
Tiba di desa yang sangat sejuk dan indah itu, memberi energi baru untukku, udaranya sangat sejuk dan lingkungan yang sangat asri dan damai. Ibu Bayu wanita yang sangat baik dan lemah lembut, memperlakukan diri ini, dengan baik, sikap baik dan sikap penyabar Bayu, sepertinya, menurun dari ibunya.
Satu hari tinggal di rumah Bayu, hati ini belum bisa sepenuhnya merasa tenang, bayangan-bayangan bahaya yang mengincar ku masih terus saja menghantui. Saat aku berjalan-jalan pagi menggerakkan tubuh yang terasa makin begah.
Tiba-tiba Bayu datang. “Rin, lihat sudah masuk berita,” ujar Bayu menunjukkan ponsel miliknya.
Dalam laman berita, dituliskan kalau Eyang meninggal, karena kecelakaan terjatuh dari kursi Roda miliknya, tidak ada bahasan tentang aku, Virto baik Marisa.
“Mereka menyembunyikan ke jadian sebenarnya, itu artinya itu pekerjaan Marisa yang menyuruh Preman,”ujar Bayu mengutarakan, spekulasinya.
“Iya mungkin,” ucapku, masih belum bisa berpikir jernih.
“Rin, saya harus kembali ke Jakarta, saya yakin pak Dokter itu akan mencariku”
“Iya saya juga berpikir seperti itu Pak, pulanglah, Maaf kalau saya membahayakan karier Bapak”
“Rin, jangan khawatir kamu aman di sini,” ujar Bayu “Jangan kemana-mana tetaplah di sini, maaf tidak bisa menemanimu saat melahirkan”
“Tidak apa-apa ada ibumu dan putri cantikmu nanti yang akan menemaniku di sini”
Bayu hanya satu hari tinggal di
rumah orang tuanya, setelah itu,b ia pulang, ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan di dalam pekerjaannya, karena hotel tempat Bayu bekerja milik sahabat ayah Farel dan aku berpikir, Farel akan mencari ke sana.
"Jangan khawatir, saya tidak akan memberitahukan mu jika ia datang mencari mu," ujar Bayu, sebelum ia pergi, membuat hati terasa sedikit tenang.
"Baiklah, terimakasih Pak Bayu"
"Iya sama-sama, tolong jaga ibuku dan anakku," ujar Bayu. Ia berangkat ke Jakarta. Meninggalkanku bersama ibu Bayu dan anak perempuannya.
Tetapi saat Bayu pergi, aku merasa tidak tenang tinggal di rumah Bayu, hati ini selalu merasa kedua lelaki itu akan menemukanku dan tidak ingin karier dan keluarga Bayu mendapat masalah. Aku memberikan sejumlah uang dan beberapa perhiasan dan membelanjakan kebutuhan rumah tangga sebagai ucapan terimakasih pada keluarga Bayu sebelum aku pergi.
Aku masih merasa bersalah pada Bayu, karena akulah makanya, ia di pindahkan ke Jakarta. Meninggalkan orang tuanya dan anaknya yang masih butuh perhatian.
__ADS_1
'Aku harus pergi dari sini' ucapku dalam hati.
Pucuk dinanti, ulam pun tiba
Tepat di hari itu, sedang ada penyuluhan kesehatan anak dan ibu, terutama ibu hamil yang kurang gizi, karena kodisi kampung Bayu desa terpencil, belum ada fasilitas rumah sakit , jadi, pihak dari dinas kesehatanlah yang sering meninjau desa terpencil tersebut.
Pada saat pemeriksaan, pada seorang dokter, aku menceritakan situasi kesulitanku, hamil tanpa dampingan suami.
Mereka mengerti dan bersedia membawaku ke pusat kesehatan di desa di sebrang desa Bayu. Di desa itu, tersedia Puskesmas , hatiku tenang, aku sengaja tidak memberi tahu Ibu Bayu, kalau aku akan pergi ke sana.
Aku pamit ke orang tua Bayu untuk ke rumah keluarga. Aku memilih meninggalkan mereka semua, aku berharap Virto dan Marisa tidak menemukan diriku lagi.
Kedua orang itu, sudah menghancurkan hidup ini. Aku akan menjalankan kehidupan sendiri. Aku keluar dari rumah Bayu ikut bersama seorang dokter dan akan tinggal sementara waktu di dalam penampungan.
**
Angin segar beraroma bunga tulip dan bunga kamboja khas Bali, menyapa hidung pagi itu, satu minggu lamanya, aku berada di sebuah Desa sejuk di Bali.
