
Part 38
Dea dan Ayuni sudah sampai di kelasnya dan segera masuk, untunglah pak guru tidak terlalu memperhatikan jadi secepat kilat mereka berlari ke bangkunya.
Lain halnya Dewa, wajah tampannya harus di nikmati oleh semua teman - temannya satu kelas, karna yang mengajar adalah bapak guru piring terbang. Sampai pulang sekolah dia harus berdiri didepan kelas, dan menjadi salah satu contoh buruk untuk siswa yang tidak disiplin.
Bagi kaum hawa, di kelasnya, merasa sangat senang, bisa puas melihat wajah tampan Dewa, selama satu jam berdiri di depan mereka.
Lain halnya bagi Dewa kakinya terasa sakit dan pegal.
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, siswa dan siswi sudah bersiap meninggalkan kelas mereka.
Dewa bisa bernafas lega, bisa terbebas dari hukuman bapak guru yang masih memandangnya dengan tidak senang. Dewa hanya bisa membungkukkan badannya sebagai tanda maafnya, saat gurunya berlalu.
Dewa bersiap untuk pulang.
Andre sudah ada di depan pagar sekolah, menunggu adik kesayangannya, dia selalu tepat waktu, untuk menjemput adiknya, dan dia sengaja mengambil jadwal kuliah pagi agar bisa menjemput adiknya.
Tampaklah wajah cantik yang selalu dirindukannya datang mendekatinya, dengan senyum manisnya bersama Dea. Yang akhir - akhir ini, sangat lengket dengannya, membuat Andre sangat risih dan membuatnya agak kesal.
"Abang......"
Panggil Ayuni, hatinya merasa sangat senang bisa merasakan ciuman dari Dewa, yang sangat dia cintai.
Ayuni berlari memeluk Abangnya yang sudah berdiri di samping motornya, dengan sangat gagah.
Andre merasa senang melihat adiknya senang, membalas pelukan Ayuni.
Dea pun, hanya tersenyum melihat kakak dan adik yang sangat akur dan saling menyayangi.
Tidak berselang lama, motor sport Dewa menghampiri mereka, singgah di depan mereka.
Ayuni, sebenarnya sangat malu bertemu Dewa, dengan melihatnya, otomatis melihat bibir yang sudah menciumnya secara dominan dan agresif. Ciuman itu selalu terbayang dan membuat jantungnya berdetak dengan cepat.
Ayuni mengalihkan pandangan ke Abangnya.
"Ayo Abang, kita pulang," menarik tangan Abangnya, Ayuni berusaha cuek dan acuh pada Dewa jika ada Abangnya.
Abang Andre sangat jeli melihat situasi dan dia detektif handal sebagai penjagaku, dia tidak boleh tahu kalau aku sudah mencintai seseorang.
Andre pun naik ke motornya, memasangkan adiknya helmnya, di susul Ayuni yang sudah memeluknya dengan erat.
Andre juga malas berlama - lama di sana, karna ada Dea yang sudah mulai agresif kepadanya, sejak dia sudah menciumnya.
Dewa dan Dea saling berpandangan.
"Dea, apakah kamu mau ikut denganku, merasakan naik motor seperti Ayuni sangat menyenangkan, apa kamu mau mencobanya." kata Dewa.
Menatap Dea dengan senyuman, tetapi di dalam hatinya sangat mengharapkan Dea ikut dengannya.
Dea tersenyum dan mengangguk, diapun menuju ke mobil jemputan nya, menyuruh supirnya, pulang tampa dirinya. Dea berlari mendekati Dewa.
Dewa sangat senang, Dea mau ikut dengannya.
__ADS_1
Dea pun naik di motor, posisi duduk sejejer dengan Dewa dan memeluknya, seperti gaya Ayuni naik motor dengan Abangnya.
Dea pun menyandarkan kepalanya ke Punggung Dewa dan memeluk erat perutnya, membuat hati Dewa sangat bahagia, dadanya terasa berdebar indah, sesuatu yang indah menempel erat di punggungnya, membawa sensasi yang sangat indah di hatinya.
Sedangkan Dea, hanya membayangkan bukan Dewa yang di peluknya tetapi menganggapnya adalah Andre, saat ini yang memboncengnya.
Cepatlah jalan Dewa, aku jadi membayangkan kamu adalah Andre yang membonceng ku, ternyata sangat menyenangkan.
Dewa sangat kaget mendengar penuturan Dea, yang sangat jujur, tapi sangat menyakitkan hatinya.
Apa ini karma? Aku memanfaatkan Ayuni untuk membuat Dea cemburu dan aku di mamfaatkan Dea, untuk membuat Andre cemburu
Tepukan di punggungnya membuatnya tersadar.
"Kenapa bengong Dewa, cepat jalan." Kata Dea.
Dewa pun menyalakan motornya, dan segera melaju meninggalkan sekolahnya.
