
Part 62
Ayuni melihat orang tuanya sepertinya tidak ada niat mau menolongnya dari kejaran Abangnya.
Ayuni berlari ke arah kamarnya, sesampainya disana dia pun berlari masuk dan ingin menutup pintu kamarnya, tapi Andre sudah duluan memegang pintu dan mendorongnya.
Ayuni tidak kuat mendorong pintunya, dan dia pun terdorong. Andre segera masuk dan berdiri dengan wajah yang kesal. Dan berbalik mengunci pintu kamar dan mengantongi kuncinya.
"Sekarang kamu lari kemana bocah nakal, kayaknya kamu butuh pelajaran berharga.
"Ampun.....,
Abang Andre, Ayuni cuma bercanda kok." menatap Abangnya sendu, merayu dikasihani.
Andre segera berlari dan menangkap adiknya dan menggotongnya seperti memikul beras.
Ayuni meronta dan menendang - nendang, yang perutnya sudah tersangkut di bahu Abangnya.
Ayuni berteriak manja dan memohon.
"Lepaskan Abang, lepaskan Ayuni, Ampun Abang"
Ayuni terus merayu Abangnya.
Andre tidak memperdulikannya, membawa tubuh adiknya berkeliling, dia memukul bokongnya berkali - kali, walau tidak keras, sudah membuat Ayuni kalang kabut.
Dia sangat malu, bokongnya di tepuk oleh Abangnya berkali - kali, saat ini dia merasa seperti anak kecil yang berusia 2 tahun yang bokongnya dipukuli.
"Abang turunkan Ayuni." Terus memohon ke Abangnya. Kakinya terus meronta.
Setelah puas memukuli bokong adiknya, Andre membawanya ke kasur, menjatuhkan badan Ayuni di kasur yang sangat empuk itu.
Ayuni terhempas terlentang, dan Andre langsung naik duduk diatas adiknya dan menangkap kedua tangan adiknya, menekan dan membawanya keatas kepalanya, badan Andre condong ke depan rapat dengan dada adiknya, wajah mereka sudah saling berdekatan, nafas Ayuni tersengal, dadanya naik turun mengimbangi nafasnya yang memburu karna kecapaian.
Andre terbuai dengan nafas adiknya yang langsung menerpa wajahnya, Aroma tubuh Ayuni sangat harum dan menyegarkan. Dan kedua bola indah adiknya menempel erat di dadanya, menimbulkan sensasi nikmat di relung hati Andre.
,
"Apakah Abang masih ingin menciumku lagi hah? Apakah ciuman tadi tidak membuat Abang bosan hah? dengan nafas tersengal.
"Abang memang play boy, Dasar Abang mesum." Ayuni sangat kesal, melebarkan matanya yang indah.
Andre tersenyum geli, adiknya memang benar saat ini, Ayuni sangat membuatnya terbuai.
__ADS_1
"Ooohh.....,
Tapi kamu pasti sudah ketagihan di cium oleh Abangmu yang ganteng dan rupawan ini khan" Kata Andre menggoda Ayuni.
Mulai mendekatkan wajahnya.
Ayuni memonyongkan bibirnya, maksudnya untuk mengejek Abangnya, tapi Andre langsung menyosor cepat bibir Ayuni yang sangat menggemaskan dengan bibirnya. Tampa melepaskan tangan adiknya.
Andre membenamkan bibirnya sangat kuat di bibir Ayuni dan langsung memasukkan lidahnya menari dalam rongga mulut Ayuni, mencium, meremas, dan memakan bibir adiknya dengan sangat rakus.
Ayuni gelagapan, dan kesulitan bernafas, nafasnya terus dia hembuskan Tampa melayani permainan bibir Abangnya.
Kepala Abangnya berputar ke kanan dan ke kiri mencari sudut bibir Ayuni yang ternikmat. sedangkan Ayuni mengunakannya untuk melonggarkan nafasnya.
Andre sangat gemas dengan bibir adiknya yang sudah menjadi candu berat untuknya. Ciumannya semakin dalam dan memasukkan kembali lidahnya, mengabsen di setiap sudut rongga mulut Ayuni, membuat Ayuni kesulitan bernafas.
"Aarrgghhh...aaaah..aaahh,"
Ayuni kesulitan bernafas, mendorong dada Abangnya kuat. dan mengambil nafas kuat - kuat.
Ayuni terus bernafas, Andre menatapnya dengan penuh gairah.
