka melihat jika aku marah pada Farel, hal itu jugalah yang membuat Farel semakin menggodaku.
“Ibu lagi ngapain?”
“Oh baju ayah ini kotor.” Aku arahkan tanganku ke lengan Farel, lalu satu cubitan mendarat lagi di lengannya.
“Auuu dasar liciiik.”Farel menarik tubuh ini ke ranjang dan menggelitik, melihat ayahnya bercanda Haikal malah ikut menggelitik, sampai-sampai perut ini terasa kram karena tertawa di kelitik.
“Ampun!Ampun aku tidak mengulangi lagi”Teriakku meringkuk di atas ranjang.
Ruangan perawatan Farel sudah seperti rumah pribadi, kami jadikan tempat bercanda dan melakukan aktifitas lainya, saat kami bercanda, sampai-sampai, tidak memperhatikan kalau dr. Lesa sudah masuk keruangan Farel bersama seorang perawat.
“Aham! Selamat pagi Haikal”
“Pagi Bi”
“Sudah serapan?”
“Sudah, tadi makan bubur sama ayah,”jawab bocah tampan itu menatap bibinya dari atas sampai bawah.
“Kenapa melihat bibi seperti itu, apa bibi cantik?”tanya dr. Lesa bercanda.
“Apa bibi punya jarum suntik?”
“Haaa? Oh ada donk”
“Apa ayahku mau disuntik?”
“Iya, Bibi akan beri suntikan untuk ayah agar cepat pulih”
Matanya menatap ayahnya dengan raut wajah kasihan.
Haikal berpikir orang yang disuntik itu, orang yang penyakit parah
Wanita memakai hijab warna biru itu, meminta Farel untuk telungkup, dr.Lesa ingin memeriksa luka jahitan Farel.
“Bi …” Wajahnya terlihat sangat mendung.
“Iya sayang.” dr Lesa membalikkan tubuhnya dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya.
“Apa ayahku akan sembuh?” tanya dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
“Oh, iya ampun Rel, anakmu ini loh, bikin aku gemas, kamu pintar bangat sih sayangku,” ucapnya mencium tangan Haikal.
“Ayah sudah sehat sayang, tadi sudah main, kan, sama Haikal,” ucapku buru-buru. Sebelum bendungan di mata itu tumpah dan menganak sungai, aku sudah tahu kebiasaan itu. Ia gampang sedih orangnya, sama seperti tetehnya Jeny.
__ADS_1
“Tapi kenapa Bibi menyuntik ayah lagi?”
“Biar ayah tambah kuat donk Jagoan. Sini, ama Ayah.” Farel memintanya berbaring telungkup supaya tidak melihat bibinya menyuntik dan mengajaknya bicara. Tetapi matanya sesekali melirik sang Bibi yang melakukan pemeriksaan.
“Apa ayah merasa sakit?” tanyanya lagi. Mata itu masih terfokus pada dokter yang memeriksa ayahnya.
“Tidak sakit, sakittan cubitan ibu tadi,” ujar Farel.
“Benarkah?” Haikal tertawa, saat Farel, bilang lebih sakit cubitanku dari pada jarum suntik.
“Iya donk, tadi, kan, ayah menjerit au … au saat di cubit ibu, di suntik, malah tidak terasa,” ucap Farel.
Mata Haikal membulat dengan wajah mereka, saat bibinya sudah selesai menyuntik. Farel sengaja berpura-pura tidak merasakannya.
“Ayah benar! Bibi sudah selesai, tapi ayah tidak menangis,” ucapnya, mendengar ucapan polos itu, ayah dan bibinya tertawa melihat kepolosannya.
“Emang sudah iya? Kok ayah tidak merasa,” ucap Farel pura-pura.
“Ayahku hebat,” ucapnya bangga dan mengacungkan kedua jempolnya.
Farel dan dr. Lesa tertawa gemas melihat Haikal, sampai-sampai diri ini tidak dipedulikan lagi. Melihat mereka tertawa bahagia aku memilih keluar dan mencari serapan.
Saat duduk memesan serapan aku tiba-tiba merindukan kedua anakku yang lain, jika Haikal sudah bahagia karena sudah bertemu ayahnya dan keluarga yang sangat menyayanginya.
Aku berharap kedua anakku mendapat kebahagian dan kegembiraan juga agar seimbang.
“Halo sayang,” ucapku melambaikan tangan pada si tampan Damar.
“Halo Ibu. Eh … Ibu di mana? Kok ada laut?” tanya Damar.
“Ibu di Bali donk,” ucapku merapikan rambut panjangku yang tertiup angin pantai.
“Ibu sudah pulang ke Indonesia? Kapan?”
“Sudah Aa. Mana adikmu?”
“Dia lagi ada les tambahan Bu. Ibu sama siapa ke sana? Kok warna lipstik ibu merah bangat sih. Hapus Bu!”
“Ummm … satu lagi deh polisi lalu lintas.” Aku bergumam menarik tisu.
Damar, selalu kritis mengenai penampilanku, ia paling anti kalau aku pakai lipstik warna merah menyala, ia bilang itu warna yang mengundang perhatian lelaki .
“Ibu, kenapa sih, pakai lipstik warna gituan saat ke Bali?
Ingat iya Bu, tidak boleh ada lelaki lain di hati Ibu,” ucap Damar, ia menggulung lengan baju sampai keatas memperlihatkan otot kecil yang mulai menumbuh.
“Eh, tampannya lelakiku, umma …” Mencium layar ponselnya dengan gemas.
Saat bercanda dengan Damar, tiba-tiba.
“Bicara sama siapa?”
“Membuatku terkaget dan menjatuhkan ponselku.
Wajah Farel mengeras, ia menahan kemarahan. Ayah Haikal ini, berpikir aku menelepon lelaki lain.