Sebuah yayasan penampungan bagi orang yang tidak mampu, aku merasa sangat nyaman di sana, karena diperlakukan, semua orang dengan baik,
Aku mencoba berjalan-jalan sendiri untuk mempercepat pembukaan, karena aku akan melahirkan normal.
Rasa mules semakin menjadi, pinggang terasa semakin panas, tetapi aku memilih sekuat tenaga berjalan mengelilingi taman, agar proses lahirannya semakin cepat, duduk jongkok itu aku lakukan berulang -ulang pada akhirnya rasa mules itu semakin menyakitkan, aku berjalan ke ruangan seorang dokter. Menemui Dr. Sinta wanita itu yang akan membantuku melahirkan, karena sebelumnya aku sudah berkonsultasi dan bercerita banyak dengannya.
"Wah ini sudah waktunya melahirkan, Rin mari … mari berbaring di di sini. "Wanita berambut pirang itu menuntun ke ranjang, dibantu seorang perawat, hanya berapa kali mengedan, baby merah berjenis kelamin lelaki lahir ke dunia , dengan tangisan yang mengkelar memenuhi kamar bersalin.
'Selamat datang di dunia panah ini anakku, terimakasih sudah bertahan bersama Ibu' ucapku dalam hati.
"Iya ampun ini kelahiran yang paling cepat yang aku tangani Mbak, "ujar dokter, dengan wajah sumringah.
“Apa dia sehat maksudku apa semuanya lengkap, Dok?”
“Bayinya sehat dan semuanya lengkap Mbak,” ucapnya lagi.
__ADS_1
“Ah, syukurlah”
Aku sangat bersyukur karena babynya sehat, aku sudah sempat khawatir, ia akan mengalami cacat fisik mengingat obat-obatan yang pernah aku konsumsi dan tekanan yang aku alami saat mulai mengandungnya hingga detik kelahirannya, sembilan bulan aku mengandungnya selama itu juga tekanan dan ancaman aku alami. Ia anak yang kuat.
Walau hati ini sangat merindukan Farel mengazaninya putranya, saat kelahirannya, tetapi itu tidak akan mungkin untuk saat ini.
Dokter Santi meletakkannya di atas dadaku.
Saat melihat wajahnya, air mata ini tidak berhenti mengalir, rasa syukur yang paling dalam, aku ucapkan pada Sang Pemilik Hidup karena masih memberiku kesempatan hidup untuk melahirkan bayi tampan itu ke dunia ini.
‘Farel aku sudah melahirkan putramu, wajah tampannya persis seperti kamu ... Eyang, aku sudah melahirkan cicitmu Haikal Adnan Taslan nama yang kamu berikan akan jadi namanya selamanya. Terimakasih Eyang, aku yakin kamu pasti mengawasi ku dari tempatmu berada, aku berjanji akan menjalani hidup lebih baik dan menjaganya dan membesarkannya dengan baik Aku akan percaya kata-kata Eyang . Jika jodoh tidak akan kemana, aku akan menunggu hal itu Eyang' ucapku dalam hati.
“Mbak Ririn, ini kelahiran yang paling cepat prosesnya aku tangani,” ujar Dokter Santi mengulangi kalimatnya dengan wajah sumringah.
"Ini anak ke tiga saya, Dok, dari suami pertama sudah ada dua," ucapku jujur.
"Anaknya sangat tampan, hidung mancung bangat. Oh... tampangnya, orang bule kah ayahnya?” tanya wanita cantik itu dengan tatapan penyelidikan.
"Suamiku yang sekarang ke turunan Kakeknya Jerman dan neneknya keturunan Turki"
"Oh, pantas anakmu tampan, Mbak,"ucapnya, mengambil kembali dari dadaku dan dokter membersihkan dan memakai pakaian.
Saat perawat memakaikan pakaiannya, ingatanku kembali dengan perlengkapan bayi yang sudah lengkap di beli Farel, bahkan kamar Bayi sudah di sediakan untuknya.
Aku tahu bagaimana hancur-nya hati Farel saat ini,
Karena ia sangat menginginkan putra, ia bahkan berubah, dari monster pembunuh yang ingin menghabisimu untuk membalaskan dendam sang kakak. Tetapi saat ia tahu aku hamil, ia berubah, bahkan melakukan apapun untuk mempertahankan anaknya. Kini, bayi tampan itu sudah lahir, bahkan memborong semua wajah tampan Farel. Tetapi aku tidak mau mengabarinya dan memberitahukannya, aku takut Marisa akan mengetahui ke beradaanku. Aku harus berjuang mulai detik ini untuk melindunginya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Jangan Lupa Mampir ke cerita baru akak-akak vote dan like.
__ADS_1
“Menikah Dengan Brondong”
Cerita yang di sini mikin menangis kalau cerita baru bikin tertawa jadi seimbang kan