"Apa Abang mau membunuhku yah?." Tatapnya sangat kesal, dengan nafas memburu.
Andre tersadar, diapun mengecup kening dan bibir adiknya dengan lembut, melepaskan ciuman di bibir Ayuni yang sudah menjadi candu untuknya, terasa enggan dia melepaskannya.
Andre bangun dan berdiri, dan Ayuni bangun dan duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya. Ayuni melihat ke bawah, bagian celana Abangnya. Dan memukul pelan sesuatu yang berharga milik Andre yang bersembunyi di dalamnya.
"Abang, Tenangkan barang kamu itu, dasar mesum ." dengan suara pelan. Melihat barang berharga Abangnya, yang sudah menyembul, walau tertutupi celana kainnya yang sebatas lutut.
Andre tersentak, matanya melebar tidak percaya dengan apa yang dilakukan adiknya. Andre mengusap area pribadinya yang mendadak berdenyut nikmat.
"Dasar, bocah mesum, Apa tidak malu, menyentuhnya hah?" Dengan suara yang lebih pelan. Dengan tatapan ngeri, melihat adiknya tampak biasa, dan sudah tidak ada rasa malu sedikitpun diwajahnya.
"Abang itu yang mesum. Apakah perlu,? Tangan Ayuni masuk kedalam situ, menenangkannya sendiri." Dengan wajah lebih polos lagi, tampa dosa.
Mulut Andre tambah terbuka lebar dan menganga, seakan tidak percaya, kalau adiknya dengan santainya, mau menyentuhnya secara langsung.
"Bukannya kamu tenangkan bocah mesum, malah kamu akan membuatnya tambah mengamuk dan jangan sampai mengobrak- ngabrik sesuatu yang belum menjadi haknya." Kata Andre yang meracau dalam hatinya.
Andre tersenyum tipis sedangkan di dalam hatinya tertawa geli.
"Dasar mesum, playboy, Buaya, dan Selalu memamfaatkanku. Berhenti menciumku terus Abang, nanti aku ketagihan dan mau segera berpacaran."
__ADS_1
Menatap penuh ancaman kepada Abangnya.
jari telunjuk Andre, menekan pelan kening adiknya.
"Coba saja, kamu lakukan. Akan ku patahkan tulang pria yang menjadi pacarmu itu."
"Dasar egois" Kata Ayuni kesal.
"Bodo amat, cepatlah ke ruang tengah. Minta maaf kepada Dimas. Dasar Bocah nakal. Kata Andre dengan nada mengejek dan berjalan sambil merogoh kunci kamar di sakunya dan membuka pintu kamar Ayuni, keluar kamar adiknya.
Sementara Dimas sedang di wawancara oleh Papa dan Mama.
"Dimas, kenapa pakaian dan wajah, rambut kamu, basah semua seperti Andre?." Tanya Mama Ayuni. Dengan mata melebar seakan tidak percaya.
"Apa benar, Ayuni yang melakukannya,?" Tanya Papa lebih tidak percaya lagi.
"Tidak apa kok, Om, Tante. Ayuni hanya bercanda." Kata Dimas membela kekasih hatinya, apalagi didepan calon mertuanya. Di timpuk batu pun sampai berdarah, pasti akan tetap membela gadis pujaannya.
Dimas tersenyum sangat manis. Dan tersentak mendengar teriakan Papa dan Mama Ayuni.
"Apa????"
Teriak Papa dan Mama bersamaan, mereka saling berpandangan.
"Papa.....,
Ayuni, kenapa bercandanya kelewatan yah Pa, pantas saja Andre mengejarnya." Tanya Mama khawatir.
"Apa kalian tidak mengganggunya, atau membuat Ayuni kesal." Tanya Papa masih membela anak kesayangannya.
Dimas terdiam. terus terang salah, berbohong pun salah, dia hanya bisa tertunduk. Membuat Papa dan Mama Ayuni bertambah penasaran.
"Nak Dimas, duduk dulu. Bibi Inah tolong Ambilkan handuk untuk nak Dimas kasian badannya basah semua." Kata Mama ke Bibi Inah yang berdiri disampingnya.
" Iya nyonya"
Jawab Bibi dan langsung berlari kecil ke dalam.
Papa, dan Mama Ayuni serta Dimas. melangkah dan segera duduk di sofa.
Tidak berapa lama, Andre sudah datang, mendekati orang tuanya, masih dalam keadaan basah. Duduk disamping Dimas.
Bersambung
__ADS_1