Hatinya yang awalnya sangat senang bisa di peluk orang yang di cintai, saat ini hatinya sedang tidak baik - baik saja. Terasa pelukan Dea, terasa hambar dan menyisakan perih di sudut hatinya yang lain.
Dea menyuruh Dewa, membawanya pulang ke rumahnya. Tidak berselang lama, sampailah Dewa di depan rumah yang sangat besar, dan megah.
Siapa sih di kota ini, yang tidak mengenal pak Dean Baskoro salah satu pengusaha yang paling kaya di kota ini. Gumam Dewa dalam hatinya.
" Masuk yuk, kamu khan sudah menjadi sahabat aku juga dan Ayuni."
"Baiklah, jika memaksa" jawab Dewa.
Setelah masuk Dirumah Dea, tampak banyak pelayan lalu lalang, di raut wajah mereka penuh tanda tanya, siapa pria yang sangat tampan di bawa nona nya , apakah pacarnya?.
Pelayan yang paling cerewet, di rumah Dea mendekati nona nya, dan termasuk senior pelayannya.
"Nona Dea.......
Pacarnya yah?" bertanya penuh selidik, menatap Dewa dari ujung kaki, sampai ujung kepala.
"Sangat tampan, dan cocok sekali dengan nona" jawab mbak Marni memuji.
"Nona Dea, apa tidak ada Abangnya, kenalin dong." Bujuk mbak Marni kepedean.
"Apaan sih, mbak Marni, mulai deh Halu. Sana urus dapur, kepedean banget sih." Kata Dea ketus. begitulah Dea selalu jujur, dan apa adanya
"Khan mau perbaiki keturunan dan derajat non" Dengan mata berkedip.
Dea teriak lantang.
"Papa..........
Ini mbak Marni minta potongan gaji." teriak Dea memanggil papanya.
Mbak Marni langsung kabur, berlari masuk ke dalam rumah Dea.
"Aduh non, andalan banget panggil pak Dean." berucap sambil berlari.
__ADS_1
"Rasain, siapa suruh kepedean." kata Dea, berbalik tersenyum melihat Dewa.
Dewa tersenyum dan tertawa kecil.
" Dewa duduk dong," duluan mendudukkan pantatnya di sofa yang besar, yang pastinya sangat mahal harganya. Desain dan interior rumahnya pasti sangatlah mahal dan perabotnya.
Tidak berselang lama, Papa dan Mama Dea datang menghampiri.
Dewa sangat kagum di usia yang tidak muda lagi, Papa Dan Mama Dea, masih terlihat sangat tampan dan cantik.
Eh.......
"Ada tamu rupanya, sangat tampan yah Pa" Puji Mama Dea.
"Eits .....
Tidak boleh ada yang Mama puji selain Papa, papa yang tertampan, termanis pokoknya serba Ter. Kata Papa Dea merangkul istrinya.
Mama pun menyandarkan kepalanya di dada suaminya, dan mengecupnya.
"Iya sayang....
Kamu semuanya yang Ter.....
Dea pun, memutar malas kedua bola matanya serta menarik tangan Dewa, masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo kita pergi, kamu mau lihat pasangan Bucin bereaksi. Ayo cepat pergi. mereka tidak akan memperhatikan kita, jika sudah Bucin semua orang di sekitarnya dilupakan." Kata Dea dengan raut wajah yang cemberut.
Mereka pun beranjak pergi, ke ruang belakang rumah Dea, ada kolam renang yang besar dan taman bunga.
Mama menyadari, anak dan temannya sudah menghilang.
" Lho Papa, Dea dan temannya kemana?" tanya Mama Dea.
"Paling mereka di kolam renang. biasanya jika ada temannya disana Dea bawa.' jawab papa Dea.
Pria teman Dea sangat tampan yah Pa, apa dia sudah melupakan Andre. Mereka memiliki ketampanan yang sama cuma Andre wajahnya sama sekali tak pernah bosan memandangnya, wajahnya bagai lukisan yang indah sama dengan Ayuni.
"Tidak usah bahas mereka Mama, bahas aku saja. yuk ke kamar, kita lanjutkan cinta yang semalam yang tertunda.
"Aaaah....
Papa tidak pernah bosan, kalau yang itu dibahas.
Pak Dean Baskoro, merangkul pinggang istrinya membawanya ke kamar sedangkan Ayuni sedang berbincang dengan Dewa di taman bunga dekat kolam renangnya. Terdapat kursi santai disana.
Dewa sangat takjub dengan rumah mewah Ayuni yang dekorasinya sangat mewah, dan perabot mewah, desain Rumah yang serba Wah!, di tata seperti di hotel Mewah, dan tatanan bunga - bunga dan pepohonan Bonsai, yang pastinya sangat mahal harganya.
Dukung Author Yah! Dengan Vote, like
dengan comment, agar Author lebih semangat melanjutkan Bab selanjutnya.
Love You All
__ADS_1