“Kamu datang-datang gak bilang-bilang sih,” ucapku protes memungut ponselku yang jatuh.
“Aku bilang, kamu menelepon siapa? Pantas kamu keluar diam-diam dari kamar, di sini kamu menelepon lelaki ,” ucapnya dengan wajah serius.
“Eh, Haikal mana?” tanyaku menghiraukan pertanyaannya.
“Mana Haikal?” tanyaku lagi.
“Sama Kak Lesa,” jawabnya ketus.
“Kenapa keluar?”
“Melihat kamu. Kalau aku tidak keluar, aku tidak akan tahu kalau kamu menelepon lelaki lain,” ucapnya dengan tatapan sinis.
“Dasar tukang cemburu,” gumamku pelan.
“Apa kamu bilang cemburu, hal yang wajar aku marah saat kamu-”
“Itu putraku Farel”
“A-a-apa, tapi, tadi itu orangnya sudah dewasa”
“Itu Damar, badannya memang cepat tinggi padahal baru masuk SMA”
“Tapi waktu itu foto yang kamu tunjukkan orangnya masih kecil,’ ucapnya dengan wajah tidak percaya.
Aku menyalahkan ponsel itu lagi dan menelepon Damar. Sementara Farel duduk mengawasi.
“Bu, kenapa dimatikan Sih?”
“Oh, tadi terja-”
__ADS_1
“Aa …!”
Teriak Haikal tiba-tiba datang bersama dr. Lesa.
“Eh, Ikal sama ibu …?”
“Iya, sama ayah juga Aa.
Teteh mana?” Haikal mulai bawel seperti burung beo, bahkan ia duluan yang melapor kalau ia sudah bertemu Farel, padahal niatnya tadi, aku yang akan bicara baik-baik pada ayahku dan pada mereka berdua, kalau aku sudah bersama Farel.
“Ibu sama …?”
“Iya, Ibu saat ini sama ayah Haikal”
“Oh, Kok Ibu gak bilang. Nih ayah mau bicara sama Ibu, dia sudah kangen katanya sama Ibu,” ucap Damar.
“Mendengar kata ayah, Farel menyengingitkan alisnya
“Kangen ….?”
Ucapnya dengan mata melotot, ia berpikir yang di maksud mantan suamiku.
“Ayahku,” bisikku ke kuping Farel.
“Halo Yah”
“Lah, kamu toh Neng, kok ga pulang ke Jakarta?”
“Ririn, lagi banyak urusan Yah, aku sama Haikal sama Farel di Bali di sudah bertemu ayahnya Yah. Jangan khawatir semua baik-baik saja,” ucapku sebelum ayahku khawatir.
“Alhamdulillah, kalau dia sudah bertemu ayahnya Nak,” ujar ayah tulus.
Wajah Farel langsung berubah mendengar dukungan ayahku.
“Dia, lagi sakit yah, habis operasi, makanya aku ada di Bali sama Haikal. Tapi ayah sama Ibu sehat kan?”
“Sehat Nak, ini ibu mau ngomong.” Ayah, memberikan teleponnya pada ibu.
“Nak, kalau sudah baikan sama suamimu, bawalah pulang ke rumah kita, kenalkan baik-baik sama ayah dan anak-anak,” pinta ibuku.
Duk …!
Jantung ini, langsung berdetak keras saat Ibu mengatakan itu di depan Farel, aku tahu, ia akan menuntut membawanya bertemu keluargaku.
“ Assalamualaikum Nenek, Kakek!” Haikal datang lagi, padahal aku sudah meminta dr. Lesa membawanya ke kamar, agar aku bisa bicara tenang dengan ayahku.
“ Walaikumsalam ... Hai, cucu ganteng kakek, apa kabar?”
“Aku baik Kek, kakek sudah makan?”
Haikal langsung menguasai telepon itu, bicara panjang lebar tidak ada berhentinya.
“Kal, biar ibu dulu bicara sama Nenek sama kakek. Nanti baru Haikal,” ucapku menatapnya.
“ Bentar lagi iya Bu, Haikal masih kangen”
Farel tersenyum kecil, saat melihat Haikal cerita banyak pada kakeknya tentang pertemuannya dengan keluarga ayahnya dan ia sangat bersemangat menjawab semua pertanyaan ayah.
Setelah Haikal puas cerita panjang pada kakeknya, Aa dan tetehnya, akhirnya ia memberikan juga padaku.
Aku menjelaskan semuanya pada ayah dan anak-anakku kalau aku sudah kembali bersama Farel, senang rasanya saat mereka juga mendukungku.
*
Kembali ke kamar Farel, tetapi saat aku dan Haikal menelepon keluargaku wajah Farel sangat berubah ia mendadak jadi pendiam.’ Apa ada perkataan ku yang salah?’tanyaku dalam hati.
Tetapi saat aku duduk , tiba-tiba Farel mendekat dan duduk di sampingku dan berkata;
“Ayo kita tinggal bersama keluargamu Rin”
“Haaa …? Rel, kamu tidak salah? Keluargaku miskin,” kataku sangat terkejut.
“Aku tidak perduli, keluargamu berarti keluargaku Rin, Jika Haikal bisa kenal keluargamu dan sangat akrap sama saudara mereka . Kenapa aku tidak? Aku bisa kok jadi ayah yang baik untuk anakmu,” ucapnya tiba-tiba iri pada Haikal karena akrap pada saudara dan kakek dan neneknya”
“Rel, bukan seperti itu, bagaimana dengan ayah mertua yang sangat menginginkan kita tinggal bersama?”
“Aku tidak mau tinggal sama keluargaku, aku ingin keluargamu saja,” ucap Farel.
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata