Cinta Yang Tertukar

Cinta Yang Tertukar
Cinta Yang Tertukar


__ADS_3

Part 26


Dewa memperhatikan, kedua wanita cantik itu dari kejauhan, Ayuni dan Dea. didalam pelukan seorang lelaki tampan yang biasanya jemput Ayuni pulang sekolah.


Kilas Balik Dewa


Sore yang cerah, Dewa keluar jalan - jalan menyusuri kota Bandung dengan motor sportnya.


Dewa menyusuri jalan kota dan terhenti karna, adanya lampu merah.


Sebuah mobil sedan mewah berwarna merah, berhenti disebelah motor Dewa.


Kaca mobil terbuka perlahan, terlihatlah wajah seorang gadis yang sangat cantik, berambut panjang sebahu, berkulit putih bersih, memiliki mata yang sangat indah dan berhidung mancung, sangat serasi dengan wajahnya.


Dewa terpana, pertama dalam hidupnya, melihat gadis cantik, yang membuat hatinya berdebar.


Dewa memakai helm berkaca hitam, jadi gadis cantik itu, tidak begitu memperhatikannya.


Lampu merah, berubah jadi lampu hijau, mobil yang membawa gadis cantik itupun berlalu. Dewa pun, melajukan motornya kembali.


Di pelupuk matanya, selalu muncul wajah cantik gadis itu.


Apakah ini yang dinamakan, jatuh cinta pada pandangan pertama.? Gumamnya dalam hati.


Dewa tersenyum, dan bergumam dalam hati, semoga aku bisa bertemu dengan dia lagi.


Sesampai dirumah, Dewa berpapasan dengan Mamanya. wanita separuh baya, yang nampak masih sangat cantik.


Pasti di usia mudanya, wanita ini pasti sangat cantik, wajarlah Dewa memiliki wajah yang sangat tampan ternyata turunan dari mamanya yang cantik.


"Sayang!!,"


Memeluk anaknya penuh sayang, Dewa pun memeluk erat mamanya serta mencium pipi Mamanya.


"Cup!!".


Setelah mencium pipi Mamanya, Dewa melepaskan pelukan ke Mamanya.dan menjawab sapaan Mamanya.


" Iya Mama, ada apa?" dengan wajah yang ceria.


" Sayang, besok kamu sudah bisa pergi ke sekolah barumu sayang!!, semuanya sudah Papa uruskan.

__ADS_1


Dewa pun tersenyum dan menjawab. " Iya Mama, besok Dewa ke sekolah baru."


Mama pun tersenyum dan berlalu, dan Dewa pun berjalan menuju kamarnya.


Sesampai di kamarnya, Dewa berbaring di ranjangnya, dan wajah cantik itu, kembali muncul di pelupuk matanya bahkan di setiap memandang ke sudut apapun, wajah cantik itu, selalu ada.


"Wanita ini siapa, baru melihatnya satu kali, sudah membuatku tak bisa melupakannya."


Dewa mencoba menutup matanya, dan akhirnya tertidur.


Keesokan harinya, Dewa sudah di meja makan dengan Papa dan Mamanya, sudah ada nasi goreng buatan Mamanya, dan roti dan selai.


Papa pun memulai pembicaraan hangat, wajah yang masih sangat tampan, di usianya yang sudah setengah umur tetapi terlihat awet muda.


"Dewa! Papa harap di sekolah barumu, yang termasuk sekolah terbaik di kota ini, kamu bisa belajar lebih baik. Sekolah lamamu, terlalu jauh nak".


Dewa pun tersenyum. " Siap Papa."


Mama tersenyum melihat anak semata wayangnya. "Sayang, pasti banyak cewek cantik


menyukaimu, anak Mama khan sangat tampan."


Setelah makan dan berpamitan, Dewa pun keluar dari rumahnya dan melajukan motor sportnya.


Rumah Dewa cukup besar, Papanya seorang pengacara yang terkenal di kota Bandung, Papa Dewa memiliki kantor sendiri.


Kakek Dewa dulunya seorang Hakim yang terkenal di kota itu, seorang Hakim yang terkenal jujur dan tegas dalam keadilan.


Tetapi tahun lalu, sudah meninggal, sedangkan nenek sudah 5 tahun lalu tutup usia, sebelum kakek meninggal saat ini.


Papanya saat ini, sudah yatim piatu.


Tak terasa Dewa, sudah ada didepan gerbang Sekolah barunya, Dewa mulai melajukan motornya masuk, di parkiran motor Sekolah.


Setelah itu membuka helmnya, dan mulai masuk berjalan, mencari kelas barunya, kelas 11.D.


Di sepanjang jalan, tampak pelajar siswi yang berpapasan dengannya, sangat terpana, serta penasaran melihat wajah yang sangat tampan, yang baru mereka lihat di sekolahnya.


Dengan postur tubuh yang tinggi sekitar 180 M. berkulit putih bersih, bermata teduh, tapi memiliki bulu mata yang tebal, serta memiliki alis tebal dan berhidung mancung, sangat serasi dengan wajahnya, yang sangat tampan.


Akhirnya, Dewa pun menemukan kelasnya, teman siswi di kelasnya pun, pada heboh.

__ADS_1


Memiliki teman kelas pindahan yang sangat tampan, mereka tidak bisa berkata apa - apa, hanya bisa berkerumun dan berbisik heboh, mereka hanya bisa takjub melihat wajah tampan Dewa.


Siswi berponi berbisik kepada temannya yang berambut panjang dan yang berambut agak berombak. "Tampan sekali yah.!!" memegang tangan temannya dengan gemas.


"Iya!!!!, sangat tampan, senangnya punya teman sekelas yang sangat tampan!!, pasti siswi kelas lain pada heboh seperti kita." sambil tertawa kecil.


Dewa tidak terlalu mendengar percakapan mereka, maklum lah kaum hawa melihat kaum Adam yang di sukai, Dewa sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu, di sekolahnya yang lalu pun seperti itu, jadi sudah dianggapnya kewajaran.


Teman siswa yang lain pun, cukup terpana walau mereka sejenis, tetapi sebagai cowok harus punya harga diri, jadi hanya tersenyum tipis.


Dewa memilih bangku belakang, dia duduk di dekat seorang siswa berkacamata, yang agak pendiam tetapi, tersenyum ramah kepada Dewa.


Dewa pun mulai menyapa, "Boleh duduk di sini."


Siswa berkacamata itu pun tersenyum ramah, "Silahkan!" menarik bangku di sebelahnya agak keluar, agar Dewa bisa masuk duduk bersamanya.


" Trima kasih" jawab Dewa dengan ramah, Dewa pun menyimpan tasnya dan duduk di samping siswa, yang sudah menjadi teman sebangkunya.


"Dewa Erlangga," mengulurkan tangannya untuk berkenalan, di sambut hangat siswa berkacamata itu, menjabat tangan Dewa.


"Herman Saputra." tersenyum ramah.


Siswi - siswi kelas baru Dewa, ada juga beberapa Siswa, yang melihat Dewa berkenalan dengan teman sebangkunya, pada datang bergerombol berdatangan ke meja Dewa.


Di bangku Dewa, jadilah ajang silahturahmi dengan memperkenalkan nama masing - masing, Dewa menyambut ramah, setiap uluran tangan dari teman - teman sekelasnya secara bergantian yang kebanyakan dari kaum hawa.


Tidak terasa, jam pelajaran sudah berlangsung, seorang guru memasuki ruangan yakni Pak Budi, guru bahasa Inggris.


Pak guru masih sangat muda dan lumayan tampan, banyak siswi yang mengidolakannya, karna statusnya yang masih Bujang.


Beliau mulai membuka pelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris dan mulailah tanya jawab berlangsung, dan ternyata Dewa fasih berbahasa Inggris, suasana akrab pun terjalin dengan baik antara Dewa dan pak guru begitupun dengan teman sekelasnya.


Bel tanda istrahat pun berbunyi, pelajaran telah usai, dan pak guru pun sudah meninggalkan kelas.


Herman mengajak Dewa ke kantin Sekolah, di sambut anggukan kepala dari Dewa yang mengikuti langkah teman sebangkunya.


Bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2