Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Merasa diabaikan


__ADS_3

Saat fashion Show itu selesai, pagi-pagi sekali, aku meminta Sinta dan kedua wanita itu olah raga pagi.


“Tumben Rin ada apa?” tanya Sinta saat kami lari pagi di taman apartemennya.


Sebenarnya mataku sangat mengantuk, karena beberapa hari, kurang tidur dan aku merasa lelah karena kurang tidur. Namun, hati ini tidak akan tenang seumur hidup, jika Mas Virto akan pulang begitu saja , aku takut pertemuan kami hari itu, jadi pertemuan yang terakhir untuk selamanya.


“Kita ke hotel Mas Virto iya Sin, aku ingin tahu keadaanya apa dia jadi pulang,” ucapku menatap wanita bertubuh ramping itu dengan tatapan ragu, aku takut ia meledekku lagi.


“Haaa …! Untuk apa . Cari masalah lagi ini orang,” ucapnya berhenti berlari. Lalu menatapku.


“Bukan begitu Sin, aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali, aku akan merasa bersalah nanti, kalau tidak mengatakan selamat jalan untuknya”


“Apa kamu yakin hanya itu yang kamu pikirkan?”


“Iya Sinta”


“Ok. baiklah” Sinta langsung setuju tidak ada perdebatan lagi.


Saat tiba di hotel, di mana Virto menginap Sinta ingin menemuinya.


“Ayo kita menemuinya langsung,” ucap Sinta.


“Kita kabarin saja dulu." Aku mengeluarkan ponsel.


“Tidak usah, kamu di sini saja, biar aku saja yang menemuinya.” Ia memintaku menunggu di lobby hotel.


Aku dan kedua wanita mudah itu duduk dan memainkan ponsel di tanganku.


“Ngapain Rin?” Suara itu mengagetkanku.


Ternyata Virto juga habis jalan pagi.


“Astaga!” Tanganku hampir menjatuhkan ponsel milikku.


Kedua alis Virto menyengit saat melihatku terkaget.


“Kamu mau ngapain ke sini?” tanyanya lagi.


“Oh, aku tadi habis lari pagi dengan Sinta, jadi aku mampir sebentar,” ucapku di bumbui sedikit dengan kebohongan.


“Eh . Kalian di sini, aku cariin Bapak di dalam.” Sinta datang dari dalam hotel.


Virto mengajak kami berempat untuk serapan, aku sengaja mengajak kedua wanita itu dan mengajak Sinta agar tidak ada kesalahpahaman.


“Aku akan pulang nanti siang,” ujar Virto.

__ADS_1


Mendengar kata pulang tangan ini tiba-tiba berhenti mengaduk coklat panas di gelasku, seakan-akan ada batu kerikil menumpuk di dalam tenggorokanku, ada banyak yang ingin aku katakan padanya. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih atas dukungannya selama ini. Tetapi lidahku seakan-akan kaku tidak bisa berucap.


Saat aku diam tanpa kata, tiba-tiba Sinta membuka mulut.


“Nanti kami akan mengantarmu sampai ke bandara,” ucapnya lalu melirikku seolah-olah ia tahu yang aku pikirkan.


“Baiklah,” ucapku pelan.”


“Penampilanmu tadi malam saat luar biasa Rin, selamat iya kamu sudah desainer kelas dunia sekarang. Apa lagi saat kamu tampil berkolaborasi dengan perancang Chanel. Kamu jadi topik pembicaraan hangat di dunia fesyen, itu kata temanku,” ucap Virto tersenyum hangat.


Melihat senyum itu aku ingin menangis, seandainya mereka semua tidak ada aku akan mengucapkan kata terimakasih ku. Tidak ada yang tahu. Ia salah satu orang yang selalu menguatkan ku saat ingin naik ke panggung besar malam itu.


Bahkan Sinta tidak tahu, kalau ia beberapa kali mengirim pesan chating dan pesan suara saat aku merasa gugup saat ingin naik panggung.


Pesan chating dan suara itu, membuatku termotivasi, kini mulutku sangat kurang ajar karena tidak berani mengucapkan kata-kata itu.


“Lalu tadi malam kenapa kamu jadi duduk di belakang, padahal kamu memegang tiket VIP?” tanyaku menatap wajahnya.


“Aku tidak ingin kamu mendapat masalah malah malam itu, aku melihat Farel dan teman-temanya duduk di deretan kursi yang seharusnya aku duduki. Aku berpikir kalau aku muncul di sana, aku takut dia berbuat nekat. Jadi menukar tiketku dengan seorang wanita yang punya tiket reguler,” ucapnya.


