
Part 47
Andre dan Ayuni turun dari tangga, sambil Ayuni merangkul lengan Abangnya.
Mereka Sampai di ruang tengah, Dea sangat senang melihat kedatangan Andre. Andre hanya tersenyum tipis. Andre melihat Mamanya dan menghampiri, Mamanya yang sibuk menata meja makan.
"Mama, Aku bantu, aku malas melayani Dea, dan Ayuni yang suka memaksakan kehendak." Kata Andre sangat pelan dengan merangkul pinggang Mamanya.
Mama Andarani hanya bisa tertawa kecil.
Andre, mulai mengatur meja makan di ikuti Ayuni, dan Dea.
"Dea, sarapan dulu, baru pulang," Kata Mama Ayuni sangat ramah.
"Iya Tante, saya sangat senang sarapan di sini." Kata Dea manja.
Bibi Inah keluar membawakan peralatan makan.
Mereka pun duduk dan mulai makan bersama.
Pikiran Dea menerawang. " Indahnya jika bisa selamanya seperti ini, dan Andre menjadi suamiku." Membayangkan Andre, menyuapi makan. "Sayang makan yang banyak, biar anak kita yang di dalam perutmu sayang, juga sehat dan lahir dengan selamat," mencium perut Dea.
Dea sangat senang dan mengelus perutnya, tersenyum lebar.
Andre memperhatikan Dea, yang senyum sendiri, mengelus perutnya. "Apalagi yang dipikiran Bocah ini, dasar bocah mesum, pasti membayangkan menjadi istriku, ada - ada saja." Andre bergidik ngeri.
Ayuni memperhatikan Dea dengan tertawa kecil dan melihat Abangnya memperhatikan Dea, dan respon Abangnya yang kelihatan ngeri melihat Dea. "Pasti Dea, memikirkan dirinya, menjadi istri Abangku dan hamil anak Abangku. Ayuni tertawa, dan saat ini semua mata memandangnya. Dia cepat menutup mulut dan segera menyantap makanannya.
Mama Ayuni, hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan tersenyum lebar.
Andre sangat muak melihat tawa Ayuni, yang sangat senang di atas penderitaannya.
"Bocah ini sangat menyebalkan, selalu cari cara mendekatkan Dea denganku, padahal aku hanya mencintainya." Gumam Andre dalam hati dan tetap melanjutkan makannya.
Dea tersadar dengan khayalan indahnya, karna tawa dari Ayuni, dia sadar pasti Ayuni tahu, kalau dia sedang menghayal. Diapun memperhatikan Andre yang sibuk makan tidak memperhatikannya. Dea tersipu malu. " Untunglah Andre, tidak melihatku." gumam Dea dalam hati dan melanjutkan makanannya.
Selesai makan, Dea membantu Mama dan Ayuni membersihkan meja makan dan Bibi membawa peralatan makan yang sudah dipakai.
"Ayo, kita ke ruang tengah " Kata Mama mengajak Dea, Ayu dan Andre
"Iya Tante," kata Dea.
__ADS_1
Mereka mengikuti Mama keruang tengah. Andre langsung duduk menjauh, duduk di kursi malas Papanya untuk membaca Koran, mencoba menghindari Ayu dan Dea dengan menyibukkan diri dengan membaca Koran.
"Dea, Tante sangat senang kamu datang jalan - jalan kerumah lagi, kamu tambah cantik sayang" Puji Mama.
Dea sangat senang di puji Mama Ayu, dan melirik Andre, tapi sayang sekali Andre tidak memperhatikannya. Dea tersenyum, menutupi kecewanya.
Andre mendengarnya, tapi pura - pura tidak mendengarnya.
"Dea memang cantik Mama, cuma orang bodoh saja dan ada masalah di matanya jika tidak mau sama Dea," Menyindir Abangnya Dengan suara keras.
Andre sangat kesal, dan pura - pura tidak mendengar, dengan menyibukkan membaca koran.
Dea tersipu malu, tidak menyangka Ayuni menyindir Abangnya.
Mama hanya tertawa, dan menggelengkan kepala.
Dea, kamu itu cantik dan sangat menarik, hanya orang yang tidak peka saja, yang tidak menyadarinya, aku heran juga sih, kalau ada manusia begitu yah." Terus menyindir.