“Terimakasih,” ucapku memberanikan diri.


“Tapi saat Pak Virto menghindari masalah, sepertinya nona cantik ini, menimbulkan masalah,” timpal Sinta memasang muka jutek menatapku.


“Masalah apa?” tanya Virto terkejut.


“Oh, baiklah aku akan siap-siap mau ke bandara.” Farel berdiri.


“Oh, Ok kami juga sekalian siap-siap juga untuk mengembalikan kedua wanita ini ke habitatnya,” ucap Sinta bercanda, melirik ke dua karyawannya yang beberapa hari ini, bertugas membantuku selama show.


*


“Sin, kamu mau kemana berpenampilan cantik seperti, apa kamu ingin terlihat cantik saat melihat Virto terakhir kali?” Mata Sinta menatap sinis.


“A-a-apa cantik apa?” ucapku gagap.


“Ini, kan, busana rancangan kamu yang tadi malam?”


“Iya tapi kan perancang juga akan memakai hasil rancangannya, agar lebih di kenal orang , ini namanya self promotion,” ujarku membuat alasan.


“Iya, iya baiklah. Hati memang tidak bisa dipaksakan, saat kamu mengacuhkan suami tampanmu, walau dia sudah mati-matian mengejarnya.


Kamu tidak pernah membuka hatimu untuknya, saat wanita di muka bumi ini menggilai ketampanan suamimu. Siapa sangka, hatimu masih terpaut pada mantanmu,” ucap Sinta terlihat jutek.


“Sin, bukan seperti itu. Tapi kenapa kamu marah?” tanyaku ikut bingung.

__ADS_1


‘Apa dia menyukai Virto? Aku akan sangat senang jika wanita cantik ini bisa bersama dengan Virto dan bisa membantunya sembuh’ ucapku dalam hati.


Tidak ingin ada perdebatan dan kesalahpahaman antara kami. Jadi, aku mengganti pakaian dress itu, menggantinya dengan rok panjang warna coklat yang aku padukan dengan atasan blus berwarna putih dan sepatu boot. Lalu keluar dari kamar.


“Wao cantik bangat terlihat stylish,” puji kedua wanita Sonya dan Ratih.


“Tidak cocok?” tanyaku menatap ke arah Sinta.


“Ini kamu terlihat sopan tetapi tetap cantik ,” ucap Sinta, kali ini ia setuju.


Aku bernapas lega aku pikir ia akan mengkritik penampilanku.


Berjalan ke arah hotel Virto, ia dan kedua wanita itu akan sama-sama pulang. Jika Virto akan pulang ke Indonesia, maka kedua wanita itu akan kembali ke kota Nice tidak jauh dari kota Paris, karena keluarga Sinta punya cabang restauran juga di sana.


*


Saat berjalan ke arah hotel, Virto sudah duduk di salah satu kursi kayu di depan hotel, koper berwarna hitam itu ikut berdiri bersamanya juga.


“Dia ganteng bangat, seperti lelaki model yang tampil, tadi malam,” ucap Ratih.


Wajah Sinta tampak merona saat lelaki bertubuh tinggi tegap itu tersenyum ke arah kami.


“Terimakasih Mbak Sinta karena repot-repot mengantar saya sampai ke bandara,” ucap Virto tersenyum ramah.


Lalu ia hanya menatapku sekilas, lalu mengobrol akrap dengan Sinta.


Tidak lama kemudian sebuah taksi menuju bandara berhenti dan membawa kami. Aku hanya diam tidak banyak bicara.


Saat Virto mau pulang, ia seakan-akan mengabaikan diriku dan lebih akrap sama Sinta , aku tidak cemburu, aku hanya merasa sangat sedih jika ini pertemuan terakhir kami, ia bersikap seperti itu padaku


‘Kenapa dia mengabaikan ku Saat aku sedang merasa sedih?’ tanyaku dalam hati menatap kearah jendela mengerjap-erjapkan mata ini, karena aku merasa ada bendungan air yang hampir mau tumpah.


Dalam mobil bergaya limosin itu, aku duduk berhadapan dengan Virto, ia duduk sebangku dan Sinta dan Raih dan aku duduk dengan Sonya.


Aku masih terus diam membiarkan mereka berdua mengobrol, aku sibuk dengan pikiranku dan menata hatiku yang terasa sangat sedih.


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan

__ADS_1


Fb Nata


__ADS_2