Andre sudah sangat kesal dan mau rasanya beranjak pergi, tapi dia masih mencoba menahan diri dan mencoba mengucek telinganya dengan wajah kesal.
Dea melihatnya dan cepat berdiri dan menarik Ayuni, dia tahu Ayuni pasti akan menyindir terus.
Segera menarik paksa Ayuni, membawanya ke Taman belakang rumah.
Ayu pun terpaksa mengikuti Dea, dengan mata yang menatap tajam ke Abangnya, tapi Andre hanya fokus melihat korannya.
Andre hanya bisa menarik nafas lega.
Mama datang mendekati Andre, dan memeluk punggung anaknya, mencium pipinya.
"Cup..., Sayang, kata - kata Ayuni jangan terlalu di pikirkan yah, Ayuni memang begitu, manja dan sangat ke kanan - kanakkan.
"Andre mencium tangannya.
"Iya Mama, Aku hanya bisa mencintai Ayuni....,." Andre panik dan sadar telah keceplosan. Dia pun tertunduk panik, takut Mamanya marah.
"Maafkan aku, Mama............,"
Andre tertunduk sedih, dan sangat menyesal telah salah bicara.
Mama tersenyum, dan berjalan kedepan anaknya, menariknya duduk ke sofa. Mereka duduk berhadapan di sofa dan Mama menggenggam tangan anaknya dengan lembut.
__ADS_1
Andre tertunduk, merasa bersalah telah salah ucap.
"Andre sayang, Mama tahu kok, kamu suka Ayuni dengan suara pelan, jangan khawatir sayang, Papa dan Mama sangat mendukungmu." Kata Mama Pelan.
Andre tersentak dan sangat bahagia mendengar Mamanya mendukungnya. Andre memeluk Mamanya dengan erat.
Mama Andarani menepuk - nepuk pelan punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Sudahlah Andre, jangan lama peluk Mama nanti Ayuni melihat kita, pembicaraan ini, untuk sementara kita rahasiakan dulu." Kata Mama masih berbisik pelan.
Andre melepaskan pelukannya, hatinya saat ini jauh lebih tenang dan bahagia, dia tidak menyangka Mamanya sudah tahu, bahwa dia mencintai Ayuni.
"Mama makasih banyak atas dukungan dan kasih sayang Mama yang begitu besar untukku." Kata Andre tertunduk sedih.
"Sayang, Mama yang seharusnya berterima kasih telah mendapatkan anak seganteng dan sebaik kamu, dan saya doakan kamu, sayang. Semoga kelak akan menjadi menantu Mama, untuk menjaga Ayuni kita.
Andre sangat terharu dan menganggukkan kepalanya.
"Untuk saat ini, kita jangan membahas ini sama Ayuni. Papa dan Mama yang akan memberitahunya pelan - pelan dengan cara kami, biarlah Ayuni menikmati proses jiwa mudanya dulu yang masih dini untuk membicarakannya. Jika Ayuni sudah kuliah, Mama dan Papa akan berbicara serius dengannya.
Andre tersenyum, hatinya sangat terharu dan bahagia.
"Iya Mama, semuanya aku serahkan pada Papa dan Mama, walau Ayuni tidak menerima aku Ma, aku akan tetap menyayangi dia sebagai adikku." Kata Andre, menarik nafas dalam, sangat sakit mengutarakan hal itu, tapi jika ini berkaitan dengan Ayuni, apapun bisa Andre korbankan meskipun nyawanya sendiri.
Mama Andarani mengangguk, "Trima kasih sayang, Mama hanya ingin kamu juga bahagia sayang, Mama tidak ingin kamu bersedih. Kamu harus bahagia sayang." Mengelus wajah anak kesayangannya.
Andre mengelus punggung tangan Mamanya lembut, dan menciumnya dengan lembut.
Sementara Dea dan Ayuni ada di Taman belakang sedang berbincang.
Bersambung
Dukung Author dengan Vote, like
dengan Comment.
Tolong share ke keluarga, teman dan sahabat, agar karya ini memiliki banyak pembaca, mohon dukungannya untuk Author agar semangat melanjutkan Bab selanjutnya, dan membuat karya baru lagi.
Love you All.
.
__ADS_1